Diplomat dan Flu Burung
djakarta!
09 May 2006
Mendengar kata “cosmopolitan”, yang terbayang adalah Carrie, Samantha,

Jadi apa inti kosmopolitanisme itu (menggunakan ejaan
Istilah “Cosmopolitan” bisa saja dipakai untuk nama majalah penyelundupan senjata, kalau tidak diambil lebih dulu oleh Helen Gurley Brown untuk membawa perempuan ke dunia nyaman. Sudah pasti nama majalah ini tepat karena ia diterbitkan dalam 32 bahasa dan diedarkan di 100 negara. Sama luasnya dengan majalah Playboy yang baru-baru ini dilarang di
Manusia memang tidak pernah belajar. Banyak sekali hal-hal kosmopolitan yang ditolak, walaupun ujung-ujungnya tidak berhasil juga. Musik rock and roll dilarang di
Kembarnya kosmopolitanisme adalah globalisasi. Dua-duanya menjadi istilah laris sebagai tema besar dalam berbagai kegiatan. Sering sekali kita lihat kalimat “Mengembangkan ketenaga kerjaan menghadapi era globalisasi,” atau “Mendidik anak balita dalam rangka globalisasi”. Malah pernah ada spanduk bertuliskan “ Seluruh Warga RT 07 RW 016 Siap Menghadap Tantangan Dalam Rangka Era Globalisasi”.
Padahal siapa bilang kita baru sekarang menghadapi globalisasi? Globalisasi sudah terjadi dari zaman dulu, pada waktu SunTzu mengembangkan realisme dalam teori hubungan internasional. Bahkan zaman dulu sekali, pada awal zaman malahan, sudah ada kosmopolitanisme. Migrasi orang dari Asia daratan ke kepulauan
Bukan saja dimensi waktu yang perlu dipersoalkan tapi juga dimensi cakupan. Apakah ada bagian hidup yang kosmopolitan? Semua yang kita alami adalah kosmopolitan. Apakah itu Indonesian Idol yang sama dengan American Idol, Thomas Cup yang menyangkut nama orang Inggris dan pemain orang Indonesia, sepeda motor yang dirancang di Cina, busana yang dipakai oleh pejuang UU APP, bendera nasionalis, semua mengandung isi yang datang dari luar negeri.
Banyak istilah yang hidup menurut arti yang disepakati secara populer, jadi kadang-kadang terlalu berteori juga kalau kita bicarakan definisi istilah. Istilah hanyalah perjanjian semata. Mungkin lebih sederhana mengartikan kosmopolitanisme sebagai ciri hidup modern dan progresif. Tidak ada salahnya juga, selama kita sepakat pada pengertian itu.
Dunia selalu terbuka, apakah kita mau atau tidak. Lagipula keterbukaan selalu lebih baik dari ketertutupan. Kita hanya bisa menghindari pengaruh luar kalau kita mengubur kepala kita dalam pasir, berarti hidup melawan alam. Lama-lama orang yang tertutup akan kehilangan gairah hidup dan mati sendiri, sama dengan orang yang mengubur diri sendiri. Menyedihkan memang, taoi kenyataan. Segala yang sifatnya terbuka akan lebih kuat, lebih subur dan lebih berwarna daripada yang tertutup dan mengasingkan diri. Sumber energi begitu banyak pilihannya di dunia luar. Kehidupan begitu indahnya di luar, rugi kalau kita mengurung diri saja.
PERSPEKTIF BARU
188 kata
Sering dikatakan di sampul buku Marco,
Pndangan saya, kosmopolitan adalah suatu kenyataan. Tapi kita dapat mengembangkan berbagai visi yang berbeda terhadap kenyataan itu. Yang saya maksud dari kosmopolitanisme adalah terutama sikap atau kemungkinan atau potensi untuk bersikap terbuka terhadap segala hal yang ada di dunia. Karena asal kata cosmos punya implikasi pandangan luas. Banda Aceh di abad 17 sudah sangat kosmopolitan. Karena di abad ke 17 mengirim duta besar ke Inggris, menerima duta besar dari Belanda. Misalnya lagi, Pan-Islamisme adalah juga kosmopolitan. Tergantung kitalah bagaimana mengembangkan sikap, karena sikap yang benar adalah mengambil manfaat kehidupan yang universal dan baik.
Jadi kalau
Keterbukaan tidak bisa dihalangi. Tergantung dari diri kita sendiri adalah bagaimana kita menghadapi seleksi dan pengembangan sikap. Dalam mengembangkan sikap, kita tidak bisa melupakan kenyataan kita sendiri. Justru salah kalau kita mengembangkan sikap yang sikapnya reaktif terhadap keterbukaan tanpa berdasarkan kenyataan kita sendiri. Saya melihat tidak ada kontradiksi antara identitas diri sendiri dengan kenyataan.




2 Comments: