Articles

Perkembangan dalam penolakan UU APP

Perspektif Online
09 April 2006
[updated 9 April 2006]
 
Banyak pendapat orang biasa tercatat oleh PO. Kemarin kelompok ibu-ibu yang ketemu di restoran Jalan Wijaya mengatakan: "Tolong bantu dong bantu beritahu orang, UU APP itu tidak masuk akal sama sekali." Orang biasa,  yang biasanya ingin bersikap netral-netral saja, kaget begitu mendengar ada rancangan UU yang begitu anehnya, terlepas dari budaya yang ada sekitar kita beratus-ratus tahun. Akhirnya banyak sehingga bersikap menolak. Tapi antara sikap dan menyatakan sikap, masih ada jurang yang lebar. Di DPR, politisi sudah menggodok rancangan yang mau disahkan bulan Juni. Orang biasa masih segan bicara karena malu menyatakan pendapat. Ada juga yang takut karena melihat ini sebagai isu agama.
 
Memang disinilah bahaya terbesar isu UU APP ini. Penolakan terhadapnya berdasarkan common sense. Dukungan terhadap UU APP menggunakan imbauan keagamaan. Banyak yang terkecoh, lupa bahwa betapa pentingya pun agama, negara tidak boleh campur dalam norma agama. Biar isu agama tetap isu agama. Kalau tercampur dengan urusan negara, sangat mudah politisi memperalatnya untuk menyusun kekuatan. Jadinya muncul keresahan yang tidak kita butuhkan sama sekali.
 
...............  Sejak posting pertama soal UU APP, komentar di posting ini mencapai jumlah rekor. Diskusi di luar juga ramai. Menurut Gus Dur, para anggota dewan yang menyetujui RUU APP, itu karena mereka takut pada Islam garis keras. "Nggak perlu ada UU pornografi. Masak peraturan menentukan moralitas masyarakat, itu kan lucu. Itu kayak paling suci saja," imbuhnya. Menurut Sinta Nuriyah, ada cara pandang yang sesat dan prasangka bahwa perilaku moral kaum perempuan menjadi penyebab kerusakan moral. Padahal kebobrokan moral itu juga banyak disebabkan para pemimpin yang tidak bertanggung jawab.
 
Dia juga meminta agar negara lebih memikirkan pemenuhan kebutuhan hidup rakyat miskin. "Mengurangi angka kematian ibu, buta huruf, menghapus kekerasan dalam rumah tangga dan menghilangkan kebijakan yang mendiskriminasi perempuan," kata Ketua LSM Puan Amal Hayati ini.
 
Ada yang mengusulkan di DPR, banyak yang menolak di luar. Banyak juga yang diam, bukan karena tidak punya sikap, tapi karena menjemukan, ikut bicara soal yang begini politis. Jelas ini bukan masalah menerima pornografi atau tidak, melainkan masalah menerima campur tangan negara dalam kehidupan pribadi. Seperti dikatakan Iwan Fals, moral dan akhlak, serahkan pada pribadi. Kalaupun negara mau campur tangan urusan pribadi, uruslah lapangan kerja, keadilan ekonomi, basmi korupsi. Apa urusannya dengan pornografi? Itu hanya istilah sarat nilai. Apa yang dinilai porno di situasi tertentu, oleh kalangan tertentu, mungkin tidak apa-apa dalam konteks lain. Jadi agak malas menanggapinya, karena ini isu politik. Tapi kalau kita diam, seakan-akan tidak punya sikap.
 
Embrace
Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah mempunyai sikap yang jelas soal UU APP. Menurut Gus Dur menurut laporan www.gusdur.net , para anggota dewan yang menyetujui RUU APP, itu karena mereka takut pada Islam garis keras. Banyaknya undang-undang yang mengatur kehidupan warga negara, dinilai Gus Dur bukan malah bikin mereka sejahtera. "Kebanyakan UU malah bikin bingung," ujarnya.
 
Menurut Gus Dur, sesuatu dianggap pornografi jika tidak mempunyai nilai sosial sama sekali. Karenanya, apapun yang dianggap memiliki nilai sosial tidak usah dipermasalahkan. Mantan ketua PBNU ini lalu mencontohkannya dengan tradisi masyarakat Bali dan Papua yang tidak berpakaian sebagai ekpresi kultural yang tidak perlu diatur oleh UU.
 
"Nggak perlu ada UU pornografi. Masak peraturan menentukan moralitas masyarakat, itu kan lucu. Itu kayak paling suci saja," imbuhnya.
 
Sinta Nuriyah juga menyorot tajam RUU APP. Menurutnya, RUU itu berangkat dari cara pandang yang sesat dan prasangka bahwa perilaku moral kaum perempuan menjadi penyebab kerusakan moral di negeri ini. Padahal, imbuhnya, kebobrokan moral itu juga banyak disebabkan para pemimpin yang tidak bertanggung jawab mensejahterakan warganya.
 
Dia juga meminta agar negara lebih memikirkan pemenuhan kebutuhan hidup rakyat miskin. "Mengurangi angka kematian ibu, buta huruf, menghapus kekerasan dalam rumah tangga dan menghilangkan kebijakan yang mendiskriminasi perempuan," kata Ketua LSM Puan Amal Hayati ini.
 
Update 30 Maret: Terima kasih atas semua pendapat anda yang sangat menarik. Komentar di posting ini mencapai jumlah rekor. Di luar banyak sekali pembahasan mengenai UU APP, terlalu banyak jika dilihat dari urgensi permasalahan. Tapi lebih berbahaya lagi, kalau topik ini lolos dari perhatian publik dan diam-diam menjadi produk legislatif. Yang akan timbul adalah kekacauan. Perhatikan beberapa kutipan berikut:
 
Mariana
Mariana Amiruddin dikutip oleh www.sarwono.net mengatakan bahwa "..kehadiran UU APP berseberangan dengan prinsip kemerdekaan atau Hak Asasi Manusia......Namun penolakan ini kemudian direspons dengan reduksi dan generalisasi menjadi: semua kelompok maupun individu yang menolak RUU APP berarti menerima penyebaran barang-barang porno, membiarkan anak-anak menonton blue film dan lain-lain, dan kemudian berlanjut mencampur-adukkan isu moral dan agama. Terjadilah perdebatan yang kehilangan substansi, yaitu perdebatan yang tadinya terfokus pada teks RUU menjadi pada pro dan kontra soal peredaran barang porno."
 
Perspektif Baru
Kepada Jaleswari Pramodhawardhani dalam wawancara Perspektif Baru, Wimar Witoelar menyatakan khawatir bahwa "..orang menerima kaidah yang sangat berbahaya yaitu negara boleh mengatur moralitas. Kalau negara sudah campur dengan moralitas, kita bisa jadi negara Taliban atau bisa jadi seperti George W. Bush yang mengebom Irak dan Afghanistan dengan dalih untuk Tuhan dan moralitas."

Print article only

136 Comments:

  1. From Dr.Andri on 10 March 2006 06:49:28 WIB
    Saya setuju apa yang dikatakan oleh Gus Dur dan Ibu Sinta. Sebenarnya moralitas seseorang lebih ditentukan oleh dirinya sendiri dan bukan dari peraturan. Apakah kita semua ingin menjadi Moralizer daripada seorang Moralist? Sebelumnya terkadang kita sering dibingungkan oleh banyaknya peraturan. UU tentang hak cipta ada namun pembajakan merajalela, terkadang UU hanya menjadi "superficial themes" tanpa dasar dan maksud yang jelas. Kita juga harus ingat bahwa kebanyakan rakyat kita masih berpikir primer, segala sesuatu apapun itu ditelan sebagaimana adanya. Kita lihat saja salah satu bunyi dari UUAP yang secara implisit mengatakan tidak boleh mempertontonkan sesuatu yang dapat menimbulkan nafsu birahi , sekarang bagaimana cara mengukur hal itu? Yang salah wanitanya atau kali-laki yang timbul birahinya? Lalu bila seperti itu, kalau misalnya saya melihat wanita dengan pakaian tertutup tapi saya timbul birahi ,maka wanita itu bisa juga disebut melanggar UUAP? oh my God...ternyata UUAP sangat membela laki-laki tapi mengesampingkan hak-hak wanita
  2. From Mansur on 10 March 2006 08:38:52 WIB
    Kalau divoting, masyarakat Indonesia menolak RUU APP pasti akan menang. Terpenting di sini adalah kita mengawasi jangan sampai uang bermain dalam pembahasan dan pengesahan RUU tersebut karena yang menyetujui dan menolak mempunyai justifikasi sendiri-sendiri.
  3. From Martin Manurung on 10 March 2006 08:44:22 WIB
    Negara kita kok kayak kurang kerjaan saja. Banyak kerjaan lain yang lebih penting daripada jadi polisi moral. Presiden juga nggak ngomong apa-apa. Seperti biasa, takut bersikap.
  4. From Dion Albert on 10 March 2006 09:46:46 WIB
    Entah dari mana datangnya ide ini, tapi kalo dari latar belakang agama tertentu yang merasa ajaran dan umatnya perlu dibela mungkin perlu direnungkan apakah Tuhan tidak cukup kuat untuk membela ajaran dan umat-Nya sendiri? Tuhan ngga butuh pertolongan manusia.
  5. From Balya Mikaela on 10 March 2006 11:22:14 WIB
    Sebagai seorang muslimah tentu saya senang melihat wanita-wanita berpakaian trendi tapi tertutup, namun itu semua harus datang dari kesadaran pada diri masing-masing.

    Untuk apa RUU APP, jika kita semua masih munafik pada diri sendiri. Lebih baik para politikus itu memikirkan bagaimana memberantas kemiskinan, pengangguran dan juga yang terpenting adalah memberantas dan menindas korupsi. Yang juga tak kalah penting memikirkan bagaimana berjuang untuk rakyat bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan.


  6. From pengamat on 11 March 2006 03:29:39 WIB
    Hahaha
    Undang undang lagi akan dibikin, yang tidak akan diimplemantasikan untuk kepentingan rakyat, tetapi untuk penghasutan dan pemerasan.

    Kita bisa lihat, mana pemimpin yang sehat dan mana yang menggunakan tiap kesempatan untuk "populer". Dan -juga- mana koran yang penakut, yang ingin laku, yang berani, dan yang ingin ikut mendidik rakyat.
  7. From A Rifa\'i Tedjo on 12 March 2006 00:50:02 WIB
    Sejak awal memang saya menolak RUU APP. Karena telah melanggar prinsip-prinsip dasar konstitusi dan bernegara sekaligus berbangsa.
    Saya juga mendiskusikan dengan komunitas saya di "Gerakan Mahasiswa", semua sepakat bahwa kita menolak dengan RUU yang sangat diskriminatif ini.
    Bagaimana mungkin Indonesia dengan kondisi sosio-kultur yang sangat geterogen ini mau diseragamkan dalam memahami moralitas dan estetika ini, belum lagi ancaman daerah-daerah yang meminta merdeka bila RUU ini disahkan.
    Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu...
    Peraturan segat, yang kami mau...
    (Iwan Fals)
    WallahuA'lam
  8. From Richard on 12 March 2006 08:10:53 WIB
    Kalau mau bikin UU tentang pornografi yah atur tentang barang-barang yang memang tujuannya untuk merangsang nafsu seseorang, seperti buku dan film porno. Jangan atur karya seni, cara berpakaian, dan hal-hal lainnya yang diciptakan bukan untuk merangsang hawa nafsu. Bikin suatu tempat eksklusif yang khusus untuk 21 tahun ke atas dan menjual barang-barang seperti itu. Sesudah itu kenakan saja pajak yang mahal sekali, sehingga majalah Playboy harganya 2 kali lipat dari Amerika :p
    Lagian yang brengsek itu bukan cewenya yang pake pakaian minim ataupun karya-karya seni, cowonya itu jauh lebih brengsek karena otaknya kotor. Kenapa para cowo ini yang tidak ditangkap?
  9. From Lengketarian Fransnico joseph Sitompul on 12 March 2006 08:21:49 WIB
    alah2, koq makin banyak aja orang2 munafiknya. seneng bener sih main di persimpangan. mau menyimpang S.A.R.A ama pancasila lagi? tar tau2 sila ke 1 nya ditambah 7 kata kayak waktu itu lagi. waduhhh, kecewa nih presiden kita saat ini lolos tes kesehatan, padahal sepertinya bermasalah dalam soal berbicara(bisu). Yang gak bisa liat aja ikut membela kebenaran. Ternyata lebih baik buta daripada bisu.
  10. From Djoko on 12 March 2006 15:05:07 WIB
    Saya setuju UU APP.Dalam urusan pornografi kita lebih liberal dan ngawur dibanding Eropa. Lihat saja vcd porno di glodok, atau majalah2 jorok yang semuanya dijual bebas tanpa batas usia.Apa salahnya pemerintah mengatur masyarakat.Soal Bali atau Papua, buat saja exception, gitu aja kok repot.Hongkong saja bisa puya sistim yg lain dari induknya Cina.Dan satu hal lagi, hindarilah prasangka bahwa ini mainan agama tertentu, bisa tambah runyam nanti.
  11. From Hussein B.S. on 12 March 2006 20:17:02 WIB
    Bagaimana Bangsa Indonesia bisa maju, kalau urusan berbusana saja diatur dalam undang undang. Yang mengambil inisiatif RUU APP ini terlena oleh budaya asing tertentu untuk memaksakan Bangsa Indonesia berbusana seperti mereka. Bangsa Indonesia tdk bisa disamakan dengan orang asing tertentu, karena kita harus bangga Budaya kita sendiri dan menghormati Nenek Moyang kita yang menjunjung tinggi azas Bhineka Tunggal Eka. Bayangkan,Indonesia sebagai negara kepulauan dan tropis, semua penduduk Indonesia yang tinggal dipulau pulau harus menutupi badan khususnya wanita dan sedangkan laki-lakinya bebas mengunakan baju terbuka. Panas bo...kasihan kepada wanita kita yang kepanasan berbusana tertutup. Ini adalah tindakan sangat diskriminasi gender terhadap wanita. Saya ingin melihat bagaimana rasanya laki-laki yang menyetujui RUU APP menggunaka baju tertutup penuh di terik matahari. Kalau wanita harus berbusana tertutup, kenapa laki laki tidak harus tertutup. Apakah Tuhan YME menciptakan wanita untuk disengsarakan menggunakan busana tertutup, hanya supaya laki lakinya tidak terangsang birahinya????
    Ya Tuhan YME, sadarkanlab mereka dari tindakan diskriminasi terhadap kaum wanita yang Engkau ciptakan. Amien
  12. From wimar on 13 March 2006 00:08:52 WIB
    vcd jorok, majalah jorok, harus diatur oleh peraturan penerbitan dan distribusi. busana orang sehari-hari, selera orang adalah urusan orang bersangkutan. bisa saja orangtua ikut mengatur, agama memberikan acuan, sedangkan negara perlu konsentrasi pada penyediaan lapangan kerja, fasilitas kesejahteraan sosial, pemberantasan korupsi, keamanan dan pertahanan, dan masih banyak lagi yang belum terurus.
  13. From wisnu prabowo on 13 March 2006 09:56:54 WIB
    jangankan RUU APP disahkan, sekarang ini saja kita sudah mulai hilang akar kebudayaan kita.
    coba sekarang kita liat di sekeliling kita, budaya konde dan kebaya (di jawa khususnya) sudah mulai hilang.
    dengan adanya kewajiban menutup bagian tubuh tertentu, sudah barang tentu akan melarang penggunaan konde dan kebaya.
    wah kita tampaknya akan benar2 hilang akar kebudayaan...
  14. From Fajar Budiarto on 13 March 2006 12:58:32 WIB
    Tidak semua pasal di RUU itu jelek. Tapi secara garis besar RUU ini tidak berlandaskan pada 2 asas: Kepastian dan Keadilan.
    Definisi porno, sensual dibiarkan ngambang. Hukum yg tidak pasti, sudah pasti merangsang anarki. Ini bertentangan dengan Islam.
    Prinsip Keadilan jg dilanggar, karena bagaimana manusia berpakaian negara hendak ikut campur. Bagaimana manusia menyampaikan rasa cinta pada pasangannya juga mau diatur. Masa berciuman bibir mau dilarang. Sejak kapan negara punya hak mengatur urusan cinta dan berpakaian warganya?

    Lucunya minggu-minggu kemarin Polisi udah bisa berantas gambar-gambar porno, dan bikin tutup gerai-gerai vcd porno, tanpa UU APP segala macam. Kesannya kok cari-cari alasan aja, kalau mau berantas porno sekarang juga bisa kok.

    Salam
    Fajar
  15. From kakangE on 13 March 2006 13:24:27 WIB
    saya sih ngikut mas djoko, bener itu UU itu kan dibuwat biar anak-anak kita pas pulang sekolah nonton tipi liat pusar, paha, apapun yang bikin tegang. yang penting sih UU itu dibuat terus di laksanakan nggak cuman dibikin tok. kayak perda larangan merokok di DKI ya akhirnya cuman jadi guyonan tok.
  16. From Adi on 13 March 2006 13:46:45 WIB
    Assalamualaikumk. Wr.Wb
    Saya merasa aneh dengan Bapak Gus dur plus keluarga. Pendapatnya selalu saja aneh dan selalu kontra. Gak mendukung ke arah kebaikan. Mungkin karena kekecewaan gak bisa jadi presiden lagi ya.
    Artis - artis seperti inul yang seronok pada ngadu kepada anda karena anda adalah "dai"( orang biasa kali lebih pantes) yang aneh. Saya doakan anda bisa melihat kembali Pak Gus dur agar dapat melihat inul dan akibat - akibat dari pornografi dan pornoaksi yang ada dimasyarakat kita. Serta menyadari kebodohan atas pendapat - pendapat anda tersebut.
    Saya sangat setuju dengan RUU APP, sepertinya pornografi dan pornoaksi sudah menjamur dan memuakan kita. Sudah saatnya peraturan yang keras dibuat. Dampak dari pornografi sudah banyak nampak dimasyarakat, misalnya di berita kriminal seorang remaja ABG yang memperkosa anak dibawah umur karena melihat adegan porno.
    Hancurkan segala bentuk pornografi dan pornoaksi.
  17. From joe on 13 March 2006 14:03:23 WIB
    Bagian satu.
    Peraturan apapun (UU, PP dsb), mestinya membuat kita hidup lebih baik. Bukannya sebaliknya, adanya peraturan malah membuat kita 'ketakutan', 'saling mencurigai' dsb.

    Bagian dua.
    Kalau sampai RUU APP ini disahkan, bukan tidak mungkin pemerintahan sekarang akan terguling, pemilu ulang!!!

    Bagian tiga.
    Bagaimana kalau Indonesia yang besar ini dipecah-pecah saja menjadi negara yang kecil-2 disesuaikan dengan geografis dan kulturnya.

    Bagian empat.
    Mungkin uang sedang bermain di DPR, shg para anggota DPR mau tak mau harus men-sah-kan RUU APP pada bulan juni.

    Bagian lima.
    Kalau kita mati nanti, apakah ada yang tahu bgmana sikap Tuhan thdp kita? adakah yg sudah punya pengalaman mati?
    .....renungkan sebentar ....
    apakah hidup kita yang cuma sekali ini akan meninggalkan kekacauan di dunia ini?

    Bagian enam.
    sudah dulu. bye.
  18. From gweine on 13 March 2006 19:22:06 WIB
    saya kira apaan. baca di koran/majalah, dengar di teve, dengar orang diskusi di warung kopi. ruu app???
    apaan tuh. penasaran. aku ngerangsak aja ke senayan lewat pintu maya. bongkar punya bongkar....
    ooohhhhh. cuman itu toh....
    tak leboh baik dari tulisan karya anak sd. pastas aja gus dur pernah bilang dpr itu kayak tk. ha ha ha
    gitu aja kog repot....
    biarkan mereka. jangan di responi. mereka memang sedang cari sparing partner untuk belajar debat.
    paling juga negara ini hancur....
    mungkin lebih baik, daripada miskin terus-terusan kayak gini.
    thanks.
  19. From Bosan on 14 March 2006 03:45:23 WIB
    Rakyat kelaparan, cari duit sulitnya bukan main, pengangguran menumpuk, korupsi merajalela, kok DPR kerjanya ngurusin yang kayak ginian. Itu tandanya yang di atas memang sudah terlalu di menara gading sampai-sampai sudah tidak tahu lagi yang mana yang lebih mendesak.

    Mungkin juga memang mereka sengaja cari-cari kerjaan kayak ginian biar mengalihkan perhatian rakyat, kalau orang ribut soal ginian kan, mereka tak lagi ingat bahwa memang DPR itu kerjanya hamburasut berantakan kacau balau loh jinawi.

    Kalau memang mau mengontrol hawa napsu, kontrol dulu diri anda bapak-bapak perancang UU pornoaksi, misalnya kalau studi banding, ya studi banding yang beneran, jangan malahan belanja di Paris dan masuk ke daerah asui di Perancis dan Belanda sana.

    Kalau perempuan dianggap perangsang, bukannya yang terangsang itu yang sebetulnya pikirannya ngeres? Mungkin saja yang bikin undang-undang ini memang kerjaannya mikirin kayak ginian.

    Saya akan setujui UU pornoaksi kalau yang laki-laki yang melanggarnya juga ikut dikebiri! Jangan hanya perempuan saja yang jadi korban. Kita tahu lagian siapa dulu yang akan pertama-tama di kebiri: badut-badut senayan sana yang kerjanya cuma tahu kayak ginian.
  20. From Muhdi Djudikasboe on 14 March 2006 18:26:47 WIB
    Diskusi yang baik, tentu mendasarkan pada apa yang sedang didiskusikan, bukan? Kita sedang mengulas topik Rencana Undang-Undang Pornografi. Tapi tak satupun diskusi yang dikemukakan mengangkat point, menunjuk pasal, ayat, dll, dari RUU tersebut. Dengan demikian "klop" kalau kehadiran kita hanya sebagai "penghujat", kita menjadi pemeran "waton suloyo", asal berbeda. Dalam berkomunitas, alangkah baiknya jika energi kita ini, kita curahkan untuk kebaikan, bukan memperkeruh suasana.

    Apa benar negara memang entitas yang tidak "berhak" mencampuri urusan pribadi warganya? Tentu kita sebaiknya menelisik dulu, content apa dari RUU Pornografi tersebut diatur. Bukankan dengan mengaturnya dalam sebuah UU, pemerintah memberikan pendidikan secara terbuka? Ataukah kita memilih hidup tanpa peraturan, dengan pemahaman hubungn "asal tahu saja"?

    Sepertinya ada bias dalam pemahaman diskusi ini, seolah diterjemahkan "negara mengatur cara berhubungan sex bagi warga negaranya".

    Menurut saya, negara dalam batas tertentu mengatur/ mempengaruhi perilaku warganya menuju pada peradaban yang lebih baik. Mengapa negara perlu intervensi?

    Ketika kekuatan pasar begitu dahsyatnya merasuki pola pikir seseorang, kaidah agama hanya menjadi simbol ritual, tatanan moral masyarakat terdegradasi, - - - maka tak ada satupun entitas yang mampu menyeimbangkan sistem. Negara perlu campur tangan.

    Tentu ini juga berlaku untuk permasalahan, cara masyarakat memahami material, perilaku individu yang korup, berpolitik yang elegant dan berbobot, hingga nasionalisme. Apa ada yang salah?

  21. From wimar on 14 March 2006 22:25:38 WIB
    keberatan utama saya terhadap RUU ini adalah karena dia mengatur moralitas pribadi. Karena itu bisa dinilai tanpa melihat pasal dan ayat. Hutan yang lebat bisa dinilai tanpa melihat pohonnnya, bila sudah menghasilkan kesimpulan yang dibuat.
  22. From Ricolas on 15 March 2006 09:02:23 WIB
    gw ga setuju dgn diterapkannya undang-undang pornografi, krn negara kita bukan negara islam, walaupun mayoritas dari masyarakatnya adalah beragama islam, untuk itu himbauan kepada pejabat pemerintah, jika ingin menjalankan syariat islam maka rubah dulu idiologi bangsa kita dari idiologi pancasila menjadi syariah islam murni. jika RUU ini sampai diterapkan (disahkan) maka ini kakan membuka lahan baru bagi aparat penegak hukum khususnya polisi pornografi pornoaksi untk mencari-cari kesalah masyarakat bahwa yang dilakukan adalah Pornografi atau porno aksi.
  23. From joey on 15 March 2006 09:16:10 WIB
    issue ruu app adalah bentuk lain dari kecerobohan (negligence)sebagian legislator yang tanpa pikir panjang ingin mengakomodasi keinginan pendukungnya dengan tidak memperdulikan tatanan kehidupan dan nation values yang normatif, sehingga cenderung hanya memaksakan nilai2 subyektif kelompok mereka sendiri. kewibawaan parlemen dan pemerintah akan teruji dalam kasus ini apakah masa depan negara ini milik bangsa indonesia atau ditentukan sekelompok orang yang ingin menindas kebebasan dan kemerdekaan kaum mayoritas. ....sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa... ( SOekarno-Hatta 1945)
  24. From LouiSe on 15 March 2006 22:00:17 WIB
    RUU APP adalah produk orang iseng yang ga mutu, produk diskriminatif orang munafik!!!
  25. From marhendra lidiansa on 16 March 2006 10:19:57 WIB
    he he...ko beberapa jadi melenceng ke isu agama ya..
    emangnya agama lain (selain islam) membolehkan umatnya tampil seronok dan melegalkan pornografi ? (ga usah ditanggepin yah)

    saya kurang lebih setuju ama bang wimar..
    dan abang satunya (:p) yang lebih ke pengetatan peredaran barang2 (film, buku) pornografi agar susah diakses anak2 (dibawah umur).susah emang, tapi kalau semua pikir udah ke arah solusi itu pasti ada aja jawabnya

    di satu sisi bisa ke arah membatasi kebebasan, di sisi lain emang diperlukan .. duh pusing juga kalau liat anak2 kecil nonton tv yang isinya mulai banyak yang harusnya lebih pantas ditonton orang dewasa..

    gimana nih bang WW ?
  26. From gusur on 16 March 2006 15:35:46 WIB
    uu APP aku pesimis dapat dijalanin, kenapa bisa? coba ingat lagi bunyi teks ayat-ayat suci agama yang katanya "Firman Tuhan" banyak dicuekin apalagi sekadar RUU APP buatan manusia, serahin pribados untuk bertanggung jawab pada manusia dan tuhan. atau kalau kurang bikin lagi aja RUU sholat jama'ah ( kan masih banyak orang Islam Kaga pada Sholat apalagi jama'ah) RUU kebaktian RUU Ngaji RUU ....... terusin dewek lah OK banyak kan? tapi RUU kerjaan RUU gampangin warga cari uang dan RUU anti nganggur anti lapar anti egois anti paling soleh antti masuk surga sendiri yang lain sesatnya manaaaaa? ekspresiluh mannna Chhooy!
  27. From Erikar on 16 March 2006 15:51:24 WIB
    Dari tadi gak ada yang masuk ke substansi RUU-nya hehe, ini sebagian (kecil) yang kontroversial:

    -----------------------------------------------------------------
    •Larangan bagi setiap orang dewasa, mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang
    sensual (Pasal 25), antara lain: alat kelamin, PAHA, PINGGUL, pantat, PUSAR, &
    PAYUDARA PEREMPUAN baikTERLIHAT SEBAGIAN maupun seluruhnya, Pidana Penjara 2-10 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah)
    -----------------------------------------------------------------

    •Di sebuah negara yang majemuk seperti Indonesia, keragaman berbusana amat sulit bisa diklasifikasikan ke dalam satu aturan yang ketat dan baku. Mencontoh ke negara tetangga, Malaysia (yang mayoritas warganya muslim) kalau Anda berjalan-jalan di pusat perbelanjaan massal mereka, bisa ditemukan banyak sekali perempuan yang berjalan-jalan dengan definisi yang sesuai disebutkan di atas.

    Pasal ini mudah menciptakan pemerasan model baru. Di mana akan terdapat pihak-pihak bersenjatakan pasal tersebut melakukan razia di tempat-tempat umum. Kekacauan massal pasti terjadi di sini.

    Tidak heran kalau Bali (pihak eksekutif dan legislatif) segera mendeklarasikan akan memerdekakan wilayahnya apabila undang-undang ini disahkan.

    -----------------------------------------------------------------
    •Cara Berbusana dan/atau Tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut Adat Istiadat dan/atau Budaya Kesukuan, SEPANJANG BERKAITAN DENGAN PELAKSANAAN RITUS KEAGAMAAN ATAU KEPERCAYAAN, Kegiatan Seni, HANYA dapat dilaksanakan di 'TEMPAT KHUSUS PERTUNJUKAN SENI YANG MENDAPATKAN IZIN DARI PEMERINTAH'
    -----------------------------------------------------------------
    •Otoritas pemerintah jaman orde baru dulu, dipastikan akan segera hadir kembali, sekiranya UU ini disahkan. Sulit sekali menjabarkan hubungan kalimat terakhir dari pasal ini dengan UU Pornographi yang menjadi tempatnya dipasang, terlihat jelas upaya 'menitipkan' klausal ini untuk kepentingan pemerintah membungkam mereka-mereka yang berpandangan berseberangan.

    Untuk yang satu ini, wajar Bali dan Papua menyatakan ketidak setujuannya.

    -----------------------------------------------------------------
    •Kegiatan Olahraga, HANYA dapat dilaksanakan di TEMPAT KHUSUS OLAHRAGA - YANG MENDAPATKAN IZIN DARI PEMERINTAH (Pasal 37), atau Tujuan Pendidikan dalam Bidang Kesehatan, DALAM BATAS YANG DIPERLUKAN (Pasal 34): SESUAI Tingkat Pendidikan & Bidang Studi pihak yang menjadi sasaran Pendidikan dan/atau Pengembangan Ilmu Pengetahuan (Penjelasan Pasal 34), TERBATAS pada Lembaga Riset/Pendidikan yang bidang keilmuannya bertujuan untuk Pengembangan Pengetahuan.
    -----------------------------------------------------------------

    •Rasanya pasal ini tidak perlu dikomentari lebih jauh. Karena penjelasan yang dikeluarkan oleh pihak terkait amat bodoh untuk dibahas. Komentar salah rekan saya seusai membacanya, "Memang perempuan Indonesia segila itu? Pake pakaian renang kayak bikini di dalam mall!"

    •Itu baru seklumit, belum pasal-pasal tentang perijinan, yang ujung-ujungnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk menciptakan senjata mematikan a la SIUPP dulu untuk memberangus media yang berseberangan dengan kebijaksanaan mereka.
  28. From D E Ochner on 16 March 2006 16:41:53 WIB
    Saya sangat setuju dengan apa yang diungkapkan dalam artikel ini. Menurut hemat saya, UU APP sangat tidak perlu dan bukan hal yang menjadi prioritas di masa serba sulit ini.Saya pribadi menganut paham kebebasan yang bertanggung jawab.Apa yang dianggap porno buat satu pihak belum tentu buat pihak lain.Bila pornografi sebatas tubuh dan aurat wanita apakah adil? Buat orang yang sudah dianggap dewasa dan telah menikah melihat tubuh wanita bagian manapun tidak akan dianggap masalah karena toh tidak menyalahi aturan. Mendingan urusin kesulitan ekonomi negara.Gimana mau maju kalau masih MUNAFIK.
  29. From wimar on 16 March 2006 20:48:26 WIB
    Karena ditanya "gimana nih bang WW ?" maka jawabnya adalah: banyak hal yang bikin pusing seperti anda bilang, soal perilaku anak-anak dan sebagainya, tapi kepusingan itu tidak bisa diatasi dengan undang-undang. Wilayah UU/Negara itu sangat terbatas, yaitu mengatur kehidupan bernegara, misalnya penataan sistem ekonomi, hukum tenaga kerja, peraturan anti korupsi, kriminalitas. Selera pribadi, kebersihan pikiran, hanya dapat diatur oleh pribadi bersangkutan dengan bantuan orang tua dan orang yang dipercaya anak itu, tidak bisa oleh Undang-Undang Negara.

  30. From Andy on 19 March 2006 22:55:32 WIB
    Saya ngak setuju dengan RUU tsb, kok kayak ngak ada kerjaan lain. Coba DPR urusin hal hal yg lebih berguna spt kasus Freeport, Cepu. Lihat dan pikir dong, mosok aset nasional dikuasai pihak asing kagak ada yg perduli. Yg diributin cuman 3P (paha pantat en pinggul)- gimana mau maju. Kalo acara TV-nya terlalu mengumbar napsu ya medianya yg ditertipkan.
    Tolong perhatikan rakyat kecil, dan pikirkan gimana agar banyak pekerjaan dan harga-harga ngak selangit seperti sekarang.
  31. From ronny on 22 March 2006 17:36:26 WIB
    aneh.............
    paling juga roma irama yang buat peryataan tapi nga ngaca dirinya sendiri.
    bang ROMA...roma
  32. From abu syafa on 23 March 2006 12:24:38 WIB
    saya memang bukan seorang muslim yang baik. apalagi warga negara yang baik. tetapi saya sebagai seorang muslim telah memiliki panduan hidup yaitu qur'an dan sunnah. didalam ajaran islam tujuan hidup kita ini adalah untuk beribadah kepada allah swt sebagai sang pencipta. sedangkan ibadah yang benar menurut yang saya pahami adalah apa2 yang diperintah oleh alloh dengan menjalankan seperti apa yang dicontohkan rosul. kalo kita berbicara mengenai pendapat, tentu kita akan mengalami banyak sekali perbedaan. memang ada manusia ini yang rela diatur hidupnya oleh orang lain ? mengapa ? karena manusia sangat lemah. kemampuannya hanya terbatas apa yang ia pikirkan. sehingga bisa jadi menurut seseorang baik, tetapi menurut yang lainnya salah. mengapa kita lupa bahwa kita telah dicipta dan dibuatkan peraturan yang tidak mengandung unsur kkn dan sebagainya ? wahai saudaraku, berpikirlah lebih dewasa. jangan berbicara atas nama pribadi dan kepentingan kelompok saja. bicaralah atas kebenaran. saya ingin bertanya kepada anda yang menolak UU-APP, apakah anda rela jika istri anda, saudara perempuan anda, anak perempuan anda, atau mungkin ibu anda, nenek anda atau teman perempuan anda, ditelanjangi didepan umum kemudian dibayar sekian juta ???. bukankan mengatasnamakan seni, melanggar ham dan sebagainya hanya sebagai topeng untuk mengatakan bahwa 'pendapatan/pekerjaan saya akan hilang'!!! renungkanlah...
  33. From hati bersih on 24 March 2006 11:42:58 WIB
    MENOLAK RUU APP !!! Amin bersma GUS DUR
    1. kita sudah punya KUHP
    2. Negara kita multiculture, multiras bukan milik 1 agama apapun, ingat PANCASILA no1
    3. RUU APP pelecehan terhadap wanita (ingat kita dilahirkan dari rahim seorang IBU, yang notabene adalah WANITA)
    4. RUU APP pelanggaran hak asasi manusia
    5. Yang perlu dilakukan sekaran adalah PENDIDIKAN SEKS SEJAK DINI, jangan munafik INDONESIA sekarang sebenarnya lebih hancur dari pada negara barat yang dibilang BEBAS, karena banyak orang MUNAFIK yang menutup-nutupi.
    di AMERIKA untuk membeli majalah PLAYBOY misalnya harus bisa menunjukan KTP dengan usia diatas 21 tahun, untuk masuk ke cafe atau bar harus berumur 21, sedangkan disini bebas.
    JADI yang harus diingat berilah pengetahuan SEKS kepada anak2 sejak dini, karena sesuatu yang dilarang akan menibulkan rasa penasaran dan akan makin banyak orang yang mencari, jadi ga usahlah dilarang ntar juga bosen sendiri....PEACE

    TOLAK RUU APP yang merupak pembodohan kembali RAKYAT INDONESIA
  34. From eby on 24 March 2006 14:05:46 WIB
    betul sekali komentar kalian. APP cuma bikin masalah baru dalam sosial budaya indonesia. apa lagi dari issu yang berkembang, Bali dan Papua jadi daerah khusus 'bebas APP'. hal ini akan menimbulkan masalah baru yaitu RASISME. bisa aja daerah lain iri dan mengajukan disintegrasi dari indonesia.
  35. From wimar on 24 March 2006 23:31:37 WIB
    berilah penghargaan pada perempuan. mereka tidak bodoh. masak sih, orang perempuan yang memakai busana menarik dianggap ditelanjangi dimuka umum? bagian terbesar perempuan tampil menarik bukan untuk uang. justru yang menyedihkan adalah anggota dpr yang dibayar sekian juta untuk memenangkan posisi kelompok politik. dan kaum lelaki yang merasa mengetahui segalanya, dan terlalu bersemangat mengatur kehidupan orang lain. membawa agama kedalam issue politik, sangat tidak nyaman.
  36. From Vadhlee on 25 March 2006 14:40:04 WIB
    Pertama-tama, kita harus liat dulu, tujuan dari dibikinnya ni RUU APP. Secara garis besar RUU ini untuk meperbaiki moral bangsa yang udah rusak (katanya lo, bukan kata ku). Dari tujua, gw angkat jempol buat tujuannya. Mulia banget khan. Tapi, ada tapinya lo...., buat apa sih dibikin RUU beginian? RUU ini udah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi orang2. Lucu donk.
    Yang perlu diperhatiin tuh, RUU ini mengatur cara berpakaian. Tambah ga' lucu lagi. K'lo ni RUU pengen mengurangi akses ank2 muda pada media yang rada syuuurr, perketat distribusi nya donk. Setuju bgt apa kata Abang kita ini.
    Selanjutnya soal isu perempuan. Ini parah lagi. RUU yang katanya melindungi perempuan, malah menjadi rantai pengikat yang mengikat dan menurunkan martabat wanita. Diskriminasi bgt. Ini menimbulkan pertanyaan besar. Untuk apa RUU ini dibuat? Untuk melindungi perempuan, atau mengakomodir nafsu laki-laki yang ga' bs di tahan. K'lo RUU ini sampai disahkan, saya sebagai laki-laki merasa malu banget. Soalnya ko' kaya'nya laki-laki tuh ga' bisa diatur, ga' bisa nahan nafsu, sehingga yang dikekang harus wanita. Apa moral Lelaki sedemikian bejat? Para lelaki, tanyalah pada dirimu sendiri....
  37. From orang bodoh on 25 March 2006 22:23:19 WIB
    yang mendukung orang bodoh semua. ga ngerti sejarah. taunya cuman ngurus ginian tapi punya istri banyak. kaya bang oma. dirumah aja ada berapa. apalagi pas syuting....
  38. From susi on 25 March 2006 22:56:13 WIB
    pikir dul matang2 dlm pembuatan UU APP jgn sampai mendiskriminasikan/ merugikan di pihak lain. lebih parah lagi jangan sampai kebudayaan indonesia hilang atau terkikis setelah adanya UU APP ini
  39. From bingung on 26 March 2006 12:52:00 WIB
    memang sulit jika berbicara dengan masalah RUU APP. setuju atau tidak itu sih terserah tapi UU ini ada baiknya juga, saya melihat ditempat-tempat umum seperti mall dan sejenisnya banyak sekali cewek-cewek yang memakai pakaian atas ketat dan mengenakan celana jeans yang turun pinggul. so, (maaf) pinggul mereka terlihat oleh orang-orang yang kebetulan berjalan dibelakang mereka juga sebagian perut. mungkin kita nggak tahu itu disengaja oleh pemakai ataukah mengikuti tren yang sedang in, tapi jujur saya sendiri ikut malu melihatnya, sebangga itukah cewek-cewek memperlihatkan bagian tubuhnya, belum lagi ketika mereka duduk, (sekali lagi maaf)celana yang mereka kenakan ketarik ke bawah, so pasti dong bagian dari pantat mereka terlihat, itu juga terjadi ketika mereka jongkok. mungkin ada baiknya jika RUU APP ini ada, toh UU kan selalu ada pengecualian tidak selalu general. jadi untuk komunitas yang memiliki adat seperti di bali, papua atau daerah lain, pasti ada pengecualiannya kan?
  40. From plus on 26 March 2006 13:09:15 WIB
    saya tidak setuju jika yang dipojokkan dalam hal ini hanya perempuan. kenapa laki-laki tidak ikut menjadi dasar pembuatan RUU APP ini, kenapa selalu wanita, padahal kan laki-laki juga mengambil kesenangan dari pornografi. sebagai contoh, mungkin tidak akan ada pelacuran jika tidak ada lelaki hidung belang, karena mungkin yang menjadi salah satu alasan wanita menjadi pelacur adalah masalah ekonomi, sedangkan alasan pria untuk "njajan" (menikmati tubuh pelacur) adalah untuk mencari kesenangan. ambil saja sedikit kesimpulan bahwa masih mending alasan ekonomi kan daripada cari kesenangan? meskipun dud-dunya memakai cara yang salah dan jelas haram. So, tolong direvisi, teliti dan telaah lagi kalau buat UU. mungkin juga cari jalan lain untuk memperbaiki moral bangsa, jangan langsung bikin UU aja, kesannya kok nggak ada jalan keluar lain sehingga harus langsung mengeluarkan UU. kayak pemaksaan gitu.........
  41. From Halimah Gazi on 27 March 2006 00:16:03 WIB
    Orang orang kita tuh banyak yang Ironik pornografi mau di undang undangkan tapi batasan pornografi itu sendiri itu tidak jelas,tapi begitu urusan korupsi yang jelas jelas dilakukan oleh oknum pemerintahan masih jauh dari harapan adanya perubahan apakah ini yang kita bisa banggakan sebagai negara muslim terbesar di dunia tapi mental korupsinya tinggi sekali? hallo... jangan makan hak orang lain, jangan makan daging mu sendiri!!
  42. From mastori on 27 March 2006 12:28:55 WIB
    saya mendukung ruu app karena seperti kita ketahui akhir-akhir ini bangsa kita sudah tidak bermoral bangsa kita telah dijajah hatinya oleh peradaban yang tidak sesuai dengan nilai-nilai sebagai bangsa berkebudayaan timur adapun tokoh yang saya kagumi gusdur beliau menolak karena besik pendidikan beliau yang terlalu tinggi sehingga mendukung nya padahal saya tahu bahwa begron beliau berasal datri ulama tersohor keturunan parawali . tapi beliau tidak sadar bagaimana kkejayaan islam bisa terwujud lagi yaitu dengan memasukan nilai-nilai islam didalam kehidupan bangsa. say berharau beliau KH. ABDURAHMAN WAHID.
  43. From JAKATINGKIR on 27 March 2006 12:52:15 WIB
    udahlah...yang kayak ginian mah ga usah dibahas,ga da gunanya..percuma aja RUU APP dijadiin,emang pada mao beliin baju buat yang di irian jaya tuh yang pada pake koteka n topless...??,yang INTI & PENTING itu adalah MUTU PENDIDIKAN aja yang harus lebih diMATENGIN,susahlah kalo RUU APP jadi,kcuali kita negara Arab,mungkin..bisa jadi,kan kita harus saling menghargai yang mana hak2 nya umat beragama di Indonesia ini..yoi ga..?!,RUU itu cuma nambah masalah aja nantinya..coba dipikirkan lagi deh Bu,Pak perancang RUU APP ini,emang sih batas antara porno n seni itu beda2 tipis,kalo menurut ane yang dibilang porno itu seperti film2 or adegan mesum di VCD porno yang bikinnya ga jelas contoh "bandung lautan asmara,dll",itu baru pornografi/aksi..tapi kalo seperti fotonya Anjas itu jauh dari nilai porno,apalagi tempatnya udah sah..digaleri,memang tempatnya untuk berapresiasi dan expresi kok,sebenernya kan kalo ga di bawa2 keluar ga jadi masalah,jadi tergantung penempatannya aja sih..
  44. From Arie Setyaningrum on 27 March 2006 15:15:23 WIB
    Bung Wimar dan saudara-saudara sekalian,

    Bangsa kita lelah memikul beban hidup, masihkah harus memikul beban derita karena RUU APP ini sarat dengan potensi yg muatan konflik horisontal? RUU ini meniadakan fakta eksistensi multikultur bangsa kita. RUU ini juga entry point ancaman tersembunyi ideologi otoritarianisme dengan mengatasnamakan "Tuhan" sebagai obyek penderita, seolah-olah Tuhan tidak memberi kita bekal nurani dan horison berpikir tentang apa itu moralitas! Lalu, atas nama Sang Maha Absolut itu, maka manusia tidak punyak lagi kemerdekaan berpikir dan bertanggung jawab! Lalu buat apa demokrasi kita susah payah perjuangkan dengan darah dan air mata, tapi hanya menjadi kanal-kanal masuknya kembali otoritarianisme yang jauh lebih kejam! Moralitas itu ada di dalam tanggung-jawab kita sebagai manusia dewasa, yang tidak mengeksploitasi manusia lainnya, yang memerdekakan pikiran dan memperluas cakrawala pikir dan nurani kita tentang kemanusiaan. Bahwasanya perbedaan adalah kodrat, itu yang harus kita terima dan jalani dengan sabar. Arogansi bahwa demokrasi hanya suara mayoritas sbgmana yg sering diklaim oleh mereka yg getol PRO-RUU ini adalah suatu ketololan! Mungkin mereka harus belajar lagi tentang bagaimana Nabi Muhammad menghargai perbedaan, bahkan pada keluarga terdekat-nya sekalipun tak bisa memaksakan kebenaran yang ia anjurkan. Maka dengan iklas pula saya bersedia membeberkan kesaksian saya ini:

    Saya punya pengalaman spiritual mengenakan jilbab 7 tahun lamanya ketika S1 di UGM tahun 90-an. Saat itu tujuan saya berjilbab adalah 'hendak mencari Tuhan', karena saya gelisah pada penindasan zaman Orde Baru! Lewat jilbab itu pula saya mengenal gerakan mahasiswa khususnya yang dipelopori oleh gerakan mahasiswa Islam. Terlibat di dalam gerakan saat itu (zaman Suharto) justru membuka mata saya tentang 'realitas perbedaan', bahwa simbol itu ternyata bukan milik saya, tetapi milik banyak orang. Ketika suatu hari saya datang ke sebuah pengajian, seorang ustad berkata: "Bayangkanlah uhkti2 sekalian, begitu banyak dosa dan maksiat kita sebarkan dari cara kita berpenampilan. Coba, andaikan aurat kita tersingkap, sholat kita tidak akan diterima, bagaimana dengan muslimah2 itu yang tak berhijab? Percuma mereka sholat dan puasa! katanya..
    Saya datang ke pengajian itu bersama sahabat saya yang nggak berjilbab! Dia, kawanku itu menangis mendengar kata2 si ustad.. Aku tanya, mengapa nangis, Wie? Tia..aku sedih sekali, kok Gusti Allah kejam sekali kalau begitu!

    Maka terperangah-lah saya..merenung lama sambil berpikir ulang tentang spiritualitas saya sendiri. Saya protes pada si ustad..'darimana Ustad tahu kalau tidak berhijab (jilbab) maka ibadah kami tak diterima?" Jawab si Ustad singkat: "Hai ukhti..Sammina Wa attona.., Kami dengar dan Kami Taati!" Begitu saja perintah Allah, tidak usah tanya2 kenapa!

    Saya melepaskan jilbab saya kira-kira 7 tahun yang lalu. Banyak orang bertanya: "tia, mengapa kamu melepaskan hidayah Allah?"
    Aku menjawab singkat: "Aku sedang mencari Tuhan..dan mungkin tak akan kutemukan yang Maha Absolut itu dalam hidupku yang singkat ini"
    Tapi Tuhan ada dalam hatiku, dalam kebebasan-ku berpikir,dalam rasa tanggung jawab-ku sebagai manusia dewasa yang tidak korup dan tidak memanipulasi hanya untuk kepentingan-ku sendiri. Aku sudah berdamai sekarang..Gusti Allah bersamaku selalu, inilah maqam yang aku pilih..karena itu janji hidupku.

    Gayatri Spivak 2 minggu lalu berkata pada-ku di Yogya: "Who needs identity then?" Identity is needed to mobilise different!

    Memobilisasi perbedaan, demikian kata kuncinya: adalah ruang-ruang yang sangat penuh dengan sengketa dan manipulasi. Karena itu, ketika saya berada Indonesia, di tengah2 saudara2 saya yang muslim, saya tidak mau semena2 mengatakan kepentingan politik saya dengan mengatasnamakan 'umat islam'! Umat islam yang mana? Umat islam sungguh majemuk..

    Tetapi, saya membutuhkan identitas saya sebagai seorang muslim ketika kemerdekaan saya untuk merayakan spiritual saya yang sangat pribadi lewat ibadah terusik oleh bentuk-bentuk penindasan lain, maka dengan lantang bilang: I'm a moslem and I have my rights to personally celebrate my own belief!

    Kesimpulannya: Saya Menolak RUU-APP dan Revisinya! Yang kita perlukan adalah landasan moralitas lewat praktek budaya dan pendidikan. Juga memperbaharui KUHP yang secara tegas menunjuk pada pembatasan pornografi (eksploitasi kecabulan)dengan meregulasi ulang distribusi media.

    Globalisasi adalah keniscayaan, jadi kita tidak perlu parno (paranoid) menghadapinya.

    Salam budaya,

    Arie Setyaningrum (tia)
    Pengajar di Jurusan Sosiologi UGM
    Bulaksumur Yogyakarta
    email: arietia@ugm.ac.id
  45. From Arfin Ali on 29 March 2006 13:27:23 WIB
    Yang urgen itu pembinaan akhlaq bukan membuat peraturan.Apalagi peraturan manusia dibuat seperti untuk dilanggar. Ruang gerak pornografi itu yang di persempit bukan UU yang menjegal kemauan orang.RUU APP bukan ruh dari pemberantasan kasusnya tapi ruh ada dalam gaya hidup manusia indonesia
  46. From ludfi on 29 March 2006 15:48:37 WIB
    Tidak setuju,lah...Kiai yg gagal membina umat kok sembunyi di balik UU, benerin akhlak diri sendiri dulu baru nglarang orang lain, bukan sebaliknya...
    Anakku tak kuperbolehkan nonton yg porno2 ,tapi bukankah anakku juga bisa ngelanggar laranganku tanpa setahuku, karena dia juga punya pikiran sendiri sama sepertiku...
    Pengen memenjarakan pikiran ??? gimana bentuk penjaranya ? siapa sipirnya ?
    Yang paling bisa kan Tuhan, dengan senjata takwa dan iman, bukan Rhoma dengan UUnya ?? wheleh2
  47. From Jack_comboy on 01 April 2006 00:10:23 WIB
    gwa "ga tau" , sebab musabab yang menyebabkan belasan pemuda dan pemudi harapan bangsa di kampung (RW) gwa memutuskan untuk mengakhiri masa lajang mereka dan "memilih untuk mempunyai anak tanpa tau mesti di beri makan apa anak mereka kelak".

    Apakah ini bukan moral yang mesti di biarkan begitu saja, COBALAH LIHAT realita di kampung-kampung, muda-mudi begitu terobsesi untuk "bergaul" seperti orang kota dan artis pujaan mereka, namun apadaya pendidikan dan intelektualitas mereka tak sepadan dengan obsesi mereka, jadilah mereka muda-mudi yang "memilih untuk mempunyai anak tanpa tau mesti di beri makan apa anak mereka kelak".

    keterangan:
    >>belasan pemuda dan pemudi :Siswa SMA dan SMP
    >>memilih untuk mempunyai anak tanpa tau mesti di beri makan apa anak mereka kelak : MBA
  48. From Revan G on 01 April 2006 00:21:16 WIB
    Maaf sebelumnya, jikalau kalian masih percaya akan kebenaran ajaran agamamu (islam), kajilah lebih dalam kitab-Nya. Sungguh hal ini lebih baik daripada berkomentar mengenai APP ini tanpa dilandaskan pada ajaran dalam kitabmu itu
  49. From nia on 02 April 2006 11:18:43 WIB
    innalillahi wa innailaihi raji'un
    saudara-saudaraku seiman, tiada kata lain yang pantas terucap, selain betapa manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. Entah apa yang terpikir ketika ada sebuah penolakan untuk sebuah kebenaran. Siapa yang pantas merenung, dan siapa yang pantas berpikir ulang, saya yakin anda semua adalah manusia dewasa yang tak perlu lagi didikte. Manusia adlah makhluk yang paling sombong, karena ia merasa lebih tahu daripada Tuhannya yang menciptakan. Untuk saudaraku sesama muslim, bukankah Allah telah memerintahkan manusia untuk memakai pakaian demi martabat dirinya sendiri?Bukankah Anda juga membaca Al Quran? Lalu mengapa Anda menolak kebenaran sejati yang kini diperjuangkan? Mengapa Anda yang mengaku beradab justru ingin kembali ke dunia masa lampau yang belum mengenal peradaban? Untuk saudaraku sesama wanita, RUU APP diperjuangkan bukan untuk menekangmu. sama sekali tidak. Justru ia akan melindungimua dari pandangan mata liar kaum-kaum yang hendak menjadikanmu barang dagangan. Maukah kau? Tentu tidak. Kecuali jika engkau memang barang dagangan. wallahua'lam bish shawab
  50. From Dahlan Usman on 03 April 2006 20:40:16 WIB
    dalam dunia sekarang ini memang apa saja bisa terjadi. semua ini karena terlalu buruknya yang terjadi di muka bumi imi, oleh nya Allah mencoba dengan mendatangkan cobaan ini. sehingganya, tinggal bagimana daya tanggap kita terhadap kondisi yang serba mix. kita hanya bisa berdoa dengan cra ikhtiar dan membebaskan keluarga kita dri keadaam-keadn yang buruk yang sedng melanda saat ini.
    Amiin
  51. From abet on 04 April 2006 16:20:55 WIB
    menurut hemat saya..kenapa kita harus terlalu memperdebatkan RUU APP ini, bagaimana kalo kita lihat lebih dalam dahulu..disatu pihak(tertentu) RUU APP ini sangat didukung karena memang RUU ini sangat mendukung falsafah mereka..(bukan berarti dilain pihak suka akan hal yang bebas) dipihak lain hal ini termasuk suatu hal yang memojokkan karena akan memaksa mereka untuk menuruti kehendak orang lain. kalo kita kembali mencoba mengerti akan arti kemerdekaan yang sebenarnya..maka kita tidak mendapati hal itu di negara kita yang tercinta ini..saya merasa ada kepentingan sebagain kelompok dibalik RUU ini..terus terang aja..negara kita negara INDONESIA bukan negara TIMUR TENGAH (yang serba tertutup)...negara kita punya kebudayaan sendiri dan hormatilah itu..belum tentu kebudayaan orang lain akan membuat negara kita ini lebih baik..TIDAK ADA SATU HAL PUN YANG DAPAT MEMPERBAIKI MORAL MANUSIA SELAIN MANUSIA ITU SENDIRI. Jadi teman2 yang ingin dijajah(pendukung RUU APP)..jangan anda mengatakan bahwa negara ini sudah hancur..pendidikan mengenai pornografi dan pornoaksi adalah urusan pribadi bukan NEGARA..

    sekian terimakasih....
    (seorang pria yang beperngertian sederhana)
  52. From reini mailisa on 04 April 2006 20:52:18 WIB
    Dalam beberapa hal manusia memiliki satu hubungan vertikal yang sangat individu dengan yang di Atas tanpa harus di perdebatkan dan diatur secara horizontal oleh manusia di sekitarnya.

  53. From Jevaldin on 05 April 2006 09:04:34 WIB
    Saya tidak setuju dgn diberlakukannya UU APP, seolah-olah umat beragama sudah tidak mampu sama sekali menjaga norma-norma moralnya sendiri dengan baik dan benar secara individu tanpa intervensi para penguasa negara, disamping itu dengan diberlakukannya UU APP itu secara tidak langsung membelakangi "power" agama dan kitab sucinya seolah-olah norma agama juga telah gagal menyadarkan umatnya dari segi moralitas. Jika ternyata memang benar bahwa umat beragama dan agamanya telah gagal menjaga moralitas masyarakat maka biarkanlah Tuhan sendiri yang nantinya akan menjadi hakim di akhirat bukan pemerintah politik. Norma moral adalah urusan akhlak pribadi dan yang bertanggung jawab adalah pribadi masing-masing terhadap Tuhan-nya dengan bantuan dari institusi agama dan kitab suci dari agamanya masing-masing sebagai pedoman dasar, bukan urusan pemerintahan politik atau pemimpin negara. Lebih baik pemerintah mikirin solusi kemacetan lalulintas, bencana banjir, invlasi dan devaluasi, lapangan pekerjaan untuk masayarakat dll, ketimbang ngurusin moralitas yang notabene adalah urusan pribadi dengan Tuhan, sebab bisa jadi kelompok-kelompok tertentu menggunakan cara-cara seperti ini untuk mengusung ideologi mereka dengan maksud pada saatnya nanti dapat menguasai negara ini melalui payung agama atau kedok moralitas lewat UU APP, ...only heaven knows.

    >>Wassalam<<
  54. From wimar on 05 April 2006 15:30:32 WIB
    RUU ini sudah terbukti meresahkan orang, dengan membuat orang membawa-bawa soal agama. UU ini berbahaya karena di Indonesia, agama harus dipisahkan dari negara. Begitu agama dibawa masuk ke urusan negara, kita masuk pada perangkap negara agama. Kalau ada orang melihat pelanggaran agama, selesaikanlah secara agama.
  55. From jebul on 07 April 2006 20:37:06 WIB
    selaku mantan pengurus PMII surabaya selatan mungkin kata-kata yang pas, ingin dikatakan dengan lantang adalah TOLAK. alasanya tidak perlu karena sungguh jelas tidak perlu alasan.
  56. From pengamat tea on 10 April 2006 06:41:02 WIB
    Kebetulan -tidak ingat lagi dimana, barangkali di Detikcom- beberapa hari yang lalu saya baca komentar KH Mustafa Bisri mengenai keluarnya Playboy a la Indonesia.
    Kira kira beginilah komentarnya: Harusnya ini ditangani secara sederhana, umpamanya dilarang dijual kepada belum yang bisa membaca secara kritis, umpmanya yang belum dewasa, seperti nonton film jaman dahulu ("untuk 17 tahun keatas").
    Peranan pendidikan harusnya juga diserahkan juga kepada orang tua, dan jangan negara mengatur/dan memberikan definisi sampai ke definisi apa itu porno (grafi dan aksi).

    Approach MB itu lebih terarah, tetapi memang tidak mudah dalam pelaksanaan, tetapi tidak (atau tidak terlalu) menganggap rakyat kita bodoh. Bayangkan, ini keluar dari seorang Kiai.

    Pengngajuan pengusulan rencana Undang Undang anti Serbaporno yang ada sekarang hanya nambah peluang untuk adanya pemerasan oleh aparat (seperti Undang Undang Lalu Lintas), padahal tidak diperlukan pemberian peluang tambahan.

  57. From joel on 10 April 2006 09:06:31 WIB
    2 penentu apakah RUU APP yg diskriminatif ini jadi disahkan, pertama pemerintah dan kedua parlemen. jika dilihat kecenderungan keduanya mempergunakan kekuasaan dan kontrol sebagai bargain politik dan uang, tampaknya kecil kemungkinan mereka menolak dgn pertimbangan sebagai salah satu point dlm kampanya pemilu 2009. sebaiknya digalang semacam petisi dari semua orang yg menolak. Dalam masalah ini kaum demokrat dan anti diskriminasi harus bersatu. Perlu disadari yg terancam adalah Indonesia sebagai bangsa.Kekayaan budaya dan adat istiadat jawa, sunda,batak,papua,minang, aceh dsb yang amat sangat beragam ini terancam diganti budaya padang pasir.
  58. From hendry on 11 April 2006 00:41:14 WIB
    saya 10001% setuju dengan pengamat tea dan joel.
    saya pikir yang mengajukan RUU APP ini cuma beberapa orang yang memang dikenal dari kelompok islam garis keras, seperti apa yang disinyalir oleh gusdur dan forum anak muda NU yang moderat dan jelas-jelas menolak RUU APP ini adalah suatu tindakan yang bijaksana.
    saya yakin 90% masyarakat dari kaum educated kita menolak dengan tegas RUU ini.
    Dalam situasi seperti ini sudah seharusnya SBY secara tegas menolak juga. kenapa sampai sekarang masih diam !
  59. From Vadhlee on 12 April 2006 17:51:09 WIB
    Awas, senjata baru pemerasan hampir disetujui.

    Mungkin kalimat di atas agak berlebihan ya. Mo gimana lagi, UU satu ini emang bikin repot setengah mati. Saya dapat mengerti mengenai pendapat teman-teman yang mendukung. Pendapat mereka juga masuk akal. Akan tetapi, saya menolak cara penyelesaian a'la mereka. Kita memang ingin negara kita bermoral, akan tetapi bukan dengan cara pengekangan seperti itu. Apalagi yang dianggap 'the bad boy' / penjahatnya adalah perempuan. Ini malah mengajarkan kita bahwa lelaki adalah memiliki derajat di atas wanita. Ini tidak benar. Ini mengajarkan pada kita untuk bersikap diskriminatif. Hal ini jelas-jelas tidak memajukan moral bangsa yang pada awalnya merupakan tujuan dari dibentuknya RUU ini.
    Bagaimana cara untuk memajukan bangsa tanpa unsur diskriminatif semacam ini? Saya punya beberapa usul (yang rada2 usil) mengenai hal ini.
    Coba perbaiki sistem pendidikan kita. Karena anak-anak mengenal dunia lewat pendidikan. Bukan hanya pendidikan di sekolah, tapi juga pendidikan di rumah. Biasakan lah bertukar pikiran dengan anak mengenai segala hal (termasuk seks). Sudah ga' jaman lagi kita tabu membicarakan seks dengan anak kita. Berikan penjelasan yang gamblang mengenai seks. Bukan penjelasan-penjelasan bersifat doktrin di mana anak-anak dilarang mengetahui alasan sesuatu.
    Lalu yang kedua, coba untuk mendisiplinkan bapak-bapak pengadil di lapangan. Banyak nya media pornografi yang beredar bukan karena UU yang ada lemah. Tapi karena para pengadil di lapangan yang tidak dapat bertindak tegas. Di depan TV memang di razia. Setelah itu... Who Knows.... Menurut saya UU yang ada selama ini sudah cukup untuk membatasi media-media murahan yang selama ini ada.
    Terakhir, hindarkan sifat jelek kita selama ini yang hanya berusaha memandang sesuatu dari satu pihak (adat/agama/kelompok) saja. Ingat, kita ini bangsa yang ber Bhineka Tunggal Ika. Persatuan dalam perbedaan. Bukan Menyatukan yang berbeda-beda. Jangan mengklaim diri kita paling benar hanya karena mengusung suatu agama tertentu. Kita tidak bisa menyamaratakan Indonesia. Indonesia ada karena banyaknya keberbedaan. Heterogenitas inilah yang mendasari negara kita.
    Jadi sekali lagi (dan ga' bosan-bosannya), saya sangat menyesalkan apabila RUU APP ini akan menjadi UU karena akan memperjelas kelemahan dari para petinggi-petinggi kita. Bagaimana pendapat teman-teman yang mendukung?
    Untuk Bang WW, gimana nih kalo RUU ini jadi UU? Menurut Bang WW, apa yang terjadi apabila RUU ini diketokpalukan (istilah ini keren di salah satu milis tempat saya nongkrong)?

    Wassalam
  60. From yudi on 14 April 2006 16:20:47 WIB
    ternyata budaya indonesia mau diganti sama budaya PADANG PASIR.

    Sedih hatiku .....
  61. From emmapereindon on 15 April 2006 09:16:52 WIB
    Bapak2 terhormat di DPR, apakah kalian sudah tidak ada kerjaan sampai harus mengurusi cara kami berpakaian dan berekspresi?

    1. Ingat negara kita bukan negara Islam (walaupun saya muslimah) jangan memaksakan peraturan yang belum tentu dapat diterima oleh sebagian rakyat Indonesia. Hati2 disintegrasi bangsa dan SARA.
    2. Kalau cemas akan dampak pornografi di Indonesia, aturlah hukum pendistribusiannya, kontrol dari Polisi(yang anti sogok) dan tajamkan gunting sensor untuk seluruh media.
    3. Ortu2 yang sayang anaknya, jangan bengong aja..matikan tv dan ajari anak2 kalian dengan moral&agama masing2. Apa perlu tangan pemerintah(yg belum tentu bersih)utk ikut campur??? Pikir, resapi dan jayalah Bhinneka Tunggal Ika!
  62. From alex aceh on 15 April 2006 21:15:13 WIB
    RUU APP begitu diurus oleh DPR dan segala manusia yang merasa mereka berhak menghakimi moral orang lain. Tapi, Mr. Wimar, please ask 'em, bagaimana dengan "moral-moral penipu" di senayan dan jakarta sana yang plin-plan dengan RUU PA yang diminta rakyat Aceh??

    Yang nggak diminta seolah-olah diminta. Yang diminta... dibenam-benamkan... Een gek land!

    *sori.. just a lil bit mad :) *
  63. From wimar on 17 April 2006 09:28:41 WIB
    Nee, Alex, ons land is niet gek ... but there are some narrowminded people being nasty to the rest of us .. at least we have our democracy to resist them, if we do not turn negative on everything.
  64. From hendry on 18 April 2006 00:50:21 WIB
    saya tidak menghujat hanya dari analisa saya kok... munusia-manusia yang membuat RUU APP sangat kurang cerdas ! alias bodoh banget !
  65. From Tarmizi on 19 April 2006 10:30:55 WIB
    Sebenarnya UU APP tidak perlu diadakan, yang mesti dilakukan sekarang adalah kita harus mengintrospeksi diri kita sendiri dan mempunyai Filter yang benar, apakah tingkah laku kita sudah mencerminkan pribadi - pribadi yang tidak bertentangan dengan situasi dan kondisi di Negara Indonesia ini. Sebab setiap negara itu berbeda kondisinya, belum tentu kebudayaan suatu negara itu dapat diterapkan di negara yang lain terutama di Indonesia.
  66. From MARTIN on 20 April 2006 12:26:20 WIB
    RUU APP MENURUT GW BELOM PERLU BANGET YAH! LAGIAN MASIH BANYAK YANG PERLU DI BAHAS SELAIN MASALAH KAYA BEGINI. MASALAH MORAL AMA AHLAK BIAR KITA YANG URUS YANG PENTING MORAL DAN AHLAK PARA PEMIMPIN YANG MESTI DI URUS, BIAR GA BOBROK.
  67. From ary on 20 April 2006 17:37:10 WIB
    tadi aku melintas di depan stasiun jatinegara
    ada spanduk yang terpapang dg tulisan
    "Indonesia memang bukan Amerika tapi bukan juga Arabsaudi"
    ya emang bener!

  68. From Tiwi on 20 April 2006 17:45:47 WIB
    Duh..nyesel dulu gw milih partai ini......Besok milih GOLKAR atawa PKB aja dah,,kagak bikin posing..hehehehehe
  69. From ANDI on 21 April 2006 12:35:12 WIB
    kITA SEMUA BISA BERPENDAPT, TAPI YANG NOLAK JANGAN MAKSAIN JUGA DONK PENDAPATNYA
    SEMUA MUNGKIN KITA MERASA PALING BENAR, MIS;NEGARA TIDAK BOLEH NGATUR MORAL, TAPI BISA JUGA KAN GW BERPENDAPAT NEGARA BISAAJA NGATUR MORAL MASSYARAKATNYA ADAR LEBIH BAIK.
    JANGAN PAKE'BURUK SANGKA, EMANG UDAH ADA BUKTI BAHWA SEMUA ITU CUMA AKAL-AKALAN POLITIK AJA. KAN BISA JUGA gua BILANG KOMENTAR ANDA-ANDA YANG MENOLAK ADALAH AGAR AKSI ANDA BISA TETAP BEBAS, AGAR MATAPENCAHARIAN ANDA TETAP AMAN.
    NGAK USAH BAWA ISU AGAMA DEh,APALAGI BAWA-BAWA NEGARA ORANG,KAN ISI RUUNYA NGAK NYURUH JADI ORANG AMRIK ATAU ARAB, EMANG UDAH PERNh ke arab,jadi tahu orang arab seperti apa. Buat ukhty yang lepas jilbab, mungkinperlu lebih dalam lagi memahami agamanya, masa dengar komentarsatu ustad,langsung mempersepsikan begitulah ajaran agama yang eloanut,apa jelas itu hadst atau ayat,mausiakan bisa salah,tapi yang di ALLAH semua benar, tinggal bagaimana cara menemukan kebenaran yang 'haqiqi' tadi,tidak sekedar dengan ceramah trusmenganggap itu udah mewakil pemahamanagama secara menyeluruh. Coba dong tanya lagi ke yang lain.
    apapun pendapat kita, mari memperjuangkan apa yang kita yakini sebagai Kebaikan menurut kita,
    Ngak pake paksaan. termasukpaksaan dalam cara menyampaikan apa yang menurut kita baik.keburukan yang paling buruk adalah memaksaakan apa yangada dalam pikiran kita kepada oranglain. silahkan berekspraesi baik dg RUU APP atau tanpa RUU APP
  70. From joel on 23 April 2006 21:32:25 WIB
    RUU APP dan turunannya seperti Perda Tanggerang mengenai Anti Pelacuran yg sudah tertular ke Bekasi dan sebentar lagi Depok, sesungguhnya adalah bentuk pemaksaan kehendak dari minoritas yg terdiri dari kelompok orang yg berpikiran fatalistik dan sempit terhadap cara pembenahan moral di negri ini. Jika mau menegakkan moral mulailah dari diri sendiri. bagaimana masyarakat mau respek dan patuh terhadap moral values yg ingin ditawarkan oleh politisi di DPR dan juga pihak pemerintah yg didukung partai2 politik dan aparat, yg nyaris semua memiliki mental korup, tidak peka, egois dan picik. semua hedonisme, ketidakpedulian dan materialisme ini adalah berawal dari sikap dan perilaku pemerintah, ulama , parlemen dan aparat yg tidak menjunjung kesatuan bengsa ini alias mementingkan kelompok masing2 saja. Masyarakat berhak utk berkomentar sebagai alat kontrol sosial. jadi tidak usah diputar balikkan bahwa yg anti RUU APP adalah pihak yg memaksakan kehendak, tapi elit politik, elit partai, elit pemerintah yg didukung aparat yg represiflah yg memaksakan kehendak dengan mengusulkan rancangan undang2 yg amat sangat diskriminatif dan berpotensi memecah belah bangsa ini. Indonesia adalah kumpulan nilai2 luhur dari jawa, sunda, batak, ambon, bali dsb jadi jangan dirubah jadi RUU picik yg mengambilalih hak asasi manusia atas nama penegakan moral.
  71. From Lala Nabila on 24 April 2006 09:10:07 WIB
    Aneh, soal-soal pribadi akan diatur negara?
    Hakekat PORNO itu terletak pada PIKIRAN dan NIATNYA. Coba kalo kita di pantai kuta,apa syahwat pria serta merta tergerak, saya pikir tidak, kecuali dasar pikirannya yang kotor. Coba para dokter yang meriksa pasien wanita, apa serta merta tergerak syahwatnya? Saya pikir tidak, kecuali dokter yang niatnya kotor. Soal niat pornoaksi, tidak peduli ditutup rapat. banyak kasus yang menimpa mereka yang menutup rapat auratnya justru dilakukan oleh pembimbingnya sendiri. Jadi yang penting pikirannya dan niatnya.
    Jaman dulu meskipun masyarakat belum terlalu agamis kayak sekarang, tidak banyak kasus perkosaan dsbnya, padahal banyak wanita yang memakai pakaian seadanya. ya khan!

    Kalo undang-undang ini disahkan, wanita benar-benar sah dijajah pria. Bagaimana tidak, wanita selalu dalam posisi yang harus berhati-hati dan diawasi.

    GARA-GARA ORANG INGIN MASUK SURGA, WANITA JADI KURBANNYA?.
    APAKAH BENAR, DEMI SURGA KORBANKAN (KEBEBASAN) ORANG LAIN?

    nABI IBRAHIM AJA NGGAK BOLEH KURBANKAN ANAKNYA, MAKA UNTUK BUKTI IMANNYA DIGANTI DENGAN KAMBING, YA KHAN?

    MAKANYA, JANGAN PERSULIT DAN RAMPAS HAK-HAK ORANG LAIN HANYA DEMI SURGA PRIBADI!

    Benarnya sih, orang masuk surga kalo tahan terhadap ujian dan cobaan. Kalo nggak tahan godaan, ya jangan mimpi surga?

    KALO GODAAN DAN UJIAN YANG DIHILANGKAN, BERANGKAT AJA SEKARANG KE "SURGA"?

    MEMANG SURGA CUKUP MENJANJIKAN BAGI PARA PRIA, ABIS DISANA BANYAK PERI-PERI CANTIK YANG SIAP MELAYANI.

    BAGAIMANA BAGI WANITA? YA, KE SURGA YA NGIKUT NERAKA JUGA NGIKUT KATANYA?

    mari kita renungkan!
  72. From dimas ipoet on 24 April 2006 13:45:48 WIB
    saya sangat tidak setuju dengan RUU APP, rancangan itu telah melecehkan kaum wanita sekaligus laki-laki. apa sebegitu mudahnya kita (laki2) terangssang dengan dada yang sedikit terbuka????
    moral adalah sesuatu yang berdimensi vertikal jangan sekali-kali dijadikan semata-mata urusan horizontal !!!!!!!
  73. From corry on 24 April 2006 18:30:37 WIB
    saya sangat tidak setuju dgn rancangan UU ini,kalau bisa kita tidak hanya mengurus tentang sesuatu yang semestinya tidak terlalu perlu kita pusingkan tapi masih banyak masalah yang harus kita pikirkan bersama,misanya;masalah pendidikan,kemiskinan,kelapaaran,korupsi,dan masih banyak hal lain yang perlu mendapat perhatian ekstra dari kita semua.jadi kepada orang2yang yang selalu meributkan masalah yang semestinya tidak peerlu kita ributkan,tolong masih banyak masalah yang sedang kita hadapi saat ini yang membutuhkan perhatian kita.
  74. From prihatin on 27 April 2006 05:50:56 WIB
    Lagi cari topik lain di google, kok nyampai ke situs ini... Ikutan nimbrung. Menurut saya, sebelum kita menilai RUU APP layak atau tidak, ini layak dipikirkan: (1) Kalau mau JUJUR, kita memang sedang mengalami degradasi moral. Ini bukan (cuma) masalah agama, tapi kepribadian. Sejak kapan sih kepribadian kita kayak begini, ikut-ikutan. Ikut-ikutan bebas, ikut-ikutan ciuman bibir di muka umum, dll. Orang yang kuat tidak dinilai dari fisiknya, tapi lebih dari kepribadiannya. Punya kepribadian gitu lho, gak mudah terbawa arus alias ikut-ikutan. (2) Manusia tuh naturnya memang seperti ini ya. Kalau ada koreksi lalu mengajukan titik lawan ekstrim. Contoh: Seorang ibu kepada anaknya: "Nak, ayo belajar, jangan main terus!" Si anak: "Terus gimana dong, Bu. Masak musti belajar 24 jam" padahal bukan begitu maksud ibunya (ini sekedar contoh). Bandingkan dengan: UU APP: "Wanita harus berpakaian tertutup". Wanita: "Terus gimana dong. Apa kita musti pake daster?" Padahal bukan seperti itu maksudnya. (3) Yang bikin saya tambah bingung: Sebagian teriak-teriak Freeport ditutup saja, ada lagi yang bingung kita didikte IMF, juga anti imperialisme moderen. Kayaknya "anti Amerika" gitu, tapi sehari-harinya yang ditonton pusernya Britney Spears, nyanyi lagu-lagu yang ada liriknya "make love to you" yang notabene diimpor dari "sono". Kalau anti ya anti sekalian lha. Kalau gak ya gak. Konsisten.

    Gitu aja kali ya. Makasih udah baca... Take care.
  75. From Mas Damar on 27 April 2006 10:12:21 WIB
    Prihatin benar bahwa ada semacam kerancuan dalam memahami RUU APP, tapi disini ada agenda yang lebih besar lagi bahwa RUU APP akan mengekang kebebasan, dan mendiskriminasi perempuan jauh lebih besar lagi dari ini ada kepentingan tersembunyi untuk memaksakan nilai-nilai yang tidak dikenal dalam budaya kita dari RUU APP, jadi melihat masalah janganlah secara lugu dan kemudian berpikir naif. Itu saja saudara prihatin.

  76. From hukum on 30 April 2006 05:18:47 WIB
    jangankan hukum baru kayak yang digodok saat ini(RUU APP)!peraturan lalu lintas,pencurian,bahkan korupsi,sampai saat ini ga'da faedahnya. selama makna hukum hanya untuk legitimasi memerintah dengan sistem kewajiban yang memberatkan (tidak mempertimbangkan stastus sosial dan kearifan lokal), kemudian bukan untuk aturan yang menjadi kesepakatan bersama, peraturan/hukum sekalipun, apapun bentuknya yang lahir, akan menghancurkan tatanan yang sudah ada.
  77. From SUMARJOKO on 01 May 2006 12:24:47 WIB
    RUU Pornographi dan pornoaksi harus segera disahkan mengingat pornographi di Indonesia lebih parah dibanding di negara Eropa. Memang, pihak yang ingin menegakkan kebenaran biasanya sering dihujat dengan kata sok suci, munafik dan sebagainya.Itu biasa. RUU pornographi tidak akan membelengu kebebasan berexpresi. Pihak yang merasa terbelenggu adalah mereka yang tidak bisa berekspresi tanpa menggunakan erotisme. Memang dengan RUU ini mereka yang tidak punya kemampuan seni akan berkeberatan karena meraka tidak bisa berkreasi.
  78. From Roni Pratomo Yudistian on 02 May 2006 10:01:13 WIB
    Saya mendukung RUU APP utk segera disahkan, ini bukan masalah munafik atau "in the name of freedom of bla.bla.bla..." tetapi mengatur segala tingkah laku manusia. Menurut saya sifat munafik ada di semua manusia termasuk saya contohnya : kalo kita ke mall pas nggak bawa uang cukup terus ketemu barang yang bagus, dan situasi dan kondisi aman kita ingin sekali "ngambil" atau ngutil barang tersebut (bukankah itu juga bagian dari munafik??), atau kalo kita melihat toko kimia maka di kepala kita ingin untuk membuat bahan peledak karena terinspirasi fil hollywood (juga bagian dari sikap munafik). Jadi sifat munafik itu tidaklah terbatas hanya masalah seks dan pornografi saja tetapi masih banyak lagi sifat sifat munafik dalam diri setiap manusia. Nah untuk membatasi dan mengatur sifat & tingkah laku tersebut khan harus ada UU, nilai norma agama dan etika yg harus ditaati, disenangi, dan dinikmati oleh orang orang yg punya tanggung jawab etika & moral sehingga sifat2 munafik tersebut tidak kebablasan dan menghancurkan peradaban manusia. Saya pikir mungkin kita sudah tergerus oleh nilai nilai barat yg sudah ratusan tahun atau puluhan tahun mungkin (sejak budaya pop amerika muncul) sehingga pandangan, pola pikir kita dalam memahami semua hal tentang art, seni dan kebebasan BERPATOKAN atau BERPATRON kepada Barat. Coba dipikirlah apa gejala kayak gini terjadi pada abad 19, 20 atau sebelumnya? Khan pada jaman tersebut bangsa Indonesia DENGAN PERCAYA DIRINYA masih menggunakan seni2 yg ada di dlm budayanya untuk mengapresiasikan bakat seni & kebebasannya dgn baik & RELATIF TIDAK BANYAK TERKONTAMINASI dgn seni2 asing lainnya. Menurut saya utk menyikapi GLOBALISASI terutama dlm hal kebebasan seni & budaya, cobalah mengambil Hak Lisensi dari majalah asing (amerika) mengenai teknik fotografinya, desain grafisnya, pemasarannya, profesionalitas kerjanya ke dalam majalah buatan sendiri yg menampilkan wanita Indonesia menggunakan Kebaya, Kain Songket, batik, jilbab dll. Khan ELEGAN melihat majalah asli Indonesia menggunakan teknologi barat tapi isinya PURE INDONESIA. Ya masalah aturan itu khan harus dinikmati. Orang2 Amerika juga memperbolehkan budaya2 asing baik dari Cina, Jepang, India, Arab, Afrika maupun Eropa utk unjuk diri di amerika, tetapi secara umum toh orang2 amerika lebih memilih seni buatannya sendiri untuk dinikmati dan dikembangkan. Saya pikir itulah substansi manusia amerika utk diterapkan di Indonesia PERCAYA DIRI DGN HASIL KARYA, CIPTA & KARSANYA walaupun budaya asing lainnya menggempur kita.
  79. From Fina on 03 May 2006 15:17:15 WIB
    tolak pornografi,, tolak tolak.. RUU APP!!
  80. From Helmy on 04 May 2006 10:03:54 WIB
    Wah soal Pornografi/aksi itu sih tergantung isinya dan pikiran orang, kalo emang kitanya ga punya pikiran parno walaupun isinya nyerempet dikit ya ga masalah. yang jadi masalah adalah pembinaan akhlaknya githu lho........ lha wong ustadz/guru sekarang aja banyak yang mencabuli santriwatinya/muridnya, yang seharusnya dia yang mengajari yang bener malah ngajarin yang sebaliknya. terus dengan adanya RUU APP ini jadi para tokoh agama ini takut untuk menyebarkan mana yang bener dan mana yang salah. terus yang pada protes itu, protes kenapa? apa ga boleh pake kebaya? ya bolehlah....asalkan masih pakek baju. kecuali yang bajunya transparan, sekalian aja pake plastik es bajunya, kan lebih asik. sekarang ada ga yang mau beliin baju buat orang-orang papua?
  81. From martin on 07 May 2006 03:05:02 WIB
    buat abu syafa dan teman2x yang lain yang pro RUU, sayapun muslim seperti anda...dan saya melihat teman-teman terlalu sempit dalam melihat dan membaca tentang penolakan RUU APP. teman2x pernah pergi ke candi borobudur, kalo' pernah berarti teman2x bisa menghitung berapa banyak arca dan relief yang harus dihancurkan karena RUU tersebut. lalu bagaimana kita menuntut leluhur2x kita yang telah mengajarkan kita cabul.apakah dengan adanya relief dan patung2x (yang melanggar RUU APP) membuktikan bahwa Indonesia sudah cabul dari zaman dulu?pertanyaannya banyak ya, tapi gak usah dijawab.meskipun banyak patung dan relief setengah bugil toh budaya Indonesia tetap dianggap budaya timur yang sopan dan beradab. budaya Indonesia sebenarnya sudah memiliki filter terhadap kebudayaan asing. dan seperti yang kita tahu budaya adalah sesuatu yang mengakar dan terbentuk sejak lama dan telah mengikat kita. hal yang justru perlu kita lakukan dan secepatnya adalah mengembalikan kebudayaan Indonesia ketempat setinggi-tingginya. saya yakin bila anda, saya, kita, dan kalian mampu mengembalikan budaya Indonesia pada tempat yang semestinya yaoti sebagai dasar kehidupan kita saya yakin tanpa RUU APPpun kita akan mampu bermoral baik.
  82. From faisal on 07 May 2006 12:22:12 WIB

    saya termasuk orang yang netral dalam artian saya setuju dengan UU APP namun pendapat yang menolak juga harus didengarkan agar prinsip-prinsip kemanusiaan tidak terlalu dikekang. menurut pendapat saya ada kaidah-kaidah moral yang ada dalam masyarakat tidak dapat dipisahkan dari prinsip negara jadi saya sangat tidak setuju dengan anggapan bahwa negara tidak boleh mengatur moralitas yang ada di masyarakat, membiarakan moral berjalan sediri mengikuti perkembangan opini puplik. opinip puplik dapat dibentuk oleh orang-orang yang menguasai media massa jadi coba anda bayangkan jika seseorang atau sekelompok orang yang menguasai mediamassa mampu mengontrol opini puplik sesuai kepentinga kelompok dan individu. jadi perlu lah negara mengatur moral yang ada dimasyarakat supaya tidak bergeser bebas sesuai dengan keinginan sekelompok orang atau individu. Perlu digaris bawahi bahwa demokrasi yang ada di negara kita tidak bisa disamakan dengan demokrasi yang ada di negara-negara barat, biarkanlah demoktrasi yang ada dinegara kita berkembang sesuai karakteristik negara kita tidak perlu menyamakan dengan negara lain. kalo UU APP itu di butuhkan sekarang kenapa tidak di sahkan saja. tapi kalo belum jangan di paksakan.
  83. From pana on 07 May 2006 21:58:46 WIB
    Pembahasan RUU Pornographi di DPR menjadi ajang kelicikan dalam memperoleh kekuasaan dan adu domba.
    Masa yang dibahas masalah pakaian dalam. Coba dilihat dijalan masih ada pelacuran, masih ada cd porno, pejabat yang istrinya ada 5 apakah itu bukan porno.

    DPR Jangan bikin undang macam-macam.
    Apalagi sampai mengekang kebudayaaan dan keragaman dalam masyarakat.
    Jika DPR bikin undang-undang diluar norma hati nurani rakyat jelata yang tak punya baju.
    Maka berarti DPR ingin mengajukan perang.
    Batas umur berapa orang harus pakai baju bagaimana anak kecil, orang sakit, orang sakit jiwa. Bagaimana dengan olahraga renang, tenis, bulu tangkis, binaraga apakah mereka termasuk porno.

    Banyak koran-koran porno tak diurus baik tulisan ataupun gambar. eh malah ngurus goyangan artis. Apakah dangdut harus dilarang ya karena tak boleh goyang. bagaimana jaipongan.

    Jika DPR mensahkan undang-undang yang ngaco :
    Kami putra bangsa akan :

    1. Menganggap Indonesia sudah tak punya hukum dan Hukum rimba yang berlaku.
    2. Fraksi-fraksi di DPR tak akan kami pilih lagi baik nasionalis maupun tidak nasionalis karena mereka tidak menyuarakan hati nurani rakyat. Misal PAN, PDI P, Golkar, Partai Keadilan, PPP,Partai Demokrat dll.
    3. Kami akan memilih partai Baru yang dibentuk oleh LSM yang menyuarakan kebenaran rakyat. Seperti yang dipimpin oleh Ratna dkk. karena kelihatan tulus.
    4. DPR tak punya prioritas dalam membahas sesuatu. Masalah pangan belum beres sudah bahas yang porno-porno. maka itu kami anggap DPR adalah Lembaga porno yang suka ribut sama artis.
    5. Ada pejabat yang jelas-jelas secara porno mengambil uang rakyat. DPR hanya bisa diam aja.

    6. Jika SBY tidak bijak akan masalah pornographi ini misal dalam hal olah raga (jika dianggap porno) kami tak akan memilihnya kembali. Jadi sekarang anda berhadapan dengan masyarakat yang cinta olah raga.





  84. From liauw on 07 May 2006 23:15:53 WIB
    fuuh..mo dibuat UU APP setegas apapun..kalau manusianya tidak dirombak dari dalam juga percuma. Manusia indonesia itu banyak yang munafik.. protes di luar, padahal kalau sudah malam datang langsung 'beraksi' semua.
    bener kata martin manurung kalo pemerintah indonesia ini kurang kerjaan...suka buang-buang duit. tidak mengalirkan dana pada tempat yg tepat.
  85. From Young Generation on 08 May 2006 11:45:38 WIB
    Judulnya Juga Undang2 Anti Pornografi dan Pornoaksi, bukan Undang2 Berpakaian. Jadi kenapa kita ributin masalah berpakaian seehh..? Aneh bgt.. Orang2 yang berbicara menolak Pornografi tapi juga menolak RUU APP! JAdi mereka maunya apa hah..? Koq ga jelas maunya apa.. ga konsisten. mohon dipikir ulang komentarnya tuh.. MAJU TERUS RUU APP.. kami dari generasi muda mendukung secara tegas pengesahan RUU APP
  86. From Young Generation on 08 May 2006 11:52:12 WIB
    yang jadi masalah adalah pornografinya itu. sekarang meskipun aturan pemasarannya diubah, hanya toko2 dewasa saja yang bisa membeli adult stuff, kemudian ketika orang dewasa itu membeli adult stuff (Playboy Mag) dan dibawa ke rumah. nanti juga akhirnya ketawan sama anak. OK, aman di pemasaran, tapi tidak aman di rumah. korbannya,.. generasi penerus. sadar atau tidak tindakan "proteksi pornografi" kita selama ini lambat laun merusak generasi penerus kita. apa kita rela? sekarang, anak mana sih yang blom pernah lihat pornografi?? ga ada.. anak SD pun terjangkit pornografi. kalo sudah begini siapa yang mau disalahkan? ANDA?? orang2 yang menolak pornografi?? mohon dipikir ulang lagi pemahaman anda. mohon dalam melihat suatu permasalahan bukan dengan logika saja, tapi juga dengan Nurani. Sekarang Pilihannya jelas, Logika dan Nurani atau Logika dan Nafsu...??
  87. From Young Generation on 08 May 2006 11:54:12 WIB
    Bukankah landasan perilaku seseorang dimulai dari moralnya?? Kita seharusnya berterima kasih kepada pemerintah sekarang yang masih peduli dengan moral kita, moral bangsa ini.. kenapa pemerintah sampe harus turun tangan?? karena kita sendiri blom mampu mengurus moral kita
  88. From Bagus Sumitro on 09 May 2006 01:09:36 WIB
    Saya kira UU APP memang akan hanya mendiskriditkan perempuan coba anda semua pikir kalau seandainya cara pakaian para perempuan diatur dalam uu Ini Betapa sepelenya kerjaan para legislatif. mbok sekarang mikir atau buat UU yang lebih jelas soal pendidikan dan bagaimana mengurangi angka anak yang nggak bisa makan dan sekolah sekedar merasakan pendidikan dasar. Dari pada rakyat mbayar Para Manusia terhormat yang duduk di kursi legislatif dengan gaji jutaan yang masih kurang dan rakyat makin miskin mendingan para legislator itu mikir bagaimana membuat rakyat hidup lebih hidup daripada ngurusin soal kelamin dan pikiran kotor porno dan melihat porno dari sisi yang lain saja mesti akan menemukan keagungan yang luar biasa. jangan hanya karena alasan moral dan mendengarkan Bang Roma Irama yang sok mikir soal moral bangsa padahal moralnya sendiri masih bejat dan justru dia yang memberi contoh pada masyarakat untuk merendahkan martabat manisia perempuna dalam tiga "M" masak, manak, mekokok ( Memasak, Hamil dan Mekangkang) ingat nasib dan moral bangsa bukan ditentukan dengan fulgar dan tidak fulgarnya soal tubuh yang diexploitasi melainkan soal-soal lain yang lebih besar. jangan membuat duit negara dan membayar orang-orang bodoh yang nggak donk undang-undang serta bagaimana bersikap pada cultur yang sedang berkembang.
  89. From Imam on 09 May 2006 01:37:41 WIB
    Siapapun yg pro RUU APP,
    KH Mustofa Bisri bisa jadi referensi buat memandang cara mengatasi pornografi. Inilah shrsnya figur islam yg mencoba mengatasi kegagapan cara pikir mitologis! Satu hal, pergerakan agama fundamentalis dan destruktif sdh ketinggalan jaman (demikian jg 'tuhannya'). Taliban kocar-kacir! Sebentar lagi Palestina (God Bless Edward Said!). Semoga Tuhan-nya menolongnya. Teori atom sebagai unsur plg kecil saja dan ternyata berawal dari ilmu teologi ISLAM (silakan baca K. Armstrong, Sejarah Tuhan) sdh bisa dipecah jadi inti sel. Ngomong dlm perspektif islam apa? Silakan anda periksa ayat2 quran, apa yg paling sering diperjuangkan para nabi: kejahatan seksual atau pembebasan para budak, wanita dan anak? Peristiwa gempa bumi Sodom-Gomorah terjadi (bisa jadi) karena penyimpangan seksual, sekali lagi: PENYIMPANGAN seksual. Bukankah Adam dan Hawa diturunkan Tuhan ke bumi dlm keadaan telanjang? Porno dong! Anda yg mendukung RUU APP pasti bilang, konteks yg hakikinya dong yg hrs dilihat. Gw bilang yg hakikinya adalah pembangkangan: membangkang karena memakan khuldi. Dan siapa yg bisa jamin kalo buah khuldi adalah simbol seks? Blm cukup, silakan periksa Tarikh Muhammad, Munawir Kholil atau yg paling bagus, Muhammad-nya Karen Armstrong. Catat peristiwa besar yg terjadi,apa karena persoalan seksual? "Tampakkan kebenaran maka kemungkaran akan runtuh" begitu kata ayat (?)/hadist. Benar mana YG DIPERLUKAN SAAT INI mnrt anda: membiarkan TKI disiksa, TKW diperkosa atau melarang laki2 mencolek payudara? Anda pendukung RUU pasti menuduh, gw tlh memahami agama dg salah alias menyimpang. Perkenalkan: gw adalah mantan GERAKAN DI/TII cab. Bandung. Gw bkl bilang, tokoh-tokoh gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir pun seperti Hasan Al Bana awalnya sering berdiskusi di cafe dan penggemar sastrawan rusia: Tolstoy! Lo mo ngomong bahwa RUU APP ini tdk ada bias agama tertentu, bilang saja sekalian ISLAM, tapi tak tahan untuk mengutip istilah2 dan penafsiran2 agama yg romantik (romantisme itu aliran yg menganggap pasti ada hakikat/ruh/'sesuatu' yg universal dibalik realitas, realitasnya: ternyata ada banyak ruh/hakikat/'sesuatu' dibalik realitas!)

    Hatur Nuhun,

    Imam Maulana
  90. From Imam on 10 May 2006 11:46:19 WIB
    Maaf nih mas wimar, saya msh pngn ngeluarin unek2. Boleh ya?

    Agak mengherankan juga kalo masyarakat kita keukeuh berbicara dari ‘perspektif timur’ tentang kebenaran moralitas dan seksualitas, dengan hanya mengambil perspektif negasinya (barat). Lewat negasi itu, Baratlah, singkatnya, yg bertanggung jawab penuh atas hancurnya nilai-nilai moral bangsa kita ini, nilai-nilai luhur bangsa timur yang terhormat ini. Baratlah yang menghancurkan tatanan hidup dan menciptakan penyimpangan pada perilaku kita. Padahal kalo lihat sejarahnya, barat pun telah mengalami berbagai babak hingga ‘babak belur dan berdarah-darah’ dalam membangun masyarakat dan bangsanya hingga saat ini. Tantangan bagi dunia barat saat ini, dan juga timur, adalah memahami arus pemikiran dan berbagai gerakan pasca-kolonialis/strukturalis/modern yg mulai memperhitungkan suara (voices) dari yang liyan (the other) sebagai arena bermainnya, arena dalam mempertaruhkan kebenaran-kebenaran liyan. Tapi bukan kebenaran yang menciptakan dualisme subyek-obyek, fundamentalisme romantik atau pun kebenaran tunggal sebagaimana yg tampaknya terjadi saat ini, tapi menampilkan kebenaran-kebenaran liyan dan lokal yang ‘benar’ juga Dari gagasan ini timbullah pertanyaan, benarkah kita sudah berbicara dari perspektif timur? Timurnya siapa? Baratnya siapa? Islamnya siapa? Jangan-jangan selama ini kita berbicara tentang timur dari perspektif barat yang kemudian dianggap sebagai perspektif timur, atau sebaliknya. Wallahu alam.

    Keheranan saya sedikit terjawab sewaktu saya membaca Seks dan Kekuasaan; Sejarah Seksualitas-nya Michel Foucalt. Kebenaran seksualitas secara historis, kata dia, berbeda, berdasarkan prosedurnya, dalam masyarakat timur dan barat. Masyarakat timur (Cina, Jepang, India, Arab-muslim) mengenal yg namanya Ars Erotica. Di dalam seni erotik, kebenaran diperoleh dari kenikmatan itu sendiri, dianggap sebagai praktik dan dipetik sebagai pengalaman. Kenikmatan diperhitungkan bukan dalam kaitan dengan hukum mutlak tentang yang boleh atau yang dilarang, juga bukan dengan mengacu pada kriteria kegunaan; melainkan pertama-tama dengan mengacu pada dirinya sendiri, kenikmatan dikenali sebagai kenikmatan, jadi sesuai intensitasnya, kualitas khasnya, pantulannya dalam badan dan jiwa. Lbh baik lagi: pengetahuan itu hrs dituangkan kembali sesuai dg ukuran yg tepat, di dlm kegiatan seksual itu sendiri… Dg demikian terbentuk suatu pengetahuan yg pasti ttp menjadi rahasia, bkn karena kecurigaan bahwa obyeknya nista, melainkan karena hrs dijaga kerahasiaannya dg cermat, karena menurut tradisi, pengetahuan itu akan kehilangangan efektivitas dan kebajikannya jika dibeberkan (M. Foucalt, hal. 69). Silakan lihat ritual masy Jepang dalam merayakan kesuburan: mereka mengusung patung berbentuk phalus atau xxxxx raksasa lalu ada acara bagi-bagi phalus berukuran kecil pada para pengunjung. Mereka berebut untuk mendapatkannya, persis seperti bagi2 apem dalam upacara sekatenan. Tidak ada rasa jijik bagi mereka karena itu adalah ritus, bukan semata-mata mengumbar syahwat. Belum lagi kalo kita ngomongin kitab Kamasutra atau kitab…, relief2 di candi, dll. Skr kita lihat barat. Peradaban Barat tidak memiliki ars erotica. Sebaliknya, masy barat kemungkinan besar adalah satu2nya yg mempraktikkan scientia sexualis. Masyarakat yg selama berabad-abad, utk mengatakan kebenaran ttg seks, telah mengembangkan berbagai prosedur yg pd dasarnya ditata dlm bentuk pengetahuan-kekuasaan yg sgt bertentangan dg kiat bebrbagai inisiasi dan dg rahasia yg sgt unggul seperti yg ada dlm masy timur: yaitu pengakuan dosa (hal. 70). Bagi saya, scientia sexualis adalah praktik konspirasi atau kolaborasi antara institusi kekuasaan dan institusi agama. Berhasilkah? Ternyata efek yg muncul dari praktik ini adalah proliferasi atau pelipatgandaan wacana seksual.

    Ah tapi tak usah dianggap serius deh pemikiran aneh Foucalt ini, hanya akan mengganggu saja pekerjaan kita sehari-hari dan mengganggu kenikmatan kita menonton sinetron pseudo-religius seperti hidayah, maha kasih, kehendakmu, dll. Cukup saya saja yang mencak-mencak liat logika narasi yg ngaco, akting yg amit-amit dan kata2 dari langit yg berhamburan. Cukup saya saja yg murtad jika kebenaran yg haq dan kaffah adalah meneror, menganggap yg lain salah atau kafir, mengabaikan ilmu pengetahuan dan menuduh saya tidak bermoral.

    Tabik,

    Imam Maulana

  91. From guest on 10 May 2006 14:08:02 WIB
    All I can say is that everything goes back to our own mind and how we control it...If you want to do something really "dirty" and you told your mind to do it, even an iron-clothes like the one the european knights wear at medieval era will not be an obstacle for you...I'm sure of that..tidak perlu pengetahuan tingkat tinggi untuk sadar kalau apapun yang anda lakukan sebagai individu, semua balik ke anda lagi dan pikiran anda tersebut, dengan kata lain "the choice is yours"...peraturan apapun dengan hukum seberat apapun tidak akan pernah bisa membatasi cara berpikir kita sebagai manusia, atas dasar yang saya bilang diatas...selain itu juga saya hanya bisa membayangkan betapa chaos-nya Indonesia begitu UU APP ini benar disah-kan, disintegrasi bangsa yang akan semakin kental warnanya plus meluasnya problem kriminalitas yg berhubungan dengan organisasi kriminal yang memperdagangkan bahan-bahan material untuk usia dewasa (adult content material)...

    dan satu lagi saya bukanlah orang yang mengakui atau punya agama apapun, saya punya konsep sendiri mengenai "ketuhanan" sesuatu...tapi seumur hidup, saya tidak pernah bilang agama apapun yang ada di dunia ini salah atau benar, karena semua kembali ke keyakinan individu masing-masing, atas basis itu saya hanya bisa "tertawa" apabila siapapun menyatakan agama/jalan hidup mereka paling benar dan individu lain jg harus ikut agama/jalan hidup tersebut...menurut saya respek dan toleransi terhadap keunikan setiap individu adalah kata kunci apabila kita sebagai bangsa Indonesia mau meneruskan perjalanan kita ke masa depan...

    menanggapi juga pendapat beberapa saudara sebangsa yang menyatakan bahwa budaya indonesia rusak karena budaya barat, menurut saya bukan budaya barat yang merusak budaya indonesia, budaya apapun dijaman sekarang (dgn teknologi internet dll.) itu dapat kita ambil dan kita lihat dalam sekejap mata (cukup isi kata kunci di dalam google bukan?) kemudian terserah anda untuk menentukan apa yang mau anda lakukan dengan budaya "baru" yang anda lihat/rasakan tersebut...poin saya disini adalah semua kultur/budaya selalu ada kelebihan dan kekurangannya masing2, untuk menyerap hanya kelebihannya atau hanya kekurangannya, atau mungkin dua2nya itu semua terserah anda, anda yang memegang kontrol dalam menentukan sikap...saya selalu melihat bagaimana bangsa indonesia selalu jatuh ke kesalahan yang sama berulang kali dari dulu, yaitu selalu menimpakan suatu kesalahan/ketidakberesan ke orang lain, kalau ada yang memang membuat moral bangsa indonesia menjadi hancur, menurut saya semua kembali ke faktor tersebut sebagai faktor primer-nya...sebegitu tidak beranikah bangsa indonesia untuk melihat diri sendiri di depan kaca dan menyatakan bahwa kita punya kekurangan/kesalahan, dan kekurangan/kesalahan itu adalah sikap jelek kita sendiri dan bahwa kita sebagai bangsa indonesia harus bisa membenahi kekurangan/kesalahan supaya keadaan menjadi lebih baik di masa depan...

    terima kasih
  92. From Gunawan Mohammad on 11 May 2006 09:40:01 WIB
    Iya benar mas Imam liyaning liyan (the others) harus dimaknai sebagai sebuah cara pandang baru.
  93. From Imam on 13 May 2006 00:02:05 WIB
    Weleh2 ada Om Gunawan Mohammad, jadi malu euy! Ehm.. apa saya sdg berhadapan dg Om G M yg 'liyaning liyan' itu bkn? Kalo ya, maaf pisan, saya pinjam istilah om tanpa permisi he he (kbrnya Keith Foulcher rada keberatan dg istilah itu ya?) Tp itu ga penting.. Seorang teman saya sempat bilang, utk menjawab persoalan ttg RUU APP cukup dg membaca bukunya Om, yg jdlnya yg sama dg Foulcalt, "Seks dan Kekuasaan". Beres! Gitu katanya. Saya pernah baca jg, dulu sewaktu kuliah. Tp lupa lagi.. Cuman hutannya saja yg saya ingat tp batang2 pohon sdh tak bisa saya ingat satu persatu (Metafor Om Wimar; saya pinjam dulu ya!). Yg tiba2 ingat dlm benak saya ttg buku om itu adalah stlh saya nonton sinetron2 [pseudo-]religius di televisi. Maafkan saya hik3x.

    Satu hal lagi ttg Indonesia... Adakah yg msh ingat dg Wawasan Nusantara?
  94. From Orang Indonesia on 13 May 2006 15:09:07 WIB
    PARANOID!!!!!
    Antara ya dan tidak, kita harus mengakui kalau sebagian dari bangsa kita adalah manusia-manusia yang paranoid dalam menyikapi suatu hal yang sebetulnya NOT URGENT dan NOT SIGNIFICANT.
    Betapa tidak, kita masih saja mengkhawatirkan hal yang belum tentu menjadi suatu blunder bagi kita semua. kenapa harus repot memperdebatkan UU xxxxx yang jika ditarik benang merah, ujung pangkalnya adalah masalah Raja dangdut dan Ratu Ngebor, hingga pada akhirnya dengan menggunakan sisa-sisa popularitas Raja dangdut "sukses" menggulirkan bola salju kekhawatiran kepada banyak kalangan di negeri ini.
    secara kasar kita sudah membuktikan kalau sebagian dari kita memang munafik dengan mencoba untuk membatasi orang lain untuk berkespresi, kalau ingin jujur hampir nggak ada laki-laki yang nggak kepencut sama "payudara" dan "paha", cuman kita akan malu kalau kita ketahuan orang lain kalau otak kita agak-agak mesum, daripada Tuhan Yang Maha Mengetahui melihat kita.
    By the way daripada ngeributin anatomi tubuh manusia yang sudah lazim kita jumpai,lebih baik sumbangin deh sedikit harta yang kita punya buat orang lain. dan itu kan lebih mulia di mata Tuhan, dan lebih bermanfaat buat anak cucu kita di masa depan, iya tooh.
    SO Go To Hell with Pornografi, but go to hell juga buat orang-orang munafik berkantong tebel tapi pelit.
    Merdeka!!!
  95. From Iwan Zariawan on 13 May 2006 19:56:32 WIB
    Turunkan Harga Secepatnya
    'kan kuangkat menjadi manusia setengah dewa.

    Masalah moral, masalah akhlak
    Biar kami cari sendiri
    Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
    Peraturan yang sehat yang kami mau

    (dikutip dari Manusia 1/2 Dewa: Iwan Fals)

    kayake yang diramalken Iwan Fals dalam lagu itu bener ha?
    HaHaHaHa,
    emang wakil Rakyat kalau lagi Fals kayak gitu!
    Cukup gelar fals hanya untuk bang Virgiawan Listiyanto al Iwan Fals masak DPR mau ikut-ikutan fals

    Hidup Iwan Fals, hidup Perspektif, Hidup bang Wimar!
    HeHeHeHe

    Sekali lagi maaf kalau bahasa saya kasar, soalnya saya bukan makhluk halus, kagak seperti mereka yang berhalus-halus dengan jargon monumentalnya
  96. From munthahari al Maun on 16 May 2006 10:49:43 WIB
    ha....!!!!!bener juga Iwan Fals udah ngeramal lagunya neh??Jadi aku malu dulu ngedukung RUU APP....urusan moral kok diatur-atur sama yang nggak kita kenal kualitas moralnya.
  97. From putra nana on 19 May 2006 10:38:10 WIB
    Sejak saya lahir yang jauh diudik tak pernah melihat dan dengar adanya pornografi.......semua masyarakat memang mungkin belum ada atau sedikit sekali fasilitas komunikasi radio, tv, koran, vcd dll. mereka hidup santun dengan kehidupan yang beadab. Waktu terus berputar teknologi terus berkembang atas dukungan alat telekomunikasi semua kejadian kebiasaan buruk ada di sebrang sana mulai mendesak pemahaman moralitas yang dimiliki seluruh kampungku akibat derasnya kampanye kehidupan yang mengarah ketidak beradaban, kebiasaan buruk yang dianggap baik oleh masarakat sebrang diadobsi dan lama kelamaan menjadi biasa..seperti terlihatnya pusar dan gaya buka-bukaan tidak ada tapi saat ini semuanya menjadi umum dan seolah sebaliknya yang tidak seperti mereka menjadi menjadi masyarakat yang tidak baik. Begitu pula perilaku seks bebas budaya sebrang sana menjadi menjadi budaya Indonesia sendiri..dan bahkan mungkin pendapat umum akan muncul bahwa yang tidak ikut seks bebas adalah masyarakat yang tidak bermartabat.. apakah itu adat martabat yang baik?.

    Masyarakat memang harus bisa memilih mana budaya yang baik dan membuangnya budaya yang buruk. Namun kekuatan itu tidak dimiliki oleh masyrakat karena tekanan dan sebuan budaya sangat dears dari sebrang. Salah satu kuncinya adalah peran pemerintah yang harus dikuatkan untuk bisa meilih budaya sebrang yang bisa diambil. Adanya peraturan harus lebih detil karena dalam kasus-kasus yang telah ada definisi dan fokus yang tidak jelas seperti didalam KUHP atau aturan yang telah ada sehingga semuanya menjadi sulit untuk diterapkan..

    RUU APP bukan Islamisasi namum meniru aturan syariat Islam karena tidak seprti syariat islam, semua perilaku manusia harus di atur dan ada sangksinya sehingga semuanya teratur dan berjalan baik begitu juga semuanya termasuk sanksi yang jelas. Saat ini memang syariat islam tidak lagi diterpakan sehingga semua orang baik umat islam sendiri dan bahkan umat non muslim tidak pernah mengetahuinya bahwa aturan sepreti itu, sehingga semuanya telah melihat sebelah mata dan bahkan membodoh-bodohkannya.

    Sangat jelas memang aturan tersebut tergagas oleh tooh-tokoh islam yang melihat kondisi perilaku masyarakat yang smakin pudar dari perilaku santun. Semua cara dilakukan untuk mencari harta dan kekayaan. Sangat jelas yang paling terserang semuanya adalah para pekerja seni yang duitnya diperoleh dengan cara-cara yang memanfaatkan kemolekan, kemudahan. Nampak bahwa itu sangat diharamkan dalam islam tapi dihalalkan oleh umat lain, namun celakanya umat islam juga banyak yang tidak mengeti dan terjun ke wilayah itu.

    Ingat setal dunia ini ada kematian...sesaat setelah kematian semua manusia akan diadili oleh Allah sang pencipta dan penguasa alam ini ada kita semua akan tahu apakah kita masuk Surga atau Neraka.....

    Apakah kita ingin masuk neraka?....maka lakukanlah sesuka mu..bila ingin masuk surga maka pilihlah perilaku yang baik tersebut...
  98. From sayfu ad-din on 20 May 2006 18:42:06 WIB
    RUU APP yang sekarang tidak sesuai dengan norma yang berlaku. katanya Indonesia adalah negara yang bermoral. saya yakin semua agama dan keyakinan melarang yang namanya pornografi dan pornoaksi. jd kenapa harus kompromi dengan orang-orang yang ingin disamakan dengan hewan(orang pro-porno). kalau diubah menjadi hanya dilarang sebatas alat kelamin saja, mestinya semua masyarakat indonesia telanjang tapi pakai koteka saja. bayangkan presiden dan pemerintang yang lain telanjang dan hanya pakai koteka? atau buat peraturan yang membebaskan perempuan untuk dieksploitasi secara sewenang-wenang(dipaksa) untuk kepentingan pendapatan negara. atau orang-orang yang pro biar telanjang aja. itu kan yang namanya DEMOKRATIS!
  99. From naya on 22 May 2006 10:56:21 WIB
    pemerintah kayakna udah stress kali ya ngurusin ekonomi yg krisis ga berkesudahan,makana jadi bikin UU yg bener2 ga masuk akal ini.Saya juga seorang muslimah,tapi UU APP ini bener2 ga logis banget n kesan na munafik banget.kalau yg dilarang itu tontonan atau majalah2 esek2 yg sering di jual dilampu merah dengan harga murah banget, saya sehh setuju bgt.tapi kalau sampai cara pakaian trus tingkah laku orang di undang2in juga, itu kayaknya udah keteerlaluan bgt.ngapain sehh ngurusin moral orang,memangnya udah yakin kalau moral kita sendiri udah bener.saya setuju sama salah satu pendapat diatas yg anjurin naekian aja pajak majalah sekaliberan playboy,jadikan ga semua orang bisa beli.lagian juga tingkat libido seseorang itu kan beda2.kita kan negara demokrasi yg kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat,jadi kalau mayoritas rakyat ga setuju yahh pemerintah musti konsekwen donk.kalau emang mau disahkan juga mending di revisi dulu d..n adakan jejak pendapat,point yg mana yg kebanyakan orang ga setuju.kan bisa lewat sms atau apalah.nahh trus setelah itu baru d di sah kan berdasarkan pooling itu.jadina semua pada senang..n ga ada lagi demo2an.masa iya cantik2 n gagah2 pada turun ke jalanan seh.kan bikin image negara kita dimata dunia luar makin jelek,apalagi hal ini bisa bikin dampak yg makin jelek jg terhadap umat islam di mata dunia.
  100. From karman on 22 May 2006 14:01:30 WIB
    logika mereka yang menolak sebenarnya ILLogis. sama seperti pengesahan UU sisdiknas. katanya UU itu akan mnencam keutuhan kehidupan bangsa dan negara. nyatanya? BOHONG. dalah kasus UU APP ini, katanya UU ini bakalan merusak tatanan budaya bangsa indonesia. Masyarakat Papua umpamanya yang memakai koteka. sebenarnya ini jangan dilestarikan sebagaimana kita sendiri yang tidak mau memakai koteka itu sendiri. mereka harus dididik agar sesuai peradaban yang tinggi. kata nya UU APP akan merusak bisnis. sekali lagi ini adalah bohong. bukankah dengan adanya UU ini berarti penjual pakaian akan laku karena menjual umpamanya pakaian, kerudung dll. katanya UU akan mematikan industri pariwisata. kok saya heran, memangnya kita menjual apa sih? kalau pariwisa itu kan yang djual keindahan alam, budaya peninggalan sejarah. bukannhya keindahan kaum hawa. jadi, jelas di balik ini ada kebohongan yang jelas.
    katanya lagi UU inim akan mengurangi kreativitas seniman. lha kok saya bingung, kenapa daya kreativitas kok tergantung sekali kepada yang berbau porno.
    pornoaksi dan porno garfi memang perlu diatur.tidak diserahkan kepada individu saja. bukankah adanya institusi negara untuk mengatur agar lebih bermoral menuju peradaban yang tingi. bukan negara yng rakyatnya suka berporno ria. OK. mari tolak Pornografhi dan pornoaksi. jangan sampai ia menodai ibu pertiwi.
  101. From jack on 22 May 2006 20:48:17 WIB
    bapak pejabat tidak ada kerjaan
    udah cepat beresin, paling negara ini akan hancur
    otak kalian semua busuk
    tolak terus UUP APP!!!!! MERDEKA
  102. From ATOK on 24 May 2006 01:02:45 WIB
    RUU APP Bila disahkan
    1. Bentuk Kegagalan Para Pemuka Agama *semua agama) dalam menjalankan tugasnya.
    2. penyesatan ummat dengan melidungi pelaku kejahatan(yang rusak otak si subjek tapi yang dihukum Objek)dan kemunafikan
    3. Potensi Disintegrasi
    4. Pelanggaran Hak Sosial dan Politik

  103. From naya on 26 May 2006 10:44:46 WIB
    RUAPP???? pusying euy..
    kayak nya gada yang lebih penting lagi selain ngurusin moral pribadi manusia.
    Inonesia harus nya mikirin pendidikan rakyat indonesia nyang didesa-desa gimana caranya biar pendidikannya sama dengan yang dikota-kota,biar ga jadi orang yang katerbelakang terus n ada nya diskrimunasi gt...
    LIhat malaysia donk no1 1 itu ngurusin PENDIDIKAN bukannya HAWA NAFSU ORANG...

    YANG BIKIN RUAPP EMANG GAK ADA KERJAAN.
    PANCASILA KALO DITERAPKAN DENGAN BENAR,PASTI GAK ADA MADSALAH LAGI.
    SEKARANG CUMA TERGANTUNG PRIBADI MASING-MASING AJA..
  104. From udah_biasa on 01 June 2006 12:38:24 WIB
    RUU APP simbol ke tidak mampuan pemerintah untuk melakukan tugas nya! Katanya menteri, katanya ahli polItik, katanya ahli sociology koq soal beginian di balikin lagi ke rakyat? kenapa? takut di salahin? takut dengan kelompok2 atau group2 tertentu? Ohhhhhhhhh biar rakyat yg pilih yah? jadi kalau ada apa2 di depan tangan pemerintah bersih! engga mau di salahin kan????? Pemerintah gatel bikin sensasi tapi ga becus menyelesaikan nya! HEY GOVERNMENT IF YOU STARTED IT YOU KNOW DAMN WELL YOU BETTER FINISH IT!!JANGAN SETENGAH2 DONG!!!! UDAH BIKIN SENSASI SEKARANG DI BALIKIN LAGI KE RAKYAT!!!! DASAR PEEEEEE AAAAAAAAA!!!!!!
  105. From syatri on 01 June 2006 14:00:33 WIB
    kita jangan menggunakan pola pikir pendek yang hanya berkaitan dengan diri kita, berpikirlah jauh ke depan bagaimana nasib bangsa ini di tangan anak cucu kita nanti. pernahkah terbayang oleh yang menolak RUU APP bagaimana perjalanan bangsa ini di tangan orang-orangyang teracuni pikirannya oleh hal-halyang bersifat porno. bukankah kebebasan yang terbatas dalam hal pornografi dan pornoaksi di negara-negara maju punya akibat terhadap free sex baik dikalangan remaja maupun dewasa? sudah tidak mengherankan lagi kalau di sana para remaja usia 15 sudah pernah mencicipi hubungan seks? inikah yang diharapkan bangsa indonesia?
    menurut saya, hak anda untuk tampil seperti apa yang anda mau adalah hak anda, tapi orang lain juga punya hak untuk tidak melihat hal-hal yang menurutnya tidak baik, apakah itu berbentuk pornoaksi atau pornografi.
    silahkan anda tampil bugil, silahkan anda tampil sesuai seronok, tapi cukup di kalangan yang sepaham dengan anda. jangan anda tampil di depan umum. silahkan anda menjual majalah porno, vcd porno atau produk porno lainnya, tapi jual di tempat terbatas yang semua orang tidak bisa mengaksesnya.
    aturan inilah yang kita perlu, agar peredaran vcd porno seperti di glodok, majalah atau tabloid porno di lapak-lapak koran, atau tarian erotis yang muncul di layar tv tidak muncul seenaknya. tataniaga ini perlu diatur, apakah itu dalam bentuk RUU APP atau UU yang berkaitan dengan hal itu.
    RUU APP menurut saya tidak bertujuan untuk mengatur moral seseorang, tetapi untuk melindungi manusia-manusia indonesia dari pornografi dan pornoaksi.
  106. From sandy on 02 June 2006 11:38:11 WIB
    Mohon maaf bila mungkin saya "bodoh"
    Tapi kelihatannya sekarang,begitu banyak pihak yang lebih "punya hati" melihat manusia dicambuki di Aceh,daripada melihat wanita yang berusaha tampil "sedikit berbeda".Seems like to dress the minimum is more inhumane than to whip.
    Siapa yang bisa nenjamin bahwa ini yang TUhan kehendaki ?

  107. From hikmah on 02 June 2006 16:17:55 WIB
    Kita ambil hikmahnya saja
    Dengan RUU APP ini kan, tidak boleh ada pakaian mini.
    Otomatis konsumsi tekstil bisa meningkat dan kembali menyerap tenaga kerja yang terlanjur di PHK.
    Tapi... hilangin dulu donk import illegalnya.

    Lha, kalau gitu UU antikorupsi aja yang sudah ada belum bisa diterapkan. (import illegal = korupsi, persepsi dewe)

    Jadi ada atau tidak ada UU APP, gak ada efek sama sekali.

    Daripada bingung debat berpanjang-panjang antara pro dan kontra, mending bersatu :
    Cari orang yang telah mengusung RUU APP ini, laporkan kepada polisi atas tuduhan penghasutan umum, setuju?



  108. From udin on 02 June 2006 22:57:07 WIB
    penerapan UU koq kaya dikejar syetan aja, mbok ya.. dipertimbangkan yang matang dulu..baik kajian yang berangkat dari syariah (yang benar) juga sosiologi hukumnya donk...
    kita semua juga ngak senang dengan kemaksiatan koq... tapi caranya yang manusiawi danm indonesiawi githu lhoo....
  109. From sandy on 03 June 2006 11:10:27 WIB
    Questions...
    1.Kalau diklaim bahwa "The Western" adalah penyebab hancur leburnya moral bangsa kita. Pertanyaannya how fragile our morality foundation could be ? that we can "supposedly" got destroyed THAT easily ?
    Serapuh itukah ?
    Contoh : orangtua saya sangat liberal,mereka tidak pernah mengekang kami untuk bergaul dengan siapa saja. Tapi tanggung jawab dan kepercayaan yang mereka percayakan, didasari dengan bekal moral yang mereka tanamkan sejak kami kecil berhasil menjauhkan kami dari "MASALAH", tanpa harus memborgol tangan dan kaki kami . Begitu juga dengan agama.
    Orang yang sungguh sungguh beragama dan beriman, tidak perlu didikte-dikte DO's and DOn't karena filter dan kesetiaannya kepada Tuhan akan otomatis keep them away from doing wrong. It doesn't matter ada ribuan wanita bertenjang ria disekelilingnya.Ya ngga usah diliat,palingkan saja kepala anda kearah lain.

    2. Kalo tidak ada wanita Indonesia yang boleh berpakaian terbuka lalu mau jadi apa nasib para peseni tari kita yang sejak jaman dahulu telah berkarya jasa mengharumkan nama bangsa keseluruh belahan dunia dengan tarian-tarian dari seluruh nusantara(Penari Jaipong,Ronggeng,Yapong,Bali,Jawa ) hampir semuanya memakai pakaian sedikit terbuka dan ketat pula ...
    Apakah ada yang bisa menjamin pekerjaan baru ( atau seperti di Amerika pake system kupon...stay home....we'll send all of you coupons to buy food and sundry .We'll taking care your medical.YOur children will go to public school for free and have tea break and lunch for free!!)
    Kalau tidak bagaimana ? mereka khan harus tetap bekerja untuk membiayai hidup yang tidak gampang ini.
  110. From someone on 05 June 2006 21:23:35 WIB
    UU apaan itu, nggak ada kerjaan kali bapak2 pejabat kita
    memang otak kalian NOL BESAR, kalian urus dulu rakyat miskin
    ,koropsi apa mau negara kita ini hancur?!
    SALAM BHINEKA TUGGAL IKA merdeka merdeka merdeka

  111. From Ana and Ika. IAIN SUPEl on 12 June 2006 12:27:09 WIB
    sebaiknya apa yang ada di perbaiki dulu aja Deh............. oke!
    jangan buat yang macem-macem dulu
  112. From BASTURK on 14 June 2006 23:44:02 WIB
    tolak tegas ruuapp
  113. From I Nengah P. Suijaya on 15 June 2006 15:21:36 WIB
    RUU ini mengasumsikan bahwa kaum perempuan adalah penyebab utama kerusakan moral di Negeri ini, karenanya perempuan diwajibkan menutup rapat-rapat seluruh angota tubuhnya, jelas RUU ini mengesampingkan kenyataan bahwa nafsu tak terkendali dari laki-laki yang belum beradab adalah merupakan faktor dominan kebejatan moral. Lebih dari semua itu jelas RUU ini merusak tatanan KE-BHINEKA TUNGGAL IKA-AN
    Karenanya Tolak dengan tegas RUU DAGELAN INI.
  114. From ellish on 18 June 2006 14:47:43 WIB
    kenapa sieh kalian pada menolak RUU APP dengan alasan yang gak jelas kayak bgitu. Kalian nggak boleh egois dengan menolak RUU itu. Kita tuh seharusnya mendukungnya. Jangan mikirin diri kalian sendiri donk. Pikirin mereka, anak-anak kecil yang masih lugu dan gak tahu apa-apa. Apa kalian tega dan apa kalian akan merusak moral mereka dengan menyuguhi pemandangan yang nggak pantas bagi mereka. Tujuan dari pembuatan RUUini untuk memajukan bangsa agar lebih baik lagi. Kenapa sieh kalian semua pada ngga mau diatur. Jangan disangkut pautkan dengan satu agama saja. Karena agama manapun tidak ada yang menyuruh umatnya untuk memperlihatkan aurat.
  115. From A. Prawaty on 18 June 2006 19:15:20 WIB
    duh............!!! Bapak2 yang buat uu ini pa ga mikir, kl uu disahkan??negara kita bukan arab saudi bukan juga USA tp negara ini Bhineka Tunggal Ika,emang mau diancurin.Knapa skolah tinggi2 cuma mau mecahin budaya kita,example di Solo,Jateng budaya berpakain saat acara pernikahan "basahan", di Bali seperti itu... tau sendiri khan!! dan msh bnyk lagi. apa kalian mau menyalahkan budaya yang telah ada sedari dulu ini??? Apa sudah benar2 dipikirkan untuk yang kesekian kalinya? Memang kita perlu menutup aurot kita,tapi kita kembali lagi ke SARA. Bgaimana tentang penduduk kita yang diujung sana,ditengah hutan yang belum mengerti fungsi lebih dari memakai pakaian ,tentunya bagi mereka hal ini lebih memuakkan.
    Kita bayangkan saja kalau di Indonesia tercinta kita ini benar2 seperti uu yang telah dirancang?kita lihat,mungkin benar mereka akan patuh,tapi kepatuhan mereka karna terpaksa dan liat saja nanti di tempat2 yang mereka anggap bebas...... mereka lakukan lagi,bahkan mungkin akan lebih marak dari pada sekarang yang tengah terjadi. Apa bapak2 yang diatas itu nggak seneng ngelihat artis2 cewe pake pakaian mini ataw ketat, Sebenernya yang norak itu "Sang CEWE" atau Bapak2nya yang pura2 ga mau. Trus ngerancang uu hingga sedemikian rupa? Bagaimana dengan wisatawan manca yang hendak berwisata ke Indonesia kita ini, apakah mau didenda atau bahkan diusir? kita liat aja pak!!! INDONESIA atau Bapak2 perancang UU yang MENANG, Semuanya Tuhan yang mengerti.
  116. From Christoffel D Mongan on 20 June 2006 12:21:35 WIB
    pemerintah terlalu mengadaada dengan membuat peraturan yang tidak penting bagi situasi negara, yang dari pusat hinga kedaera kacau balau birokrasinya dan penuh dengan kolusi dan nepotisme,sehinga banyak sekali merugikan masyarakat maupun negara kita sendiri. Bayak masyarakat yang takdapat memperoleh hak haknya sebagai warganegara yang seutuhnya,terutama soal pendidikan yang layak.
    Menurut saya itu dulu yang di selesaikan baru mengurusi yang lain lain biarnegara bisa maju dan berkembang
  117. From lengeh on 21 June 2006 17:49:44 WIB
    duh... BOM Bali I meledak, kehidupan ekonomi di bali hancur total. BOM Bali II lagi2 meledak, tambah hancur Baliku. itu orang yg ngebom kok tega sekali ya?????. belum lagi pariwisata bali pulih kok ada isu RUU APP lagi. kalo itu terjadi wisatawan ndak bakal deh datang kebali lagi. bisa dibayangkan PHK secara besar2an, otomatis pengangguran banyak jadinya. pak DPR yg terhormat, tolong dong diperhatikan juga nasib kami pak, apa bapak tega melihat ekonomi kita2 morat-marit. bapak sih enak dapat duit banyak. dan saya denger2 katanya bali sebagai penyumbang devisa terbesar loh pak buat negara. masak bapak lupa sih.kalo sampe lupa mah kebangetan atuh bapak. oh ya buat temen2 yg ikut nimbrung disini salam kenal semuanya. tapi tolong dong jangan bahas soal agama segala. krn indonesia bukan negara agama. biasalah namanya juga debat pasti ada pro dan kontra tp jng bawa2 agama. oh ya masalah moral, dibali mah banyak ada bule2 dipantai pakaiannya sexy bukan hanya bule tapi banyak kok yg domestik, apakah tingkat perkosaan dibali no 1 di indonesia???. jangan2 bali menduduki urutan terakhir lagi.

    untuk bung wimar. maaf saya menyampaikan unek2 saya di artilce ini, mudah2an yg diperjuangkan bung wimar berhasil. maaf bila ada salah2 kata.

    nb: saya menyetujui ruu app asalkan masalah berpakaian dan moral tidak tercantum.
  118. From Mr.Nunusaku on 16 August 2006 20:28:49 WIB
    Apakah kita masih mau terus menerus dibodohi dan bohongi dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Wong JOWO ? apakita
    tetap mau dipaksakan dengan peraturan munafik dengan tujuan utk melakukan syariat Islam, dengan dalih UU APP disyahkan padahal latar belakangnya tujuannya adalah syariat Islama.

    Elite RI kita ini adalah manusia-manusia tidak waras, dan senantiasa melakukan pembodohan rakyat dengan segala peraturan. Mengapa tidak urusin kemelaratan rakyat Wong Jowo, kamakmuran rakyat RI itu harus diperjuangkan, bagaimana lunasi hutang kita didunia luar.
    KOh urusin UU APP, memang elite RI ini keleber murahan.
    Kenapa tidak urusin TKW yang diperkosa di Saudi Arabiah yang banyak pulang membawa bayi haram bagi bangsa Indonesia.
  119. From adam on 06 October 2006 06:07:41 WIB
    Bukankan di amrik aja diatur ? kok............emangnya negara tidak boleh ngurusi maslah pornografi ? bukankah hidup mencakup seluruh aspek kehidupan ? satu aspek rusak bisa menyebabkan seluruh aspek yang lain juga rusak ! Tinggal mainkan saja priorotas, ok.......HIDUP BANGSAKU..HIDUP INDOnESIA-KU....HIDUP MORALKU DAN MORAL MASYARAKAT-KU ....YES.
  120. From Stephani on 23 October 2006 22:50:55 WIB
    NGGAAAKKKK PEENNTIIIINGG!!!!
    apa sich gunanya UU pornografi?? cuman bikin orang jadi munafik!! UU tersebut cuman bikin pemerintah jadi keliatan xxxxx.. kayak orang nggak sekolah! masa nggak bisa mikir kalo itu hak asasi manusia?? asal nggak merugikan orang lain kan nggak ada masalah... itu semua tergantung orang nya aja! kalo orang gandengan tangan tapi yang liat orang berpikiran mesum, sama aja jadi pornografi! tul ga??
    pemerintah tuh jangan asal menggunakan kekuasaan donk!
    atau jangan2 ini semua cuman buat mengalihkan perhatian masyarakat supaya nggak merhatiin semua kebobrokan pemerintahan??
    janganlah ikut campur dalam masalah pakaian dan segala macam tetek bengek itu...
    brantas dulu korupsi, karena itu lebih penting!
    jangan sok ngatur2 cara berpakaian dan sikap masyarakat kalau pemerintah sendiri nggak bisa jaga sikap...

    sekian pendapat saya.
    terima kasih banyak.
    semoga berguna untuk semua...

  121. From just comment on 01 December 2006 21:23:00 WIB
    bagi saya perlu dirubah untuk undang undang pornografinya heheh paling tidak tidak mngeontrol moral. kalau dilihat kenyataannya banyak sekali peredaran2 video2 mesum indonesia. saya tidak menyangka semakin tinggi teknologi semakin rendah moral kita.banyak pelecehan2 disana sini. bener kata salah satu ulama bilang negara maju atau tidak ditentukan oleh wanita.
    sekali lagi lebih baik UU APP nya di revisi dan sedikit di modifikasi deh heheh paling tidak: tidak terjadi polemik diantara kita ga semua UU jelek dan tidak Semua UU baik.
    sebelum disahkan doble check deh.
    bicara Soal Moral pasti Bicara Tentang Tuhan.
    bisa dibilang tidak memiliki Tuhan mungkin juga tidak memiliki Moral. heheh

    Inget kalimat ini..dan renungkan ...kiamat sudah dekat.*
    Aids makin merajalela...

  122. From ricky on 17 January 2007 12:01:35 WIB
    UU pornografi adlah suatu tindak proaktif pemerintah untuk mengurangi prilaku free sex dalam masyarakat.
    namun yang patut ipertanyakan adalah mengenai apakah UU tersebut sudah cukup mengandung nilai2 yang dimaksud dengan porno itu sendiri,porno dapat dilihat dari dua sisi yang berlainan seperti sebuah uang logam dengan dua sisi yang berbeda. dua sisi yang saling bertolak belakang itu adalah Agama dan Seni. bagi orang yang melihat dari sisi seni hal ini tentu merupakan suatu nilai estetika, sedangkan bagi para religi hal ini sangatlah bertolak belakang.
    Manusia pada dasarnya selalu memiliki tujuan yangberbeda dalam hidupnya, begitu pula tingkat pemahaman mengenai suatu nilai. Kadang kala pornografi bagi sebagian besar orang masih begitu tabu untuk dibicarakan meningat kebudayaan timur yang melekat begitu kuatditambah nilai religi namun dorongan dari budaya baat begitu besar untuk masuk dan melakukan pembaharuan. Jadi semua tergantung dari cara kita menyikapi suatu permasalahan ini. berpikiran maju adalah langkah andal dalam menyikapi masalh ini.
    jangan pula kita berpikiran picik seperti seekor katak dalam tempurung. Dunia tidaklah seindah yang dibayangkan jika kita tidak menyikapinya secara benar dalam arti yang lebih manusiawi.
    dukungan moril bagi negara dan bangsa kita adalah kunci sukses keberhasilan kita dimasa yang akan datang.Agama apaun di Indonesia ini tidak membenarkan nilai2 pornografi namun secara kebatinan apakah ada manusia yang suci di mata Allah. hal ini patut mendapat pertimbngan agar kelak tidak menjadi duri dalam daging bagi negara tercinta ini.
  123. From Sena Mahesa on 22 February 2007 08:27:43 WIB
    Bicara UU APP adalah bicara moral. Bicara moral adalah sama halnya bicara dengan tuhan. Apakah bijak jika ada UU yang mengatur hubungan manusia dengan tuhan? Tentu tidak.
  124. From JJ on 24 April 2007 14:03:01 WIB
    jangan pakai logika deh..coba sedikitlah asah hati nurani kalian.Kalian tidak ingat dengan program 3T dan 3F (food, fun, fashion)yang diluncurkan orang2 barat?betapa mereka mempropagandakan dua konsep tersebut untuk membuat langgeng peradaban mereka?tanpa sadar kita telah termakan oleh budaya mereka yang sangat jauh dari nilai2 agama itu (sekular).Buktinya yaitu dengan menolak RUU APP.sadarilah dirimu sendiri saudaraku...sesungguhnya kebenaran di hari akhirat akan terungkap dan saat itu Tuhan sudah tidak memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki amalan.
  125. From Adi Wijaya on 02 July 2007 15:52:25 WIB
    sebelumnya saya ucapkan terimakasih bagi pihak-pihak yang menumpahkan saran tentang Pentingnya UU APP ini terutama bagi mereka yang mendukung.
    Bagi saya secara pribadi sangat penting wujut dari adanya negara ini untuk menentuhan perbaikan adab dalam maysarakat.
    UU APP merupakan wujut dari peran negara untuk mengimbangi rekayasa masyarakat secara nonformal dalam bentuk pengaruh-pengaruh yang langsung terserap untuk diikuti orang banyak. sehingga batas antara layak dan tak layak dalam hubungan pribadi maupun antar komunal tanpa batasan normal dan cenderung menimbulkan multi interprestasi. Masyarakat adalah satuan yang memiliki primus interpareens untuk menentukan batasan tadi, jadi bila dalam komunal yang besar seperti negara, batasan tersebut adalah peraturan-peraturan perundang undangan. dengan auran yang demikian saja, belum tentu dapat membentuk karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa Indonesia seutuhnya.
    Saya mendukung untuk ini, namun perlu dipertimbangkan arah pembangunan adab mayarakat iIndonesia ini, jangan hanya dalam aspek pembangunan Formal saja. seyokya-nya dua sisi pembangunan instrumen peradaban secara esensial dan holistik.


    Trimakasih,

    Salam,
    palembang
  126. From Mr.Nunusaku on 25 January 2008 17:59:22 WIB
    Saya setuju dengan kata Gus dur...

    Jangan jadikan Indonesia seperti Taliban...wah negara akan akan hancur...masakan kaum perempuan harus diatur oleh negara perpakian harus sopan...berarti pemerintah menentukan
    wanita harus memakai celana seperti apa...ini kan negara lucu. Jadi jangan salakan perempuan dong moral bangsa ini silelaki mengatakan: Jangan salah kami kalu kami melakukan perkosaan kepada perempuan...karena pakian mereka tidak senonoh. Berarti silelaki yang memandangnya moral dan nafsu tak terkontrol...berarti sifat lelaki itu seperti anjing moral mereka sudah rusak....mengapa salakan perempuan.

    Ini cara kita memandang dengan hati bersih atau kotor yang dikuasai iblis...moral lelaki Indonesia harus diterapy mas.
  127. From flypho3nix on 12 May 2008 11:14:22 WIB
    Semua ini hanyalah cara pemerintah mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah yg ada. Supaya untuk sementara masalah korupsi, kemiskinan dll diabaikan. jadi masyarakat indonesia jangan mau dialihkan perhatiannya selama berhari2 apalagi berminggu-minggu. Sebab ini bukan yg kali pertamax tp yg sudah berkali2. Banyakan mana coba pemakai internet di INDONESIA dibandingkan pengguna internet. Lebih baik gak ngenet daripada gak makan
  128. From ika on 19 May 2008 15:17:37 WIB
    saya benar-benar tertarik dengan semua komentar mengenai RUU APP ini. ramai sekali ya.

    Saya melihat ada beberapa pasal dari RUU APP ini yang membuat beberapa pertanyaan bagi diri saya sendiri yang mungkin dapat menjadi pertimbangan bagi para pembuat RUU ini.
    1. RUU ini banyak sekali melarang perbuatan yang menyangkut ciuman bibir. apakah berarti ciuman di leher atau di daerah lainnya yang tidak dilarang?
    2. pernyataan tentang \\\"barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase tersendiri yang Ietaknya jauh dari jangkauan anak-anak dan remaja berusia dibawah 18 (delapan betas) tahun\\\". coba dikira-kira dimana ya letaknya?hehehehhehe. lagipula kalo misalkan sudah jauh dan pada etalase tersendiri tapi anak itu membeli tetap diperbolehkan dunk?
    3.RUU ini juga memberikan pengecualian hanya pada pendidikan, kesehatan, budaya tertentu dan seni (dengan syrat-syarat dan batas tertentu...kaya provider HP aja). apakah ini berarti bahwa media tidak boleh sama sekali menampilkan pemerkosaan atau KDRT yang berhubungan dengan seks? Apakah RUU APP dapat menjamin bahwa moral seluruh masyarakat Indonesia akan berubah dan menjadi manusia-manusia yang berakhlak dan berbudi sehingga TIDAK AKAN melanggar RUU ini?

    Dulu salah seorang dosen saya berkomentar bahwa \\\"Negara yang mempunyai banyak peraturan berarti negara adalah negara dengan banyak pelanggaran\\\". RUU APP ini dapat dijadikan ukuran banyaknya kasus pemerkosaan, aborsi dan seks luar nikah yang terjadi di Indonesia sendiri. Banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak dapat mengatur nafsunya sendiri sehingga harus ada peraturan yang melarang.
    menurut Saya APP sendiri hanya dapat diberantas jika ada KESADARAN bukan PAKSAAN. Paksaan dapat membuahkan PEMBErONTAKAN. Pemberontakan berarti keadaan yang lebih buruk dari saat ini.

    dan, perempuan yang memakai rok yang panjangnya HANYA sampai dengkul atau di atas dengkul tidak berarti telanjang di depan umum. Saya juga tidak pernah membiarkan diri saya ditelanjangi di depan umum, walaupun tidak ada pengaturannya
    Menjadi model baju renang bukan berarti diperdagangkan.
    Tidak menyetujui RUU APP ini bukan berarti saya membiarkan anak-anak menonton film porno.

    thx
  129. From Padi on 03 July 2008 20:29:58 WIB
    RUU APP BUKAN untuk menyeragamkan budaya,
    BUKAN untuk menyeragamkan dalam berpakaian,
    BUKAN untuk memaksakan aturan suatu agama.
    RUU APP dapat mengangkat suatu kaum/suku yang masih berpakaian / pola hidup
    yang tertinggal, dan BUKAN untuk menangkapnya.
    Kenapa ?
    Karena mereka bukan dengan sengaja mempertontonkannya.
    Tapi ini merupakan tugas kita untuk menjadikan mereka
    lebih beradab dalam era globalisasi ini.

    RUU APP ini justru untuk mendefinisikan Pornografi dan Pornoaksi,
    karena TIDAK ADA satupun UU yang jelas mendefinisikan pornografi.
    RUU APP ini hanya meminta warga negaranya berpakaian secara sopan,
    TIDAK untuk memancing birahi lawan jenisnya (baik laki-laki dan perempuan),
    TIDAK ada pemaksaan untuk berpakaian model Islami/Arab/Taliban.
    RUU APP melindungi kaum perempuan Indonesia dari
    pihak-pihak yang justru merendahkan kaum perempuan
    dengan dijadikan objek yang laku dijual demi kaum laki-laki hidung belang.
    RUU APP melindungi moral anak-anak kita dari bahaya pornografi
    demi membangun masa depan bangsa dengan keilmuannya
    bukan dengan mempertontonkan tubuhnya atau bahkan melacurkan dirinya.

    Janganlah kalian EGOIS karena saat ini
    kalian dapat menikmati keindahan tubuh perempuan.
    Janganlah kalian EGOIS karena saat ini banyak job order
    untuk tampil dan terkenal dengan mempertontonkan tubuh kalian.
    Janganlah kalian mengeruk profit dari mempertontonkan tubuh perempuan
    yang justru menghinakan/merendahkan kaum perempuan.

    Lihatlah masa depan bangsa…
    lihatlah masa depan anak-anak bangsa yang masih lucu,
    lugu dan mereka sedang giat belajar.
    Jangan ganggu dan usik mereka oleh media pornografi.
    Jangan hinakan harga diri mereka karena
    ibunya/ayahnya mempertontonkan keindahan tubuhnya.


    Selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi !

    look at "http://ruuappri.blogsome.com/2006/03/01/"
  130. From siska on 24 September 2008 09:29:27 WIB
    Saya setuju kalo mau bikin aturan gt malah jgn tanggung2
    yang full gt, jd biar byk yg digantung deh itu anggota DPR yg bejat2
    Merumuskan UU jgn setengah2 gt,jd yg ketauan berporno ria dikerangkeng gt di tengah lapangan dicambuk 100 kali
    Pasti tuh yg byk ngalami mereka pejabat2 dan anggota DPR.
    Krn merekalah yg punya uang, korupsi diam2 selingkuh. sok suci bikin UU segala!!!
  131. From Satochid Sosrodiredjo on 24 September 2008 20:20:06 WIB
    Bung Wimar selamat malam,
    Bicara tentang UU APP sebenarnya tidak perlu , memangnya bangsa kita mau berbuat porno? Sebaiknya ditinjau ulang materi-materinya yang jelas-jelas menyimpang dan mengandung multi interpretasi seharusnya UU tsb dibuat tidak mengandung diskriminasi, paksaan, alat untuk memeras, alaat untuk sweeping dlsb.
    Umum sajalah, kan negara kita ada hukum yang sudah bisa mengatur tebtang itu juga kita malu apabila dikatakan bangsa yang porno. Wakil2 kita yang disono tuh di Senayan, menurut hemat kami sok pinter dan sok mewakili.
  132. From LC on 21 October 2008 23:17:33 WIB
    Daripada mengurusi moralitas dari penduduk yang terdiri dari ratusan juta nyawa dengan perbedaan kultur budaya yang luas, lebih baik mengurusi moral para pemimpin yang masih tergolong kecil dengan persamaan tujuan yang sama, yaitu mensejahterakan rakyat. RUU APP dicetuskan harus bertujuan untuk mensejahterakan rakyat, dan bukan untuk bersikap mendiskrimatifkan kaum perempuan. Seperti yang kita tahu perempuan itu cuma korban dari lelaki. Tapi karena adanya RUU APP ini terkesan para wanitalah penyebab adanya penyimpangan seksual didalam masyarakat. Rakyat itu tidak hanya terdiri dari kaum lelaki saja, namun juga wanita. Jadi, apakah RUU APP dicetuskan untuk mensejahterakan kaum lelaki saja ?, dengan mendiskriminatifkan kaum wanita ? Coba anda lihat dari moralitas wakil rakyat kita. Bukankah kita harus lebih concern ke arah sana ketimbang melihat pornografi dikaum wanita ? Apakah wakil rakyat tidak lebih \"porno\" dengan menelanjangi keuangan negara sendiri ? Patutkah mereka itu mengatur moralitas rakyat yang terdiri dari berbagai budaya yang berbeda ? Bukankah kita sebagai rakyat Indonesia harus memelihara budaya yang sudah terkenal hingga ratusan tahun lamanya ? Apakah semua itu harus musnah oleh orang-orang yang mem-porno-kan keuangan negara kita ? Coba kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.. adakah ada propaganda dibalik RUU APP ini ?
  133. From panky on 03 November 2008 00:36:18 WIB
    kayaknya juga percuma ya kalo baru ngomong sekarang, soalnya kan udah di sahkan kamis kemarin ya ? tapi ya daripada ga ngomong trus jadi penyakit, so mendingan ikutan ngomel aja deh.
    menurut saya, UU ini bagus sekali, dan kalo bisa harus di perluas lagi untuk pelaksanaan dan setiap hal yang terkait di dalamnya, so kita bakalan banyak ngeliat Sapi, Anjing, Kucing, dan sebagainya Pake celana, jaket or long dresss...Hahahahaha pasti lucu.... Sekarang negara ngatur moralitas, besok ngatur apalagi, trus siapa yang bakal ngatur negara ya ? Indonesia pnya UU perlindungan anak, pnya UU KDRT, trus Perlindungan Wanita, Trus sekarang punya pornografi. trus perlindungan wanita jadi basi ? perlindungan anak ( wanita ) di buang k tong sampah ? bikin UU kok substansi isinya sama, lha tiap bulan di bayar banyak ma rakyat kok ga bisa ngasilin hal yang baru.. aneh......Nyontek melulu!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! memang bener kayak yang udah ku baca di blog2 lain, bukan UU-nya di banyakin, tingkat pendidikan ma moral yang di kuatin biar ga nafsu liat paha ma pundak mulus. ntar alesan lagi, sekolah tu butuh duit banyak, negara sedang krisis, kita belum mampu ke sana, tapi yakinlah, kita pasti mampu..
    nah,yang kayak di atas tu, perlu di bikin UU, gimana caranya biar sekolah gratis or giman caranya bikin negara Indonesia Raya yang amat sangat kaya raya sekali ini ga melarat lagi..eh, kok malah mikir hal yang udah ada trus di ganti namanya.. mbok sing kreatif bos,bos....
    Namanya aja keren PANSUS, DEWAN, eh dituntut kreatif yang bener sesuai Job desk masing2 ae ga bisa.. kok cuma bisa kreatif kalo pengadaan dana likuiditas, or pengadaan mobil PMK, or suruh makelaran perkara atau bikin pabrik pelumas buat bikin orang2 bener kepleset jadi ga bener atau bikin serba serbi likaliku dana potongan administrasi...
    heran bener aku ini......
  134. From linda on 03 November 2008 01:29:45 WIB
    arie.... saya kagum dgn tulisan arie soal menolak uud porno yg kacau tersebut...menurut saya arie adalah seorang figur muslim moderat (sayangnya langka di negara kita ini)....kita sangat muak melihat uud ini disahkan..sudah ngelantur dan nampaknya unsur politis dibelakangnya,mungkin jelang pemilu,para partai takut nggak dipilih massa....... menilai sesuatu busana,gerakan dan suara adalah porno....siapa yg berhak menilai dan harus beracuan pada sudut pandang etnis dan suku mana dinegara kita yg majemuk dan pluralisme ini??dan harus dinilai dari sudut pandang agama mana yg dinilai paling sah,apakah agama buddha,kristen,hindu atau islam yg paling bener??? barometer apa yg paling pantas dipakai untuk menilai sebuah suara manja adalah porno,kasihan dong gadis gadis yg punya suara merdu ketika sedang manja menyiarkan suara radio ,lantas apakah studio radionya harus dobrak abrik karena para pendengar ekstrim menilai suaranya merangsang......kuping siapa yg paling berkwalitas dan suci ya dinegara kita ini... saya pribadi sangat prihatin melihat kualitas para anggota dewan kita yg terkesan takut sebuah * kekuatan dibelakangnya*.....ini sudah abad 21...gimana dgn wanita dan anak perempuan kita yg sedang berenang,apakah harus diseret oleh massa berjubah ini dan itu karena *mereka *menilai sexy dan bisa mengundang hawa nafsu kalau dipandang oleh*mereka para penilai suci*??gimana dgn mereka yg berkostum fitness centre dan balet??apakah para wanita di bumi pertiwi NKRI tercinta ini harus berbusana layaknya yg ditimur tengah baru dianggap suci??apakah barometernya agama tertentu dan wilayah dan nuansa tertentu disebuah belahan bumi ini? apakah kita semua juga rela mobil kita tanpa angin dan hujan harus digeledah oleh para oknum oknum yg religius yg sok suci ,mau punya vcd porno dimobil atau dirumah kita ,itu kan hak privasi kita selama nggak kita pamer pamerkan ke layar tancap di kelurahan tempat kita tinggal atau diputar putar di sekolah......betul nggak?? ngeri juga kita melihat rendahnya dan piciknya kwalitas pembuat keputusan uud porno ini...seolah olah sudah menutup hati nurani dan akal sehat dgn tidak mengacu ke dampak besar kehidupan sehari hari bangsa kita ini,apakah kita semua harus hidup dalam kecemasan tanpa batas dan merasa terbelenggu terus ketika hendak keluar rumah ?.....banyak negara maju didunia ini yg juga sadar bahwa banyak hal dikehidupan ini yg harus dibiarkan natural asalkan tidak keterluan seperti seks dijalanan atau sengaja mengeluarkan & mempertontonkan buah dadanya kepada pengemudi mobil yg lewat,itu baru salah dan keterluan dan tak bermoral kalau dilakukan di publik dan polisi wajar menangkapnya hidup hidup..... namun terlepas hal seperti diatas,apakah gerakan gerakan yg alamiah dalam dangdut atau disko seorang wanita harus kita belenggu kalau tidak keterlaluan??kalaupun dinilai gerakannya agak terkesan vulgar,kan masih bisa ditegur dan dihimbau agar mengurangi /menyesuaikan dgn tempat shownya.....karena pada hakekatnya wanita melakukan gerakan apa saja,tentunya merangsang kalau dipandang laki laki termasuk pembantu rumah tangga yg sedang membungkuk ketika menyuguhkan teh manis panas ke para tamu di meja.....apakah pembantu rumah tangga itu harus diseret ke lembaga pengadilan & lembaga pengadilan mana yg paling suci yg berhak menghakiminya dan dengan saksi paling suci dari pihak mana yg berhak mengadukan sang pembantu tersebut ?? kita sama sama sudah tidak tahu lagi kemana arah bangsa kita dgn keputusan yg begitu rapuh dan berdampak kepada kekacauan sosial dan bisa mengacu ke tindakan anarkis oleh mereka mereka pemuda pemuda /brandalan yg kurang kerjaan ataupun dari kalangan ekstrim yg bisa saja memanfaatkan uud ini untuk menghakimi wanita etnis apa saja dan dalam gaya apa saja ditengak tengah publik.....dibulan puasa kita sudah kerap melihat di siaran tv nasional beberapa warung yg walaupun sudah berusaha menutup jualannya dgn sehelai kain agar tidak kelihatan vulgar jualannya ,masih bisa diterjang suka suka ,penjualnya dipukul /dikeroyok dan warungnya dihancurkan oleh mereka mereka yg berdalih & berjubah agama ,lantas apakah dibulan ramadhan mereka mereka saudara kita yg miskin tidak boleh lagi mencari nafkah berjualan nasi diwarung mereka utk menghidupi keluarga mereka dgn cara halal???mau jadi apa negara kita ini kalau hal hal rasis & biadab demikian harus dibiarkan merajarela .... sungguh prihatin kita melihat semua ini dan sekarang ditambah lagi dgn uud porno yg kemungkinan akan semakin membuat *para hakim jalanan* akan semakin leluasa menyeret dan merazia privasi masyarakat .... kita hanya bisa berdoa sesuai kepercayaan masing masing saja semoga tidak keablasan kehidupan bangsa kita semuanya...
  135. From ahmad junaidi CSH(calon sarjana hukum) on 06 November 2008 09:58:28 WIB
    assalamu alaikum semuanya
    Menanggapi isu seperti ini saya sebenarnya merasa heran melihat masih ada warga indonesia yang TIDAK MENDUKUNG UU APP.
    saya merasa janggal masih ada warga indonesia yang rela generasi penerusnya rusak mentalnya, bobrok akhlaknya, dan jongkok imannya dengan menolak UU APP. Padahal telah diketahui bahwa dengan pengesahan UU tsb pemuda-pemudi bangsa ini dapat terhindari dari virus yang akan meruntuhkan bangsa ini kelak yaitu pornographi.
    Lihat saja para mahasiswa yang ada di daerah Jawa seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan masih banyaaaaak lainnya dimana mereka sudah melakukan hal-hal yang tidak senonoh seperti berhubungan layaknya suami isteri dengan pacarnya.
    Ini mahasiswa,saya ulangi mahasiswa yang akan menjadi ujung tombak negara indonesia ini.
    Nah kalo generasi dulu saja seperti generasi para pemimpin kita seperti Pak SBY, Pak Agung Laksono, Pak Amin Rais , Anggota DPR dll yang sangat bersih dari hal-hal yang berbau pornograpi (generasi tahun 1945-2000) masih terdapat penyimpangan yang sangat tidak wajar.
    Seperti kasus PERSELINGKUHAN ANGGOTA DPR DENGAN ARTIS PENYANYI DANGDUT YANG PASTI SUDAH ANDA KETAHUI SENDIRI.
    Ini merupakan salah satu contoh rusaknya mental beberapa pemimpin kita, dan masih banyak kasus yang terjadi di kalangan pemerintah, baik pusat maupun daerah.
    Saya katakan ini baru dari generasi yang terlindungi dan belum terkontaminasi dari hal-hal yang berbau pornographi.Masa yang belum dikenal adanya internet, pemakaian televisi masih sedikit.
    Bagaimana dengan masa kepemimpinan generasi sekarang pada masa yang akan datang???????????? Wah saya tidak jamin negara kita akan lebih baik dari masa sekarang ini, dan bisa saja negara ini akan runtuh disebabkan oleh pemimpin yang rusak akhlaknya.
    Sesungguhnya MANUSIA ITU MEMERLUKAN 3 HAL: ETIKA, LOGIKA, DAN ESTETIKA.
    INTINYA SAYA MENDUKUNG UU PORNOGRAPHI. SEKIAN DARI SAYA
    WASSALAM
  136. From D-vi on 19 November 2008 10:10:04 WIB
    SAya heran masih saja ada yang menyetujui ada APP? Saya tidak menyetujui APP bukan berarti saya mau telanjang di depan umum.Tapi karena APP bagaikan panci panas tanpa pegangan.Yang namanya moral bejat Porno dan mesum itu berlandaskan MORAL dan moral tidak bisa di dikte. App hanya akan menghasilkan eleminasi budaya kita. KEmben, tari jaipong, gambar2 relief candi yang merupakan budaya kita bisa menjadi sesuatu yang tabu untuk di sebar luaskan padahal budaya bangsa harus kita pelihara.

    Mungkin ada yang akan membaca post ini dan menolak pendapat saya...tapi rupanya banyak juga kan yang berikiran seperti ini..banyak juga yang tidak mengerti inti APP. Kalau memang mau mencegah perselingkuhan pejabat, PSK dan penyebaran VCD porno, tidak perlu buat UU APP tapi buat peraturan bagi orang yang ketahuan selingkuh,bersihkan daerah2 rawan PSK dan tebas importis VCD porno..cukup kan...

    UNTUK Apa ada simbol 17 atau 23 atau BO kalau ternyata UU APP membuat semua usia sama rata?

    Apa menjamin kalau semua serba tertutup dan sopan maka moral jadi baik? Contoh aja pejabat yang selingkuh depan publik jago ngomong sok nasionalis ternyata....?

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home