Articles

Poso tempat latihan teroris internasional

Wimar's World
24 January 2007

Konflik Poso adalah hasil teror internasional

Sejak awal pekan ini, kita ramai mendapat laporan mengenai konflik di Poso yang kembali mencuat. Media cetak, radio dan televisi ramai membahasnya, bukan saja di Indonesia tapi di seluruh dunia. Contohnya liputan Reuters yang menyatakan Poso di ujung tanduk akibat gerakan teror. Laporan ini didasarkan penelitian International Crisis Group yang secara intensif mengikuti konflik Poso selama bertahun-tahun.

Laporan oleh Hayat Mansur

Masalah Poso memang rumit. Pada Rabu malam (24/1), saya menonton tiga tayangan wawancara yang membahas kasus Poso di televisi, bahkan salah satu sumbernya adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla. Terus terang, saya baru mendapat kejelasan kasus Poso saat menyaksikan Wimar's World di Jak-TV yang juga membahas topik Poso. Di sini terlihat sekali kronologi insiden Poso dalam kaitan antara peristiwa yang lalu dan sekarang. Cobalah lihat tayangan ulang (Senin 15.00) dialog yang sangat hidup antara Wimar Witoelar dengan Anggota DPD asal Sulteng M. Ichsan Loulembah, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Sisno Adiwinoto, dan mantan Kepala BIN Abdullah Makhmud Hendropriyono. Disini kami sampaikan beberapa bagian dialog.

mtgpo.jpg

perlu diskusi panjang sebelum tampil (klik foto lain)

Konflik Dulu dan Kini

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan konflik Poso dulu merupakan konflik agama tapi sekarang teror. Apakah kejadian Poso yang lalu ada kaitannya dengan yang sekarang?
Ichsan: Seharusnya itu tidak berlanjut tapi ada pihak yang menginginkan ini berlanjut

Apakah itu orang dalam atau luar Poso?
Ichsan: Orang dalam yang punya hubungan dengan luar

Siapa pengacau di Poso dan dari kelompok mana?
Hendropriyono: Kasus Poso punya sejarah panjang. Bermula pada tahun antara 2000 2001 Poso kedatangan tamu tidak diundang dari luar negeri yaitu kelompok Umar Bandon, Abu Dahdah, dan Umar Farouq.

Apakah mereka itu semua orang luar negeri?
Hendropriyono: Betul. Mereka berangkat dari Madrid, Spanyol, masuk Indonesia lewat Bali dengan pemandu orang Indonesia Parlindungan Siregar. Kita tenggarai mereka melakukan pelatihan militer di Poso. Karena itu pada Agustus 2001 ketika saya sebagai Kepala BIN sudah memberi peringatan agar hati-hati tapi pada saat itu tidak diketahui posisi pastinya.

Jadi mereka bisa melakukan pelatihan militer tanpa diketahui?
Hendropriyono: Ya, walaupun saat itu ada berkas-berkasnya dan videonya
Mengapa dari video itu tidak bisa dilihat lokasinya?
Hendropriyono: memang terlihat ada banyak pohonnya tapi di sini pohon banyak sekali. Tapi orangnya jelas terlihat

Apakah mereka dideteksi melalui kerjasama internasional?
Hendropriyono: Iya. Setelah diburu, kita hanya mendapat satu orang yaitu Umar Farouk yang kemudian dideportasi. Sedangkan yang lainnya lari.

Itu sesudah atau sebelum kerusuhan besar di Poso?
Hendropriyono: Sebelum kerusuhan besar. Setelah mereka kabur, kondisi Poso menjadi seperti bara. Nah itu kemudian dikipasi oleh Jemaah Islamiyah sehingga kemudian menjadi konflik horizontal.

Bukan Sipil tapi Gerombolan

Adang (penelpon dari Rangkas Bitung) : Ada orang pemerintah juga yang terlibat karena yang punya senjata hanya pemerintah
Wimar: Iya, darimana mereka pada punya senjata?
Sisno: Kemungkinan itu dari penyelundupan lewat wilayah yang paling dekat yaitu Filipina.

Apakah penyelundupan itu dibantu kerjasama dengan pemerintah atau polisi?
Sisno: Kita justru mengusut penyelundupan senjata itu. Bisa juga senjata tersebut milik kita. Misalnya, mungkin dulu pernah dirampas, atau sisa Aceh, atau Papua. Tapi senjata-senjata yang disita itu akan ketahuan asalnya saat diperiksa nanti.
Jadi saat ini Anda yakin 100% tidak ada orang pemerintah terlibat?
Sisno: Saat ini tidak ada orang pemerintah terlibat
Kalau Pak Hendropriyono yakin. tidak ada orang pemerintah termasuk jenderal yang terlibat?
Hendropriyono: Hanya ada orang yang memanfaatkan untuk kepentingan politik. Tapi saya menyesalkan pemberitaan yang sering kali menyebutkan sipil bersenjata. Kalau sipil, ya tidak bersenjata. Yang bersenjata itu hanya militer dan polisi. Mereka dilindungi UU. Di luar itu adalah gerombolan. Mereka bisa menyengsarakan 250 juta rakyat Indonesia.

Gerombolan Harus Ditindak

Saat ini ada yang percaya dengan langkah polisi sekarang ini tapi ada juga yang meragukannya. Apakah langkah polisi ini nanti akan menjadi seperti mengorek ketombe, makin mengorek makin banyak?
Hendropriyono: Kalau keadaan normal kita bisa berpikir normatif. Tapi ini keadaan tidak normal akibat adanya gerombolan tadi sehingga sekarang harus pendekatan keamanan

Mengapa 14 orang yang masuk dalam gerombolan itu bisa berdampak pada 250 juta?
Hendropriyono: Mereka organisasi bawah tanah sehingga ada sayap militer dan sayap poltik. Mereka banyak pendukungnya secara politis.
Dimana pendukungnya?
Hendropriyono: Orang politik seperti anggota DPR dan orang partai

Bagaimana orang politik itu mendukung gerombolan?
Hendropriyono: Dengan menyalahkan langkah operasi yang diambil Polri saat ini
Jadi terhadap operasi polisi saat ini, orang harus setuju?
Hendropriyono: Orang harus setuju, karena jika tidak maka itu akan mengorbankan masyarakat Poso dan Indonesia.

Lalu apa yang harus dilakukan lagi sekarang ini menyelesaikan masalah Poso?
Hendropriyono: Harus dibongkar sampai ke akar-akarnya
Sisno: Antisipasi propaganda yang jahat


Create polls and vote for free. dPolls.com

Print article only

25 Comments:

  1. From H. Bannie on 24 January 2007 23:27:15 WIB
    Sebagai rakyat Indonesia yang sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan jika ingin Indonesia yang damai, sepatutnyalah kita angkat topi kepada POLRI yang telah bertindak tegas dan tepat, walaupun sebenarnya agak terlambat. Saya yakin siapapun yang punya hati nurani tanpa pandang suku agama dan ras, pastilah merasa resah bilamana ditengah-tengah kita ada gerombolan bersenjata yang setiap saat bisa muncul seenaknya mengancam bahkan meledakkan kepala kita. Bagi yang suka menyalah-nyalahkan POLRI dalam hal ini sadarlah anda itu maunya bagaimana sih?!
  2. From N. Priyonugroho on 25 January 2007 07:43:31 WIB
    Saya nonton Wimar's World di JakTV Rabu malam (24/01), dan kalo dengar statement dari Pak Hendropriyono dan Pak Sisno Adiwinoto, sepertinya data-data dan catatan yang lengkap sudah ada di tangan penegak hukum/intelijen. Kapan ditangani tuntas? Jangan ragu-ragu deh, harus tuntas, kalo nggak ntar konfliknya bisa melebar ke wilayah lain.
  3. From Bram on 25 January 2007 08:27:05 WIB
    Acara Wimar's World tadi malam benar benar menjadi sebuah 'eye popper' bagi saya yang benar benar "DODOL" akan apa yang sebenarnya terjadi pada Kerusuhan Poso.


    Perlu diketahui bahwa 2 dari 3 nara sumber Wimar's World tadi malam yaitu M Ichsan Loulembah serta Kepala Divisi HUMAS Polri juga muncul di Metro TV bersama Sidney Jones untuk membahasa topik kerusuhan Poso. Tapi entah kenapa, dengan adanya pemaparan yang sangat jelas dari AM Hendripriyono, Wimar's World benar benar berhasil memunculkan 5 W + 1 H (Who, What, When, Where, Why, and How ) dalam kasus Poso ini.


    Salut kepada AM Hendripriyono yang sangat tegas dalam memaparkan apa yang sebenarnya terjadi di balik Kerusuhan Poso.

    Salut kepada Kepolisian Republik Indonesia yang berani untuk mengambil tindakan tegas dan berani untuk menjadi tidak populer di mata masyarakat.


    Bagi saya pribadi, ketika ada orang-orang yang terbukti memang ingin memecah belah negara kita yang berdasarkan Pancasila, serta ingin mengadu domba masyarakat Indonesia yang sangat majemuk latar belakangnya,dan cara diplomasi telah menemui jalan yang sangat buntu,


    Tidak ada cara lain,

    LIBAS!



    Maybe it's not the BEST choice

    But it is certainly the RIGHT choice
  4. From Satya on 25 January 2007 08:59:26 WIB
    Sama dengan Bram, saya juga sebelumnya gak NGEH soal Poso bahkan setelah melihat interviews seharian soal Poso, soalnya belum bisa memasang WHO and WHY.

    hanya denger soal teknik penggrebekan, padahal baru ngerti kalo udah ada konsep soal WHO and WHY. bahwa ini hasil teroris dari luar sangat bisa dipercaya. saya ingin percaya bahwa ini bukan konflik horizontal / agama, tapi emang teroris yang menyelundup diri dan menyelundup senjata. dimana memang modusnya selalu manfaatkan agama.

    setelah kita mengerti ini akibat unsur luar, kita harus waspada bagaimana satu kejadian bisa pengaruhi satu negara. dan itu adalah melalui politik. hati2 kalau ada orang partai yang kritik polisi dan kesannya mendukung teroris. apakah emang sepihak dengan teroris, atau sekedar menuntut lebih banyak dari polisi, atau tidak terkait tapi kebetulan modusnya sama: memanfaatkan agama untuk kekuatan politik.
  5. From lh on 25 January 2007 09:31:53 WIB
    Thanks to Pak Wimar dan Hendropriyono, permasalahan Poso yang awalnya saya kurang mengerti sekarang menjadi jelas. Salut buat Hendropriyono yang bicara sangat tegas dan cerdas dalam memaparkan persoalan di Poso. Satu yang disayangkan kenapa Polri tidak cepat menjelaskan duduk persoalan ini kepada masyarakat sehingga berita yang berkembang menjadi simpang siur.
  6. From deny on 25 January 2007 11:04:30 WIB
    kadang-kadang HAM memang perlu di lindungi...
    tapi HAM nya siapa? klo HAM nya para gerombolan seperti kasus poso, ya ga usah lah...
    angkat topi buat mr.AM Hendro... tuntaS kan sampai keakar- akar nya... poso sudah terlalu lama mencekam..
  7. From erna on 25 January 2007 13:06:27 WIB
    Sudah lama saya gak percaya sama polisi karena seringkali dikecewakan. Pernah satu kali kagum pada I Made Pastika waktu kasus bom bali. Kali ini kagum lagi, dan setuju dengan tindakan polisi pada penggerebekan di Poso tempo hari. Masyarakat yang menyalahkan polisi sih tidak bisa disalahkan karena tidak tau apa2. Taunya polisi nembak, yang mati banyak. Padahal kalau dengar penjelasan semalam yang sangat masuk akal, pasti masyarakat dukung juga demi keamanan dan kenyamanan bersama. Semoga Poso cepat damai lagi. Dan semoga masyarakat juga makin pintar, sehingga tidak mudah dipengaruhi kelompok2 yang tidak jelas.
  8. From klubanbayem on 25 January 2007 13:11:47 WIB
    Perlu juga diwaspadai berita media massa,politikus senayan dan orang-orang yang sok pintar ilmu hukum.KRIMINAL BERSENJATA di POSO memang harus ditembak mati,karena akan membahayakan harmoni NKRI.Kriminal-kriminal itu memakai agama sebagai alat utama,sehingga mesti waspada politikus senayan yang juga menggunakannya dengan tujuan yang mungkin berbeda.Jadi kalau bisa tolong media massa nggak usah muat komentar orang-orang senayan itu!mereka ngga sadar kalau NKRI sedang diacak-acak kriminal berkedok jubah agama.Selamat berjuang POLRI ,JAYALAH INDONESIAKU.
  9. From Warsito on 25 January 2007 15:57:34 WIB
    Selamat utk Hendropriono yang dengan cerdik berhasil merampas Wimar's world untuk menjadi bintang show tadi malam. Saya prihatin bagaimana Hendro yang masih punya masalah dengan pelanggaran HAM di Lampung dan seorang dengan mindset serdadu bisa tampil di Wimar's World dan dengan runtut berhasil menjual pikiran2nya kepada pemirsa, sebagaimana dapat kita baca pada komentar2 di blog ini. Teroris memang harus dibasmi, tapi apakah yg 14 orang terbunuh kemarin adalah teroris semuanya. Keterangan yg kita dapat kan bersumber dari Polisi yg notabene adalah pihak yg bertikai di Poso. Seperti biasanya, Polri dan TNI hanya bisa berbicara dalam bahasa kekerasan, dan selalu gagal melakukan pendekatan2 damai terhadap pembangkang. Kita yg sukses menyelesaikan Aceh dengan cara damai seharusnya sudah pintar jadi orang sipil. Sayang sekali tadi malam ww disihir habis oleh Hendro sehingga taringnya tidak keluar. Tadi malam itu saya mengalami deja vu dan melihat Pangkoptamtib Soedomo dan mentornya Benny Moerdani diwawancara oleh Harmoko.
  10. From Satya on 25 January 2007 16:17:16 WIB
    wah bagus nih ada masukan dari pak Warsito yang merasa punya info lebih banyak dari penonton awam, soalnya kemaren cari bintang tamu baik dari sisi pro teroris maupun anti polisi, ga ada yg bisa dateng. padahal kita mau kejelasan.

    mungkin pak Warsito bisa paparkan ke semua pembaca, kalau seperti anda katakan yang dibunuh itu bukan teroris, kira2 SIAPA dan apa TUJUAN bunuh org yg bukan teroris?

    kalo minta bukti dari pak Warsito ya susah dong, tapi dengan menerangkan WHO and WHY dalam logika jernih, saya yakin semua orang bisa pikir sendiri dan jadi percaya sama pak warsito, karena kita mau polisi membasmi teroris tapi juga ga mau terorisme oleh negara seperti jaman orba.
  11. From Hamim on 25 January 2007 17:25:03 WIB
    Hidup Warsito !!!
    "deja vu"

    Kidup Satya !!!
    "kita mau polisi membasmi teroris tapi juga ga mau terorisme oleh negara seperti jaman orba".
  12. From Domi on 25 January 2007 21:07:15 WIB
    Om Wimar Witular emang jago abisss jadi host talkshow. Honest! Issue yang rada hot dan cukup pelik bisa diurai menjadi sederhana, gamblang, lugas, dan mudah dipahami. Pertama nonton Wimar's World pas topiknya low-fare airline. Sebenarnya di channel sebelah juga membahas topik serupa. Tapi, sekali lagi HOST does MATTER. Gak perlu istilah aneh atau pembawaan kaku. Om Wimar membuat talkshow seperti obrolan di warung nasi, santai tapi bernas dan berbobot. TOP Marko-TOP!
    Oke, comment on last night's discussion. Saya sepikiran dengan Om Warsito. Ngeri saya kalo Hendropriyono diangkat jadi Kepala BIN lagi. Busyet, mindset-nya itu lho, intelijen banget. Parno! Koq saya jadi teringat George W. Bush ya, "Either you with us, or against us!". Coba ingat ucapannya Pak Hendro, kalo ada politisi yang angkat bicara menentang aksi polisi itu berarti mendukung ulah para gerombolan. Wuits, nanti dulu! Sembarangan aja. Emang ga boleh netral, Pak.
    Eh, tapi saya masih salut sama Om Wimar. Hendropriyono kemarin malam itu menurut saya terpancing abis oleh Om Wimar. Bayangkan saja, acara telah berlangsung setengah jalan, komentar-komentar dari dua narasumber pertama (Kadiv Humas Polri dan anggota DPD dari Sulsel) tidak ada yang menukik. Semuanya seolah menahan diri. Tayangan seperti itu tidak worth to watch. Sebenarnya kalo di talkshow lain situasi ini lazim. Tapi ini acaranya wimar Witoelar, Bung! Saya tercekat dgn manuver Om Wimar saat akan mempersilakan Om Hendro bicara. Masih ingat saya kalimat pancingannya..."Pak Hendro biasanya cukup vokal dan berani tunjuk langsung.. bla-bla..bla" Eureka, Pancingannya kena! Bagai bak mandi yang sumbatnya lepas, mengalirlah kata-kata yg kita semua ingin dengar. Seperti anak kecil yang kegirangan habis dipuji, Hendropriyono mengumbar kata-kata seolah ingin menunjukkan bahwa dialah jagonya intelijen di Indonesia. Dan yang menakjubkan, he sustained to do so upto the end of the show!
    BAyangkan kalo orang seperti beliau berkuasa lagi... TIDAAAAAAKKK!
  13. From Chandra on 26 January 2007 08:48:04 WIB
    Wawancara terlalu berat sebelah,semuanya dari sudut pandang basmi, libas dlsb.,maklum 35 tahun dibawah Suharto, susah kita merubah paradigma yg berdarah2 itu. Kalau produser jeli, mestinya dia akan imbangi Hendro yg intel itu dengan misalnya Usman Hamid dari KONTRAS. Ngomong2 ,kalau Hendro jadi penguasa, pasti dia bikin Guantanamo disini. Hiii.....ngeri...
  14. From gambler on 26 January 2007 12:38:45 WIB
    Menanggapi komen Warsito,


    Memang kita tdk tau yg sebenarnya terjadi. Tapi saya setuju kalau negara berhak punya rahasia yg tdk bisa public tau. Apakah 14 org itu teroris/bkn, masalahnya aparat tdk hanya memburu teroris , tapi Pengacau/Pembangkang. Apalagi pembangkang yg bersenjata. Bagaimana bisa persuasif? Kalau polisi tdk menembak dulu, dia yg akan kena tembak.

    Kalau Aceh tlh diselesaikan dgn damai, itupun pasti telah melalui proses yg juga represif. HAM juga telah dipersoalkan di Aceh bukan?

    Saya rasa kita hanya ingin damai. Jadi kalau ada keributan apalagi tembak menembak, kita sebaiknya menjauhkan diri. saya kecewa pada masyarakat Indonesia yg hobby banget , Nonton!

    saya juga melihat ketika demo2 yg berujung kekerasan, itu dikarenakan pendemo yg ngelunjak. mengata-ngatai & memancing emosi polisi yg sudah persuasif.

    paradigma masyarakat sudah terlanjur buruk terhadap polisi, tapi saya justru mengalami kebaikan2 ketika berhadapan dgn polisi dijalanan (terutama kalau memang saya yg salah berlalu lintas). Hanya sekali pengalaman mendapatkan perlakuan kasar,(saya yakin bukan salah saya) tapi itupun saya maklumi krn panas menyengat dijalan & saya milih mengalah sehingga tdk berkepanjangan.
  15. From Bud\'s on 26 January 2007 17:32:17 WIB
    Sayang saya tidak nonton habis TVku gak nangkep sih...
    Tapi upaya pemerintah untuk menindak gerombolan, pembangkang, pengaco atau apalah namanya wajib didukung..
    ini namanya pemerinta berusaha menegakan hukum, supremasi hukum gitu loh.. meskipun memang aparatnya belum seprofesional yang kita harapkan jadi harap maklum.. baru segitu-gitunya kemampuan aparat kita, tapi usaha menegakkan hukum dalam kondisi keterbatasan itu usaha yang harus dicoba !! Setiap usaha ada resiko, no problem, maju terus !!

    "Takut akan kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak mencoba sesuatu." begitu kata Frederick Smith,Pendiri Federal Express.
  16. From Ariesman on 27 January 2007 13:08:39 WIB
    Kalau enggak salah, kasus Poso ini telah berlangsung kurang lebih 7 (tujuh) tahun dan sampai sekarang masih bergulir dengan panasnya. Saya cuma ingin mengkilas balik beberapa kasus lainnya yang terjadi di Aceh, Timor-Timur dan Irian. dari ketiga kasus tersebut, yang nyaris hampir sama adalah "lamanya" penyelesaian kasus-kasus tersebut sehingga mengakibatkan kerugian moril, materil yang tak terhingga (tentunya dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda satu sama lain). Bertele-telenya penyelesaian kasus Timor-Timur, secara tidak disadari telah mem-blow-upnya ke dunia internasional dan mengundang kehadiran mereka untuk "cawe-cawe" dengan hasil akhir yang kita ketahui bersama. Demikian juga dengan kasus Aceh. Begitu panjang dan meletihkan yang juga telah mengundang kehadiran pihak asing untuk penyelesaiannya. Kasus OPM-nya Papua telah bergaung juga di dunia internasional, yang bukan tidak mungkin nantinya akan berujung mengecewakan. Jadi intinya, selesaikan kasus Poso secepatnya, jangan bertele-tele, tentunya dengan cara-cara yang benar dan bisa dipertanggung-jawabkan.
    Kasus Poso ini bukanlah penindasan terhadap umat islamlah, pengrusakan dan penghancuran pesantrenlah dan lah lah lainnya. It's nothing to do with religion... get out of here...(aduh maaf kang Wimar, saya jadi sakit perut... gara gara makan cabe rawitnya kang wimar nih...)

  17. From Klementius Silalahi on 27 January 2007 15:51:01 WIB
    via email tanggal 25 Januari 2007:
    perkenalkan nama saya klemen. saya salah seorang penggemar pak wimar. tapi melalui email ini, saya mau memberi sedikit kritikan terhadap cara pak wimar dalam membawakan acara persfektif tadi malam.mohon untuk tidak terlalu banyak mendikte narasumber, berikan kesempatan kepada mereka untuk mengungkapkan pemikirannya. jangan selalu dipotong dan memberikan pendapat pribadi. sebagai pembawa acara seharusnya lebih pasif, bukan aktif seperti tadi malam. maaf, saya jadi kurang nyaman menyaksikan acaranya.
    sebelumnya terima kasih. semoga perspektif semakin baik dari hari ke hari.
  18. From Imam on 29 January 2007 14:09:14 WIB
    Makin jelas aja kerjaannya orang dpr:
    1. Minta naik gaji trousss
    2. Pendukung gerombolan teroris
    3. Pegiat berahi

    Ada lagi?
  19. From joel on 29 January 2007 15:10:45 WIB
    hendropriyono memang sosok kontroversial dan pada masa jabatannya sebagai kepala intelejen toh aksi teroris masih tetap terjadi di Indonesia. namun kita perlu mendinginkan kepala untuk menilai pendapat seseorang dari obyektifitas isinya dan tentu boleh diuji secara diskusi sehat dan multi dimensi. pemerintah dengan polisi dan tentara sebagai alat negara tentu berhak menindak pelaku kriminal bersenjata yang telah diberi kesempatan untuk menyerahkan diri terlebih dahulu. yang penting hukum ditegakkan dan keadaan di poso dipulihkan tanpa perlu darurat militer seperti di Aceh dahulu. masyarakat di poso secara umum membutuhkan keamanan dan kepastian hidup. jadi hal itulah yang harus dijamin pemerintahan SBY JK sebagai kewajiban menurut konstitusi.ingat kasus james meredith sebagai mahasiswa kulit hitam pertama di Mississippi University US tahun 1962? dia dikawal US Marshall untuk masuk ke kuliah di tengah tentangan masyarakat kulit putih saat itu, tapi negara menjamin hak warganya secara konstitusi. demikian pula yang harus dilakukan di poso.
  20. From Komarudin on 30 January 2007 06:17:28 WIB
    Waktu konflik Maluku memuncak, Hendro yang waktu itu menjbat Menteri Transmigrasi membei warning mengenai keterlibatan jaringan RMS dalam memicu konflik. Banyak aktifis dan organisasi Kristen marah dan memaki-maki Hendro. Tetapi kemudian memang terbukti bahwa RMS terlibat dalam konflik Maluku.

    Pada puncak konflik Poso, ribuan Mujahidin eks Maluku ke sana. Hendro mengumumkan temuan BIN tentang Camp Latihan Mujahidin yang dibiayai Al Qaeda dan dilatih oleh instruktur-2 dari Camp Latihan Abu Sayyaf dari Kotabato - Mindanao. Hendro lantas menjadi sasaran caci maki aktifis dan organisasi Islam.

    Pada puncak konflik Poso, milisi Kristen sempat terdesak, Tantena sempat pada posisi sangat terancam. Hendro yang waktu itu sudah menjadi Kepala BIN, dengan caranya sendiri berhasil membujuk Panglima Lasykar Jihad Jaffar Thalib untuk menarik pasukannya. Tantena terselamatkan.

    Waktu itu saya sempat tanya ke Hendro, tentang apa yang terjadi. Hendro bilang kalau Tantena sampai jatuh, akan terjadi pembantaian besar-besaran. Yang akan memicu masuknya Milisi Nasrani ke Poso untuk membela saudara saudara mereka. Poso akan menjadi Lebanon kedua. Hendro bilang, ini harus dihentikan.

    Itulan Hendro yang kontroversial. Tapi sebenarnya dia teguh pada pendirian mempertahankan cita cita kemerdekaan Republik Indonesia.
  21. From iburp on 31 January 2007 00:35:43 WIB
    Recommendation #3:
    Establish an independent fact-finding body, composed of all the stakeholders in a peaceful Poso and with full power to question civilian and military authorities, to examine grievances left over from the 2000-2001 conflict and suggest ways to heal them, with particular attention to the killings at the Walisongo Pesantren and surrounding villages in late May-early June 2000 and the Buyung Katedo killings in 2001.

    Ibarat bakteri yg hinggap pada luka yg belum sembuh!
  22. From WiLLy Da\' KiD on 31 January 2007 16:51:28 WIB
    Yah,,Judulnya ajah saya sudah tidak srek.mending main counter-strike aja sana,daripada ngambil nyawa.ehehehe,khan sama-sama main tembak-tembakan.Dulu yang tembak-tembakan diPoso itu antar umat beragama,sekarang antar Warga dan Polisi.Nanti mau antara apa lagi ya?hayo ada yang berani taruhan ama saya nda kalau nanti akan ada kejadian serupa seperti ini lagi?

    Kalau dari saya,saya tidak memihak siapa yang lebih benar atau lebih salah coz dua-duanya menurut saya salah.warga salah bertindak,polisi juga.hehehe,smoga cepat selesai aja yah....


    Wasalam,Tuhan Memberkati.....
  23. From Ordea on 01 February 2007 15:39:15 WIB
    musuh kita di kiri PSI, PKI
    di kanan Masyumi


    libas gerombolan DII/TII gaya baru
  24. From Mr. Nunusaku on 12 February 2007 18:49:50 WIB
    Saya salun dan angkat topi penghormatan pada Dansus 88 Polri telah bertindak tegas terhadap Teroris Islam di Poso.
    Sebenarnya kita harus akui kalau dari dulo TNI/Polri bertindak tegas terhadap teroris di Indonesia terutama islam radikal maka tidak terjadi kematian dimana-mana.

    Pemerintah TNI dan POLRI harus sehati bertindak tegas terhadap Islam Radikal karena merekalah yang menglahirkan
    teroris. Inilah kuasa setan islam radikal terbentuk, pemerintah jangan tutup mata, harus bertindak tegas tidak pandang buluh siapa saja yang salah harus dihukum.
  25. From mamano on 20 March 2007 15:43:15 WIB
    Ya, negara harus tegas, hukum harus ditegakkan. Sosialisasi dan pemberitaan yang proporsional tentang Poso harus dilakukan agar masyarakat jadi melek informasi, tahu apa yang terjadi sehingga tidak mudah terombang ambing pemberitaan yang tidak benar. Teroris setuju harus diberantas. Jangan segan-segan. Seperti hal di Saudi Arabia, terdapat lebih 25 orang yang terdaftar sebagai teroris dan saat sedang diburu oleh oleh polisi. Mereka tidak segan-segan memberi hadiah kepada informan keberadaan teroris, dan tidak segan-segan untuk membunuhnya bila menemukan. Pemerintah Saudi berani mengorbankan sedikit bangsanya yang teroris dan lebih menyelematkan rakyat yang berjumlah. Dan kita Saudi Arabia sebagai pusat pengembangan Islam. Di sini tidak protes dari rakyatnya. Saya doakan semoga cepat damai, kemakmuran dan keadilan dapat kita capai, amiin. mamano Saudi Arabia.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home