Articles

Serba-Serbi Virus Corona


11 July 2020

 

Awal Peduli pada Bumi 
Kita memperingati Earth Day (Hari Bumi) setiap tahun pada 22 April. Kita tahu isinya, maknanya, tapi yang sebenarnya menarik adalah sejarahnya. 
Sejarahnya terjadi pada 1969. Amerika Serikat (AS) mendaratkan pesawat Explorer di bulan dengan astronotnya yang bernama Neil Armstrong. Ia melangkah ke luar pesawatnya di bulan dengan mengucapkan, “one small step for man, one giant leap for mankind.” Peristiwa itu adalah produk dari kebijakan AS mulai dari sejak pemerintahan Presiden Kennedy. Mereka melihat persaingan antariksa mulai menghangat dengan kemenangan Uni Soviet yang menjadi negara pertama meluncurkan satelit bernama Sputnik. Kemudian mereka mengejarnya dengan prestasi yang lebih besar, maka diajarkan program “Man to the Moon”. 
Begitulah kejadiannya pada 1969. Tetapi baru beberapa bulan kemudian orang-orang sadar dan sering mengirimkan foto dari bulan. Jadi pada 1970 orang mulai melihat foto bulan. Kita lihat foto-foto pertama menunjukkan bumi itu sebagai suatu globe atau bola dunia. Tetapi tidak seperti globe yang ada di sekolah atau toko yang ada gambar negara-negara dan nama kota. Globe ini hanya satu bola dunia dengan warna bercampur-campur. Warna biru paling besar proporsinya kemudian ada sedikit coklat dan ada awan di mana-mana. 
Jadi orang-orang melihat foto itu kagum sekali. Kita melihat sebuah bola dunia tergantung dalam kehampaan antariksa. Dari situ mulailah apresiasi yang melambung tinggi pada alam kita, bagaimana air bisa terkumpul di situ, terlihat iklim itu berbaur antara air dan udara, oksigen, dan awan-awan. Sehingga pada tahun itu juga di AS dibentuk  Environment Protection Agency (EPA). Kemudian juga dibentuk National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA (Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional) yaitu otoritas yang menyangkut lautan-lautan dan udara di dunia.
Orang baru sadar mengenai alamnya, dunianya, setelah melihatnya dari jauh. Kita memang perlu perspektif. Tapi Sampai sekarang pada setiap tahunnya selama lima puluh tahun orang teringat kembali akan alam, serta juga dibentuk gerakan dan organisasi untuk menjaga perubahan iklim dan alam. Jadi Hari Bumi adalah betul-betul hari yang menghargai dan mempelajari seluruh bumi. Ini sudah lima puluh tahun kita nantikan, lima puluh tahun yang kedua. 
-------
Peluang Calon Presiden AS
Bagi orang yang senang mengikuti cerita-cerita politik Amerika Serikat (AS), ini ada skenario baru yang menurut saya menarik. Persis sebelum meledak krisis COVID atau virus corona, Joe Biden sedang meluncur sangat pesat di dalam gelombang kemenangannya di tahap primary AS. Satu per satu wilayah pemilihan ia rebut mulai dari South Carolina kemudian Colorado, dan sebagainya. Sampai akhirnya sekarang dia boleh dibilang secara mutlak menguasai pasar pemilihan presiden AS dari Partai Demokrat. 
Bernie Sanders masih kuat dan punya banyak pengagumnya tetapi tidak cukup praktis untuk memenangkan suatu pemilihan umum mainstream. Jadi banyak yang meninggalkan Bernie terutama dari kaum moderat untuk membuat koalisi bersama Biden yang  menjadi sangat kuat. 
Sekarang Biden tinggal memilih calon wakil presiden sebab nominasi presidennya kira-kira dia akan raih tanpa banyak kesulitan. Ia tinggal milih calon wakil presiden. Setelah dia umumkan bahwa dia akan memilih wanita maka kemungkinan calon wakil presiden pilihannya mejadi sempit. 
Ada sembilan nama wanita di Partai Demokrat yang bisa dicalonkan. Calon-calon tersebut semuanya bagus. Namun pada saat ini yang orang-orang membayangkan bahwa yang memiliki kemungkinan tinggi adalah Kamala Harris, kemudian Amy Klobuchar, kemudian Elizabeth Warren, dan juga kemudian ada beberapa calon lagi.
Jadi dunia politik AS sekarang seakan-akan sudah di tangan Biden. Sementara Donald Trump tetap saja membuat-buat kesalahan apalagi menghadapi krisis COVID-19. Dia tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk berbohong, untuk menghina-hina lawannya, dan tidak ada usaha untuk merebut hati pemilih di luar basisnya. Jadi sementara basisnya masih kuat, tapi Trump tidak memperluas dukungannya. Kalau dia tetap pegang basisnya, Biden juga punya basis, maka ia jelas akan kalah. 
Dalam semua polling Biden memimpin sampai 9% terhadap Trump. Tapi orang-orang pendukung Trump, orang-orang Demokrat, orang-orang yang dukung Biden tidak sepenuhnya puas dengan pilihan Biden sebagai calon utama dari Partai Demokrat. Karena memang pilihan itu tidak menimbulkan inspirasi. Malah anehnya justru setelah mulai berkembang penanganan krisis virus Corona, dimana sebagaimana diprediksi, Trump tetap melakukan kesalahan-kesalahannya, tidak pegang kepemimpinan, tidak mengambil tindakan tegas, banyak bohong dan sebagainya tapi tetap saja ia (Biden) tidak bisa mengusai pasaran politik. 
Jadi sesungguhnya AS tidak punya calon presiden yang kuat. Trump sudah diperlemah apalagi kalau kita lihat dalam perkembangan Corona virus ini. Trump tidak akan punya kepemimpinan dan inisiatif  yang menarik bagi massa di luar basisnya. Sedangkan dari kaum Demokrat Biden tidak inspiring, tidak membuat orang semangat mendukungnya. 
Jadi sekarang ada pemikiran bahwa Demokrat membuang kesempatan kemungkinan menang. Dia menghadapi Trump yang tetap lemah, tapi dia tidak punya calon yang bisa mempersatukan semua Demokrat. Sampai ada ide memanggil Obama, meminta Obama meyakinkan Biden bahwa lebih baik Biden mundur. Soalnya kalau dia maju juga kekuatannya kurang untuk jadi presiden yang meyakinkan. Setelah Biden mundur lalu apa? Dia tunjuklah penggantinya di Partai Demokrat. Selama konvensi belum berjalan masih bisa dilakukan penggantian calon sampai saat terakhir. 
Jadi bukan Bernie Sanders dan bukan juga Joe Biden. Tapi kuda hitam itu dan sekarang yang muncul sebagai orang kuat dengan kepemimpinannya dan keren adalah Andrew Cuomo, Gubernur New York yang merupakan negara bagian terbesar dalam jatah kursi elektoral dan juga anak dari Mario Cuomo dan kakak dari Chris Cuomo. Ayah Gubernur Andrew Cuomo juga gubernur pada masanya dan juga calon presiden, tapi kalah dalam pesaingan dengan John Kerry dan Hillary Clinton. Tapi sebagai gubernur dia memiliki rekam jejak prima.
Kalau Demokrat memberikan dukungannya pada Cuomo, mereka boleh lupakan semua calon yang kemarin. Maksudnya boleh melupakan Biden, Sanders, dan tinggal tunjuk wakil. Ya, bisa yang disebut salah satu dari perempuan tadi atau lelaki juga bisa. Andrew Cuomo akan  menjadi presiden  yang  kuat. 
Ini menarik mengingat bahwa orang yang masih paling disegani, dihormati, didengar di Partai Demokrat adalah Barack Obama. Barack Obama tidak bisa menjadi presiden lagi. Tapi dia bisa jadi king maker dan memberikan pengaruhnya sehingga akan dipilih seorang calon di luar Biden yaitu Cuomo. Itu akan memenangkan Pilpres Amerika pada November 2020 dengan mutlak dan tamatlah riwayat Donald Trump.
Sudah beberapa bulan krisis COVID-19 mencekam seluruh dunia. Semua negara di seluruh dunia lepas dari tingkat kemakmuran, ideologi, semuanya merasa terancam. Dan kalau tadinya ada yang ragu-ragu atau yang kurang serius sekarang semua sudah serius termasuk Presiden Trump.
------
Kedisiplinan untuk Lawan COVID
Jadi tinggal sekarang apa hasilnya dari keseriusan itu. Tentu banyak tindakan yang terlambat sebetulnya karena kalau mau bersih dari awal seharusnya sudah ada langkah-langkah pengamanan COVID-19, yang kita tahu semua yaitu social distancing, jangan campur antara yang sakit dan tidak. Kemudian cuci tangan, makan sehat, dan sebagainya. 
Ada yang terlambat, jadi mengejar ketinggalan saja itu susah, seperti Italia. Kasihan juga sebenarnya. Negara yang sistem rumah sakitnya sangat baik, sistem sosial dari segi kaya-miskin juga tidak jelek, tapi disiplinnya yang kurang barangkali. Ini semua berdasarkan laporan.  Jadi Italia masuk ke dalam negara yang terburuk. Namun Italia yang tadinya prestasinya paling jelek sekarang sudah tersusul Spanyol, Spanyol tidak tahu kenapa tapi kira-kira sama. 
Jadi negara yang displinnya kuat dan datanya jelas maka kesehatannya kuat. Contohnya paling bagus yaitu Singapura karena kita tahu itu negara kecil, negara displin, dan negara yang serius. Taiwan juga sangat bagus. Di seluruh Taiwan, sampai saya rekam, saat ini hanya tiga korbannya. Padahal negara itu memiliki penduduk 20 juta-an. 
Kedua negara itu, baik Singapura dan Taiwan, masuk dalam wilayah tropis atau sub tropis. Sekarang yang sub tropis masuk dalam musim panas. Jadi mereka dibantu oleh faktor iklim.  Afrika juga, kecuali Afrika Selatan, tentunya masuk ke dalam iklim panas. Jadi untuk negara-negara itu keliatannya lebih baik. Indonesia juga lebih baik daripada negara maju di Eropa. 
Tinggal kita lihat pembuktian dari hipotesa. Semuanya adalah teori dan hipotesa. Tidak pernah ada pengalaman, tidak pernah ada pembuktian, dan kita masih menunggu bagaimana selanjutnya. Perbandingan dengan negara lain berguna tapi yang penting kita di Indonesia adalah mengambil jalan mana? Kalau sepintas lalu saya kira displin itu sudah cukup baik di Indonesia. 
Hanya memang aneh sekali ada perwira polisi di Jakarta membuat pesta perkawinan di hotel besar. Itu tidak masuk akal sama sekali. Lalu ada masyarakat di Jawa Tengah yang demo beramai-ramai memprotes pengebumian jasad korban penyakit Corona untuk dimakamkan di wilayahnya. Tapi protesnya dilakukan dalam jumlah puluhan, yang dalam pristiwa itu saja cukup untuk menciptakan penularan yang begitu ganas sebetulnya. 
Jadi banyak orang yang tidak mengerti. Ada banyak juga orang mengerti. Ujian kita berikutnya adalah menjelang hari raya Lebaran. Apakah orang serius untuk tidak mudik. Kita gembira bahwa pejabat negera semuanya serius dan menyeberang batas ideologis, menyeberang batas politik, tidak ada yang bilang bahwa ini akal-akalan politik. Semuanya merasa memang tidak bagus kalau mudik, tidak bagus kalau berkumpul di masjid atau geraja atau tempat umum. 
Jadi lumayan sudah ada harapan. Tinggal kita lihat apakah perilaku yang baik ini akan dapat imbalan dalam hasil yang lebih baik. Kita tunggu dan tidak lain harapan kita bahwa Indonesia itu unik, bahwa dengan semangat gotong royong, dengan kesederhanaannya, dan akhirnya keseriusannya, tidak lagi main-main dengan politik atau dengan kekuasaan, karena tidak ada yang menang dalam perang lawan virus ini kecuali virusnya itu sendiri. Kalau kita sebagai warga biasa, pejabat, pemimpin, kalau kita tidak serius maka kita yang akan mengalami akibatnya.

Oleh: Wimar Witoelar

 

 

Awal Peduli pada Bumi 

 

Kita memperingati Earth Day (Hari Bumi) setiap tahun pada 22 April. Kita tahu isinya, maknanya, tapi yang sebenarnya menarik adalah sejarahnya. 

 

Sejarahnya terjadi pada 1969. Amerika Serikat (AS) mendaratkan pesawat Explorer di bulan dengan astronotnya yang bernama Neil Armstrong. Ia melangkah ke luar pesawatnya di bulan dengan mengucapkan, “one small step for man, one giant leap for mankind.” Peristiwa itu adalah produk dari kebijakan AS mulai dari sejak pemerintahan Presiden Kennedy. Mereka melihat persaingan antariksa mulai menghangat dengan kemenangan Uni Soviet yang menjadi negara pertama meluncurkan satelit bernama Sputnik. Kemudian mereka mengejarnya dengan prestasi yang lebih besar, maka diajarkan program “Man to the Moon”. 

 

Begitulah kejadiannya pada 1969. Tetapi baru beberapa bulan kemudian orang-orang sadar dan sering mengirimkan foto dari bulan. Jadi pada 1970 orang mulai melihat foto bulan. Kita lihat foto-foto pertama menunjukkan bumi itu sebagai suatu globe atau bola dunia. Tetapi tidak seperti globe yang ada di sekolah atau toko yang ada gambar negara-negara dan nama kota. Globe ini hanya satu bola dunia dengan warna bercampur-campur. Warna biru paling besar proporsinya kemudian ada sedikit coklat dan ada awan di mana-mana. 

 

Jadi orang-orang melihat foto itu kagum sekali. Kita melihat sebuah bola dunia tergantung dalam kehampaan antariksa. Dari situ mulailah apresiasi yang melambung tinggi pada alam kita, bagaimana air bisa terkumpul di situ, terlihat iklim itu berbaur antara air dan udara, oksigen, dan awan-awan. Sehingga pada tahun itu juga di AS dibentuk  Environment Protection Agency (EPA). Kemudian juga dibentuk National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA (Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional) yaitu otoritas yang menyangkut lautan-lautan dan udara di dunia.

 

Orang baru sadar mengenai alamnya, dunianya, setelah melihatnya dari jauh. Kita memang perlu perspektif. Tapi Sampai sekarang pada setiap tahunnya selama lima puluh tahun orang teringat kembali akan alam, serta juga dibentuk gerakan dan organisasi untuk menjaga perubahan iklim dan alam. Jadi Hari Bumi adalah betul-betul hari yang menghargai dan mempelajari seluruh bumi. Ini sudah lima puluh tahun kita nantikan, lima puluh tahun yang kedua. 

 

 

Peluang Calon Presiden AS

 

Bagi orang yang senang mengikuti cerita-cerita politik Amerika Serikat (AS), ini ada skenario baru yang menurut saya menarik. Persis sebelum meledak krisis COVID atau virus corona, Joe Biden sedang meluncur sangat pesat di dalam gelombang kemenangannya di tahap primary AS. Satu per satu wilayah pemilihan ia rebut mulai dari South Carolina kemudian Colorado, dan sebagainya. Sampai akhirnya sekarang dia boleh dibilang secara mutlak menguasai pasar pemilihan presiden AS dari Partai Demokrat. 

 

Bernie Sanders masih kuat dan punya banyak pengagumnya tetapi tidak cukup praktis untuk memenangkan suatu pemilihan umum mainstream. Jadi banyak yang meninggalkan Bernie terutama dari kaum moderat untuk membuat koalisi bersama Biden yang  menjadi sangat kuat. 

 

Sekarang Biden tinggal memilih calon wakil presiden sebab nominasi presidennya kira-kira dia akan raih tanpa banyak kesulitan. Ia tinggal milih calon wakil presiden. Setelah dia umumkan bahwa dia akan memilih wanita maka kemungkinan calon wakil presiden pilihannya mejadi sempit. 

 

Ada sembilan nama wanita di Partai Demokrat yang bisa dicalonkan. Calon-calon tersebut semuanya bagus. Namun pada saat ini yang orang-orang membayangkan bahwa yang memiliki kemungkinan tinggi adalah Kamala Harris, kemudian Amy Klobuchar, kemudian Elizabeth Warren, dan juga kemudian ada beberapa calon lagi.

 

Jadi dunia politik AS sekarang seakan-akan sudah di tangan Biden. Sementara Donald Trump tetap saja membuat-buat kesalahan apalagi menghadapi krisis COVID-19. Dia tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk berbohong, untuk menghina-hina lawannya, dan tidak ada usaha untuk merebut hati pemilih di luar basisnya. Jadi sementara basisnya masih kuat, tapi Trump tidak memperluas dukungannya. Kalau dia tetap pegang basisnya, Biden juga punya basis, maka ia jelas akan kalah. 

 

Dalam semua polling Biden memimpin sampai 9% terhadap Trump. Tapi orang-orang pendukung Trump, orang-orang Demokrat, orang-orang yang dukung Biden tidak sepenuhnya puas dengan pilihan Biden sebagai calon utama dari Partai Demokrat. Karena memang pilihan itu tidak menimbulkan inspirasi. Malah anehnya justru setelah mulai berkembang penanganan krisis virus Corona, dimana sebagaimana diprediksi, Trump tetap melakukan kesalahan-kesalahannya, tidak pegang kepemimpinan, tidak mengambil tindakan tegas, banyak bohong dan sebagainya tapi tetap saja ia (Biden) tidak bisa mengusai pasaran politik. 

 

Jadi sesungguhnya AS tidak punya calon presiden yang kuat. Trump sudah diperlemah apalagi kalau kita lihat dalam perkembangan Corona virus ini. Trump tidak akan punya kepemimpinan dan inisiatif  yang menarik bagi massa di luar basisnya. Sedangkan dari kaum Demokrat Biden tidak inspiring, tidak membuat orang semangat mendukungnya. 

 

Jadi sekarang ada pemikiran bahwa Demokrat membuang kesempatan kemungkinan menang. Dia menghadapi Trump yang tetap lemah, tapi dia tidak punya calon yang bisa mempersatukan semua Demokrat. Sampai ada ide memanggil Obama, meminta Obama meyakinkan Biden bahwa lebih baik Biden mundur. Soalnya kalau dia maju juga kekuatannya kurang untuk jadi presiden yang meyakinkan. Setelah Biden mundur lalu apa? Dia tunjuklah penggantinya di Partai Demokrat. Selama konvensi belum berjalan masih bisa dilakukan penggantian calon sampai saat terakhir. 

 

Jadi bukan Bernie Sanders dan bukan juga Joe Biden. Tapi kuda hitam itu dan sekarang yang muncul sebagai orang kuat dengan kepemimpinannya dan keren adalah Andrew Cuomo, Gubernur New York yang merupakan negara bagian terbesar dalam jatah kursi elektoral dan juga anak dari Mario Cuomo dan kakak dari Chris Cuomo. Ayah Gubernur Andrew Cuomo juga gubernur pada masanya dan juga calon presiden, tapi kalah dalam pesaingan dengan John Kerry dan Hillary Clinton. Tapi sebagai gubernur dia memiliki rekam jejak prima.

 

Kalau Demokrat memberikan dukungannya pada Cuomo, mereka boleh lupakan semua calon yang kemarin. Maksudnya boleh melupakan Biden, Sanders, dan tinggal tunjuk wakil. Ya, bisa yang disebut salah satu dari perempuan tadi atau lelaki juga bisa. Andrew Cuomo akan  menjadi presiden  yang  kuat. 

 

Ini menarik mengingat bahwa orang yang masih paling disegani, dihormati, didengar di Partai Demokrat adalah Barack Obama. Barack Obama tidak bisa menjadi presiden lagi. Tapi dia bisa jadi king maker dan memberikan pengaruhnya sehingga akan dipilih seorang calon di luar Biden yaitu Cuomo. Itu akan memenangkan Pilpres Amerika pada November 2020 dengan mutlak dan tamatlah riwayat Donald Trump.

 

Sudah beberapa bulan krisis COVID-19 mencekam seluruh dunia. Semua negara di seluruh dunia lepas dari tingkat kemakmuran, ideologi, semuanya merasa terancam. Dan kalau tadinya ada yang ragu-ragu atau yang kurang serius sekarang semua sudah serius termasuk Presiden Trump.

 

 

Kedisiplinan untuk Lawan COVID

 

Jadi tinggal sekarang apa hasilnya dari keseriusan itu. Tentu banyak tindakan yang terlambat sebetulnya karena kalau mau bersih dari awal seharusnya sudah ada langkah-langkah pengamanan COVID-19, yang kita tahu semua yaitu social distancing, jangan campur antara yang sakit dan tidak. Kemudian cuci tangan, makan sehat, dan sebagainya. 

 

Ada yang terlambat, jadi mengejar ketinggalan saja itu susah, seperti Italia. Kasihan juga sebenarnya. Negara yang sistem rumah sakitnya sangat baik, sistem sosial dari segi kaya-miskin juga tidak jelek, tapi disiplinnya yang kurang barangkali. Ini semua berdasarkan laporan.  Jadi Italia masuk ke dalam negara yang terburuk. Namun Italia yang tadinya prestasinya paling jelek sekarang sudah tersusul Spanyol, Spanyol tidak tahu kenapa tapi kira-kira sama. 

 

Jadi negara yang displinnya kuat dan datanya jelas maka kesehatannya kuat. Contohnya paling bagus yaitu Singapura karena kita tahu itu negara kecil, negara displin, dan negara yang serius. Taiwan juga sangat bagus. Di seluruh Taiwan, sampai saya rekam, saat ini hanya tiga korbannya. Padahal negara itu memiliki penduduk 20 juta-an. 

 

Kedua negara itu, baik Singapura dan Taiwan, masuk dalam wilayah tropis atau sub tropis. Sekarang yang sub tropis masuk dalam musim panas. Jadi mereka dibantu oleh faktor iklim.  Afrika juga, kecuali Afrika Selatan, tentunya masuk ke dalam iklim panas. Jadi untuk negara-negara itu keliatannya lebih baik. Indonesia juga lebih baik daripada negara maju di Eropa. 

 

Tinggal kita lihat pembuktian dari hipotesa. Semuanya adalah teori dan hipotesa. Tidak pernah ada pengalaman, tidak pernah ada pembuktian, dan kita masih menunggu bagaimana selanjutnya. Perbandingan dengan negara lain berguna tapi yang penting kita di Indonesia adalah mengambil jalan mana? Kalau sepintas lalu saya kira displin itu sudah cukup baik di Indonesia. 

 

Hanya memang aneh sekali ada perwira polisi di Jakarta membuat pesta perkawinan di hotel besar. Itu tidak masuk akal sama sekali. Lalu ada masyarakat di Jawa Tengah yang demo beramai-ramai memprotes pengebumian jasad korban penyakit Corona untuk dimakamkan di wilayahnya. Tapi protesnya dilakukan dalam jumlah puluhan, yang dalam pristiwa itu saja cukup untuk menciptakan penularan yang begitu ganas sebetulnya. 

 

Jadi banyak orang yang tidak mengerti. Ada banyak juga orang mengerti. Ujian kita berikutnya adalah menjelang hari raya Lebaran. Apakah orang serius untuk tidak mudik. Kita gembira bahwa pejabat negera semuanya serius dan menyeberang batas ideologis, menyeberang batas politik, tidak ada yang bilang bahwa ini akal-akalan politik. Semuanya merasa memang tidak bagus kalau mudik, tidak bagus kalau berkumpul di masjid atau geraja atau tempat umum. 

 

Jadi lumayan sudah ada harapan. Tinggal kita lihat apakah perilaku yang baik ini akan dapat imbalan dalam hasil yang lebih baik. Kita tunggu dan tidak lain harapan kita bahwa Indonesia itu unik, bahwa dengan semangat gotong royong, dengan kesederhanaannya, dan akhirnya keseriusannya, tidak lagi main-main dengan politik atau dengan kekuasaan, karena tidak ada yang menang dalam perang lawan virus ini kecuali virusnya itu sendiri. Kalau kita sebagai warga biasa, pejabat, pemimpin, kalau kita tidak serius maka kita yang akan mengalami akibatnya.

 

Print article only

0 Comments:

« Home