Tiap orang bisa menerbitkan berita, tiap orang bisa menanggapi
Perspektif Online
09 October 2006
Citizen Journalism adalah istilah yang menggambarkan betapa kegiatan pemberitaan beralih ke tangan orang biasa. Dunia pemberitaan baru memungkinkan pertukaran pandangan yang lebih spontan dan lebih luas dari media konsvensional.
Tiap orang bisa menjadi penerbit, tiap orang menjadi pembaca yang tidak hanya menerima, tapi ikut interaktif.
Kalau Detikcom merintis pemberitaan internet di Indonesia, maka sekarang ratusan blog berbagi laporan, pandangan, pengalaman, dan emosi dengan pembaca tidak terbatas. Sebagai akibatnya lebih banyak pemikiran bisa muncul ke permukaan, dan kejujuran berita lebih dapat dijangkau.
Untuk membahas bagaimana pemakaian blog mengubah cara orang melakukan komunikasi massal, ikutilah pembahasan MNC-News TV dengan Wimar Witoelar. WW yang dikenal sebagai blogger adalah juga Adjunct Professor of Journalism and Public Relations di Deakin University, Australia.
MNC adalah jaringan televisi dengan stasion RCTI, TPI, Global TV. Kini MNC-News mulai menyiarkan melalui jasa Indovision. Pada acara 'Kilas Opini' nanti 9 Oktober malam jam 21:00-21:30 , Danang Sanggabuwana mewawancari Wimar Witoelar.
NOTE: TAYANGAN ULANG 9 OKTOBER jam 03:00-03:30 serta 10 OKTOBER jam 09:00-09:30 dan 15:00-15:30
Darono Trisawego, Jurnalis, Danang Sanggabuwana, pemandu acara, staf .IMX/Perspektif (Erna Indriana -Melda Wita - Khatrine Sipahutar - Daisy Awondatu) dan Wimar berpose bersama Siane Indriani, Pemimpin Redaksi MNC-News.
Kerjasama apa lagi yang sedang digodok antara Perspektif Online dan MNC-News?
Updated 9 Oktober 2006 jam 22:19 (revised 10 Oktober jam 04:34)
Laporan Wawancara TV oleh Daisy Awondatu, Melda Wita, Khatrine Sipahutar
Tiap orang bisa menjadi jurnalis
Orang yang haus akan informasi tapi bosan dan kurang puas dengan berita di koran, dan orang yang ingin jadi reporter tanpa menunggu panggilan kerja dari koran, majalah atau TV, sekarang bisa memenuhi keinginannya dengan membuka blog.
Citizen journalism, itulah topik yang diperbincangkan Danang Sanggabuwana host “Kilas Opini” di MNC TV news malam ini pukul 21.00 dengan Wimar Witoelar yang kini dikenal juga sebagai blogger.
Masyarakat kita saat ini sangat kritis terhadap berita dan sering kali kebanyakan berita yang ada tidak memuaskan. Itu-itu saja. Dengan blog, orang punya pilihan bacaan lebih luas. Sisi lain, terbuka kesempatan besar untuk semua orang untuk menyatakan pendapat kepada seluruh dunia. “Everyone can be a journalist”.
Di USA tahun 2004, dilangsungkan Pemilu untuk memilih Presiden Amerika. Dua calon, Bush dari Partai Republik dan Kerry dari Partai Demokrat bersaing ketat. Banyak masyarakat Amerika yang bosan dengan berita-berita yang disampaikan oleh koran-koran, karena koran-koran dikuasai oleh pendukung kedua pihak. Akhirnya, dari mana orang bisa memperoleh berita dengan perspektif yang berbeda? Dari weblog atau blog.
Dalam citizen journalism, masyarakat menjadi obyek sekaligus subyek berita melalui blog yang diterbitkan langsung. Dapat dikatakan bahwa citizen journalism ini lahir dari peradaban dan perkembangan teknologi. Sekarang, berita konvensional (cetak maupun radio-televisi) sudah mulai didampingi oleh internet, bahkan sekarang tiap orang bisa menjadi penulis. Hal ini bukan merupakan bentuk persaingan media, tapi justru merupakan perluasan media. Bukan hanya pemodal besar yang bisa berkomunikasi dengan publik, tapi siapa saja yang mau ke warnet.
Ketika Danang bertanya apakah berita yang dimuat di weblog ini lebih jujur, Wimar menjawab, belum tentu masing-masing blog itu jujur, . Akan tetapi karena jumlah blog sangat banyak sekali, maka kita bisa memilih sendiri mana blog yang bisa dipercaya. Beda dengan koran atau staion TV yang terbatas jumlahnya. Tidak perlu kuatir dengan berita-berita di blog, karena ada pilihan dan yang tidak jujur dengan sendirinya akan kalah saing. Ini adalah demokratisasi produksi berita. Dan setiap orang dapat membaca blog pilihan pada saat yang dia ingingkan, namanya juga demokratisasi konsumsi berita. Bagaimanapun juga, dengan adanya demokrasi, orang akan menjadi lebih jujur, walaupun memerlukan waktu untuk proses pendewasaan.
Perkembangan citizen journalism di Indonesia masih belum lama. Yang mengawali mungkin adalah detik.com, yang menampilkan berita-berita segar dan tidak terkungkung. Akan tetapi situs seperti detikcom dibuat oleh satu pihak untuk dibaca banyak orang. Berbeda dengan blog yang berbeda-beda, yang disiapkan oleh banyak orang untuk dibaca orang banyak pula.
WW memberikan analisanya bahwa blog ini akan booming dan meluas bersama dengan program lain dari jenis Web2.0. Perpaduan antara fun dan hobby menjadikan blog mudah menyebar, karena disini setiap orang bisa berinteraksi, berhimpun membentuk 'collective intelligence' dan melakukan social networking. Contoh-contoh situs Web2.0 selain blog misalmya Friendster, Flickr, MySpace yang melakukan semuanya itu.
Danang bertanya, apakah betul semua orang suka ngeblog? Jawaban WW sederhana saja. Sebenarnya semua orang ingin berbicara asalkan diberi kesempatan, selama orang itu punya pendapat. Sedangkan semua orang pasti punya pendapat, paling tidak mengenai dirinya. Lewat adanya blog, kelihatan bahwa ternyata banyak orang yang bisa menulis, banyak yang pemikirannya bagus atau lucu atau aneh. Kalau punya foto, orang bisa saling memperlihatkan dan mengomentari foto melalui Flickr. Potensi orang bisa terbuka jika ada medium yang tepat.
Tidak lagi harus menunggu kesempatan diterbitkan tulisan di majalah atau di wawancara di televisi, setiap saat orang punya informasi, pendapat, curhat dia bisa menerbitkannya pada blog.
“Jangan Batasi Blog!”
Ditanya mengenai akuntabilitas berita di blog, bagaimana caranya mengatur supaya tidak ada SARA, pornografi, dll serta diperlukan atau tidak adanya aturan terhadap blog, dengan lugas WW memberikan argumennya,
“Aturan itu diperlukan mengikuti gejalanya. Banyak orang bilang sedia payung sebelum hujan, tapi ngapain juga bawa payung kalau tidak ada gejala hujan? Jadi, jangan batasi Blog.”
Menurut WW, kalaupun ada masalah, sebenarnya yang menjadi masalahnya adalah kejahatannya, bukan mediumnya (blog). Pengaturan perilaku itu perlu, tapi jangan a priori, karena kalau segala sesuatunya diatur, orang malah tidak ada inisiatif. Lihat dulu apa saja kejahatannya, buat peraturan yang khusus mengatasi kejahatan itu. Kata WW, sama halnya dengan kode etik jurnalistik, seorang blogger yang baik harus mengundang tanya jawab atau komentar. Tidak perlu ada UU khusus yang mengatur blog seperti UU Pers, karena WW yakin bagaimanapun. etika pribadi masing-masing orang itu jauh lebih kuat daripada berbagai macam UU.
Dikaitkan dengan masalah politik, di Indonesia blog yang bernuanasa politik secara kuantitas masih kecil, namun kualitasnya sangat bermutu. Sebagian besar blog di Indonesia membahas masalah pribadi. Hal ini wajar saja, karena blogger umumnya berusia 20-35 tahun yang aktif mempermasalahkan masalah pribadi dengan dunia luar. Ini gejala bagus, mendukung keterbukaan dan menunjukkan dinamika masyarakat. Sangat berguna kita tahu bagaimana pemikiran orang secara individual tentang banyak hal.
Terkait dengan masalah politik, blog bisa juga dijadikan alat kampanye yang baik, atau malah meng-ekspose kebohongan kampanye seperti di Pemilu USA tahun 2004 dan sekarang. Suasana visual kampnye dimuat di televisi, substansi kampanye bisa dimuat diblog. Kampanye lewat media cetak kena kendala space terbatas, tapi ruang dalam 'blogosphere' tidak terbatas.
Danang mengkomentari, banyak orang yang merasa tidak bisa menggunakan blog, karena mereka merasa tidak akrab dengan IT. Menurut WW, isi dari blog tidak adanya hubungannya dengan IT. Setiap orang dapat menulis tentang apapun. Inilah hal yang penting bagi masyarakat, bahwa mereka disajikan beragam pilihan. Di sini letak keindahan citizen journalism, semuanya dikembalikan pada masyarakat.
Kadang-kadang ada orang yang menulis di blognya dan mengutip blog orang lain tanpa menyebut sumber kutipannya. Bagaimana seharusnya sikap terhadap hal seperti ini? Memang sebaiknya sumber selalu dikutip, bahkan lebih dari pada media cetak, referensi bisa disediakan dalam bentuk link kepada referensi. Bagi WW di dalam budaya blog ada “fair exchange”. Kita bebas mengutip blog orang lain, dan orang lain bebas mengutip blog kita. Apabila tidak disebut, tidak masalah juga. Kalau nama kita disebut, ya itu keuntungan buat kita.
Jadi, silakan mengutip isi www.perspektif.net, dan terima kasih kalau anda memasang link ke blog ini.
Update 16 Oktober 2006: pandangan Budi Putra, mengenai citizen journalism
Budi Putra adalah redaktur informasi teknologi (IT) di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo Interaktif. Dia juga penulis kolom di blog CNET Asia. Dalam wawancara dengan Perspektif Baru, ia mengatakan:
Koran tidak akan bisa menyaingi media online karena sifatnya yang sangat luas, aksesnya gampang. Yang paling inti dari jurnalistik adalah menyampaikan pesan. Kalau pesan itu bisa sampai secara luas di sebuah media disebut media online, mengapa tidak.









26 Comments: