Articles

Top 3 Korupsi 2007: Infrastruktur, Beras & Daging

Perspektif Online
15 December 2006
oleh: Hayat Mansur dan Redaksi PO
 
Di penghujung akhir tahun ini, masyarakat kembali diguncang dengan kenaikan harga berasdan juga daging. Sementara itu, korupsi terus menempel pada proyek infrastruktur yang menyangkut kepentingan publik. Semua memperparah ekonomi biaya tinggi, yang membatasi kenyamanan publik dan membuat barang jadi mahal.
 
Kesimpulan serem ini muncul dari obrolan santai di pagi hari di InterMatrix dengan beberapa teman lama dan teman baru. Ada Faisal Basri, calon Gubernur DKI yang datang untuk wawancara Perspektif Baru (transkrip tersedia setelah disiarkan di radio). Ada Martin Manurung yang belum lama pulang dari Inggris dan Iskandar, yang datang untuk wawancara WW. Dan ada teman baru yang istimewa, Marsha Siagian sedang libur dari London, datang untuk ngobrol. Marsha teman blogging, kenal sejak Miss Sumatra Utara ini diwawancarai sebagai kontestan Miss Indonesia. Foto Marsha di IMX merekam first visit by a beauty queen (diluar yang bekerja sebagai staf IMX).
 
0talk.JPG
talk about nothing and everything - ada marsha dan batik faisal basri di pojok kiri
 
Faisal Basri menilai lonjakan harga beras dan daging bukan semata faktor produksi. Tapi itu dampak dari skandal yang akan membuat partai-partai termasuk politisi makin gemuk. Anda tentu sudah tahu ahli ekonomi dan tokoh reformasi Faisal Basri yang kini sedang maju menjadi calon gubernur. Tapi bukan dalam rangka itu kami bertemu. Faisal diundang menjadi narasumber tamu membahas Economic Outlook 2007 untuk Perspektif Baru.
 
Walau wawancara PB antara Wimar dan Faisal telah selesai, tapi perbincangan mengenai masalah ekonomi terus berlanjut, khususnya skandal apa yang sekarang paling berpengaruh buruk pada kesejahteraan rakyat. Tulisan rinci bisa dibaca di blog Hayat Mansur.
 
 
Infrastruktur: lahan utama korupsi
 
Menurut Faisal, tahun depan 2007 tetap infrastruktur menjadi lahan korupsi terbesar. Menjadi lebih parah karena melibatkan pejabat tinggi yang tidak bisa disebut disini karena belum cukup bukti. Tapi semua mendengar tentang korupsi yang menguasai proyek besar di bidang
  • pembangkit tenaga listrik
  • transportasi publik
  • pertambangan
yang dikuasai oleh pejabat seperti Wakil Presiden, Menko Kesra dan Gubernur DKI. Mereka adalah contoh "bad guy" yang berkuasa di puncak pemerintahan. Untunglah masih banyak good guy di pemerintahan terutama di kalangan teknokrat. Menteri Keuangan Sri Muljani misalnya berhasil melakukan pembersihan di Direktorat Jendral Pajak, menggantikan pimpinannya dengan orang bersih. Good guys ini bisa bekerja sama dengan civil society yang mendukung pemerintahan bersih.
 
Tapi tetap saja, mendekati tahun kampanye maka partai-partai membutuhkan logistik yang banyak. Potensi skandal ada pada proyek-proyek yang berkaitan dengan kekuasaan politik. Selain proyek-proyek infrastruktur, termasuk disini pengadaan pangan.
 
 
Korupsi pada pengadaan Pangan
 
Untuk pangan, menurut Faisal, perlu diperhatikan kemungkian besar akan terjadi El Nino yang akan membuat musim kemarau 2007 lebih panjang dari 2006. Karena itu diperkirakan kebutuhan impor beras Indonesia mengarah pada setengah juta ton. Dengan adanya disparitas harga dalam dan luar negeri maka pada jumlah impor 500 ribu ton, korupsi Rp 100 per kilogram sudah menghasilkan Rp 50 M untuk dibagi antara pejabat pemerintah dan politikus partai yang menguasai DPR.
 
Selain beras, daging juga akan makin menjadi kontroversi karena perkembangan produksi daging kita jauh lebih lambat dibandingkan tingkat konsumsi yang terus naik. Daging ini lebih eksotik lagi karena harga daging dari India Rp 18 ribu/kg sedangkan harga domestik Rp 40 ribu/kg.
 
Itu semua bisa berpotensi dinikmati tidak hanya oleh partai-partai yang dominan yaitu yang pada Pemilu lalu nomor 1, 2, dan 3 tapi juga partai lain. Apalagi terlihat kecenderungan untuk bagi-bagi konsesi. Misalnya, partai A mendapatkan daging, sedangkan partai B mendapatkan beras. Kalau melihat kompromi yang terjadi di DPR, jelas terlihat pola seperti itu.
 
Coba lihat saja kini Menteri Pertanian (Mentan) tidak ngotot lagi impor beras seperti tahun lalu. Ini salah satu indikasi yang kuat. Mentan juga ngotot mengizinkan impor daging dari daerah yang tidak bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) termasuk dari India. “Saya tidak mau menuduh tapi perubahan perilaku itu harus bisa dijelaskan,” tegas Faisal.
 
“Kalau begitu siapa aktor yang mengatur itu semua? Kalau dulu Presiden Soeharto. Sekarang dimana pusat pengaturannya?” tanya Wimar.
 
 
Kartel partai
 
Jawab Faisal, kini simpul-simpul itu susah teridentifikasi tapi ada kartel yang sangat terkordinasi mencakup anggota DPR. Hanya saja PDI Perjuangan sebagai partai oposisi sudah tentu tidak kebagian konsesi yang besar tersebut. Tapi Faisal menyatakan tidak tahu apakah anggota DPR dari PDIP secara individu mendapatkan bagian, karena kartel itu bersifat lintas fraksi. 
 
Guna mencegah skandal tersebut terus berlanjut, Faisal meminta siapa saja mengupayakan agar semua yang berbau skandal diungkap ke publik. Itu yang paling penting dulu, karena ketentuan mengenai boleh impor daging dari daerah bebas PMK baru ketahuan belakangan setelah surat itu dibuat. Ada kesan mereka lebih takut setelah itu terungkap. 
 
Lalu bagaimana nasib rakyat bila skandal tersebut tetap terjadi pada 2007? Faisal melihat rakyat masih akan tetap bisa hidup. Itu karena komponen proyek negara hanya 17% dari konsumsi pemerintah yang Rp 3.500 triliun. Jadi kalau 17% itu, misalnya,  diambil semua oleh pengusaha penguasa 'B3' yaitu Bakrie, Bukaka (Jusuf Kalla), dan Bosowa (ipar Jusuf Kalla), rakyat masih bisa hidup. Namun bagi 'B3' tentu tidak cukup walaupun semua 17% dikasih ke mereka.
 
Karena orang tamak tidak akan pernah cukup.
 
0grup.JPG
imx dan teman-teman: ww, daisy, marsha, martin, mansur, erna indriana

Baca juga: Economic Outlook 2007: Pertumbuhan 6%, Inflasi 6%, Rupiah stabil di 9200

Print article only

18 Comments:

  1. From Ramli Sihaloho on 17 December 2006 10:02:57 WIB

    sejauh ini track record Faisal Basri sepertinya cukup menjanjikan. soal lahan korupsi yg beliau coba angkat dan bicarakan adalah hanya secuil dari problematika yang ada.

    yg jadi concern saya disini, andaikan beliau dapat terpilih nanti, masihkah perang terhadap korupsi bisa dipertahankan ! andaikan ya, konsep apa yg beliau bawa untuk itu supaya tetap bisa survive sebagai orang nomor satu di DKI. sudahkah beliau dapat gambaran peta pemerintahan DKI yg sedang berjalan ataupun sebelumnya dan resistensi yg akan beliau hadapi untuk suatu perubahan yaitu perang terhadap si hantu koruptor ! dan penting dan perlu dingat juga untuk issue yg satu ini, beliau akan berhadapan dengan power yg lebih tinggi darinya. in a situation such of this , langkah strategis apa yg dia punya ? ingat, Faisal Basri belum pernah duduk sebagai executive , masih analis melulu dari dulu dan itu adalah gap besar kalau dibandingkan dengan Bung Sarwono yg sudah berkali kali jadi menteri. ada wibawanya untuk berhadapan dengan para penguasa utk semua level dan faktor ini yg tidak dipunyai Faisal.

    kalau hanya sebatas konsep diatas kertas, banyak orang yang bisa bikin itu termasuk saya sendiri misalnya . yg kita perlukan kedepan tidak cukup hanya sebatas konsep/wacana tapi juga yg bisa eksekusi secara konsistent.

    demikian sedikit pemikiranku tentang ini dan semoga ada benarnya dan manfaatnya.


  2. From anton on 17 December 2006 15:49:15 WIB
    saya kok lebih sreg rano karno atau Bibit Waluyo....

    Pak Faisal Basri di KPPU aja bagusnya, kok sering muncul iklan KPPU ya...? ada hubungannya dengan kampanye Pak Dosen?

    ANTON

    Dulu Mahasiswamu yang bengal
  3. From Satya on 17 December 2006 20:29:24 WIB
    asik juga nih ada yg berani kasih prediksi trend lahan korupsi.

    kalau selama ini PENANGANAN korupsi belum berhasil (karena yg terlibat ga akan ngaku, dan yg ga terlibat pura2 ga tahu), sebagai alternatif kita bisa juga coba PENCEGAHAN.

    kalau cukup banyak orang berani mengungkap dan membicarakannya, siapa tahu mereka jadi agak lebih takut untuk melakukannya dan untung2 gak jadi menjadi penjahat.

    mau tanya, selain infrastruktur dan pangan, lahan apa lagi yang perlu kita awasi? mungkin ada yg punya info atau prediksi? atau mungkin ada yg bisa bikin ranking lahan by volume of corruption? karena saya ingin tahu.
  4. From arul on 18 December 2006 18:38:05 WIB
    korupsi diri sendiri aja sering terjadi...
  5. From Warsito on 19 December 2006 12:58:54 WIB
    Sarwono dan Faisal semuanya good guys. Tapi untuk bisa menertibkan Jakarta, good guys aja masih belum cukup. Harus punya leadership,bisa merangkul semua pihak (kecuali koruptor tentunya), dan berani bertindak tidak populer. Jakarta sudah tertalu berantakan dan ancur2an, sehingga perlu Gubernur yang berani mendobrak. sayang, saya tdk melihat sifat2 tersebut pada diri Sarwono dan Faisal. Sarwono mendingan istirahat aja, kan anda sudah malang melintang mulai rezim Soeharto/Golkar sampai ke pemerintahan Gusdur.Dan jujur aja, hasilnya tidak kelihatan. Kalau Faisal, orangnya pandai tapi kaku, mungkin karena kelewat bersih dan jujur. Fauzi Bowo katanya didukung Sutiyoso dengan syarat nanti jadi team suksesnya Sutiyoso kampanye RI I. Runyam kan. Kalo dulu kita bikin klon nya Bang Ali, mungkin sekarang kita tidak perlu susah2 cari Gubernur.
  6. From Sembrani on 19 December 2006 16:38:48 WIB
    Apa memang korupsi sudah jadi bagian dari gaya hidup ya?. Yang disebut FB itu tentunya yang top rank. Yang alinnya adalah semua bidang dikorupsi. Pajak pun mungkin yang baigian atas saja yang dibersihkan. Dikantor wilayah itu sama juga gilanya. Restitusi bisa di negosiasi. Begitu jyga kekurangan pajak. Kayaknya memang masyarakat harus di didik supaya tidak usah pasang wajah ramah terhadap orang yang kekayaannya tidak sesuai dengan penghasilannya yang halal. Juga perlu dibikin peraturan yang tidak membolehkan menjadi anggota legislatif/pns orang-orang yang pernah ngemplang hutang/tidak mau bayar hutang padahal kehidupannya makmur, kekayaannya tidak wajar. Ini apa, parpol kok sarang koruptor. Pantas saja parpol tidak menang di Aceh. Kalau saja ditempat lain disediakan kotak kosong, saya yakin setipa pemilihan pasti yang menang kotak kosong itu.
  7. From Ramli Sihaloho on 19 December 2006 18:44:19 WIB
    jalan fikiran sodara warsito sangat reasonable dan perlu mendapat perhatian dari kita dan mengembangkannya. kalau hanya sebatas mendapatkan kandidat gubernur DKI ada ribuan orang antri untuk itu. yg diperlukan adalah kandidat yg mampu menjawab kebutuhan DKI dan tuntutan zaman.

    berangkat dari situasi dan kondisi yg ada, figur gubernur yg punya kapasitas dan power untuk mendobrak system yg sudah mengakar dan membudaya adalah suatu keharusan. ini kalau kita mau melihat DKI Jakarta tidak semakin ancur. krisis multi dimensi di negeri ini membuat keadaan semakin rujam dan seyogiyanya kita berupaya untuk memperbaikinya dengan sikap optimisme yg selalu eksis. apatisme dan sikap frustrasi tidak akan memperbaiki keadaan. seancur apapun DKI jakarta masa kini, disana masih ada harapan/ruang untuk membaik. ini hanya bisa terwujud jika kita semua dapat menyamakan persepsi untuk kebutuhan ini dan action yg tepat. manfaatkan semua media yg ada dalam upaya menyamakan persepsi itu dan ini adalah suatu langkah sangat strategis.

    kemudian juga adalah tidak berlebihan kiranya apabila Bung Wimar dapat menggulirkan calon lain yg kira2 punya prospek dan ini adalah suatu tantangan menarik tentunya. sekali dimunculkan seyogiyanya ada outputnya.
  8. From Nanda on 19 December 2006 19:48:22 WIB
    Calon2 yang ditampilkan selama ini semuanya payah. Kalau salah satu diantara mereka jadi Gubernur bakalan ambrol Jakarta kita ini. Calon2 yg tidak tampil, seperti kata ww, jangan dipilih. Nah ini usul saya buat ww atawa Efendi Gazali. Lupakan partai2 dan tampilkan beberapa tokoh alternatif dari Partai Orang Biasa yg memenuhi syarat sebagaimana dikemukakan mas warsito itu (aku setuju banget sama pikiran dia). Saya jamin suasana cara Gubernur kita bisa berubah segar, dan.....siapa tahu mereka bisa dipinang oleh partai2 yang masih punya akal sehat.
  9. From angga on 19 December 2006 22:49:49 WIB
    kalau soal lapor masalah korupsi, kpk saja sulit mensortir kasus mana yang bisa diungkap, smua pengamat menagtakan masalah muaranya pada orang2 tertentu yang menguasai infrastruktur nasional itu harus dibuktikan, saya merasa lebih menarik orang yang banyak action daripada diplomasi, karena bangsa ini harus dibenahi secara action bukan dengan nasehat serta diplomasi yang puitis dari seorang politisi, untuk itu buktikan apa yang telah diberitakan atau dituduhkan secara tidak langsung, banyak hal yang enak diceritakan tapi tidak mau serta berani untuk membuktikan, kalau sebelum terpilih saja tidak berani mengungkap apalagi nanti saat sudah punya atasan apa berani melawan arus,,, saya menjadi rakyat juga capek mendengar analisa2 logis, tapi sifatnya jadi sumir, saat dibantah sama yang bersangkutan maka pengamat yang semula vokal jadi diam seribu bahasa,,, janganlah hanya pandai menilai dan menganalisa orang lain cobalah analisa diri kita dahulu yang jauh dari sempurna(seperti saya), baru setelah itu kita bangun bangsa ini bersama-sama,,,, Aku kangen sekali dengan on WW,,,
  10. From wimar on 20 December 2006 00:40:58 WIB
    Dear Angga, kalau Angga mau menganalisa diri sendiri (seorang anak SMA) bagus sekali. Tapi orang lain yang berbicara juga sudah menganalis diri sendiri (seperti saya), dan berani menunjuk kepada korupsi walaupun belum lengkap buktinya. Bukan tugas saya memberikan bukti. Tugas saya adalah mempertanggungjawabkan ucapan saya, dan itu pada umumnya saya bisa. Aneh juga kalau Om Wimar yang anda kangeni, tidak Angga percaya kata2nya. Proses pengusutan korupsi dimulai dengan sinyalemen dari berbagai sumber dan pengusutan oleh aparat pemerintah. Kalau aparat pemerintah tidak melakukan pengusutan, tidak bisa warganegara diminta menghentikan sinyalemen. Kalau warganegara disuruh analisa diri sendiri, keenakan juga koruptor jadi bebas hambatan.
  11. From Anton on 20 December 2006 13:16:00 WIB
    Ah, Pak Faisal itu bicara trus, tapi nihil, dulu mau ganyang direktorat pajak dari orang2 korup tapi mana kelanjutannya? FB kayaknya kalo mau ngapa-ngapain separo jalan aja, nggak tuntas.

    Kalo mimpin Jakarta yang harus nggak separuh-paruh, untuk itu aku percaya Rano Karno, karena prestasi-nya jelas bikin Si Doel Anak Sekolahan punya rating yang tak terpecahkan sampai sekarang.

    Beda lho, orang intelektual dengan orang berbakat pemimpin. FB itu intelektual udah pasti, tapi leadership dia belum ada buktinya, toh saat di PAN dia nggak tangguh. Kalo Bibit Waluyo dan Rano Karno udah terbukti.

    Kalo Rano Karno menang, Anak Jakarta sekolah gratis total (termasuk gratis uang buku dan uang kesejahteraan guru), Puskesmas jadi aktif. Dan Kalo pasangannya Bibit Waluyo nanti banyak musik campur sari "rondo kempling"

    ANTON

    Tolak Faisal, Dukung Rano Karno
  12. From angga on 21 December 2006 00:53:25 WIB
    wah maaf, terlalu egois mungkin pendapat ku om WW, banyak hal yang masih saya harus pelajari jadi mohon2 maaf kalau pendapat saya masih kabur dan gak jelas, maklum mungkin terlalu dini saya ikut nimbrung dalam komunitas perspektif, tapi semua hal yang berkaitan dengan masalah bangsa ini harus selalu kita pecahkan bersama-sama, saya pribadi masih sangat percaya dengan om WW sebagai panutan pola pikir saya, dan yang saya alami selama ini hukum indonesia selama ini belum berdaya memangkas habis kasus korupsi, belum lama ini juga dunia hukum dicederai oleh judicial review yang agak mencengangkan dari mk yang menganggap pengadilan tipikor inkonstitusional, KPK dan Timtastipikor semakin digerogoti kewenangannya, yang ekuivalen dengan semakin tidak berdayanya pemberantasan korupsi yang sedang digaungkan,,, sangatb rumit masalah hukum bangsa ini, semoga aparat penegak hukum konsisten dalam pemeberantasan korupsi.

    nb : maaf ya om WW kalau komentar saya masih jauh dari sempurna, saya akan terus belajar memilah informasi2 yang saya dapatkan. sehat2 dan ceria terus om WW
  13. From wimar on 21 December 2006 06:08:48 WIB
    Angga tidak perlu minta maaf, sebab tidak ada yang dirugikan oleh tulisan yang tidak bagus, kecuali yang menulis sendiri. Justru Angga boleh bangga bahwa berani menulis walaupun belum siap betul. Banyak yang sangat bisa menulis, tapi diam saja. Makanya dimana-mana kita melihat tulisan yang dangkal dan asalan (termasuk di PO ini) sedangkan kita tahu banyak yang berpikiran matang dan lurus tapi menyimpan pikirannya untuk diri sendiri.
    Angga berprestasi ikut bicara disini. Tidak perlu ada pikiran 'terlalu dini saya ikut nimbrung dalam komunitas perspektif' karena justru kita disini untuk berlatih interaksi.
    Salut pada kekuatan anda yang tidak dimiliki penulis lain disini, yaitu HUMILITY, kerendahan hati, kesediaan menerima kritik tanpa kekesalan. Itu tanda Angga akan maju jauh. Lambat-laun Anda akan matang. Ingat saja, menerima kritik sampai dua kali dari saya atau orang lain adalah hikmah. You are getting free lessons in the school of hard knocks. Kasihan orang lain yang menulis nonsense, yang tidak bisa dikomentari lagi karena kelihatan memang bersikap antisosial dan menggunakan forum semacam ini untuk kompensasi ketidak mampuannya dalam kehidupan sehari-hari. Angga bukan orang macam itu. Angga adalah orang bermutu, calon anggota Partai Orang Biasa. Just keep learning.
  14. From xta on 22 December 2006 03:21:57 WIB
    bingung, apakah benar-benar nggak ada calon gubernur yang tidak neoklasikal dan terlalu percaya pada ekonomi pasar? Harga beras domestik memang jelas lagi mahal, harga daging juga disparitasnya (40-18) mencapai 22 ribu rupiah dibanding dengan di india. Tapi, justru we have to hold on to our farmers and producers instead of always thinking about maximazing profit, satisfaction, and gain. Where is the nationalism?
    Jepang contohnya, waktu itu, Amerika datang ke Jepang dan menawarkan segala macam barang konsumsi dari beras sampai elektronik yang harganya lebih murah. But did you guys know what Japan said ,,, "I am very sorry mr. Bush, but why should we kill our farmers?"
    Buat apa impor kalau kita masih bisa produksi? Harusnya calon gubernur mendukung enpowerment terhadap kapasitas manusia, dan bukan sekedar income buat bayar hutang luar negri saja. This is one thing I want to share to Mr. Faisal Basri, something that havent been tought in our campus, the faculty of economics, sir, but it is indeed very crucial (please refer to Amitai Etzioni : The New Golden Rule, and any of Sukarno's and Hatta's literature, see how much this nation has been drifted away from the initial wonderful vision from its founding fathers..)
  15. From beni on 22 December 2006 15:27:13 WIB
    Menarik, orang yg disebut oleh WW sebagai good guy justru dinilai nggak bermutu.

    Saya nggak tau apa kriteria yang dipakai anton sudah "pas". Soalnya dari yang saya ikuti, justru dirjen pajak yang ngancam akan memperkarakan faisal basri. sampai dia diganti, tidak pernah saya baca di koran faisal ditangkap atau dia minta maaf.

    Lagi pula, seperti kata WW, bukan tugas kita (termasuk faisal) untuk membuktikan ada tidaknya korupsi. sebagai warga negara, kita boleh dong kasih indikasi. Perkara membuktikan, mestinya itu kerjaannya polisi, kejaksaan atau kpk. jadi,mestinya kita bertanya kenapa soal dugaan korupsi di dirjen pajak itu tidak diungkap tuntas? ( MBM Tempo juga pernah kasih indikasi melalui liputan investigasinya, sayangnya saya lupa nomor berapa. tapi, tak lama berselang-lah dari ribut-ribut faisal dengan dirjen pajak yg udah diganti itu).

    Nah, perkara sdr anton lebih suka ama rano ketimbang faisal, ya bagus-bagus saja. nggak salah dan sehat buat demokrasi.

    Btw, barangkali sudah saatnya WW beri klarifikasi lagi hingga bisa sampai pada kesimpulan faisal (dan SK) itu good guy.
  16. From Muzzamil Siddiq on 23 December 2006 17:40:06 WIB
    Tau nggak yang lebih berhasil dari Ali Sadikin mbangun Jakarta tapi nggak pernah kesorot masyarakat : Ciputra.
    Ciputra-lah yang memodernisir Jakarta dalam arti sesungguhnya. Dia melaksanakan pesan Bung Karno, tanpa gembar gembor. Sosok orang seperti Ciputra, Ali Sadikin dan sedikit gaya ndablek Bang Yos perlu buat bangun Jakarta.
    Untuk Bung Anton, saya setuju pendapat anda untuk calonkan Rano Karno saya dengar beliau sudah mendekat ke PKB yah...

    Saya mau kok mendirikan Front KOBARKAN (Komando Bela Rano Karno)kan Megawati sudah ada front-nya,... Front Kobame, (Komando Bela Mega)

    Faisal Basri karena intelektual garis dukungannya : Institut Faisal Basri.
    Kalo Agum Gumelar namanya :Front Gagal Melulu (Forgam) abisan setiap mimpin apa-apa gagal. mimpin PSSI gagal, mimpin Dephub gagal, mimpin KONI malu-maluin, jadi cawapres urutan pemilihnya paling bontot, eh nggak tau malu masih mau nyalonin lagi.
  17. From Jacobus on 26 December 2006 17:38:00 WIB
    Seandainya saya seorang tokoh, katakanlah bersih & kompeten, saya pasti gak berani mencalonkan diri jadi pejabat publik. Ketidakberanian ini karena saya pasti tidak bakal didukung oleh para pemilih yang pingin pejabat publiknya orang bersih. Soalnya bagi pemilih tipe begini tidak pernah ada yang dianggap bersih (dan segal atribut tambahan lainnya, sebut misalnya tegas, konsisten, nasionalis...)

    Tak heran kandidat-kandidat politik yang bad guy kerap menang. Soalnya pemilih sudah kadung tidak menaruh harapan banyak.. Jadi asal pilih saja.. (tentu saja dia lebih mudah memobilisasi karena duitnya banyak, sedangkan good guy umumnya susah melakukan mobilisasi, karena hanya mengandalkan kesukarelaan pemilih dan itu pasti jumlahnya sedikit)
  18. From Jo on 22 June 2007 10:18:13 WIB
    Terus terang saya bingung milih siapa buat gubernur ini. Sutiyoso bilang kalo gloput itu ga bertanggung jawab karena ga milih tapi nanti complain. Saya mikir, loh enak aja dia ngomong begitu... Bagi saya ini pemaksaan untuk memilih.. Wong calonnya ga ada yg meyakinkan begitu...

    Ini sama saja seperti maling yg memaksa saya untuk memilih "Harta atau nyawa?", tentu orang berakal sehat (atau setidaknya saya) akan sebisa mungkin ga memilih harta maupun nyawa dan memilih kabur secepat-cepatnya. Bukan kabur dari masalah, tapi kabur dari ancaman untuk harus memilih (yang pilihannya merugikan semua). Saya sendiri kurang suka orang golput, tapi sepertinya kali ini saya akan golput. Ga rela suara saya dijadikan semacam 'approval' bagi yg menang nanti.

    Mau golput salah... mau milih juga kok rasanya salah, rasanya seperti membohongi diri sendiri... Gimane nih Sodare-Sodari?

« Home