Articles

Presiden: Kasus Lumpur Lapindo adalah Bencana

detikcom
23 November 2006

Luhur Hertanto - detikcom

Jakarta - Luapan lumpur Lapindo yang semakin menjadi-jadi hingga terjadinya ledakan pipa gas dianggap serius oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia menyatakan rangkaian kejadian tersebut sebagai bencana.

"Yah ini jadi sudah disaster. Jadi negara harus mulai ikut memikirkan ini," kata Menteri ESDM Poernomo Yosgiantoro mengutip ucapan SBY, usai sidang kabinet terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (23/11/2006).

Pernyataannya tersebut merupakan keputusan hasil rapat kabinet terbatas yang membahas situasi terakhir di Porong, Sidoarjo. Rapat diikuti oleh Wapres Jusuf Kalla, Menneg Lingkungan Hidup (Menneg LH) Rachmat Witoelar, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Ketua Timnas Lumpur Sidoarjo Basuki Hadimuljono, Gubernur Jatim Imam Utomo, Pangdam Brawijawa Syamsul Mappareppa dan Kapolda Jatim Herman.

Tidak jelas benar maksud dari penepatan sebagai 'bencana' dan 'pelibatan negara' di atas. Apakah itu berarti Pemerintah akan mengambil alih tanggung jawab penanggulangan dan penanganan dampak semburan lumpur dari PT Lapindo layaknya musibah yang statusnya bencana nasional.

Purnomo tidak memberikan jawaban yang konkrit saat dikonfirmasi mengenai hal itu. "Kita jabarkan nanti. Akan kita bicarakan dengan Bakornas sebagai tindak lanjut dari petunjuk Presiden. Lapindo masuk tim kita dan sudah bersama-sama ikut dalam rapat," ujarnya.(lh/fjr)

Print article only

43 Comments:

  1. From andie_r on 24 November 2006 09:22:49 WIB
    setuju saja jika kasus luapan lumpur di Sidoarjo jadi disaster. sebenarnya ini yang perlu sejak awal ditegaskan, sejauh mana tanggungjawab pemerintah, serta pihak Lapindo Brantas. Namun penetapan sebagai 'bencana' dan 'pelibatan negara' memang harus dicermati dengan baik, terutama dari perspektif kembali tidak merugikan rakyat, yang sudah harus merasakan kerugian akibat lumpur. Pendapat saya, Pemerintah menjadikan musibah ini sebagai bencana nasional, tetapi tanggung jawab penanggulangan dan penanganan dampak semburan lumpur mestinya harus tetap pada PT Lapindo, atau dengan kata lain pemerintah menjadikan ini sebagai bencana Nasional semata-mata "menjamin hak-hak masyarakat yang telah menjadi korban ini bisa benar-benar terpenuhi, dan menjamin proses penanganan kasus sidoarjo ini bisa segera diselesaikan oleh pihak Lapindo yang memang harus bertanggungjawab".
  2. From wimar on 24 November 2006 09:41:05 WIB
    Sekarang masalahnya adalah bahwa Bakrie melancarkan apa yang disebut oleh Todung Mulya Lubis sebagai "systematic exit strategy" dengan mencoba menjual PT Lapindo Brantas kepada investor asing yang tidak jelas permodalannya, didirikan oleh kawan lama keluarga Bakrie di negara tax haven. Bila jadi dijual, keluarga Bakrie tidak bertanggung jawab lagi atas kesalahan PT Lapindo apabila ditetapkan melampai batas perseroan terbatas, yaitu bila terbukti bahwa Lapindo melakukan kesalahan. Partner Bakrie di Lapindo, Medco, telah menuduh Lapindo melakukan malpraktek
    dan sekarang memasuki proises arbitrasi di New York.
    Bapepam menyatakan keberatannya terhadap penjualan Lapindo dan Menteri Keuangan mendukung sikap Bapepam. Hal ini membuat Menko Kesra Aburizal Bakrie marah-mnarah kepada pers. Ini bisa diikuti di blognya Yosef Ardi http://yosef-ardi.blogspot.com/2006/11/war-on-lapindo.html.
    Pendapat Todung dinyatakan wawancara yang sangat penting di Q-Channel bersama dengan Ichsanuddin Noorsy, Fuad Bawazier dan Sugeng Saryadi. Melihat latarbelakang orang-orang ini tidak dapat dikatakan semua punya motif murni, tapi fakta-fakta kasus ini terlalu memberatkan Bakrie sehingga saat ini dukungannya berkurang. Tapi dukungan yang paling penting masih ada, yaitu dari Presiden dan kelompok kepentingan yang mencari celah. Selama dukungan ini tidak dicabut, rakyat Sidoardjo akan kehilangan tempat tinggal, masa depan dan juga sejarah hidupnya berupa kampung halaman yang ditelan lumpur yang bencana alam, keserakahan pengusaha yang mendorong bencana itu, keraguan pemerintah dalam memilih sikap moral, dan kelihayan 'escape artist' yang sampai sekarang selalu mampu meloloskan diri dari jeratan yang diciptakan oleh keserakahannya sendiri.
  3. From wid on 24 November 2006 11:28:12 WIB
    Boleh saja masalah lumpur ditetapkan sebagai disaster, akan tetapi Lapindo berikut isinya harus tetap bertanggungjawab secara morli dan materil

  4. From Ricardo Yusuf on 24 November 2006 16:14:32 WIB
    Kalau dilihat dari cara penanganan lumpur Lapindo jelas dan nyata sekali terlihat bagaimana lambannya otoritas bertindak. Bayangkan masyarakat sudah gelagapan menelan lumpur dan malah ditambah sebelas orang terkubur beneran di lumpur, tapi otoritas masih asyik berwacana. Saya kira istilahnya bukan lagi 'disaster' tapi sudah menjadi 'monster'. Saya khawatir nanti kalau terjadi apa yg disampaikan WW, barulah kita terkaget-kage dan bertanya: Lho pada kemana, nih, yang ngebuat lumpurnya?
  5. From Andy M on 25 November 2006 03:39:38 WIB
    We hate the American. We are a proud nation. We hate ExxonMobil. We love to dream that we have the capability to produce oil and gas by ourself. What are our emergency plans, if this type of blowout occurs? We convene a meeting...we talk for hours trying to find 'scapegoats' to cover our blunder and inaptitude...Finally, we scream...Red Adair (The Texan) pls help killing the well....oh btw, George Bush is also a Texan...Nope..We are a proud nation. Go to hell with the American aid.
    Meneer Aburizal Bakrie, pay compensation to the poor people please.... You reap what you sow. You have destroyed the livelihood of hundreds, even thousand families. My kerupuk udang Sidoarjo factory has gone bancrupt. My hundred karyawan have lost their income. Does the government care?You should be ashamed with your 'f...ing' wealth...and haram dollar.
  6. From Henk on 25 November 2006 20:56:25 WIB
    Begitulah kebiasaan bangsa kita, terlalu menggampangkan masalah, Setelah mengetahui peristiwa ini sulit diatasi, maka semua pejabat terbirit2. Kasian penduduk disana menjadi korban pejabat2 yang tidak cepat tanggap dan pandai mengalihkan tanggung jawab
  7. From Gudhel on 26 November 2006 10:56:58 WIB
    Boleh saja ditangani pemerintah, biar lebih cepat teratasi, tapi dg syarat hrs ada 100% cost recovery yg dibayar oleh Ical. Kalau SBY sampai pake duit rakyat buat atasi lumpur yg disemburkan Ical, nasibnya mungkin kaya Thaksin, jalan2 di Hong Kong dan gak berani pulang ke Cikeas.
  8. From Ishak on 27 November 2006 16:51:28 WIB
    Penetapan status lumpur lapindo menjadi "bencana", merupakan salah satu indikasi keberhasilan kelompok bakrie dalam melobi pihak - pihak di pemerintahan. Pihak - pihak yg secara langsung terkena dampak dari lumpur ini pasti tidak akan setuju akan hal tersebut. Seperti yang di tuliskan wimar, ini adalah sebuah bentuk "pelarian diri" dari kesalahan dengan dalih yg tidak masuk akal. Semoga pemerintah masih punya hati dan akal dalam menyikapi masalah ini. Jangan sampai karena kepentingan kelompok atau individu, menyebabkan masa depan rakyat menjadi hancur dan terbengkalai.
  9. From Fransisca Linda Luhulima on 28 November 2006 14:06:06 WIB
    Itulah enaknya hidup di Indonesia kalo jadi orang besar
    Korupsi besar-besaran sama main bantai besar-besaran gak diseret ke pengadilan cuman karena ngakunya sakit kayak model Suharto

    Bikin usaha besar-besaran trus dapat untung besar-besaran sedikit keuntungan buat kampanye'in Jenderal Miskin model SBY setelah berhasil jadi menko ekuin setelah gagal jadi menko ekuin
    Nah usaha besar-besaran dengan untung gede-gedean yang diambil sendiri, eh kalo ada resiko minta pemerintah yang nanggung....ini artinya untung biar gue aja; kalo ada masalah lemparin ke rakyat
    Lha apa bedanya manusia bernama Ical ini dengan koruptor-koruptor kakap!!!!
    Dasar Pecundang nggak tau malu.....
  10. From redi on 28 November 2006 14:16:42 WIB
    Penyelesaian lapindo bisa disederhanakan dengan jalan paling radikal (1) jadikan semua pengelola lapindo sesuai pendekatan pidana sebagai tersangka kejahatan lingkungan; (2) sita aset lapindo, hitung dan jika tidak cukup membayar ganti rugi, pailitkan oleh negara dan tanggung jawab diambil negara; (3) hentikan semua proses pengalihan perusahaan lapindo dalam saat ini dan (4) semua elemen masyarakat sipil melobby dan tekan DPR agar aburizal bakrie bertanggung jawab dan berhenti dari kabinet.
    Saya kira ini lebih realistik,jangan lupa, jadikan pa wimar sebagai leader untuk mendorong perubahan di atas. Anggap saja cowboy yang punya segudang mantra sakti (yakni komunikasi) untuk bebaskan derita sidoardjo. saya juga siap sumbang apa yang mampu.
  11. From sunarto on 29 November 2006 21:50:50 WIB
    Di indonesia kan banyak ahli, para insinyur, para ahli fisika dan ahli teknik lainnya. Sebaiknya disayembarakan saja cara mengatasi banjir lumpur ini jangan dipikir sendiri dong, hal ini kan memacu seluruh bangsa ini untuk berpikir kreatif dan berguna siapa tahu semakin banyak ide dan bahkan ide yang tidak terduga atau belum terpikir sebelumnya yang masuk, sehingga banjir lumpur akan segera diatasi dan korban baik manusia maupun harta benda tidak semakin besar
  12. From Ramli Sihaloho on 03 December 2006 07:43:44 WIB

    team teknik dari ITB Bandung sedang bekerja dan biarkan mereka menyelesaikan pekerjaannya. malapetaka ini tidak mudah dan yg mudah adalah mengomentarinya. yg penting pemerintah konsisten mendukung upaya2 untuk mengatasi masalah tersebut karena dampaknya sudah melibas hajat orang banyak. perlu power untuk mengendalikan Lapindo supaya bertanggungjawab dan power itu ada dipemerintah.

    seyogiyanya dapat fokus pada titik masalahnya dan urgensinya, jangan lari kemana mana dulu sehingga ada proggresnya dan tidak memperburuk keadaan yg sudah sangat buruk.
  13. From Hadi on 04 December 2006 14:11:17 WIB
    Sebenarnya tidak semua Bakri itu ingin Untung Terus dan Culas, buktinya ada Bakri yang masih jujur dalam berusaha misalnya holand bakri
  14. From oki on 13 December 2006 19:45:17 WIB
    Bakri??? Hee..
  15. From Ramli Sihaloho on 15 December 2006 20:21:10 WIB

    nggak ada yang swalah engan terminology BAKRI. kalau secara kebetulan lumpur panas lapindo terkait dengan BAKRI ya oknum bakrinya yg harus dikejar, kalau perlu hanya celana dalam yg tersisa untuk menebus dosa2nya. persoalannya , mau nggak dia ?
  16. From monashichin on 24 December 2006 17:32:10 WIB
    bakri bakri... kalau mau cari unatung mbok ya.. yang baik
    jangan lepas tanggung jawab yaa!!!
  17. From ricky (Civil SBY) on 17 January 2007 12:12:37 WIB
    pemakaian bola beton dalam pengan kasus lapindo adalah hal yang sia2 belaka karen dengan uang tyang begitu besar dan dana yang begitu banyak hanya menyisakan suatu akhir yang sia2.
    lapindo ini sekarang sudah menjadi maslah global yang harus disikapi secara benar.
    menurut hemat saya dari pada menggunakan bola beton adalah tindakan yang kurang efektif logikanya abil sebuah selang dengan dihubungkan ke air ledeng nyalakan air secara kecepatan kecil isikan dengan bola besi mainan pasti akan percuma kalo kecepatan air di perbesar malah akan semakin percuma dan pemborosan dana.
    sebaiknya menggunkan suatu batangan yang cukup berat yang lebih berat dari baja dalam ukuran yang cukup besar dan diameter yang besar untuk melakukan sumbatan secara manual pada titik berbahaya. dengan tekanan dari atas untuk menekan pusat semburan seperti kita menyumbat selang ait dengan sebuah tutup karet. bayangkan bila yang disumbat berasal dari sebuah batngan baja yang cukup berat masanya dan memilikidiameter yang cukup besar untuk menutup pusat semburan. sekian . (Mahasiswa teknik sipil sebuah pts Surabaya) hanya sekedar saran bagi negara kita ini ketimbang membuang daan begitu besar sedang rakyat begitu menderita terutama rakyat disekitar lapindo.
  18. From Farida Y. Lubis on 02 February 2007 17:25:58 WIB
    Jangan hanya berpedoman pada ilmu dan keahlian semata-mata tetapi cobalah kita intropeksi diri, bukan waktunya saling menyalahkan karena kalau mau jujur, apabila mau rendah hati tanya hati nurani, siapa sebenarnya yang menciptakan alam semesta, apa kita pernah bersyukur akan nikmatnya diberi kesempatan hidup, berkarya tetapi apa hasil yang kita perbuat. bermakna atau mencelakan orang lain kah perbuatan kita ???

    Jadi... marilah sama-sama berdoa mohon ampun pada Allah swt yang maha pengasih dan penyayang, mohon petunjuk dan jalan yang terbaik mengatasi masalah ini. DIA Maha Besar dan berkehendak yang dapat memutar balik apa yang kita mau tergantung bagaimana kita dekat padaNYA. Sebagaimana kata hadist apabila umatku datang kepadaKU dengan berjalan, maka aku datang berlari dan ketahuilah bahwa aku lebih dekat dari urat nadimu.
  19. From The Truth on 17 February 2007 07:35:17 WIB
    Lumpur Lapindo adalah BENCANA menjadi BISNIS.
    Bencana Lumpur Lapindo pada awalnya adalah murni bencana, tetapi setelah dihitung-hitung kok bisa menjadi bisnis properti yang menggiurkan maka dibiarkanlah lumpur terus mengalir. Bisakah anda bayangkan luas tanah yang bakal menjadi milik group Bakrie kelak setelah seluruh tanah yang digenangin lumpur diambil alih dengan istilah ganti rugi?
    Soal ganti ruginya kapan dibayar pun belum ketahuan. itupun untuk tanah yang didukung oleh surat-surat kepemilikan yang jelas baru akan mendapat ganti rugi. Bagaimana dengan tanah yang tidak memeliki surat kepemilikan? Berapa persentase luas tanah yang tidak memiliki surat dari total seluruh tanah yang diambil alih? Jelas tanah yang tidak memiliki surat kelak akan dipakai cara kong kali kong untuk diberikan ganti rugi yang sangat murah.
    Jadi menurut pendapat saya pribadi, kasus lumpur Lapindo adalah MURNI BENCANA (pada awalnya) dan berubah menjadi MURNI BISNIS (pada akhirnya)
  20. From risye on 22 February 2007 09:27:39 WIB
    peristiwa ini memang bencana yang disebabkan oleh ketamakan manusia.pemerintah jelas harus ikut andil dalam menyelesaikannya.jangan hanya untungnya saja yang diimpikan,tapi masalah yang timbul harus diselesaikan dengan adil.pemerintah harus membenahi birokrasi yang sudah bobrok.tindak tegas untuk pemiliknya,jangan memendang itu siapa?dari kalangan apa?jangan korbankan rakyatmu!!!beri pelayanan yang baik untuk rakyatmu.
  21. From detemon on 07 March 2007 13:28:18 WIB
    Setuju bila 'lumpur lapindo' disebut BENCANA ... dalam arti kata:
    * BENCANA bagi Pemerintahan SBY, karena menunjukkan ke'tidak tahuan' ke'tidak konsisten'nan, ke'tidak tegas'an dan ke'lamban'an dalam penanganan kasusnya (dengan masih memeliharan Timnas) yg strategi penanganan belum teruji dan bahkan tidak membawa hasil
    * BENCANA bagi group Bakrie, yang tadinya mau untung menjadi buntung ... walaupun sekarang melakukan upaya 'strategis dan sistematis' untuk menghindar dari tanggung jawab
    * YANG PASTI BENCANA ... khususnya bagi masyarakat Sidoardjo dan masyarakat Jawa Timur pada umumnya, bila Pemerintahan SBY tidak tegas dan segera mengambil 'langkah kongkrit' juga bila Birokrat atau secara bersama dengan Para Wakil Rakyat memfasilitasi upaya Grup Bakrie 'lari dari tanggung jawab'
  22. From Arista Hadi P. on 03 April 2007 14:24:05 WIB
    Lumpur Lapindo memang bencana bagi kita semua, bagi saudara-saudara kita. entah kapan bencana tersebut akan berhenti... Saya harap pemerintah lebih melihat pada penderitaan masyarakat sekitar serta peduli terhadap nasib mereka yang kebanyakan masih kelabakan mencari tempat tinggal yang layak.
    Saya berharap juga kepada pemerintah agar meneliti kandungan gas alam atau kandungan kimia yang terkandung dalam lumpur tersebut, karena sepertinya,...jika dilihat dari mata telanjang kayaknya ada hal yang aneh di dalam lumpur lapindo tersebut. okay terima kasih. sekian saran dari saya semoga bisa memperbaiki keadaan.
  23. From nurohim on 17 April 2007 03:49:56 WIB
    dalam bencana lumpur lapindo ini memang sangat menyedihkan sekali saya ber harap pemerintah bisa menanggulanginya dengan baik selain itu bencana ini adalah benana yang di berika allah kepada kita supaya kita semua bertaubat maka saya himbau selain kita berusaha menghentikan keluarnya lumpur tersebuk kita juga harus banyak2 ber do`a unuk mendapatkan petunjuk dari allah. cuma itu yang bisa saya sampaikan dan hayalah allah yang maha mengetahui apa kuncinya saya turut berdo`a semoga bencana ini cepet selesai/dapat dihentikan dangan sempurna wasalamu`alaikum warohmatuwlohi wabarokatuh
  24. From romy hadianto on 22 April 2007 21:20:40 WIB
    kasus ini merupakan bencana bagi seluruh bangsa yang belum dapat ditangani pemrintah sendiri tanpa bantuan pihak asing yang kalau dibiarkan brlarut akan menenggelamkan perekonomian rakyat secara tidak langsung
  25. From widhi on 30 April 2007 12:53:42 WIB
    Buat saya Lumpur Sidoarjo atau Lusi adalah human made disaster, yang sangat merugikan masyarakat Sidoarjo. Apalagi Meneer Bakrie berlindung di balik ketiak SBY, padahal kalau kita lihat proyek-proyek Bakrie group selalu bertambah seiring masih bercokolnya dia dalam kabinet. Merugi, pasti tidak karena proyek perbaikan infrastruktur di Sidoarjo aja lari ke Bakrie group. Sekarang dari mereka bilang "Saya bertanggungjawab penuh", tapi uang yg dikeluarkannya seret-ret-ret.
  26. From Ajeng on 28 May 2007 13:57:57 WIB
    musibah yg bnyk menelan korban jiwa terutama anak-anak yang gak bisa sekolah selayaknya ..
    jiwa ank-anak yg hidup dlm penderitaan di penampungan yg kurang layak ..
    Tlng dipikirkan nasib mereka ..
    coba manfaatkan lumpur lapindo yang kaya logam berat untuk diolah menjadi sesuatu yg lebih bermanfaat sambil menunggu alam mengobati luka yang diperbuat oleh manusia
  27. From Bayu on 31 May 2007 11:53:38 WIB
    Lumpur Lapimdo...?? Kasian saudara2saya yang dipengungsian. udah satu tahun mas hidup terlunta lunta tak jelas jluntrungnya. soal ganti rugi yang tersendat sendat bak orang kencing batu!! Siapa yang harus disalahkan... Barak pengungsian yang difasilitaskan pun tak memadai. makanan yang membosankan. tidur yang bergelatakan bahkan kalo mau melampiaskan nafsu maaf bersenggama maksud saya pun susah!!!!!! Mana tahan.....udah satu tahun mas, ndak kuat dah mau pecah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
  28. From Lani on 06 June 2007 18:07:18 WIB
    Lumpur Sidoarjo ini disebut "Bencana" apa beda bencana sama
    Bencana Nasional dan musibah. Kalo ada suami yang ketauan istrinya punya WIL lain itu juga namanya bencana, bukan Bencana Nasional atau musibah. Kalau setir mobil tubruk becak,
    lalu ditanya Pak Polisi biasanya kita sebut musibah bukan sengaja. Kalau musibah harus ganti rugi, kalau bencana definisinya banyak. Lebih baik kondisi yang dialami oleh rakyat yang terkena lumpur Sidoarjo disebut "Sengsara akibat
    Lumpur" sambil menunggu peningkatan status untuk menjadi
    lebih menuju ke kata bencana. Kalau masih bisa tersenyum juga
    tidak boleh pakai kata sengsara, tetapi pakai kata "Dilewati
    Lumpur". Tapi yang jelas di dalam hati mereka yang terkena
    musibah lumpur ini, mereka sungguh sengsara, stress, dan mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidupnya. Mereka yang ada ini kalau bisa diberikan prioritas pekerjaan di Instansi
    - Instansi, BUMN - BUMN sehingga mereka tidak ambruk fisik dan moralnya. Habis perang dunia II, Jepang dibom oleh Sekutu, Jerman kotanya luluh lantak , tetapi mereka bisa bangkit lagi. Aceh terkena tsunami beberapa jam, kehancuran luar biasa, kematian ratusan ribu, sekarang mulai bangkit lagi. Sedangkan lokasi lumpur masih di Pulau Jawa, semua fasilitas lebih lengkap, jadi masyarakat harus optimis bahwa
    masalah ini bisa diselesaikan segera. Karena kalau segera ya
    segera , tapi jangan didesak kapan, emangnya ada utang sama
    siapa. Siapa berkata segera terhadap siapa dan itu yang harus bisa dimaklumi. Bantuan - bantuan juga diharapkan datang segera, tentunya semua mengharapkan bantuan yang ada,
    segeranya sama seperti kejadian di Aceh, namun segera ini jangan dipaksa - paksa karena dia punya hak sendiri untuk menyebutkan waktunya. segala media masa terhitung lebih banyak memberitakan masalah lumpur Sidoarjo dibanding tsunami di Aceh, tapi kurang dalam penggalangan dana dibanding kejadian di Aceh. Ah, lagi2 mengkritik, keliatannya untuk menggalang dana itu merupakan hak asasi yah, kalau mengungkit - ungkit salah juga sebenarnya.
    Ada ahli yang nyebut itu bencana dan ada juga yang tidak,
    sebenarnya itu biasa, karena di proses hukum penuntut mengatakan terdakwa bersalah, tetapi pembela mengatakan terdakwa tidak bersalah, jadi mungkin teori ini masih bisa
    berhubungan , bisa juga tidak, lumpur ini juga bukan sembarang lumpur, karena dia datang untuk mengetes semua watak manusia, karakternya, kewibawaannya, arogansinya, dan
    semua watak yang lain dites dan jadi terbuka yang akhirnya,
    tidak bisa ditutup - tutupi lagi. Di tahun peringatan lumpur
    yang ke-3, masyarakat international mulai panik, karena iklim global jadi tidak karu2an lagi, masyarakat Eropah dan Amerika mengalami kerugian ribuan triliun rupiah, karena
    mengalami kegagalan di pertanian dan perkebunan, yang masih
    berkaitan dengan nongolnya lumpur ini, di saat itu mereka merenung, oh ya dulu aku juga tak bantu apa - apa kok, kenapa sekarang harus marah ?
  29. From Ismail on 07 June 2007 11:19:29 WIB
    Masalah lumpur lapindo yang menjadi tanggung jawab PT.Lapindo brantas sebaiknya BPLS / PT. Lapindo Brantas mengadakan semacam kesempatan bagi pihak umum dalam bentuk ajuan rencana penghentian lumpur lapindo di pendopo kab.sidoarjo.
  30. From Depersa on 14 June 2007 11:15:12 WIB
    Berbicara mengenai lumpur lapindo saat ini bukan lagi mengenai siapa yang bertangung jawab mengenai kasus ini, tapi pemerintah beserta pengelola harus memulai dengan bekerjasama dengan siapa saja didalam hal penanggulangan lumpur ini. Jangan malah menolak segala campur tangan masyarakat didalam turut serta menanggulangi lumpur ini.
    Salah satu contoh adalah bahwa ada sekumpulan masyarakat dari Tapanuli mau turut serta berpartisipasi dalam menanggulangi lumpur ini, tapi tidak tau harus melalui siapa. Semua jalur kearah sana seolah-olah tertutup. Inikan namanya ingin memperpanjang kasus ini supaya uang terus mengalir baik dari pemerintah maupun dari pihak pengelola sebelumnya. Bila ada pembaca yang tau kemana harus melakukan kontak tolong di reply ke email ini. Sekian dan terima kasih.
  31. From juriah on 13 July 2007 12:21:56 WIB
    Sangat memilukan untuk saudaraku di sidoharjo...
  32. From Ronny on 15 July 2007 11:06:09 WIB
    Penggunaan kata 'bencana' harus hati-hati bisa dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu untuk melepas tanggung jawab dan mengambil keuntungan, yang buntutnya rakyat Indonesia semuanya yang dirugikan. Hanya dengan menggunakan kata'bencana' tersebut kita, bangsa ini tidak pernah belajar dan terus membodohkan bangsanya sendiri. Apa akar permasalahan yang menyebabkan mengalirnya lumpur dari sekitar kegiatan sumur pemboran Banjar Panji oleh Lapindo tidak pernah dituntaskan dan dijelaskan dengan jujur dan benar oleh pemerintah. Masyarakat berhak tahu apa penyebabnya dan siapa yang harus bertanggung jawab. Apa ini beban pemerintah yang juga notabene beban rakyat pembayar pajak atau beban Bakrie Group?. Pemerintah seharusnya meminta Independent Consultan atau organisasi profesi menyelidiki aspek teknis dan manajemen Lapindo. Mengapa Medco melepaskan share di Lapindo, dan mengapa pengajuan kasus ini keabitrase internasional dicabut? Kapan kita mau berhenti dari kegiatan pembodohan bangsa oleh bangsa sendiri, praktek good governance hanya berupa jargon. Penggunaan kata bencana yang tidak tepat bisa merugikan kegiatan eksplorasi perminyakan Indonesia.
  33. From libhy on 30 July 2007 17:04:30 WIB
    yok semuanya berdoa kepada Alloh SWT agar bencana yang menimpa negeri ini cepat mendapat jalan keluar yang terbaik. ingatlah saudaraku semuanya bahwa sesudah Alloh memberi kesulitan pasti Ia akan memberikan kita berbagai kemudahan yang mungkin tidak kita duga-duga. janganlah kita jadi berputus asa, karna hal itulah yang disukai syetan baik syetan yang keliatan maupun yang tidak kelihatan.jadikanlah ini sebagai ajang untuk merontokkan dosa-dosa kita sehingga saat kita menghadap Allah di yaumul hisab pahala kita akan lebih berat daripada dosa-dosa kita.Amin
  34. From alfons runkat on 24 November 2007 15:59:30 WIB
    Tidak ad masalah yang tidak bisa diselesaikan kecuali pemerintah memang tidak punya niat menyelesaikan karena beberapa faktor
    1, politik
    2, bisnis ( duit )

    saya ada usul jika memang mau
    1, undang perusahaan asing yang siap ahli ( USA )

    contohnya aja adam air saja dapat ditemukan,

    tetapi seperti yang saya katakan jika mau karena menyangkut duit besar, emangnya rakyat gue pikirin,

    saya usul pemerintah sidoarjo ambil alih , lapindo, saya akan bantu cari investor untuk menyelesaikan luapan lumpur, itupun kalau pemerintah lapindo tidak kena intervensi.
    duit duit membutakan hati nurani pejabat,
    rakyat bersatu ambil alih lapindo, gedung dpr aja bisa diambil alih, itupun kalau mau.
  35. From fatahuddin on 16 February 2008 04:40:26 WIB
    enak aja dibilang bencana, jelas2 ini salah dari ulah manusia kok tuhan yang disalahkan. memangnya dunia ini milik nenek moyang kamu. kalau masyarakat yang miskin biki kesalahan pasti di huum dan diadili dengan alasan penegakan hukum, ee kalau pejabat yang berbuat malah negara yang nanggung, woiii SBY-JK kamu tau nggak yang punya lapindo, yang punya itu anak buahmu yang masih nongkrong di kabinet bersatu lho. payah emang punya penguasa yang tidak punya hati nurani, aku yakin untuk 2009 nanti kamu pasti tidak dipilih lagi jadi [penuasa di negeri yang kaya ini. masih ada juga orang2 edan yang nguasain bumi katulistiwa ini. aku tidak percaya lagi dengan pemerintahan ini, udah bubar aja kalian semua ato mundur demi harga diri bangsa oke. ini suara dari rakyat yang selalu tertindas oleh penguasa negeri ini.
  36. From Nana on 21 February 2008 17:05:11 WIB
    Kasus lumpur lapindo memang merupakan sebuah bencana buat kita bangsa Indonesia. Tapi tanggungjawab atas apa yang telah terjadi tidak bisa dielakkan begitu saja mentang-mentang ini dikategorika bencana alam. Untuk PT. Lapindo Brantas saya minta cepat-cepat melakukan tindakan yang sangat-sangat berguna bagi korban lumpur lapindo. Coba seandainya yang menjadi korban itu para pemilik PT. Lumpur Lapindo apa ya mereka mau merasakan susahnya menjadi korban suatu kesalahan pihak lain. Saya harap pengelola PT. Lapindo Brantas bisa terketuk hatinya untuk bisa merasakan apa yang telah dialami para korban. Betapa susahnya hidup di tempat penampungan yang sama sekali tidak nyaman. Bagaimana sedihnya kehilangan kampung halaman dimana di situ tersimpan banyak kenangan-kenangan indah. Andaikan saja jika bencana lumpur lapindo itu terjadi di Jakarta. Apa ya mereka mau terima begitu saja. Jadi sebagai sesama saudara marilah kita sama-sama ikut membantu para korban. Jangan hanya mau enaknya saja. Saya tidak mau dan tidak suka menyalahkan tapi saya hanya ingin menyadarkan saja. Terima kasih.
  37. From hati on 31 March 2008 15:57:23 WIB
    Kalau ukuran dosa itu seberapa banyak kita menyakiti dan merugikan oranga lain, kira-kira seberapa dosa ya, mereka yang bertanggungjawab atas lumpur. Rasanya sudah cukup halal untuk ditumpahkan darahnya..
    Kadang kalau sesuatu sudah tidak bisa diperbaiki kita harus berbesar hati menggantinya dengan yang baru. Duhh indahnya kalau Revolusi Perancis dan Pisau Guillotine bisa berulang di sini, pancung saja semua yang korup, dan berharap yang baru bisa sedikit lebih baik..
  38. From a.karim siagian on 05 April 2008 14:01:51 WIB
    aku sih cuma prihatin soal lumpur lapindo,... cuma yg aku gak bisa terima lihat mentri kita yg nangani masalah tsb, coba perhatikan pak mentri kita yg satu ini, raut wajahnya sekalipun tak pernah terlihat rasa duka, haru, prihatin, memelas dsb, dst. mbok ya kalau hrs ngebahas kasus lapindo raut wajahmu itu agak2 prihatinlah dgn nasib rakyat disana. teteskan kek airmata buayamu, atau wajahmu itu agak memendam duka yg dalamlah, pokoknya agak2 akting dikitlah bila lagi nongol di teve. tampilkan sense of belongingmu atas nasib warga yg tertimpa musibah tsb, kalau tak bisa meringankan beban mereka, minimal senyum yg pahit walaupun hal tsb bertolak dgn nuranimu.
  39. From Moh. Natsir on 22 April 2008 21:26:24 WIB
    Saat beberapa pejabat tinggi termasuk Presiden dan Ibu presiden menonton Film Ayat-ayat cinta di bioskop, katanya para pejabat itu menitikan air mata ketika menyimak film yang sangat booming di Indonesia. Tapi adakah para pejabat itu mencucurkan air matanya saat melihat Korban Lumpur Lapindo yang sudah hampir dua tahun ini belum terselesaikan masalahnya. Bahkan pengungsi yang berada di Pasar baru Porong mulai tanggal 1 Mei 2008 akan dihentikan subsidi makannya. Bisa kita bayangkan, darimana para korban itu bisa memperoleh makan, sementara ladang dan sawah tempat mereka mencari makan hancur berantakan tertimbun lumpur, betapa kejamnya Lapindo dan Pemrintah. Tidak ada ras iba, sedih atau bela sungkawa.
    Iya bagi beberapa kalangan, lumpur lapindo disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di Jogjakarta beberapa saat yang lalu sebelum kebocoran pertama terjadi. Bagi ilmuan yang Pro Lapindo Corp. tragedi itu adalh bencana alam yang disebabkan oleh gempa tektonik diJogjakarta. Kalau itu alasannya di daerah poprong terdapat banyak pengeboran minyak yang juga dimiliki lapindo, tapi mengapa tidak bocor seperti yang dialami saat ini?
    Bagi yang ingin faham kasus ini, coba lihat sejarah sejak awal aktivitas pengeboran itu. Tidak pernah diperbolehkan oleh pemerintah pengeboran itu dilakukan didekat pemukiman warga. dan sejak awal ijin yang dimiliki lapindo adalah untuk kandang ayam bukan untuk pengeboran minyak. PT lapindo sudah sejak awal menawarkan rumah-rumah disekitar lokasi pengeboran itu tapi tak ada yang ingin menjual tanah dan itu sudah terjadi lama sebelum kebocoran pertama terjadi. yang jadi pertanyaan adalah mengapa Lapindo ngotot sangat ingin melakukan pengeboran di porong itu? Yang jelas pengeorbanan yang dikeluarkan lapindo sekarang sangat kecil dibandingkan hasil yang akan diperoleh nanti. sudah muali terlihat apa saja yang terkandung didalamnya, gas(sudah terbukti, Dibanyak tempat gas yang bocor menyala), emas hitam (pernah keluar diberita).
    Bukan bencana alam itulah kesimpulannya.
    kesengajaan itulah kejadiannya.
    Jelas terlihat bagaimana kejamnya jika menyatunya korporasi dengan penguasa. tapi yang perlu menjadi catatan kita bagaimana SBY-JK dengan Abu Rizal Bakrie sangat erat hubungannya dan SBY tak berani mengehentikan keberingasan Bakrie adalah pada saat pencalonan Presiden yang menjadi penyandang dana salah satunya adalah Bakrie. dan sebagai kompensasinya Bakrie bisa melakukan apa saja dan harus dilindungi pemerintah. Buktinya APBN akan menganggarkan 700 Miliar untuk Ganti rugi korban Lapindo. Mengapa Bukan Uang Bakri yang katanya saat ini terkaya diIndonesia dengan uang lebih dari 50 Trilyun?
    Sangat naif jika kita menggap itu bencana.
    Hilangkan pandangan itu dan tuntutan utamanya sebenarnya adalah kepada PT Lapindo dan 2 pemegang saham lainnya yang dimediasi Oleh pemerintah. Peran Pemerintah adalah harus menekan Lapindo dan kawan-kawan agar bertanggung jawab penuh terhadap Korban Lumpur yang mereka sebabkan.
  40. From yogan on 18 July 2008 22:41:02 WIB
    Bakrie mau menikahkan keponakannya dan menghabiskan dana dua digit milyar rupiah, Harga mahkotanya pun sebesar 3 milyar, harga bunga sekuntum 1 milyar didatangkan dari luar negeri. Belum lagi nanti acara pestanya dilakukan di Bali pada bulan agustus 2008. sementara di saat ini warga korban lumpur tengah kebingungan mencari makan untuk hidup sehari? Padahal Lumpur itu termasuk dari produk Lapindo. Biar bagaimanapun, Bakrie tidak layak menggelar pesta meriah ditengah - tengah keharusan dia sebagai menko Kesra, melihat rakyat Sidoarjo dan Indonesia umumnya tengah banyak kesusahan. Sebagai Menteri yang katanta berperikemanusiaan dan menjunjung tinggi nilai - nilai pancasila, mengapa tega ditengah gencarnya triakan hemat energi, hemat ekonomi serta kemiskinan yang hampir merata di Indonesia justru malah akan menggelar Pesta dengan nilai puluhan milyar Rupiah. Patut di bunuh....
  41. From Yose Rizal on 06 August 2008 08:37:23 WIB
    Saya setuju dengan judul artikel di atas.."Presiden: Kasus Lumpur Lapindo adalah Bencana"..." yaaa..bencana pada sebuah negara yang gagal dikelola secara benar...
  42. From cancer girl on 18 August 2008 20:46:15 WIB
    Menurut aku saat ini bukan lagi saatnya berunding tapi bertindak, sekian lama kita berencana tapi ya....apa hasilnya kalau bukan mencampur tangankan "TANGAN KITA" ya ga..bro..??Jangan cuma ngadu ma penguasa yang berwenang pak,bu,maz,mbak,om,dik n syapalah,,,dibalik itu kita juga jangan sampe lupa ma yang diatas, bisa juga kan karna kurang bersyukur kita diberi hukuman orrr...mungkin karna rakyat yang begitu sabar n diuji ma tuhan,ce'ellah ga mungkin!!!Udah dech saranku trima ja n masukin logika, kujamin bisa banget dech!!!Thankss
  43. From MY SUNARYO on 10 March 2009 09:20:51 WIB
    menurut ulun karena negara ini dipimpin dua boss,presiden n partai kebijakan tidak menentu yg satu progamnya begini yang satu begitu jadi begini begitu.mendingan ngak usah bingung2

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home