Articles

Yang Anda Belum Tahu Soal Krisis Beras

Wimar's World
22 February 2007

Laporan oleh Maro Alnesputra

Kebanyakan orang Indonesia punya satu prinsip dalam makan: tiada hari tanpa nasi. Kalau tidak makan nasi sehari saja, rasanya seperti belum makan sama sekali. Nasi dibuat dari apa? Tentu semua tahu jawabannya: BERAS. Tahukah anda kalau harga beras naik terus tiap tahun? Mungkin banyak yang mengangguk. Tapi tahukah anda mengapa harga beras bisa semahal sekarang? Wimar's World mencari jawabannya!

Krisis Beras di Negara Agraris menjadi topik episode Wimar's World kali ini. Hadir sebagai narasumber adalah Bustanul Arifin (Ekonom INDEF), Jeki Arhan (Pedagang Beras di PD Cipinang) dan Mohammad Ismet (Kepala Divisi Perencanaan BULOG) dan. Pembicaraan seru pun terjadi untuk mengetahui akar permasalahan sampai solusi yang tepat untuk masalah itu. Ibu-ibu yang pusing mikirin harga beras naik, wajib baca ini.

Wimar's World: Krisis Beras
Wimar's World saat menerima penelpon

Pengontrolan policy beras lebih tegas dan ketat di jaman Soeharto

WW : Bagaimana sebenarnya masalah krisis beras ini terjadi?

Bustanul Arifin: Ya saya bisa katakan ini cyclical ya atau perputaran. Mudah-mudahan ini bisa diatasi karena perputaran ini periodenya tahunan. Catatan penelitian saya menunjukkan produksi beras di Indonesia ini hanya dihasilkan dalam 4 bulan. Sekitar 60% - bahkan 70 % - dari total yang kadang kita banggakan yaitu 31 juta ton beras itu hanya dihasilkan dalam musim panen raya yaitu Februari, Maret, April, lalu Mei atau Juni. Tapi mungkin tahun ini akan mulai dari bulan Maret karena kemarin masa menanamnya mundur.

WW : Lalu ?

Bustanul Arifin : Nah karena hanya memproduksi 31 juta ton dalam 4 bulan, oleh karenanya perlu perencanaan stok yang baik dan cermat agar jatah tercukupi dalam setahun. Kita semua tahu bahwa pada saat bulan-bulan krisis seperti Oktober, November, Desember dan Januari, memang produksi beras itu berada di bawah level konsumsi yang biasanya. Rata-rata total masyarakat Indonesia makan 2,5 juta ton beras per bulannya, jadi tentu pada bulan kritis-kritis itu supply memang pasti di bawah demand karena stoknya terbatas, itulah sebabnya harganya menjadi terdorong naik.

WW : Lalu kenapa dulu tidak terjadi hal seperti ini?

Bustanul Arifin: Kalau dibandingkan 20 tahun lalu, mungkin ya…di jaman dahulu ada keseriusan dari banyak pihak dalam membuat perencanaan dan mengontrol policy yang terkait sehingga tidak seperti kondisi sekarang, sementara kondisi sekarang, mohon maaf saya katakan, saya tidak melihat hal-hal itu

WW : Jadi policy maintenance itu lebih bagus di jaman Soeharto? Menarik sekali, kenapa begitu?

Bustanul Arifin: Karena Pak Harto ditakutin oleh bawahannya.

WW : Hahaha dulu orang nurut ya! Tapi memangnya apanya yang beda dari 20 tahun yang lalu?

Bustanul Arifin: Jaman Pak Harto justru jauh lebih bagus karena orang jaman dulu takut sekali dengan beliau, sehingga undang-undangnya jalan, kalau sekarang kan tidak karena orang tidak takut lagi seperti dulu.

WW : Bagaimana keadaan kondisi produksi beras kita saat ini jika dibandingkan dengan tanggal yang sama pada tahun lalu?

Bustanul Arifin: Tahun lalu lebih baik dari tahun ini, tapi sekarang kira-kira kondisinya sama dengan tahun 2002 lalu.

WW: Tapi keadaan stok beras sekarang ini dibanding tahun yang lalu bagusan mana yah?

Bustanul Arifin: Jelas tahun lalu, tapi kalau dibanding tahun 2002 mirip mirip. Tahun lalu panen agak normal karena bulan Februari sudah mulai panen. Jadi tahun lalu pada bulan Februari , inflasi sudah bisa ditekan. Sumbangan beras terhadap inflasi nasional cuma 20% . Tahun ini saya yakin masih sekitar 40%.

WW : Dari segi peningkatan produktifitas bagaimana sekarang ini?

Bustanul Arifin: Tidak terjadi peningkatan yang signifikan dibanding jaman Pak Harto dulu, karena kebetulan jaman Pak Harto ada banyak inovasi baru masuk seperti benih yang menampilkan IR64, IR8, dan lain lain seperti revolusi hijau dan sebagainya

WW : Kalau sekarang tidak ada lagi hal-hal begituan?

Bustanul Arifin: Tidak banyak kalau sekarang... saat ini maksimalnya hanya 4,5-4,6 Ton per hektar. Kalau dulu kenapa dibilang tinggi karena dulu dari 2.5 ton per hektar langsung naik melompat menjadi 4.5 ton per hektar. Kalau sekarang kan naik-turun naik-turun melulu. Kita memang susah untuk dapat berharap agar tidak ada goncangan lagi mengingat produktifitas beras hanya segitu-gitu saja, sementara jumlah penduduk nambah pasti kebutuhan juga akan bertambah.

Bustanul Arifin
Bustanul Arifin (ekonom INDEF)

Tidak ada Komunikasi antara Petani & Pemerintah + Rusaknya Infrastruktur

WW : Apa dasar anda mengatakan produktivitas susah naik?

Bustanul Arifin: Karena teknologi baru tidak banyak. Pemerintah menyalahkan petani, Katanya kaum petani terlalu sedikit menggunakan benih bersertifikat dan sebagainya. Padahal pihak petani juga bisa menyalahkan pemerintah, karena mereka tidak tahu sama sekali kalau ada benih baru. Selain itu, penemuan-penemuan baru banyak yang tidak dimasyarakatkan kepada petani.

WW : Cara mengatasi krisis beras?

Bustanul Arifin: Susah karena kita tidak bisa berharap banyak... Kebanyakan lahan petani kita itu hanya ˝ hektar luasnya jadi tidak mungkin bertahan sepanjang tahun. Menurut saya, agrarian reform yang diusulkan Pak SBY memang harus dilaksanakan. Belum lagi 70% irigasi kita rusak karena ngga dirawat.

WW : Neglect gitu ya?

Bustanul Atifin: Neglect karena otonomi daerah. Mohon maaf saya katakan ini, karena semua aktivitas dan call center yang memakan anggaran biasanya dilupakan oleh pemerintah daerah. Dan sering ada anggapan seperti…..ah itu punya Jakarta , atau ah…itu punya daerah itu dan lain sebagainya. Akibatnya sistem irigasi pun menjadi rusak. Sehingga akhirnya dikonversi…., perlu dicatat bahwa 140.000 hektar sawah kita hilang tiap tahunnya!

-

Operasi Pasar

Jeki Pedagang Beras
Jeki Arhan (pedagang beras)

WW : Apakah jumlah beras yang dibutuhkan untuk disalurkan masih memadai ?

Jeki: Masih memadai

WW: Ada numpuk-numpuk sana sini?

Jeki: Tidak ada, rata-rata semuanya lancar, ada 5 ton yang kita bagikan ke 80 kios.

WW: Bagaimana bedanya system operasi beras jaman dulu dan sekarang? Ada penimbunan?

Jeki: Tidak ada, jaman dulu mungkin ada tapi jaman sekarang lebih terbuka dan murni

WW: Sebagai pedagang pernah ambil untung juga?

Jeki: Kalau untuk beras Operasi Lokal kita tidak boleh nimbun pak, kecuali kalau untuk beras lokal, kalau itu sebagai pedagang wajar aja pak, buat jaga-jaga

WW: Sekarang biasanya jaga-jaga stok untuk berapa bulan?

Jeki: Biasanya hanya untuk sebulan dua bulan. Kalau habis baru kita beli lagi

-

Strategi BULOG dalam menghadapi krisis beras

Mohammad Ismet
Mohammad Ismet (kepala divisi perencanaan BULOG)

WW : Bagaimana policy Bulog dalam menangani permasalahan ini

Ismet : Kami berusaha melakukan dua hal yaitu:

  1. Operasi Pasar
  2. Menyalurkan penyaluran beras ke rakyat miskin atau raskin.

Untuk Operasi Pasar, BULOG berusaha mengotpimalkan dengan selalu menggunakan volume besar dan cakupannya pun luas, kemudian untuk raskin BULOG telah mempercepat program raskin. Sebagai contoh jatah Februari kita berikan di Januari, dan jatah Maret kita berikan di Februari. Diharapkan dari sini keadaan bisa lebih baik dan terkendali dengan baik pula.

WW : Ada penelpon yang bertanya bagaimana supaya manipulasi harga dari pedagang itu bisa dihilangkan, ada komentar ?

Ismet: Kita melakukan Operasi Pasar ke pedagang-pedagang grosir yang mempunyai pedagang-pedagang eceran. Kewajiban pedagang grosir adalah menjamin bahwa pedagang eceran akan menjual beras dengan harga Rp. 3.700. Dan mereka membuat perjanjian di atas materai dan bersedia dihukum apabila melakukan penyimpangan.

-

Solusi Terbaik?

WW : Jadi solusi terbaik untuk masalah ini ?

Bustanul Arifin: Menurut saya, Pemerintah ke depannya harus membuat perencanaan produksi dan perencanaan stok yang lebih baik dan harus melibatkan masyarakat!

-

Sebagai akhir dari laporan ini, terlampir tips-tips yang bisa dijadikan acuan mengerti masalah krisis beras. Anggap saja bantuan untuk ngerti lebih gampang bagi orang-orang yang tidak terlalu 'njelimet' dengan masalah krisis beras ini (saya salah satunya hehehehehe)

Krisis Beras For Dummies:

  1. Tidak ada peningkatan produktivitas beras terjadi di hampir seluruh dunia
  2. Cina total produksi berasnya saat ini adalah 125 juta ton untuk 1 milyar manusia
  3. Thailand memproduksi 22 juta ton/per tahun, namun mampu mengeksport 7,5 juta ton berasnya karena masyarakatnya sedikit, sementara Vietnam memproduksi 18 juta ton/tahun namun masih bisa mengeksport 5 juta ton beras karena masyarakatnya sedikit
  4. Amerika ternyata merupakan negara pengimport beras ke-4 terbesar di dunia
  5. Thailand ternyata baru mau meniru sistem Bulog Indonesia, sementara Bulog Indonesia meniru Filipina, dan Filipina meniru Food Corporation di India
  6. Kalau terjadi penimbunan, masyarakat harus segera melaporkannya!
  7. Kenaikan harga dua tahun terakhir adalah sepertiga harga tahun sebelumnya, dan paling besar sejak 1998.
  8. Produksi beras segitu-segitu aja, orang pemakan beras bertambah terus

Ada yang mau tambah? kasih komentar dong di bawah

-

Baca juga:

Print article only

21 Comments:

  1. From dimas on 22 February 2007 22:02:53 WIB
    menurut saya. produksi beras kita bisa ditambah. kalau saja kebijakan pemerintah memang mengarahkan kesana. kayak jaman dulu lah.

    skarang yang pengen saya tau. produksi pupuk apa kabar ya? teknologi pangan yang dikembangkan di kampus2 di produksi massal nggak sih?
  2. From Raihan\'s Mom on 23 February 2007 09:29:18 WIB
    Saya setuju dengan apa kata Pa Bustanul Arifin..
    Emang lebih enak jamannya Soeharto..
    Ga ada orang susah kayak sekarang..
    Soeharto selalu bikin kebijakan-kebijakan spektakuler, untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.
  3. From berlin simarmata on 23 February 2007 13:35:00 WIB
    Pak Bustanul,saya kaget akan pendapat bapak bahwa pada zaman pak Harto,seluruh aparat pemerintah takut kepada beliau,sehingga apapun yg menjadi kebijakan beliau selalu dilaksanakan bawahannya,pada hal beliau bukan pilihan langsung rakyat,sementara yg sekarang sudah pilihan langsung rakyat dengan total 60%,tidak ditakutin bawahannya.Kesimpulannya tentu ada yg salah.Sipenerima mandat dari rakyat tidak berani mempergunakannya,atau rakyat salah pilih.Sejarahlah yg akan mencatat.
  4. From Ngenes on 24 February 2007 10:09:50 WIB
    Memang susah juga sih. Pak Harto dijelek-jelekin semua kebijakannya ditabukan. Waktu hasilnya lebih jelek dipuji-puji lagi. Kita belum bisa melihat bahwa kalau seseorang itu dicabut mandatnya bukan berarti semua kebijakannya jelek. Tapi kita lebih senang untuk mengagung-agungkan (bukan Agus ketua DPR) bos kita yang baru, menyanjung-nayanjung bos kita yang baru dan menjelek-jelekan bos kita yang lama yang terjatuh.
    Yang kita lihat sekarang adalah Menteri Pertanian yang sibuk bulak balik mengganti pejabat di Departemen dengan orang yang harus dari konstituennya. Bukan mikirin program jangka panjang, menengah dan pendek, tapi lebih mikirin gimana jangka pendek untuk menang tahun 2009. Tidak ada program lain, coba lihat mana programnya mentan. yang ada nyalahin musim, kalau hujan nyalahin kebanjiran, kalau kemarau nyalahin kekeringan. Tidak pernah antisipasi bagaimana kalau kering dan bagaimana kalau hujan. Memang sebaiknya Mentan itu tidak dari partai lah. jadi tidak sibuk ngurusin partainya saja.Atau kalau dari partai harus betul2 mikirin programnya untuk rakyat bukan yang lainnya.
  5. From QNOY on 24 February 2007 20:06:56 WIB
    apakah semua orang di indonesia ini harus makan beras?
    bukannya banyak makanan lokal yang bisa menjadi pengganti beras/nasi. sudah sering (sekarang tidak lagi) muncul di tv kampanye pemanfaatan makanan pokok non beras. saya kira inilah salah satunya cara agar orang bisa menghemat beras.
    yah, jagung jangan hanya sebagai makanan yang dihidangkan malam2 waktu dingin, tetapai bagaimana jagung dapat dimanfaatkans ebagai makanan pokok.
    saya masih ingat waktu SD, dikatakan kalau orang madura makanan pokok nya jagung, di papua (dulu irian jaya) makanan pokoknya sagu, tetapi kok sepertinya sekarang sudah tidak ada lagi yang slgan seperti itu.
  6. From odah on 25 February 2007 09:43:16 WIB
    Ytc Pak. WW...

    Sy cuma nyalin comment no.#4 (ngenes)
    Yang kita lihat sekarang adalah Menteri Pertanian yang sibuk bulak balik mengganti pejabat di Departemen dengan orang yang harus dari konstituennya. Bukan mikirin program jangka panjang, menengah dan pendek, tapi lebih mikirin gimana jangka pendek untuk menang tahun 2009. Tidak ada program lain, coba lihat mana programnya mentan. yang ada nyalahin musim, kalau hujan nyalahin kebanjiran, kalau kemarau nyalahin kekeringan. (untuk alinea ini sy se7). bahkan jngn2 pejabatnya skr bukan pejabat yg amanah seperti yg diidamkan tokoh pks, melainkan pejabat2 yg zoooliiiim sehingga dep. yg dipimpinnya menjadi seperti ini. sama sekali tanpa prestasi.

    sebelum tampil di jaktv, p. bustanul arifin jg sdh tampil duluan di metro pd hari yg sama. sebagai pengamat pertanian, sy kira masih ada ruang yg cukup buat p. bustanul untuk mengamatinya dngn lebih kritis lagi.
  7. From mike on 25 February 2007 13:14:04 WIB
    sory kl agak aneh tp apa jumlah 31 juta ton beras itu ga cukup???sedang rata2 sebulan kita hanya mengkonsumsi 2,5jt ton kl 12 bulan hanya 30jt ton masi ada sisa 1 juta ton ditambah hasil2 diluar masa panen besar itu....dikemanain sisanya???masa' dijual ke LN sedang di Indonesia aj ga cukup hahahaha...pemerintah harusnya lebih sigap dalam mengurus hal2 ini,mereka ga bisa gitu aj nyalahn petani ato keadaan alam indonesia(kl kata orang mah lempar biji jeruk tumbuh jeruk hahahaha....)
  8. From febianto on 25 February 2007 15:55:33 WIB
    menurut saya pendapat sdr bustanul ini cukup tendensius dengan menyambungnya dgn soal kepemimpinan.
    saya setuju dgn pendapat bp siswono (di metro tv) yang menyatakan problem ini lebih karena berubahnya BULOG menjadi Perum yang berorientasi kpd profit.
    jadi yang perlu di evaluasi adalah peran BULOG itu sendiri.
    dan bukannya menarik isu ini lebih ke atas, karena menurut saya ini merupakan totem proparte dan bukan gaya bahasa yang digunakan sdr bustanul pars prototo.
    demikian.
    tks
  9. From simor on 26 February 2007 09:07:26 WIB
    saya hanya tertarik dengan solusi pak bustanul arifin pada alinea terakhir, yaitu "pemerintah kedepan harus membuat perencanaan produksi dan perencanaan stock lebih baik dan harus melibatkan masyarakat", kalimat ini dari jaman dahulu kala sudah diungkapkan semua orang jangan kan pakar seperti pak bustanul arifin, Koruptor terhebat di negeri ini juga bilang begitu dulu. tapi sampai saat ini krisis beras tetap saja ada. jadi menurut saya yang penting sebenarnya para pejabat yang punya otoritas terhadap masalah ini tolong punya hati nurani, karena data menunjukkan sebenarnya kita gak kekurangan beras, wong produksi 31juta ton /4bln, konsumsi 2,5 juta ton /bln jadi kemana yang lainnya, salah perencanaan stock ?ahh ahh kilise banget kalau hanya mengatur ini gak bisa yah,benar juga kata teman diatas kayaknya lebih enaka zaman soeharto.
  10. From dmitri on 26 February 2007 16:54:28 WIB
    kira2 untuk menambah kapasitas produksi kita harus meningkatkan kapasitas petani sekarang ini, atau menambah jumlah petani? mohon jangan berpikir klise tentang keseimbangan, ya, karena untuk itu kita ngobrol sama nenek kita masing2 aja di rumah.

    banyak rakyat kita yang seharusnya bisa (dan bangga) bertani akhirnya sok pinter pakai ke kota segala sambil jadi buruh.

    Soeharto emang hebat dengan transmigrasinya, KB dan swasembada pangan. tapi soal proprety development, pesawat terbang, mobil nasional, dan penitipan uang pribadi sama teman2nya, tentunya dia cukup salah kaprah di bidang2 itu.

    kalau uang "hilang" itu dipakai untuk menggarap negara agraris yang peduli lingkungan, negara ini akan jauh lebih makmur (dan rendah hati).

    Anda pikir orang kita semakin enggak taat hukum karena apa? karena kurang makan, atau karena orang yang paling melanggar hukum masih bisa lolos?
  11. From Asap on 27 February 2007 09:05:05 WIB
    Mbah Marijan juga tahu kalau ada asap pasti ada apinya. Kasihan ya para pendiri PKS yang punya niat tulus untuk mensejahterakan rakyat kalau dirusak oleh menteri yang keblinger. Pasti Pak Winarno sudah sangat mual sampai dia lapor ke Wapres. Terus berjuang mas Tohir. perjuangkan rakyat/petani bukan partai.

    Ini dari harian Kompas 27 feb 2007

    POLITISASI
    Petani Meminta Tak Dikotak-kotakkan

    JAKARTA, KOMPAS - Petani dan nelayan yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andal¬an Nasional, Senin (26/2), datang dan menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta Mereka meminta supaya Menteri Pertanian Anton Apriyantono jika datang ke daerah tidak bermanuver melakukan kegiatan di Iuar tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertanian. Bahkan, KTNA meminta Anton tidak mengotak-ngotakkan kelompok petani menjadi kelompok onderbouw partai.
    Demikian disampaikan Ketua Umum KTNA Nasional Winarno dan Ketua I KTNA Nasional Bidang Organisasi M Basyir DA dalam keterangan pers seusai bertemu dengan Wapres di Istana, Jakarta. "Kami meminta Wapres agar menteri jangan terkontaminasi dengan kegiatan yang dilakukan di Iuar profesinya di pertanian. Misalnya, mengurus partainya di daerah dengan mem¬bentuk kelompok tani tandingan," ujar Basyir.
    Menurut dia, soal manuver itu, bukan hanya pers yang mengetahui, tetapi Wapres juga sudah tahu. "Yang dimaksud Pak Basyir, petani itu jangan dikotak-kotakkan. Biarkan petani mempunyai sawah, punya sapi, dan lain-lain. Jangan sampai ada kelompok petani berada di bawah partai," ujar Winarno.
    Anton yaIig dihubungi Kompas tengah berada di Lampung menyertai kunjungan Presiden Yu¬dhoyono membantah tuduhan KTNA "Itu fitnah keji. ltu tidak benar," tandas Anton yang mengaku tidak tahu motivasi dan agenda apa di balik KTNA
    "Apakah saya kalau di daerah melakukan seperti yang dituduh KTNA? Saya tidak membuat kelompok tani. Bagaimana saya membentuk kelompok untuk kepentingan partai saya? KTNA sendiri bentukan Departemen Pertanian. Semua kelompok tani saya ayomi," kata Anton. (lIAR) .
  12. From Alex Maffay on 27 February 2007 14:56:08 WIB
    Beginilah kalo para Insinyur hanya mengejar Sarjana saja tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dunia Pertanian kita. Indonesia yang dulu sebagai negara pengekspor beras, sekarang telah menjadi Pengimpor beras. Apabila beras di embargo ke Indonesia, apa jadinya negara ini. Rakyat Indonesia sudah banyak menderita, mohon para pejabat Pemerintah untuk tidak menambah penderitaan rakyat lagi. Apabila rakyat mati kelaparan karena tidak ada beras untuk dimakan, apa jadi nya generasi bangsa ini. Maka dengan mudah negara ini dijajah kembali oleh negara asing. Karena tiada daya negara kita untuk melawannya karena mati kelaparan. Mungkin kita belum separah Ethiopia ataupun Afrika, tapi apakah kita mau seperti mereka. Maka tidak heran kalo bencan terus terjadi di negara ini. Dikarenakan oleh Pejabat Pemerintahnya yang hanya mementingkan kepentingan Pribadi dan golongannya saja.
    Kalo sudah begitu, Ane jadi malas lah untuk kasih saran toh pasti tidak di dengar oleh mereka.
    Mari kita berdoa supaya bangsa ini tidak tenggelam oleh karena ketololan para pemimpinnya.
  13. From Ria Wibisono on 27 February 2007 23:35:28 WIB
    Ironis ya kalau Indonesia bisa krisis beras berkepanjangan. Padahal kata Koes Plus kita ini subur makmur, bukan lautan tapi kolam susu. Mau tanam apa-apa tinggal lempar bibitnya dijamin tumbuh. Jadi pengen tahu gimana responnya Belanda sama Jepang. Pasti ngakak-ngakak denger Indonesia krisis hasil bumi, padahal waktu dijajah kekayaan alamnya berlimpah-limpah.
    Kalau dibilang orang Indonesia nggak inovatif, nggak juga. Beberapa bulan lalu saya inget Indonesia ribut-ribut karena ada penemuan nutrisi Saputra yang bisa meningkatkan produktivitas pertanian. Tapi yang jadi sponsor untuk pengembangannya malah swasta yaitu Pak Ciputra. Padahal kalau benar nutrisi ini seheboh yang diberitakan, produksi beras kita bisa meningkat gila-gilaan. Kok pemerintah adem ayem aja ya?
    Jadi kalau masalahnya bukan pada alam atau inovasi, berarti memang sistem dan perencanaan yang harus diperbaiki....
    Sementara nunggu perbaikan sistem, gimana kalo masyarakat berusaha mengurangi konsumsi beras dengan menggantinya dengan bahan makanan alternatif? Kan masih ada kentang, jagung, sagu... Atau kalaupun beras ya jangan dimasak nasi, sekali-sekali bubur, lontong, kan butuh berasnya lebih dikit... Hitung-hitung mengurangi kadar gula darah dan menghindari diabetes, hehehe...
  14. From gambler on 28 February 2007 12:57:55 WIB
    setuju....
    saya juga sudah mengurangi beras. saya lebih suka:
    jagung rebus/bakar/kuah kepiting/(popcorn)
    kentang/singkong/ubi/tales/tahu goreng/bakar/(potato salad)
    roti panggang/pastry
    spaghetti bolognaise
    martabak manis/telor


    siapa blg lebih enak jamannya Soeharto..
    Ga ada orang susah kayak sekarang? buktinya saya lebih susah jaman si aki bokis itu. sekarang saya lbh baik he he he
  15. From dmitri on 28 February 2007 17:27:10 WIB
    nah, nah... komentar menarik tentang om Ciputra. Mr C mungkin bukan satu2nya pengusaha yang bisa masuk sektor agraris. pernah denger2 soal UKM gak? salah satu jalur pemasarannya menggunakan perusahaan PMA, dan ternyata cukup memakmurkan petani suppliernya. saya yakin banyak contoh lain.

    kalau kita coba ajak swasta, misalnya, orang tua kita sendiri, untuk invest di agraria, minta dukungan NGO untuk ikut mendidik environmentally friendly approach, etc, etc, tentunya kita mulai memindahkan peran leaderhip pusat ke tangan orang yang mau tinggal di daerah. kalau dilihat secara extreme, hal semacam ini akan menghasilkan community leaders yang secara ekonomi bisa mendukung kehidupan lingkungan2 kecil di daerah.

    ini bisa menjadi alternative yang rendah hati ketimbang NKRI yang kita setujui hari ini. dan ini bisa saja menjadi arah perkembangan negara kita.
  16. From mako on 28 February 2007 18:37:27 WIB
    makan tanpa nasi bagaikan dunia tanpa tawa.


  17. From Frans on 28 February 2007 19:49:29 WIB
    Mungkin produksi 31 juta ton dlm 4 bulan itu cuman teori di atas kertas aja. Dari tiap daerah nyetor data yg ga akurat.
    Soalnya di lapangan itu,petani mulai pikir2 untuk nanam padi
    mendingan tanahnya dijual trus jd TKI karena ternyata jd TKI itu lbh untung dr pada jd petani.
    Belum lg masalah krisis air,yg bikin petani jd rugi bt tanam
    padi karena takut gagal panen
  18. From novi on 05 March 2007 16:10:44 WIB
    krisis neras yamg udah lama banget jadi masalah buat Indonesia kayaknya jadi masalah yang susah banget ya buat diselesaikan. tapi salah satu kebijakan pemerintah saat ini kan impor beras. ok lah kebutuhan beras dapat diimbangi tapi apa kabar ya dengan nasib para petani?
    karena kenyataannya beras-beras impor cenderung lebih murah dan lebih baik. lagian musim di sini kan tidak menentu. terus gimana ya kira-kira tips bwt mereka?
  19. From joehanes on 10 March 2007 21:02:41 WIB
    'Kan ngak semua orang Indonesia harus makan beras. Misalnya di Madura, mudah ditanami Jagung (dulu makanan pokok di madura Jagung), ya tanam deh Jagung, jangan harapin beras dari Jawa terus. Demikian pula yang di Papua, di mana umbi-umbi-an relatif lebih mudah ditanam daripada padi. Toh, gizi yang terkandung di Jagung maupun Singkong tidak kalah dengan gizi yang ada di nasi. Bila terjadi diversifikasi pangan sesuai dengan keadaan alam di tiap daerah di Indonesia, maka konsumsi beras di Indonesia akan berkurang dengan sendirinya DAN yang terpenting, Indonesia tidak tergantung soal ketahanan pangan-nya dari produk-produk Impor.

  20. From veronika on 14 March 2007 11:30:59 WIB
    negara indonesia di sebut sebagai negara agraris tapi kenapa juga beras harus impor bukankah seharusnya mengekspor andaisaja pemerintah memberikan kebijakan khuhusnya untuk petani padi dengan pengadaan alat-alat pertanian, benih padi,pupuk,secara gratis atau harga yang terjangkau dan lebih murah kepada paRA petani mungkin hal itu akan menjadi semangat petani indonesia
  21. From teguh suprayogi on 01 November 2007 16:45:59 WIB
    mohon doa restu dari semua rakyat indonesia,penemu NUTRISI SAPUTRA disamping menemukan pupuk yang dapat meningkatkan produktivitas padi juga telah menemukan benih padi Saputra yang telah uji coba di Subang dan di panen tanggal 10 sept 2007 oleh Menseskab Sudi Silalahi,hasil riil perhektarnya 15 ton lebih,semoga target Saputra Group untuk mencapai indonesia swasembada beras 2008 tercapai,saat ini benih sudah disebar ke seluruh indonesia

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home