Articles

'Tips' untuk pewawancara radio

Perspektif Online
18 February 2006

Sepulangnya dari Miri, acara WW mengambil tempat di Lounge Trijaya FM, Gedung Bimantara lantai 2, Kebon Sirih Jakarta. Dengan staf yang terdiri atas ex-KBR 68H, ex Elshinta dan ex Trijaya sendiri, stasion ini berniat meningkatkan kualitas siaran dalam bidang wawancara, baik format maupun konten. Untuk keperluan ini, WW diminta berbagi cerita pengalaman sebagai Interviewer dalam menghadapi narasumber.

Acara Sabtu pagi tanggal 18 Februari ini digelar oleh Trijaya sebagai bahan masukan untuk para broadcaster, produser, dan Station Manager Trijaya dalam menghadapi narasumber dalam forum wawancara atau talkshow.

Kehadiran WW ditemani Wulan, disambut oleh Tias Anggoro [Station Manager Trijaya] dan Lia Christie [Announcer & Producer]. Tepat pukul 10.00 WW mulai bercerita pengalaman menjadi interviewer. Dihadiri oleh crew Trijaya yaitu ; Tias, Lia, Riri, Dodi, Chisya dan beberapa lainnya, WW bercerita pengalaman di dunia broadcasting yang ia geluti sejak 1993. Walaupun berlatar belakang bukan dari profesi broadcasting, performance dan skills WW dikenal baik dalam menghandle narasumber. "Baik atau buruknya suatu talkshow atau wawancara ditentukan oleh bagaimana si pewawancara membawa diri" begitu ungkap WW sebelum mulai wawancara.

Trijaya

Hal yang pertama ditekankan adalah bahwa interviewer harus menanggalkan ego waktu dia melakukan wawancara. Walaupun  broadcaster pasti orang yang ber-ego positif, tapi selama sekian menit wawancara, alihkan perhatian pendengar kepada tamu radio atau narasumber. Terus, kita sebagai interviewer harus menghidupkan perasaan senang atau paling tidak curious terhadap tamu. Orang pasti ada bagusnya ada jeleknya. Pada waktu kita mewawancara tamu, kita harus sensitif pada keduanya itu. Jadi kita bisa tonjolkan kelebihannya, dan bukan kelebihan pewawancara, yang harusnya bisa terdengar orang dengan sendirinya.

Senangilah tamunya, dan senangilah diri sendiri. Be happy with what you are dan jangan kedengaran frustrasi. Paling nggak enak kita mendengar pewawancara yang mengeluh. Selanjutnya kesenangan pada diri sendiri diterjemahkan menjadi pede, percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi narasumber. Siap dengan materi, siap dengan kepribadian tamu, pelajari kedua-duanya. Daftar pertanyaan yang disediakan oleh producer bukan syarat mutlak sebagai patokan seorang interviewer dalam menghadapi narsum di sebuah wawancara. Kita bisa membuat pertanyaan dengan improvisasi dan tidak begitu menyimpang. Itu adalah ciri wawancara yang baik. Daftar pertanyaan dapat dijadikan inspirasi yang dapat kita kembangkan. Yang penting wawancara mengalir, tidak macet pada satu titik.

Banyak pertanyaan yang muncul dari kru trijaya, misalnya bagaimana menghadapi narsum yang "agak jutek". WW biasanya menyiasati dengan personal approach, membuat narsum nyaman sebelum acara wawancara berlangsung. Diusahakan agar disaat wawancara berlangsung, ia tidak segan dan merasa sudah nyaman, tidak ragu dalam mengungkapkan, dan menjawab pertanyaan dari interviewer. Biarkan public yang menilai jutek atau tidaknya narsum, tugas interviewer adalah membuat acara tersebut berlangsung terus.

Ada lagi yang bertanya, apakah menurut WW, wawancara dengan lebih dari satu orang dapat menghasilkan suatu acara yang baik? Menurut WW, format yang terbaik adalah wawancara satu lawan satu. Cara ini dapat lebih menjamin fokus dalam memberikan pertanyaan dan menjawab.

Bagaimana bisa mengenal dan menemukan narasumber yang baik? Perluas pergaulan , kata WW, untuk menjadi seorang interviewer yang baik. Perluas pergaulan tidak hanya dalam lingkungan pekerjaan, bisa juga dari pergaulan biasa dan dunia web, misalnya blog, friendster, dan sebagainya. Tugas pewawancara adalah mengulik suatu informasi dari narsum tanpa harus membuat narsum merasa terdesak atau tidak nyaman atau bahkan marah. Hal ini juga dapat dibina dari karakter pribadi yang baik. "Positive thinking" begitulah singkatnya, salah satu tips agar dapat menjadi good interviewer, selain masih banyak lagi tips yang diberikan oleh WW. Pengembangan kemampuan wawancara tidak berbeda jauh dengan pengembangan pribadi pada umumnya.

Momen yang penting dalam suatu wawancara adalah saat akhirnya. Berhenti disaat wawancara memuncak, adalah cara yang efektif untuk menjaga minat pendengar. Dengan catatan ini, sharing session berakhir.

Print article only

13 Comments:

  1. From Doan Ilman on 19 February 2006 08:42:05 WIB
    Terimakasih atas entry tentang tips wawancara-nya...
  2. From andie r on 20 February 2006 14:34:23 WIB
    ilmu yang sangat penting untuk para interviewer yang trus mau blajar.
  3. From JaF on 21 February 2006 23:42:26 WIB
    Wah tipsnya menarik. Boleh di link ndak?

    ps: Tias Anggoro di Trijaya..? wah pindah bos?.....
  4. From wimar on 22 February 2006 05:44:34 WIB
    boleh sekali, terima kasih
  5. From tehkici on 22 February 2006 15:54:28 WIB
    betul .. WW paling enak bawa acara. pertanyaan2 nya up to date n selalu pas ..
  6. From tehmaniezangetz on 23 February 2006 09:12:48 WIB
    wah...bagus...tq banyak yaa oom....
    soalnya saya kemaren sempet BETE banget pas menginterview salah satu klien qta....
    soalnya kadang ada kendala2 teknis yang bisa mempengaruhi mood seseorang....
    Makasih yaa oom...
    oke saya link yaaa...

    salam dari medan.
  7. From aree(arie) on 05 April 2006 09:25:49 WIB
    wah makasih bgt ya oom bwt tips nya..saya jd bisa belajar byk dari pengalaman yg oom ksh..Oom saya tuh skrg ini pengen bgt jd seorang announcer yg byk disukai oleh pendengar jd saya blh minta tips2 yg laen ga biar cita2 saya ini kesampean??? maksih y...

    aree_awonkz
    -Bandung-
  8. From ABDILLAH.MS on 07 April 2006 00:32:07 WIB
    perkenalkan saya salahsatu yang paling sering menyimak program perspektif. yang dulunya kami dengar melalui salasatu radio afiliasi kantor berita radio 68h Jakrta, di kota Makasar dan saat ini tidak ada lagi.dan saya sekarang masih begelut di dunia radio swasta yakni PT. radio sentral ajattappareng kota Parepare sulawesi selatan. terus terang saya banyak belajar dari program siaran anda. boleh tidak kami boleh merilay salah satu program anda. saya juga sudah menghubungi alamt bagian program radio trijaya.Fm Jakarta tapi sangaat sulit untuk mendapatkan jawabanya. kami juga sulit mendengarkan siarannya melalui audio streaming. mohon petunjuknya terima kasi banyak
  9. From fajar on 19 April 2006 22:52:53 WIB
    halo...om... apa kabar ?...suatu kenangan yang tak terlupakan,untuk bisa mewancarai orang yang suka mewancarai siapa saja...saya sangat tertarik nih om...bisakan bertanya..? om...apa yang di sukai narasumber untuk diwawancarai?...soalnya saya takut om marah waktu saya wawancarai...bisa dong om kasih penjelesannya...om kapan lagi nih bisa ketemu...? om ada salam dari Ica...heheheh9x...salam 2 jari..peace

    Fajar, radio kampus EBS UNHAS fm
  10. From rena, radio kampus MaesTroGate fm UMI on 07 April 2007 23:42:41 WIB
    terimakasih om ww...kayaknya tips itu pas bgt buat`saya yagng kadang grogi kalo mau interview..
    omm.. ww kapan kita bisa ktemu yah??
    saya ingin minta pendapat om ttg eksistensi radio kampus di indonesia..
    hmm.. om wimar kok jrg lagi nongol di acara talkshow tv kemna??
  11. From youliz on 25 August 2007 14:10:38 WIB
    oke banget..mau sharing juga nih ww..
    paling sebel dengerin interviewer yang ngebanggain dirinya sendiri..pliiizzz..deeehhhh..hehehhe..
    salam dari radiorama-cirebon
  12. From lisa thema on 16 October 2008 15:26:30 WIB
    pengen tau tips wawancara yang baik, saya kerja di salah satu radio di kota palu...thanks!!!!
  13. From yoan on 04 January 2009 10:51:41 WIB
    thanks yah tipsx...

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home