Articles

Banyak aksi penolakan, apa artinya?

Perspektif Online
21 March 2006
Wawancara PAS FM tanggal 21 Mar 2006, 06:50
 
Doddy:  Pak Wimar,  apa pendapat anda tentang maraknya aksi-aksi people power akhir-akhir ini?
 
Wimar:  Itu konsekuensi logis dari negara yang menjadi lemah kekuasaannya dan sebaliknya people-nya menjadi kuat karena setiap kali mendapat latihan untuk menjalankan kekuatannya. Saya kira tidak ada orang yang senang turun ke jalan sebagai hobby. Aksi jalanan terjadi karena penyaluran pendapat yang normal tidak berfungsi. Begitu pemerintah menunjukkan kepekaaan, kesediaan untuk mendengarkan tuntutan orang, maka gejala turun ke jalan akan berhenti, termasuk eksesnya. Kita tidak lupa bahwa sebagian yang turun ke jalan juga tidak terlalu benar. Tapi terbuka peluang untuk hasutan-hasutan karena selama pemerintah tidak punya sensitivity, tidak ada pengambilan keputusan yang jelas,  dengan sendirinya timbul semi-anarki.
 
D:  Kenapa aksi-aksi People Power ini marak terjadi?
 
W:  Istilah People Power itu hanya satu label saja untuk gerakan di luar kelembagaan formal. Semakin banyaknya hasil dari lembaga nonformal, dan semakin sedikit efektivitas dari lembaga formal atau pemerintah, semakin banyuak orang yang akhirnya melakukan kegiatan di luar lembaga. Istilah People Power yang lahir di Manila memberi kesan orang mau menggulingkan kekuasaan negara. Saya kiri aksi-aksi di kita ini hanya penyaluran pendapat orang menurut jalur yang ada.
 
D:  Apakah akan berimbas negatif terhadap negara kita?
 
W:  Mudah-mudah tidak. Begitu pemerintah mengambil sikap yang menangani persoalan, efek negatifnya akan berkurang. Kalau sekarang dari mulai Presiden ke bawah maunya diam-diam saja. Dengan sendirinya dinamika baik yang positif maupun yang negatif muncul. Kalau tidak, semua diam. SBY diam, parlemen ribut sendiri, Menterinya diam. Negaranya diam. Padahal harus ada yang bergerak.
 
D:  Ada yang mengatakan bahwa aksi people power ini dilakukan karena pemerintah lebih tunduk pada aksi semacam ini daripada pada yang lain. Bagaimana?
 
W: Logis kalau pemerintah tunduk pada kekuasaan, Kalau kekuasaannya di parlemen, dia tunduk pada parlemen. Kalau kekuasaannya di jalanan, dia tunduk pada massa. Kalau kekuasaannya di Presiden, tunduk pada Presiden. Tapi kan Presidennya tidak memberi pengarahan apa-apa. Jadi dalam kabinetpun sudah simpang siur.

Print article only

17 Comments:

  1. From clara on 21 March 2006 08:37:32 WIB
    people power harus bersuara karena people representative (baca: DPR) ga mau bicara sesuai suara rakyat.

    presiden harus dengerin suara langsung rakyat, karena yang buat dia berkuasa ya rakyat jelata.

    rakyat juga harus waspada, agar kekuatannya tidak di domplengi orang-orang gila kuasa.

  2. From Martin Manurung on 21 March 2006 09:25:29 WIB
    Presiden takut bersikap, jadinya masyarakat mengambil sikap.
  3. From wimar on 21 March 2006 14:26:08 WIB
    sikap orang biasa tetap jernih terwakili oleh pengisi blog seperti kedua rekan diatas ini, dan adalah orang biasa yang memberi arti pada kehidupan masyarakat
  4. From Pengamat on 21 March 2006 17:18:46 WIB
    Kalau kita tidak sabar memang kita akan merasa bahwa kita makin terputuk dan tidak ada pegangan. Malahan banyak yang berpendapat: "Kita kembali ke masa demokrasi terpimpin saja agar bisa hidup tenang".
    Yang sebetulnya itulah yang terjelek.

    Kita jadinya mau apa? Entahlah, tetapi karena banyak orang orang baik yang masih mendukung kepempemimpinan yang sekarang, barangkali kita hanya bisa "mendoa".

    Yang sebetulnya jelek adalah peranan yang dijalankan oleh beberapa "tokoh nasional" yang sedang tidak berperan di pemerintahan. Umpamanya mantan Presiden dan/atau ketua MPR harusnya ikut membantu menenangkan rakyat. Boleh kritik tetapi JANGAN MENGHASUT. Padahal kalau mereka masih dim pemerintahan, yang sama juga akan dilaksanakan.

    Sebagai contoh barangkali bisa dibaca yang berikut yang pengamat kutip dari suatu blog (kebetulan mengenai blok Cepu: "...... is too late the hero in Cepu debacle. He was the Assembly Speaker when Pertamina approved the acquisition of Humpuss remaining shares in Cepu block back in June 2001. That was the critical moment of truth for the Exxon to get 100% control over Cepu block. Where was Amien then?
    Another critical moment is when government-sanctioned negotiations team signed the memorandum of understanding with ExxonMobil in June 2005. Based on the MoU, government then awarded the cooperation contract (KKS) in September 2005 in which government agreed upon 85% revenue split from Cepu, and 15% for contractors. Government also agreed that the contractor shareholding at 45% for Pertamina, 45% for ExxonMobil, and 10% for local administrations.
    Did you ever read Amien's opposition to this agreement? Operatorship agreement, signed yesterday, actually the derivative of the KKS, technical issue that less significant than the KKS. Amien justify his accusations based on the JOA.
    Well, Amien apparently is too late to learn the facts and just too fast to judge, accuse, and talk. Amien should do his homework, to learn more to be a wise man. Otherwise, he is just a horse for those who are smart enough to ride on him."


  5. From ciroe on 21 March 2006 20:27:19 WIB
    Mblokir jalan, mbakar mess karyawan, polisi dihajar, nutup pelabuhan. Kita seperti hidup di negara tanpa pemerintah. Ragu-ragu seh
  6. From wimar on 22 March 2006 04:40:31 WIB
    memang, aksi massa itu merusak. tapi aksi massa adalah akibat, bukan sebab. yang menjadi sebab adalah kegagalan pemerintah memberikan kepemimpinan setelah mendapat mandat 68% (betul nggak tuh angkanya?)

    seperti orang sakit kaki terus jalannya nabrak-nabrak, tidak perlu dicemoohkan, karena dia nabrak-nabrak gara-gara kakinya sakit.

    apa yang harus dilakukan? membuat pemerintah bangkit, mengambil sikap pasti, berbuat antisipatif, menurunkan tingkat keresahan dengan bertindak terhadap korupsi. terutama melalui penyampaian pendapat. kalau malas ikut demo, boleh lewat blog. posisi kita enak dibandingkan dengan orang yang tidak bisa buka internet. manfaatkan internet demi kepentingan umum.
  7. From wongcilik on 22 March 2006 11:29:08 WIB
    memprihatinkan memang, negara dengan Presiden hasil pilihan langsung rakyat sepertinya kurang peduli dengan kepentingan rakyatnya, banyak diam, sering ragu2, tidak pernah tegas, sepertinya kalah gesit dari wapresnya. jangan2 karena namanya wapres kalla, yang menurut orang jawa nyamain namanya betara kala, mohon maaf ya, namanya juga wong jowo, kalau betara kala yang tampil di panggung, ya yang sabar dan tawakal saja, harapan bakal banyak terjadi musibah dan huru-hara, barangkali memang nasib Indonesia terpuruk kok nggak rampun2.
  8. From Engkus on 22 March 2006 12:15:09 WIB
    Mas pengamat, Demokrasi itu kan cuma sistim doang, bukan Tuhan. Cari aja sistim yang praktis biar kita cepat makmur.Saya mah udah capek sama demokrasi. Delapan tahun kita masuk ke lubang sumur makin lama makin dalem, demo terus2an bising dan pusing ....Mendingan Singapura, pake demokrasi terpimpin( tapi kudu jujur dan adil). Tapi jangan hidupin lagi Sukarno atau Suharto, cari aja Lee Kuan Yew made in Indonesia, gitu.
  9. From Satya on 22 March 2006 12:45:53 WIB
    sistem untuk 4 juta orang ga bakal jalan utk 240 juta orang, maupun kita impor 60 lee kuan yew. dan sistem apapun ga bisa dijalankan kalo pelaksananya bengong doang kaya skrg.
  10. From Yudha on 22 March 2006 17:06:32 WIB
    Yang namanya sistem politik & pemerintahan tidak pernah ada yg benar atau salah, tetapi yang memakmurkan dan menyengsarakan rakyatnya :)


  11. From kakangE on 22 March 2006 22:52:09 WIB
    tapi kalo ada kepala diadu sama batu segede kelapa apa ya itu masih ada toleransi dan disebut "akibat". kalau udah ada nyawa yang sampai melayang itu sudah perkara kriminal.

    apa pemerintah kita suruh tiduran terus di kepalanya ditimpuk pake batu satu-satu? terutama yang nggak becus ngurusin rakyat....
    tapi keliatannya cara kayak gini juga nggak efektif soalnya "orang di atas" sana kepalanya sudah lebih keras dari batu..
  12. From Martin Manurung on 23 March 2006 00:43:47 WIB
    Bedanya Lee Kuan Yew sama Soeharto cuma Lee tau kapan harus mundur secara resmi (walaupun masih terus ada di belakang), sementara Soeharto pingin terus-terusan di kekuasaan. Di luar hal itu, Lee dan Soeharto sama.
  13. From joel on 01 April 2006 21:31:31 WIB
    pemerintah spt tanpa strategi dan parlemen spt biasa cuma oportunis saja. argumen yg sedang diperdebatkan mengenai blok cepu, freeport dan newmont seperti lupa pada legal basis dan undang undang yg dibuat oleh pemerintah dan dgn persetujuan parlemen sendiri. akhirnya mass media juga terjebak dalam adu mulut yang ujungnya tidak peduli juga pada masyarakat.knp konsentrasi dan tenaga tdk dipusatkan pd pembenahan undang2 dan kontrak2 baru masa mendatang. plus jgn lupa pembersihan bumn2 spt pertamina, pln dan dept pertambangan energi yg auzubilah korupsi dan inefisiensinya.
  14. From Manusia Biasa on 05 April 2006 14:01:40 WIB
    Jujur saja sama diri sendiri.

    -Ikut demo karena mau negara maju atau karena Uang Jalan-nya?
    -Bekerja untuk negara atau mau ngerjain negara?

    Kagak Usah yang Aneh2.Toh kalo bisa dipermudah ngapain dipersulit.Iya Kan?
  15. From jebul on 07 April 2006 20:32:02 WIB
    emang sangat menarik ketika melakukan aksi sebab kelau negara tidak ditarik nafsunya untuk bangkit gak mungkin akan ngaceng. makanya perlu adanya rangsangan. akhirnya bentuk r5angsangan itu nampaknya pas ketika gerakan people power sanbgtat signifikian pada hari ini
  16. From Hariadi on 18 May 2006 07:56:52 WIB
    Sebenarnya Presiden kita sekarang ini perlu mendapat gelar guru besar politik karena telah berhasil membuat rakyat hidup dalam keterpaksaan tampa bisa berbuat apa-apa. Namun siapapun yang jadi presiden saat sekarang ini termasuk bapak wimar pasti akan diobok-obok hehehe.....
  17. From 4zka on 13 August 2006 11:57:14 WIB
    Kalau memang pemerintah tidak mampu mengurus rakyat, wajar ada people power. Butuh aksi untuk memaksa pemerintah mendengarkan rakyat!

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home