Articles

Sekuntum Nozomi 3 oleh Marga T, Memperingati Sewindu Tragedi Mei 1998

Perspektif Online
16 May 2006
mriot.jpg
 
[update 20 Mei 2006]
 
Kata pengantar oleh Wimar Witoelar:
 
Bulan Mei 1998 tergores dalam ingatan kita sebagai tragedi yang mengerikan dan amat menyedihkan. Pasti juga memalukan karena pembunuhan dan perkosaan, dengan nada kotor rasisme, ternyata merupakan bagian dari karakter masyarakat kita. Sangat sedih kita melihat bahwa pengalaman bersaudara sebagai sesama warga Indonesia selama puluhan tahun, masih memungkinkan segelintir orang memicu penghinaan dan penganiayaan luar biasa.
 
Bersenjatakan kekuatan politik bersenjata, kelompok misterius membangkitkan rasisme terhadap warga Indonesia yang kebetulan berketurunan Tionghoa. Predikat “mengerikan” muncul ketika kita sadar bahwa kejadian yang berkorbankan kelompok minoritas tidak bisa terbongkar. Jutaan mayoritas orang baik dan lima pemerintahan RI tidak bisa mencegah elite politik untuk mengalihkan perhatian dari proses peradilan untuk perkosaan, pembunuhan dan pembakaran.
 
Peristiwa Mei 1998 membingungkan sebab faktanya belum pernah terungkap. Kepentingan penguasa pada umumnya adalah mengubur peristiwa itu sebagai kecelakaan sejarah. Upaya penyelidikan dan penegakan hukum selalu menjumpai jalan buntu. Akhirnya orang percaya apa yang ia ingin percaya. Bagi yang tidak mau merepotkan hidupnya, kenangan Mei 1998 dikesampingkan dari ingatan.
 
 
 
RiotPoints.jpg
 
Begitu besarnya skala kesedihan dan kekejaman di bulan Mei 1998 sehingga orang tidak bisa menangkapnya. Dalam proses seleksi kognitif massal, masyarakat berpaling dari kenyataan dan melanjutkan kehidupan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Memang muncul protes keras terhadap kekerasan dan simpati bagi para korban, tapi kecenderungan orang untuk tidak membahayakan dirinya meluputkan para pelaku dan perancang peristiwa Mei 1998 dari sangsi yang seharusnya berjatuhan dalam skala besar.
 
Mozart konon pernah mengatakan, bahwa pernyataan yang sulit hanya bisa disampaikan dalam bentuk musik. Mungkin juga pembeberan realitas yang kompleks hanya bisa disampaikan dalam bentuk fiksi. Karena itu kita kenal novel historis yang besar, memukau tapi juga mendidik. Dalam bentuk lebih populer, film hiburan Hollywood seperti “Ray” dan "Gandhi”  lebih membuka pengertian orang terhadap kehidupan Ray Charles dan Mahatma Gandhi daripada bentuk informasi lain.
 
Dalam kehampaan persepsi mengenai Peristiwa 1998, muncul buku Marga T. “Sekuntum Noizumi” buku ketiga. Marga T.  adalah penulis amat produktif. Sampai saat ini Marga T telah menerbitkan 80 cerita pendek, 50 tulisan untuk anak-anak  (novel, novelet, dan kumpulan cerpen) dan 38 novel lengkap. Banyak orang dalam buku Marga T berhubungan dengan Karmila, tokoh salah satu novel pertamanya. Novel Marga T selanjutnya menceriterakan percintaan, karir  dan intrik mereka. Kerangka sistemik menempatkan semua ceritanya, semua karakternya, dalam kanvas besar sejak tahun 1974 sampai sekarang.
 
Kecerdasan Marga T selalu menyertakan akurasi detail dibalik bentangan imajinasi. Kekayaan adegan dalam buku-bukunya telah mengilhami film, sinetron, cerita dan budaya harian dua generasi. Imajinasi subur tampil dalam suasana masyarakat yang berubah dari tahun ke tahun. Tidak pernah lepas konteks, penuh variasi, dari kampus ke restoran Tionghoa di Rotterdam, dari kehidupan mahasiswa sampai pergulatan keluarga lintas perioda. Dari pegunungan nyaman di Puncak, sampai  ke bus di Jakarta dimana Lydia diperosokkan kedalam kebengisan Mei 1998.
 
nozomi3.jpg
 
Tidak bisa dihindari kesan, bahwa klimaks dari semua novel Marga T bermuara dalam lima Bab terakhir buku ini. Terkesan bahwa dunia dalam novel ini berbeda dengan dunia dalam novel sebelumnya. Tetapi benang merah kehadiran teman-teman Karmila mengikat tragedi Mei 1998 dalam suatu kontinuitas. Lebih mengerikan karena realistis, terjadi pada orang-orang yang sudah dikenal lama. Diluar kekejaman tahun 1966, tidak ada peristiwa sejarah yang berskala dahsyat seperti Peristiwa Mei 1998. Pada ujung masa jaya Presiden Soeharto, peristiwa Mei 1998 adalah karikatur mengenai segi-segi terburuk dari rezim Orde Baru.
 
Kalau ada yang masih meragukan kekejaman Orde Baru, silakan baca buku ini. Kalau ada yang kurang menyimak detail peristiwa karena banyaknya simpang siur cerita mengenai perkosaan, pembunuhan, dan kebiadaban Peristiwa Mei, silakan baca buku ini. Lebih dari tulisan dokumenter, buku ini memberikan ulasan yang berkesan mengenai kejadian Mei 98, mulai dari perkosaan di bus kota sampai pada pembunuhan gadis korban yang siap melaporkan pelanggaran HAM ke luar negeri. Dengan perspektif para korban yang terdiri atas orang biasa, peristiwa Mei 1998 ditampilkan secara gamblang sebagai tragedi kemanusiaan, bukan sekedar peristiwa politik.
 
Karena itu saya menilai bahwa buku ‘Sekuntum Nozomi (Buku Ketiga)’  ini harus diklasifikasikan sebagai karya besar, novel historis berukuran epik. Membaca buku ini, peristiwa Mei 98 yang menggoncangkan kita pada saat terjadi, kembali terhujam dalam kesadaran pembaca. Kembali ia menantang ‘the conscience of our nation’. Verifikasi detail peristiwa dapat dilakukan oleh para ahli. Tapi secara pasti, novel ini dengan gamblang membentangkan ketajaman penderitaan dan keluasan arogansi kekuasaan yang menjadi beban Indonesia dari dulu sampai sekarang.
 
Kita hanya bisa tunduk kepala dengan malu, bukan saja bahwa peristiwa Mei 1998 bisa terjadi, tapi bahwa sampai saat ini peristiwa ini tidak diselesaikan. Masih banyak orang tidak percaya, tidak mengakui peristiwa hitam ini telah terjadi. Terima kasih kepada Marga T yang membangunkan kesadaran kita. Mudah-mudahan hati nurani bangsa ini terketuk oleh buku monumental ini.
 
Seperti ditulis dalam satu bagian buku ini: “…. Pak Haji mengangkat tangan ke atas lalu berkata, ‘Ini adalah urusan besar, bukan sekedar preman mengamuk di jalanan. Malahan anak SMP bisa mengerti komplotan ini pasti menyangkut orang-orang tinggi dan berkuasa yang ditakuti polisi sampai mereka tidak berani bertindak.’”
 
 
 
 

Print article only

54 Comments:

  1. From anton on 17 May 2006 12:19:57 WIB
    Kebenaran adalah jalan sunyi bagi pahlawan...

    Apa yang dilakukan Marga T adalah bagian dari perjuangan untuk mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi dan pencerita bagi sang korban....apa yang dilakukan Marga T adalah awal dari sebuah gerakan untuk berkata benar..and Action is the mother of Hope...

    Terus Berkarya Marga T
  2. From bagman on 17 May 2006 17:51:16 WIB
    sepi..kala hati sedih..
    apapun ini harus berlalu..
    cerita yang dikenang sepanjang badan..
    sepanjang melalui perjuangan hidup..
    tidak ada teman bercerita..
    bukan tidak ingin mendengar..
    tetapi tidak ingin menambah beban ..
    kini
    cerita itu..bukan milik aku seorang
    karena semua kini bisa tahu
    bisa buka mata hati..
    bisa mendengar jeritan yang telah tersembunyi bertahun-
    tahun
    terimakasih kawan
    kau telah buka kan
    duka ini
    walau perih
    tetapi kejujuran yang kini menanti di depan mata
    terima kasih sekali lagi



    medan, 17 mei 2006
  3. From wimar on 18 May 2006 04:36:45 WIB
    salut kepada Marga T yang juga membaca situs ini
    satu kehormatan untuk Perspektif Online
  4. From Massie on 18 May 2006 09:01:34 WIB
    Asal jangan kaya Da Vinci Code aja, campur aduk fiksi dan fakta bisa bikin misteri kerusuhan Mei 98 makin gelap aja.
  5. From wimar on 18 May 2006 19:34:29 WIB
    berharap boleh, bersikap positif
    tapi kalau ragu, baca dulu bukunya
  6. From Eddy Noor SH on 20 May 2006 03:46:51 WIB
    Setahu saya tulisan2 Marga T hanya dibaca anak2 remaja dan ibu2 RT. Anak2 saya yang di SMU kecanduan baca buku2nya. Kog orang sekaliber WW bisa jadi sponsor buku roman? Mungkin karena tema Mei 98? Tema Tragedi Mei emang populer, sudah ratusan yang nulis: artikel, makalah, cerpen atau novel. Toh ga ada hasilnya. Kan sudah kita dengar kisah Tragedi Mei itu terlalu dilebih2kan untuk mendiskreditkan bangsa Indonesia. Jendral Wiranto sudah menegaskan, ga ada korban yang melapor ke polisi, juga Menteri Pemberdayaan Wanita Iby Tutty sudah mengecek RS2, tapi tidak menemukan korban pemerkosaan. Juga masak buku roman diiklankan di Perspektif Online? Lebih bermanfaat kalu kita membahas soal korupsi. Jangan mengungkit-ungkit masa lalu. Kapan mo maju kita?
  7. From Satya on 20 May 2006 14:25:49 WIB
    siapa suruh ikut bahas? hehe
  8. From wimar on 20 May 2006 18:14:02 WIB
    Haha, lucu juga Bapak Eddy Noor SH ini. Boleh saja tidak senang buku Marga T, tapi kenapa harus kesal pada orang yang senang? Anda senang hijau, saya senang biru. Kalau anak2 Bapak kecanduan buku2nya, berikan saya alamat mereka untuk dikirimi buku, karena saya percaya anak muda lebih cerdas dari orang tuanya. Anak-anak saya jauh lebih mengerti hal-hal baru daripada saya. Saya bukan sponsor buku itu. Pujian dan penghargaan saya lahir oleh rasa terima kasih pada Marga T yang menulis buku penting ini. Kalau anda yakin tragedi Mei itu di-lebih2kan, pasti itu ada hubungannya dengan kepercayaan anda pada Jenderal Wiranto. Sudah pasti anda dan Jenderal Wiranto tidak ingin diingatkan pada dosa masa lalu, nanti bisa repot. Kalau anda meminta kita membahas soal korupsi, itu sama dengan minta ikan untuk berenang. ‘Kapan mo maju kita?’ Tidak tahu kalau anda sih, kalau kami sih sudah banyak maju kok. Kami tidak suka marah-marah pada hal yang kami tidak mengerti.
  9. From anton on 22 May 2006 11:58:00 WIB
    Bung Eddy, buku roman juga memiliki nilai sastranya, dan PO merupakan ruang pembebasan manusia untuk berpikir dan berbudaya. Usaha Marga T adalah menyingkap apa yang gelap. Yah kenapa masih dikatakan gelap, karena kekuasaan hanya masih dipegang oleh kelompok-kelompok lama. Usaha Marga T yang menari-narikan jemarinya pada ruang sastra adalah salah bentuk konsolidasi menyingkapkan apa yang terjadi dari peristiwa Mei 1998. Mungkin ini juga sama seperti Pram yang berusaha mengungkap kesadaran sejarah dengan novel. Inilah fungsinya sastra yang salah satunya memperkaya usaha penyadaran manusia untuk mengungkap kebenaran.

    Permasalahan yang anda sodorkan apakah ada bukti atau tidak?, yang saya pertanyakan kasus pembunuhan politik sejak jaman era permulaan kemerdekaan sampai Suharto apakah pernah dibuka di pengadilan secara terbuka?. Dalam revolusi 1945 kekerasan rasial seperti di Malang, atau revolusi sosial gejolak anti bangsawan di Sumatera Timur yang menewaskan Amir Hamzah, pembunuhan politik setelah peristiwa Madiun, sampai puncaknya pembunuhan jutaan manusia Indonesia dan pemenjaraan manusia tanpa proses pengadilan. Lalu pembantaian jalanan di Priok dan beberapa peristiwa separatis seperti DOM di Aceh dan Tim Tim lalu pembunuhan kawan-kawan kami di Trisakti (saya sering masih menangis bila ingat peristiwa 1998, karena saya sendiri pelaku demonstran 1998) , yang kemudian diikuti peristiwa pembakaran yang mengakibatkan banyak korban, dan pemerkosaan kelompok keturunan cina, yang memang sudah merupakan skenario bahwa kelompok keturunan dijadikan bumper sosial dalam perbenturan politik. (terakhir bacalah buku sindhunata, yang membahas teori rene girard ttg kambing hitam)

    Kemana penyelesaian-penyelesaian kekerasan itu, kosong tak berbekas, bahkan sampai kini, kita masih melihat bahwa victim tidak diberlakukan sebagai victim, atau dengan kata lain pengiblisan victim, penyalahan terhadap korban dan pelaku diperlakukan seperti Victim, seperti Suharto yang pelaku tapi diperlakukan sebagai korban dari 'pembalasan dendam sejarah' dan masalah kita sebenarnya adalah belum adanya ruang untuk merombak kekuasaan yang berpihak pada pengungkapan kebenaran, jangankan kasus pemerkosaan, kasus trisakti saja tidak dianggap sebagai pelanggaran HAM berat. Ini menunjukkan memang masih ada yang salah terhadap kekuasaan.

    Tapi bung Eddy Noor kami generasi muda tidak akan pernah mundur, dan belum selesai, kami telah memberikan kesempatan bagi kaum tua diluar sistem suharto (dan juga penumpang gelap reformasi) yang memang sudah antre untuk melakukan tugas sejarah. Dan ternyata tugas sejarah itu tidak dilakukan dengan baik. maka giliran kami yang ke depan, seperti kami yang memulai menurunkan suharto maka kewajiban sejarah kami pula untuk menjalankan tugas masa depan...Meluruskan sejarah dan mengungkap kebenaran agar kebenaran bukan hanya tinju pelan kaum muda di ruang kosong.

    ANTON

  10. From Iwan Zariawan on 22 May 2006 16:11:22 WIB
    Buku ini adalah sebuah kumpulan dari kepingan penderitaan yang dialami sebgian bangsa kita pad tahun 1998. Mungkin pada saat peristiwa Mei 1998, kita sedang dirumah duduk-duduk hanya menyaksikan berita TV dan tidak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi di luar sana. Wartawan pada saat itu juga tidak bisa meliput satu-persatu kejadian yang terjadi pada peristiwa tersebut. Yang diliput wartawan kebanyakan elit politik, demo mahasiswa, istana negara, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur "monumen" (baca: orang atau tempat penting) bangsa ini. Saya berani bertaruh kalau wartawan sempat dan berani meliput perkosaan massal yang dialami oleh beberapa anak bangsa ini, wartawan lebih senang meliput apa yang disebutkan di atas. HeHeHeHeHe
    Orang menganggap buku ini apriori karena dianggap tidak ada nilai "politis" nya (baca: sangat tidak menguntungkan) Kita sadari bahwa, di negeri ini masih banyak orang yang cenderung mencintai rasisme, seperti di keluarga saya sendiri. Kebetulan saya masih ada darah Arab, tempo hari saya mengajak pacar keturunan China ke rumah, kebetulan orang tua saya orangnya moderat, namun tante-tante saya paling ngga suka sama ras laen, dia bilang "lho, pacarmu koq China le...?" Dengan kalimat dan gaya bahasa tersebut menunjukkan rasialisme masih hangat.
    Kembali ke mas'alah buku dan penggemarnya, bagi yang ngga suka buku novel macam begini ya buat buku masalah korupsi (dg judul Bapakku Seorang Koruptor), buku manajemen korupsi (dg judul Strategi Merobek Karung Beras), seminar korupsi, buku akuntansi korupsi (SAK jilid I & II), buku kiat menangkap pak Harto dan kroni-kroninya (Trik Semut Menangkap Gajah), sampai 8 tahun kedepan berjalan lagi tapi ngga dapat apa-apa, laris ngga ya kira-kira?
    HeHeHeHeHe.... Gitu aja koq nyèpot.
  11. From lia on 30 May 2006 20:31:38 WIB
    hehehe..
    aku jarang baca novel,tapi yang ini lumayan lha...
  12. From mulimoex on 31 May 2006 10:32:30 WIB
    saya suka banget baca karya Marga T, untuk buku Setangkai Nozomi saya baca buku kesatu belum baca kedua apalagi ketiga jadi penasaran apa isinya dan kenapa ada nyangkut ke peristiwa mei 1998 karena di buku pertama cuma cerita roman aja
  13. From nurleila thalib on 02 June 2006 03:28:15 WIB
    waktu masih di smu di medan temenku si xxx Sitompul. cerita, inangudanya nyaris dikerjaain waktu bis kota yg ditumpanginya distop orang2 gila. bibinya, putih mirip chinese, itu trauma. Entah darimana timbul keberaniannya membela seorang butet amoy waktu gadis itu mau diperkosa. Rupanya gerombolan itu ngeri waktu dia bilang: saya batak!
    kamu dapat bayangkan betapa takutnya si amoy. untung ada bibinya.
    waktu baca nozomi aku nemukan adegan itu. kog mirip ya. darimana marga t bisa tahu, kan sekuntum nozomi cuman fiksi?
    eniwai, aku rasa marga t style nulisnya udah beda banget. aku ga gitu suka lagi sama tulisan2nya akhir2 ini, kurang romantis seperti karmila, bukan impian semusim, tesa.
    tapi bagaimanapun nozomi layak dibaca oleh masyarakat, sama dengan tulisan mba Helvy soal perkosaan wanita muslim di Aceh oleh sesama anak bangsa yang berseragam. Sayang sekali, kelompok yang diandalkan untuk membela anak bangsa kok jadi pagar makan tanaman?
    salam,
    leila
  14. From haryanto on 11 June 2006 12:03:31 WIB
    saya tidak sependapat dgn sdr anwar.
    menurut saya tdk semudah itu membaurkan masy indonesia yg multi etnis/suku.
    masy bisa berbaur kalo ada kesamaan di bid organisasi/agama/aktivitas(mis olah raga)
    saya sbg warga keturunan tionghoa berbaur dgn teman2 pribumi.karena ada kesamaan(sama2 1 sekolah).
    malah teman2 yg pribumilah yg sering menghina dgn memanggil "cina"
    sedangkan di masyarakat pd umumnya,dikarenakan perbedaan agama,tidak mungkin warga tionghoa yg sebag besar beragama budha/konghucu membaur dalam warga pribumi yg mayoritas islam.
    kecuali yang sama2 beragama katholik/kristen.
    dari pengalaman saya dgn tmn2 warga tionghoa,mereka banyak melakukan aktivitas bersama dgn pribumi yg seiman tanpa membedabedakan.
    itulah salah satu sebab mengapa warga pribumi sering mengatakan warga tionghoa sulit berbaur.
    dari contoh lingkungan agama&sekolah saja sudah terlihat disitulah kesulitannya.
    saya pribadi melihat baik warga tionghoa maupun pribumi ada yg baik ada yg jahat.
    tidak bisa kita mem vonis orang itu jahat/baik dari batak/sunda/madura/cina dll.
    Lagipula apakah pantas hanya karena tidak membaur lalu dibantai&dijarah?apakah kita akan kembali ke jaman prasejarah?
    bahkan skrg ini bnyk sekelompok orang yg ingin memaksakan kehendak org lain untuk mengikuti keyakinan orang itu(mis agama).
    bagi yg tidak sama keyakinannya dianggap musuh.
    itu adalah pandangan yg SEMPIT.
    negara/bangsa ini bisa maju bukan karena apa SUKU/ETNIS/AGAMA kita.
    tapi dilihat dari moral&prilaku masyarakatnya.
    seharusnya kita malu.indonesia dimata dunia sangatlah negatif.MENGAPA?
    karena skrg ini masy kita sering bertindak anarkis.
    pemerintah memeras uang rakyat.masy mayoritas menekan yg minoritas.
    akibatnya apabila kita ditanya org luar negri."kamu berasal dari mana?"....:"dari Indonesia"
    kita akan dipandang dgn tidak mengenakan hati.
    bukan karena mereka melihat apa agama/etnis/suku masy indonesia.tapi mereka melihat tindakan2 masy kita yg brutal spt yg mereka lihat di tv.
    kalau sdr anwar mengatakan " cina itu gak akan ikut angkat senjata unk meraih kemerdekaan sebab dia itu memilih siapa saja yg merdeka )
    itu karena anda tidak pernah liat tv/surat kabar bahwa Susy Susanty,Alan Budikusuma,wyne p,dkk,mereka adalah warga keturunan.bisa saja mereka pindah kewarganegaraan.tapi tidak mrk lakukan.tentunya alasanya karena cinta tanah air&ingin mengharumkan nama negara indonesia.
    itu dibidang olah raga.
    SDR anwar juga pastinya sudah membaca buku/film Sue hokgie.Itu bukan cerita fiksi.yg dia lakukan juga atas dasar cinta tanah air.
    Dikehidupan sehari2 banyak warga tionghoa yg mayoritas adalah pedagang/pengusaha.banyak karyawannya adalah warga keturunan.Berapa banyak orang yg diberi nafkah shg bisa menghidupi keluarga.
    Dihari imlek dan hari besar agama budha/konghucu,masy tionghoa ikut menyumbang sembako dll utk fakir miskin.
    Dari kejadian bencana alam sunami di aceh&gempa di jogja.Warga keturunan yg menyumbang tidaklah sedikit(NB saya dan keluarga pun menyumbang,biarpun tidak sebanyak perusahaan sampoerna yg pemiliknya juga warga keturunan yg
    menyumbang 20 miliar).
    Apa inti dari yg ingin saya sampaikan?
    biarpun warga pribumi pernah membantai dan menjarah kami,kami tetap bisa melupakan dan memaafkan biarpun luka masih membekas.
    Karena kami tidak beranggapan yg tidak "sama,baik iman maupun etnis/suku berarti musuh kami"TIDAK
    Ajaran yg selalu kami berusaha jalankan adalah;

    "Kita semua adalah keluarga.Tuhan spt orang tua yg tidak pernah membeda2kan apa warna kulit/kepercayaan kita.
    selalu ada pintu maaf apabila kita salah.begitu juga warga keturunan ataupun pribumi.
    meskipun pernah menjarah&membantai kami,tetap kita anggap sebagai saudara.Jalani hidup dgn baik,ikuti apa yg diajarkan kitab suci masing2 agama,saling mengasihi sesama manusia.Baik atau jahat selalu dibayar dgn adil oleh Tuhan.
    Saya salut dgn adanya forum ini.Bukan untuk memicu perdebatan,melainkan untuk membuka fakta sehingga diharapkan kita bisa belajar dari masa lalu,dan memperbaikinya mulai dari sekarang.
    semoga negara kita Indonesia maju dan bangkit dari keterpurukan.
    Om Ah Hum
  15. From Thio Boe Kie on 11 June 2006 12:29:11 WIB
    Walah sdr Anwar keliatannya 'alergi' sama minoritas Cina, juga keliatannya ingin menebarkan kebencian melalui forum ini dgn membawa-bawa kaum Madura lah yg mengalami 'nasib' yang sama di Sampit, seperti kaum Cina di bulan Mei 1998. Saya rasa pola pikir anda agak ketinggalan, masih era orde baru. Soal membaur gak bisa dipaksakan seperti zaman rejim Soeharto. Kalu boleh saya ingin nanya, waktu kuliah di ITB, apa mahasiswa2 dari Karo, gak berkelompok dgn sesamanya dan ngobrolnya pake bahasa Sunda? Atau mereka yang dari Surabaya, guyon2nya pake bahasa Padang? Atau mahasiswa dari Timor, ngomongnya pake dialek Palembang atau Jowo?
    Jangan berat sebelah dan punya standar ganda, bung.
    Soal beda gaji sih lumrah aja. Kenapa anda mau kerja sama pengusaha Cina yang anda benci? kenapa gak mau kerja misalnya dgn Bakrie Bros atau jadi direktur di perusahaan Probosutejo atau jadi CEO dari perusahaan Pak Kalla?
    Saya sendiri keturunan Cina, tapi terang gak akan diterima oleh Pak Tommy Winata di bank Artha. Sebab? Skill saya bukan di perbankan.
    Jadi sebelum menyalahkan golongan Cina, anda berkaca dulu dong. Kalau memang mampu, terang imbalannya disesuaikan. Kalu cuma bisa menghasut, ya jadi provokator aja deh.
    Juga anda gak perlu bawa2 soal perjuangan tahun 45. Coba baca ulang sejarah, berapa banyak tokoh Tionghoa yang berjasa. Juga, maap, yang betul2 pahlawan tulen udah pada tewas berjuang. Sisanya yang masih hidup, sumbangsihnya?? mereka sendiri yang bisa menjawabnya.
    Semoga anda cepat pindah kerja ke perusahaan yang sesuai dgn aspirasi anda. Jangan mau kerja atau diperbudak oleh Cina 'bangsat'..meminjam istilah anda. Cuma kalu pengusaha 'bangsat' itu sama2 dari keturunan anda, tentu anda gak akan marah2kan? Masih sodara sih hehehe
  16. From wimar on 12 June 2006 17:54:41 WIB
    kalau anda ingin melanjutkan latihan kecurigaan terhadap kelompok etnis lain, tempatnya bukan disini. masih banyak tempat di dunia untuk mengobarkan semangat rasisme. disini kita ingin berbagi perspektif mengenai sikap yang bisa membuat hidup lebih lembut dan lebih indah. saya mempersilakan moderator untuk membatasi posting berisi hasutan. indonesia negara demokratis, silakan cari tempat lain untuk bermusuhan.
  17. From Joy on 16 June 2006 16:48:03 WIB
    kasih harus memaafkan,kasih juga harus MENGAKUI dan MEMINTA (mohon) MAAF bila HARUS..TUHAN MENGASIHI KITA SEMUA. SAYA HANYA BISA BERDOA BAGI SEMUA KORBAN MEI 1998. MARILAH KITA MENGAKUI BILA MEMANG BERSALAH, MARILAH KITA MEMAAFKAN BILA TERLUKA DAN KEPADA YANG TELAH MENGANIAYA KITA. AMIN
  18. From leila on 17 June 2006 04:18:03 WIB
    Setujooo dgn Pak WW. Forum ini bukan utk melampiaskan amarah pribadi dan menghasut kelompok etnis tertentu. Banyak milis laen yang antusias memuat posting yang isinya penuh kebencian..biarlah para losers itu bertempur disitu.

    Opini saya soal militer: Mereka dilatih dan dihidupkan dari pajak warga negara yang taat bayar pajak. Kog sudah jadi jendral bisa2nya merasa sebagai yang punya negara? Kan tugas utama mereka utk membela bangsa terhadap serbuan negara musuh. Bukannya bisnis atau memeras. Kog kelompok seragam ini yang skillnya nembak dan membunuh jadi sewenang-wenang? Jadi di negara yang betul2 menganut azas demokrasi, mereka mesti nurut pemerintahan sipil. Jangan kayak janggo, bawah colt38 petantang petenteng seperti preman aja. Kebal hukum lagi. Jadi doktrin dwifungsi Abri dan P4 sudah waktunya masuk musium deh. Susahnya kalu ngomong agak miring, langsung dituduh: PKI loe! Ampuunn, Pak Jendral. Saya ogah dibuang ke Buru.
  19. From ade on 24 June 2006 11:33:57 WIB
    mudah2an akan ada pengarang yang mengambil tema lingkungan indonesia yang sekarang ini sudah rusak dan membuahkan bencana. Dengan alur penulisan memadukan fakta hutan kita yang ancur dibabat habis pengusaha dan pemimpin yang demen duit.
  20. From Monika Stefanie Solihin on 24 June 2006 16:43:34 WIB
    Novel-novel Marga T. memang benar2 menarik! Saya mengenal novel2 Marga T. awalnya karena Papi saya yang memang fans berat Marga T., bahkan sejak saya berada dalam kandungan Mami, Papi udah merencanakan memberikan nama "MONIK" (tokoh dalam "Gema Sebuah Hati" dan "Setangkai Edelweiss")jika si bayi berjenis kelamin perempuan nantinya.

    Talking about May 1998... there was such a big chaos that could not be forgotten especially for "amoy" and the Jakartan generally.
    Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SMU di daerah Menteng, dan saya benar2 masih ingat dengan jelas bagaimana "kehebohan" warga terutama yang keturunan etnis Tionghoa seperti saya. Sampai sekarang (saat ini saya masih menyelesaikan kuliah di kota kecil di Jawa Tengah tepatnya di Universitas Kristen Satya Wacana-Salatiga) jika ada teman2 yang menanyakan tentang peristiwa Mei 1998, saya masih merinding jika disuruh menceritakannya!

    Saya ucapkan "PROFICIAT" atas novel "Sekuntum Nozomi 3", semoga bisa manjadi berkat.
    Bu Marga T., sukses selalu ya! Ngomong2, gimana kabar Monik dan Martin? Setelah "Setangkai Edelweiss" rasanya mereka tidak diceritakan lagi? Yang saya tahu, Monik bekerja di RS.Sabara-Birka (dalam "Dicabik Benci dan Rindu" tertulis demikian).

    Saya nantikan selalu karya2 Bu Marga.
    Tuhan memberkati,

    Monik
  21. From Susana on 29 June 2006 16:45:56 WIB
    ...mungkin udah pada tau yach kalo royalti SNZ3 itu diperuntukkan menolong para korban kerusuhan Mei 1998….

    Target pertama : Iwan Firman, 46th - yang kehilangan semua jari-jarinya karena dibakar massa, jadi nggak bisa mengurus diri sendiri di WC & kamar mandi, gak bisa kerja lagi.

    Target kedua : Keluarga Alm.Haji Harun (yang menolong Iwan), Andreas (tetangga yang menolong Iwan di wc), penjaga rel KA (yang mencegahnya bunuh diri - dah 2 kali)

    Target lainnya : Korban-korban Kerusuhan Mei 1998 lainnya...

    ...So, bukan semata kepentingan royalti itu sendiri tapi karena SNZ3 sendiri adalah novel yang spectacular & marvelous...yang semestinya tidak dilewatkan begitu saja. Sepertinya SNZ3 telah bercerita tentang "kepiawaian" dan totalitas seorang Marga T dalam mengemas 'realita masyarakat' kedalam bungkusan fiksi yang sangat berkualitas & menyentuh….. It's an very astounding writing of a Marga T !


    @ Monika Stefanie Solihin / Monik,
    Berhubung anda juga penggemar karya-karya Marga T, bagaimana kalau kami mengajak anda bergabung dengan fans MT lainnya di Marga T. - Fan Club.

    Jika anda tertarik, kunjungilah homepage kami : http://groups.yahoo.com/group/marga_t_fan_club/
    > <http://groups.yahoo.com/group/marga_t_fan_club/>

    Ajak papanya juga donk....:))

    Cheers,
    MTFC
  22. From evan aqrino on 27 August 2006 00:45:38 WIB
    pancasila adalah unsur negara kita.
    mengapa harus terjadi pertikaian antar warga indonesia.
    etnis T merupakan bangsa indonesia haruskah mereka di hina seperti hewan .
    bukankah mereka bagian dari negara kita.
    kesuksesan merekalah yang tidak di terima oleh masyarakat.
    aku sedih melihat negara ini menjadi kanibal.
    hargailah etnis Tiong hua sebagaimana dirimu enkau perlakukan.
  23. From wimar on 27 August 2006 06:28:30 WIB
    memang betul evan, kehidupan sangat pahit dan unfair bagi etnis Tionghoa dan etnis minoritas lain yang kurang terwakili. begitu realitas buruk dan memalukan. tapi kita susah jemu mengeluh dan lebih senang berusaha memperbaiki keadaan. melalui kawan sepaham di berbagai lapisan masyarakat, sedikit sedikit diperoleh kemajuan pengakuan terhadap etnis minoritas. dalam pemerintahan presiden abdurrahman wahid, kami berhasil menghidupkan kembali keabsahan pemakaian nama tionghoa dan kebudayaan tionghoa yang sudah berpuluh tahun dihilangkan oleh rezim sebelumnya. dari kaum tionghoa sendiri, kami diilhami oleh pejuang seperti ester indayani yusuf yang mengungkap tragedi mei dan berkembang kepada perjuangan minoritas dan gender. dengan buku marga t, masyarakat dibuka mata terhadap kekejian yang dikubur oleh penguasa.
    evan, mengeluh memang perlu tapi kalau tidak didampingi dengan keterbukaan mata dan telinga terhadap perubahan zaman, akhirnya kita hanya akan menjadi orang pesimis, kerdil dan terisolasi. nikmatilah apa yang masih tersisa dari hidup kita !
  24. From dhee\' on 08 November 2006 07:13:46 WIB
    Saya rasa saat ini memang tragedi Mei 1998 masih merupakan misteri. Dan rasanya tidak ada yg perlu ditutupi-tutupi dari sebuah kejahatan yg terjadi di bangsa kita sendiri, because we have to face it.
    By the way, kelompok teater kami, Teater Topeng dari Universitas Kristen Maranatha Bandung, hendak mengajukan sebuah kisah bertajuk "Jakarta 2039" karya Seno G, untuk membuat mahasiswa kembali membuka mata dan merasakan kepahitan yg dialami oleh etnis Tiong-Hoa dan terlebih lagi mengenai traumatis wanita Indonesia mengenai suatu 'perkosaan' yg kini marak terjadi dalam bangsa ini. Mohon kunjungan. Terima Kasih.
  25. From Si pengayal on 01 January 2007 23:04:28 WIB
    Kakak saya bercerita bahwa pada masa kerusuhan tsb , dia dan beberapa orang/karyawan yang terjebak terkurung sampai 3 hari lamanya, mereka untunglah dapat bertahan, banyak korban bergelimpangan, satpam dan para polisi yang menjadi korban serangan ratusan perusuh. 5 tahun kemudian saya menanyakan serta sambil menyaksikan ratusan gedung yang masih hangus belum dibangun lagi.Menurut beberapa ahli paranormal banyak setan/roh setan penasaran, jikalau ada betulnya bagaimana dapat dipertanggung jawabkan nanti di akhirat, kasihan toh.
    Perbuatan ini sangat merusak infra struktur negara beserta
    assetnya, kepercayaan dari luar negeri bertambah merosot.
    Kasihan Bpk.Presiden yang sekarang dibebani dengan masalah-masalah yang semakin keritis saja.

  26. From jac on 10 January 2007 16:32:01 WIB
    ga da misteri di tragedi itu..itu kenyataan dilakukan bajingan
  27. From emul on 12 February 2007 18:06:31 WIB
    tragedi diatas mungkin lebih terasa dengan media komik
  28. From nefertiti on 11 March 2007 20:05:37 WIB
    saya sih belum baca bukunya.......tapi yang saya tahu karya - karyanya dia itu bagus banget, satu hal yang paling menyentuh di hati saya adalah novel - novel yang dia tulis selalu bersentuhan dengan bidang kedokteran dan juga permasalahannya, ada juga bahasa - bahasa asing yang dia gunakan, dan yang paling mendasar, novel - novelnya mengena banget di hati pembacanya, Marga T. adalah inspirasi buat saya dalam mengembangkan bakat menulis saya, saya sangat ingin bertemu dengannya dan mempelajari banyak hal tentang dia.
  29. From hifni on 21 March 2007 00:02:00 WIB
    buat marga t teruslah berkarya...
  30. From dadi_hopeless on 08 May 2007 15:38:43 WIB
    Saya beberapa kali baca kumpulan novel marga T tapi untuk yg berkisah tragedi mei 98 ini belum. Khusus bagi ibu marga T apakah setting dan lakon para korban perkosaan mei 98 itu memang didasari dari hal yg nyata atau imajinasi penulis ?

    Karena bila itu dari kisah nyata mengapa para korban itu seakan tidak mau mengadukan penganiayaan yg dialami shg bia membuka tabir gelap bangsa ini yg begitu memalukan seakan kita bangsa tidak beradab
  31. From bube on 09 May 2007 21:10:20 WIB
    Emankz..
    Bagoes lho.. critanya..
    Bacak yukz..
  32. From fiona hartanto on 13 May 2007 03:34:05 WIB
    Bung dadi-hopeless yang baik: tragedi pemerkosaan massal setelah 9 tahun statusnya sama dengan nickname anda: hopeless. Kalau Bung dadi nonton Kick Andy di Metro TV kamis malam yang lalu: Ada tiga ibu bersaksi bahwa putera mereka tewas terpanggang di mall Yogya Plaza. Apa ini tidak cukup sebagai bukti bahwa kerusuhan mei 98 emang terjadi. Juga Bapak Christianto Wibisono bersaksi beliau dipukuli massa, rumah dihancurkan dan anak perempuannya diperkosa. Kalau anda tetap meragukan apa bener pemerkosaan itu terjadi saya usul anda baca cerpen 'Clara' tulisan penulis terkenal Seno Gumira Ajidarma. Agar balance baca juga tulisan bapak Abu Zahra dari milis Front Pembela Islam berjudul: Pemerkosaan massal mei 98: Tragedi atau sekedar propaganda? Beliau ini hakul yakin bahwa pemerkosaan tidak terjadi. Sama kok masih ada yang berpendapat holocaust waktu PD II itu fiksi. Nah Sekuntum Nozomi 3 tulisan Marga T itu kan fiksi: Persamaan tempat dan nama dan kejadian hanya kebetulan belaka. Jadi anda gak usah terlalu kejam untuk memaksa para amoy yang sudah dinista tampil dipanggung untuk dilecehkan atau di tertawakan. Juga martabat sebuah bangsa tidak akan jatuh oleh claim boongan2. Seperti kata Jendral Wiranto: Gak ada korban pemerkosaan yang mengadu ke polisi kok. Ya, gimana mo ngadu, karena pak polisi pada ngumpet waktu kejadian itu. Juga pak polisi takut sama siapa?
    Singkat kata: kebenaran itu ada ditangan yang pegang bedil!!! Soal bukti: mengapa dokumen2 penting hasil temuan TGPF mendadak lenyap di Kejagung? Mungkin anda bisa menjawabnya? Terima kasih. FH
  33. From oksan on 27 May 2007 14:04:33 WIB
    bro kalu bisa gue pengen liat sekilas aja image yg terjadi
    di bulan mei ,kalau merc studio punya dokumenter tentang kejadian kerusuhan ambon , image nya aja kalau bisa supaya kayak kita yang berada di bagian indonesia timur ini bisa juga melihat bahwa jakarta pun yang begitu besar sebagai ibu
    kota punya cerita memilukan yang seperti saya dengar dan saya baca (you see you belive it !)
  34. From Inu\"tom cruise\"Kertapati on 29 August 2007 18:32:54 WIB
    "Saya pribadi,menghargai orang2 yang mau memperjuangkan sesuatu dengan cara dan pola pikir masing2.dalam hal ini MARGA T menuangkan inspirasinya kedalam satu bentuk tulisan yang mana semua orang berhak memberikan komentar atas tulisannya dengan di dasarkan kembali pada keyakinan masing2terlepas dari betul tidaknya cerita tersebut.
  35. From INDRA on 16 September 2007 20:51:10 WIB
    tolong novel namamu terukir di hatiku ada engga
  36. From gunawan on 16 December 2007 11:48:43 WIB
    tak ada satu kata yang menyatukan kita dari semua itu
    ya hanya kebersamaan
    kita tidak tahu pa yang akan terjadi ntar
    apakah juga akan terjadi seperti tragedi mei?
    marga T telah mengingatkan kita akan penderitaan orang yang tak bersalah
    mari kita semua bersatu
    jangan sampai terpecah dengan profokasi-profokasi
  37. From Nathaliea on 18 January 2008 10:31:48 WIB
    Saya sangat mengidolakan ibu marga T...
  38. From trisnawaty on 30 March 2008 23:12:55 WIB
    wah, kalo saya pertama x baca karyanya mpok/k2k/mbak/tante/ibu..MARGA T,
    (panggilan yg tepat apa ya..??)
    saya pikir.."wah, bapak ini cool euy!!"
    ga taunya perempuan..!! he2..maap ya Bu!!
  39. From afriyanti kartini on 21 April 2008 11:52:41 WIB
    novel dicabik benci dan cinta 2 ada nggak sih? koq dari daftar2 novel yang diterbitkan marga t, saya belum nemu,tolong jawab yah!
  40. From Jenny on 03 July 2008 09:14:25 WIB
    sebagai warga minoritas baik dari segi etnis maupun agama, saya tau bagaimana harus bersikap apalagi terhadap golongan mayoritas yang sepertinya "semau gue" dalam arti kalo minoritas dihina, yah...urut dada aja....tapi kalo mayoritas dihina, bisa perang besar tuh...
    ini di Indonesia...coba yang merasa mayoritas pergi ke negara yang notabene orang kulit kuning seperti di China, Singapura,Korea, Jepang.....dan sebagai bangsa Melayu, anda dihina.....apa yang bisa anda perbuat?..
    kenapa sih kita gak berbuat baik terhadap sesama tanpa memandang suku/etnis/agama? sulitkah berbuat baik dan ber pikiran positif?
    hidup dan kehidupan di dunia hanya mimpi kalo jantung kita udah berhenti berdetak..yang ada hanyalah perbuatan kita selama di dunia...akan dihitung dan ditimbang di Atas sana..
    menyesal? percuma.. terlambat untuk bertobat kalo sudah almarhum...
    so...jadilah manusia yang takut akan dosa selama masih bernafas....
  41. From the acumulate of bad habit on 06 September 2008 00:44:48 WIB
    hmrm? saya sangat tertarik dengan pembicaraan-pembicaraan diatas yang anehnya sudah 2 tahun kok masih saja ada yang bales (termasuk saya) xP..

    bagi saya \'yang merupakan penggemarBERAT\' karya Marga T sangat memukau.. isi comment saya mungkin hanya sekedar meng\'idola-idola\'kan karya Marga T. saja.. karena kebetulan saya juga mahasiswa kedokteran.. dan saya etnis keturunan.. saya sangat tertarik dengan \'seluruh\' karya Marga T. sayang saya belum sempat baca semuanya.. karena jujur untuk membaca novel saya perlu perjuangan berat disamping waktu-waktu saya yang sibuk..

    ngomong-ngomong, sungguh baik sekali bila forum seperti ini terus hidup.. karena bisa menyampaikan aspirasi bagi masyarakat yang konon \'takut berbicara\' disini bisa bebas berekspresi dan berpendapat.. haha..

    saya suka membaca disini.. kesan politiknya terlibat ringan dan tajuk-tajuk yang disampaikan \'kadang\' membuat saya tertawa kecil sendirian sambil duduk di depan komputer..

    NZM3 bukan karya \'ter-\'suka yang saya pilih... sampai saat ini saya terus terngiang oleh novel \'rintihan pilu kalbuku\' yang beliau terbitkan tahun 1992an..

    terima kasih atas -ruang-nya di forum ini..

    selamat malam.
  42. From alice on 05 October 2008 13:43:51 WIB
    saya alice, kelas 3 SMP di SMP Santa Ursula-Jakarta..
    senang rasanya ada yang mengupas tentang Marga T.
    saya ditugaskan untuk membuat karya tulis sebagai tugas akhir pelajaran Bahasa Indonesia di mana saya menganalisis novel sastra berjudul "Karmila"-Marga T.
    saya berharap novel-novel sastra trus dikembangkan karena seiring berjalannya waktu mulai melengser kedudukannya dengan adanya teenlit maupun cickit..terima kasih..:)
  43. From Mimi on 13 May 2009 13:15:49 WIB
    Anarchy dan kebiadaban yg terjadi dalam kerusuhan Mei 1998 itu tidak akan pernah terlupakan. Jika kekejaman PKI terus diulang2 di TV setiap tahun, tapi mengapa kerusuhan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, dan semua bentuk kerendahan yang cuma manusia saja yang bisa lakukan itu tidak pernah dibongkar? Saya tidak pernah lagi pulang ke Indonesia sejak kejadian itu terjadi. Terlalu membekas dan terlalu sakit setiap kali diingat. Pemerintah RI dengan mudahnya mengelak tanggung jawab dengan beralasan bahwa semua peristiwa itu tidak pernah terjadi. Untuk semua orang yang perpikiran kerusuhan Mei 1998 tidak menelan korban apapun, saya berharap ada keluarga anda, entah itu istri, anak, menantu, cucu, atau anda sendiri, bisa mendapat pengalaman yang sama. Dan mungkin anda akan merasakan sakit yang korban rasakan waktu kerusuhan Mei 1998.
  44. From Anna Kirkham on 31 May 2009 19:53:02 WIB
    Akhirnya ada juga yang berani memfilmkan apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1965. Mengorek kembali yang sudah terjadi, supaya yang betul2 terjadi bisa diketahui orang banyak yang selama ini sudah dicuci otak berdasarkan sejarah yang sudah dirombak(http://40yearsofsilence.com/).

    Semoga hal yang sama bisa terjadi dengan peristiwa May 1998.
    Semoga juga khalayak umum bisa menerima kalau yang disiarkan oleh pemerintah belum pasti 100% benar. Semoga ada pemberani yang punya nyali untuk berkata, ini yang terjadi sesungguhnya. Semoga juga masyarakat cukup siap untuk berpikir kritis dan akhirnya sadar, kenyataan yang salah jangan dikubur - tapi ditelaah, bagaimana caranya supaya jangan terulang. Semoga.
  45. From Gakpenting on 13 June 2009 22:30:45 WIB
    Ya susahlah, orang aja ada bermacam-macam sifatnya: ada orang-orang yang berjiwa besar dan pemberani--berani mengaku kesalahan jika telah berbuat salah dan berani memninta maaf. Tetapi ada juga orang-orang yang bersifat pengecut--jika berbuat salah tidak mau mengaku, lalu berkilah bermain kata-kata, misalnya: \"sudah, jangan bicarakan masa lalu, mari kita mensongsong masa depan\", seakan-akan manusia itu tidak punya memory ataupun perasaan.

    Demikian pula halnya bangsa-bangsa di dunia ini, ada bangsa-bangsa yang berjiwa besar yang berani mengakui kesalahan-kesalahan masa lalunya, lalu ada pula bangsa-bangsa yang bersifat pengecut.

    Lalu bangsa kita ini sifatnya yang mana, berjiwa besar atau pengecut? Tengok saja diri sendiri dan orang-orang disekitar Anda, lebih banyak menemukan orang-orang yang berjiwa besar atau pengecut? Terus terang, saya lebih banyak menemukan orang-orang yang berjiwa pengecut!
    Contoh: prabowo


  46. From Yuni on 21 August 2009 13:29:44 WIB
    sayang ya saya belum sempat baca novelnya yang satu ini, tapi saya suka banget sama karya - karyanya bu Marga, saya sudah membaca hampir semua judul novel-novelnya sejak masih smu, dan saya rasa yang mengatakan karya - karyanya bu Marga ga bagus masih perlu dipertanyakan dengan sejelas-jelasnya, apa dia mengerti karya sastra atau enggak. kalo enggak jangan sok2 bilang karyanya bu Marga ga bagus, kalo mo bicara soal korupsi, sana ngomong aja di stasiun tv, atau ngomong langsung di DPR/MPR, jangan bisanya cuma lewat internet.
  47. From Teguh Budiono on 13 November 2009 14:49:28 WIB
    Saya belum baca buku ini, juga belum baca semua komentar yang masuk. Saya hanya ingin sedikit share, saya fans Novel karya Bu Marga T. (80% sdh terbaca). Santun dan cerdas. Satu yg menarik tentang Sekuntum Nozomi adalah bahwa menurut bu Marga, pertanyaan saya tahun 1995 (tentang Ureka 1965)menjadi salah satu sumber inspirasi penulisan Novel sejarah, salah satunya Sekuntum Nozomi ini. Kayaknya saya perlu baca tetralogi Nozomi ini. Untuk Bung Wimar,...salut untuk anda, tetap menyuarakan kebenaran dan hati nurani. May GBU.
  48. From hendra on 06 February 2010 19:54:30 WIB
    salut untuk anda" yg berusaha menguak kebenaran dari peristiwa -maaf- biadab tsb.
    jujur saja, pertama x saya melihat hasil jebretan -kebanyakan dari wartawan luar- tentang korban peristiwa tsb yg kbnykan wanita, saya syok berat... hampir ga percaya, t4 apakah ini??!! ada "segerombol" makhluk yg ga pantas disebut manusia melakukan kebiadaban. saya sebut demikian karena saya yakin makhluk" ini tidak dilahirkan dari rahim seorang IBU.

    sudah 12 tahun, tapi tampaknya belum ada tanda" muncul sesosok yg akan menegakkan keadilan bagi korban". pemerintah bak pecundang layaknya para pelaku yg hingga kini masih nyaman bersembunyi

    mei 1998 dianggap sebagai borok yg telah "tertutup" dan "sembuh"...
  49. From nino000 on 19 May 2010 08:00:07 WIB
    pak wimar & bu Marga T, sy mengidolakan anda ber2.......buku sekuntum nozomi yg ke3 ini membuat sy kaget sekaligus semakin kagum pd ibu Marga T (secara, sy jg cinta sastra & ingin jd penulis & cita2x jd dokter spt bu Marga).....sblom baca buku ini, dr dpn sampulx sj sdh mengingatkan sy ttg alm.Ita Martadinata Haryono.....jujur sj, tragedi mei itu tentux tak bs dilupakan....omong kosong alias bullshit kalo org2 minoritas dpt melupakanx....secara pribadi, sy tdk mengingat kepedihan akibat Mei98 yg berkenaan lgsng dgn diri sy sendiri...krn waktu kejadian itu sy tdk di Jakarta...tp, 1 thn sblom mei 98, alias thn 97, terjadi kerusuhan rasis yg hebat di Ujung PAndang....sy saat itu br berumur 7 tahun & tinggal dgn keluarga sy (mama,papa,kakak laki2 & 2 adik perempuan) sangat ketakutan..apalg kami tinggal di daerah pecinan......sy melihat rumah2 dilempari batu, mobil & rmh dibakar...semua org berteriak..\"ganyang C*na\"...diikuti dgn berbagai perlakuan anarkis....sy takut...& hingga kini trauma itu masih membekas...mmg sulit jd minoritas di negeri ini.....kami yg org2 minoritas, spt berada diatas bom waktu yg setiap saat dpt meledak & merenggut nyawa...penyebabx adalah ketimpangan & kecemburuan sosial....byk org yg sengaja menutup mata & telinga jg hatix terhadap kasus ini...sdh jelas bukti2 ada...kok dibilang fiktif...memang sulit mengharapkan pengadilan dunia...tp sy percaya, Tuhan punya mata menyaksikan semuax...mereka yg melakukan itu akan mendpt hukuman yg setimpal...tdk dr dunia...tp dr Tuhan........untuk keluarga yg kehilangan,...semoga ditabahkan...semoga mengikhlaskan kepergian sanak keluarga & bangkit menyongsong hidup...memang, sdh 12 tahun sejak peristiwa itu,...tp sy yakin, mrk yg kehilangan keluargax pasti tdk dpt melupakan tragedi ini.....untuk Pak Wimar...sukses terus perspektif onlinex...sy senang sekali dgn kata pak Wimar terhdp Bung Eddy,SH itu.....semoga perspektif onlinex jalan terus& makin oke kedpnx...... utk Bu Marga (harusx Oma Marga ya...secara, marga T cm lbh muda 3 tahun dr Omaku...) love you pull...terus berkarya ya Oma....Jgn berhenti menulis...teruslah menulis dgn jalan anda....anda berani bicara lwt sastra, berani mengemukakan pikiran & perasaan anda terang2an...ini yg membuat sy jatuh cinta pada karya anda disamping mmg kepiawaian anda dlm mengolah emosi pembaca & tentux romantisme tingkat tinggi....oma Marga, kadang2 sy merasa ajaib lo... kalo duduk terus memperhatikan Oma sy, & membandingkan dgn anda...rasax sy bs senyam-senyum sendiri membayangkan Oma sy itu tiba2 jd anda....berprofesi sbg penulis, mengetik naskah di laptop...hihihi.....tp itulah yg membuat sy salut pd anda...msh mau terus berkarya & menyumbangkan pemikiran pd kami yg muda2 ini(terutama bwt sy yg fans berat dgn anda...soalx sy rasa sy & Oma Marga pny minat yg sama...dalam bidang sastra & mdeis tentux).....semoga Marga T tdk berhenti menulis...semoga tulisanx semakin berbobot....salam....... :)
  50. From Pengadilan Akhir on 23 December 2010 16:34:40 WIB
    Yang tertinggal pada akhirnya adalah perbuatan tiap orang yang akan dituntut oleh Tuhan utk dipertanggung jawabkan.
  51. From Oo Pinn on 02 January 2011 14:06:39 WIB
    Sampai hari ini-pun...moment ini masih merupakan trauma batin... tidak hanya bagi korban tetapi juga keluarga korban dan orang-orang yg tahu akan kejadian sebenarnya. Salah satu moment dimana kekejaman kemanusiaan pernah terjadi dan tidak terselesaikan.
    Aku percaya ... meskipun mgkn tdk akan ada pengadilan di dunia utk mengangkat permasalahan ini ... akan tiba kelak pengadilan dari Tuhan yg akan membuka topeng semua orang yg terlibat. Mereka harus bertanggungjawab terhadap korban yang dibunuh ataupun yg bunuh diri ... dan korban yg sampai hari ini berada di RS Jiwa termasuk manusia2 tdk berdosa yang lahir karena pemerkosaan pd moment ini....
    Memprihatinkan.... msh bnyk masyarakat di negara ini tidak tahu ttg kejadian ini... atau mungkin berpura-pura tdk tahu???
    Terimakasih utk pribadi2 bertalenta ( seperti Oma Marga T ) membuka moment kelam ( yg cenderung sengaja ditutup-tutupi oleh pihak2 tertentu ) dalam alur cerita yg bagus dan bahasa awam yg mudah dipahami.
    Sangat cerdas dan bijak bila mengeluarkan aspirasi pendapat dan bereksplorasi mengenai satu masalah dalam bentuk karya yg pintar dan dikemas dalam bentuk yg mendidik .... daripada dalam tindakan anarkis dan terkesan seperti pribadi yg tidak pernah sekolah...
    Oma Marga T menjadi salah satu contoh pribadi bagi anak bangsa untuk berkreasi sekaligus beraspirasi dalam hal yg mendidik dan terpelajar...
    Trims Oma.... semangat dan teruslah menulis...
  52. From Budi Kho on 14 August 2011 12:45:33 WIB
    Sekilas sejarah Tionghoa di Nusantara Indonesia.
    1. Menurut catatan misi damai armada Chengho (setiap misi berjumlah 270.000 orang, 1405-1433), di Nusantara telah ditemui adanya orang2 Tionghoa yang bermukim di berbagai wilayah di Nusantara, tidak dalam bentuk komunitas Tionghoa, tetapi berbaur dengan penduduk lokal, sebab sebelum adanya kapal api tidak ada perempuan Tionghoa yang ikut merantau. Berarti Pembauran telah terjadi jauh sebelum itu.
    2. Orang2 Tionghoa termasuk armada Chengho diterima dengan baik karena membawa misi damai beserta teknologi pertanian, perumahan, obat2an, pakaian, perhiasan, seni dan budaya. Berarti kedatangan orang2 Tionghoa membawa manfaat baik bagi Nusantara. Contoh Wayang Kulit berasal dari China, silahkan buka: www.baidu.com ketik piying, disini akan anda lihat tayangan wayang kulit. Nama lengkap wayang kulit: Pi Wa Ying Xi, Pi=kulit, Wa=boneka, Ying=bayangan, Xi=pertunjukan.
    3. 1928 Sumpah Pemuda, salah satunya mengaku berbahasa satu Bahasa Indonesia, yaitu bahasa yang bersumber dari Melayu Pasar atau Melayu Tionghoa atau Melayu Kasar, karena di pakai di pasar2 oleh orang2 Tionghoa dalama berdagang, disebut kasar karena dibedakan dari Melayu Sastra.
    Berarti orang2 Tionghoa berjasa atas embryo Bangsa Indonesia.
    4. Saat Jepang menjajah Indonesia tahun 1943, bangsa Tionghoa sedang berperang melawan penjajahan Jepang di daratan China, sehingga penjajah Jepang tidak bisa menggunakan orang2 Tionghoa untuk melawan Belanda.
    5. Dalam perjalanan sejarah perjuangan Indonesia, banyak sekali peran serta orang2 Tionghoa, silahkan tanya kepada para ahli sejarah.
    Semoga Indonesia yang kita cintai menjadi lebih baik di hari esok.
  53. From Arum on 17 October 2011 18:38:48 WIB
    permissi,,, numpang tanya.. berhubung ini salah satu dari tugas mata kuliah saya, jadi saya mau nanya " kira2 kenapa yah karya MARGA T sama MARIA A dapet predikat negatif?" itu pertanyaan dari bu dosen,, mohon bantuannyaaa :)
  54. From Ann on 12 March 2012 04:54:22 WIB
    Saya heran, kenapa masih ada saja orang berpendidikan spt. Eddy Noor SH yang berpikiran tak \'berpendidikan\'. Herannya pandangan sempit \"melupakan masa lalu\" ini harus keluar dari mulut seorang Sarjana Hukum. Tidak ada satupun kasus pembunuhan di muka bumi ini yang mengenal kata kadaluarsa, jika anda seorang Sarjana Hukum seharusnya anda tahu. Marga T adalah seorang novelis. Ia mengungkapkan suara hatinya dalam bentuk novel seperti juga pemusik dll. Tindakan ini sudah sepatutnya dihargai. Memalingkan muka dan melupakan masalah yang seharusnya diselesaikan tidak memperbaiki keadaan.
    Mendengar komentar Bpk. Noor bahwa tragedi Mei hanya dibesar- besarkan, saya merasa ternyata benar yang saya rasakan: Moral bangsa ini benar benar rusak. Selama tragedi ini tidak menimpa saya pribadi, peduli amat, apa yang orang lain rasakan.
    Saya merasakan bpk. Noor hidup di dunia lain atau tidak mengalami kejadian Tragedi Mei. Saya bahkan harus tidur dengan parang disamping tempat tidurku, sementara para pria harus melakukan jaga malam. Sementara itu saya melihat, tidak jauh dari tempat tinggalku, banyak kepulan asap dari rumah rumah yang dibakar. Setiap kali gentong dibunyikan, semua harus bangun, dan saya melihat banyak orang orang yang berlarian, berkejaran dengan senjata dan parang.

    Dimana Bapak Noor saat itu? mungkin tertidur lelap..

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home