Articles

Kemenangan Donald Trump dan Kelanjutannya

KOMPAS
21 November 2016

Kemenangan Donald Trump dan Kelanjutannya

Oleh: Wimar Witoelar

http://print.kompas.com/baca/opini/artikel/2016/11/22/Kemenangan-Donald-Trumpdan-Kelanjutannya  

Dunia dikejutkan oleh hasil pemilihan presiden Amerika Serikat. Bagaimana Donald Trump bisa menang? Ia menonjolkan karakter permusuhan atas dasar agama, etnis, asal negara, sifat-sifat yang sedang ditinggalkan si AS. Amerika modern bersifat pluralis, menerima semua agama termasuk orang Islam, semua keturunan etnis termasuk orang kuilit hitam, Hispanik, dan keturunan Asia.

Hillary Clinton yang mewakili nilai-nilai masa kini diperkirakan akan menang dengan tingkat probabilitas mutlak. Beberapa predikisi memperkirakan Clinton akan menang sampai 98%. Ternyata, ia dikalahkan mutlak dalam suara electoral. Sungguh mengherankan.

Tetapi sekarang, keheranan itu berangsur-angsur diganti  pengertian yang kontroversial. Orang mulai menyadari bahwa dibalik reformasi social, sebagian besar rakyat tidak bisa meninggalkan nilai-nilai lama. Mereka ingin kembali berkuasa dalam “ethnic state” yang berintikan oeang kulit putih keturunan Eropah, seperti disampaikan kolompok “Alt-Right,”

Ketika Donald Trump mengumumkan pencalonannya di tahun 2015, orang menganggapnya lelucon. Hampir semua yakin Donald Trump tidak mungkin bisa menjadi presiden karena latar belakangnya tidak cocok, cara bicaranya kasar, dengan perilaku sangat jauh dari sopan santun politik di Amerika.

Tapi Donald Trump memikat orang yang merasa tertinggal oleh kemajuan Amerika Serikat,  yang kurang berpendidikan dan tidak punya akses kepada elite oolitik. Mereka tersalurkan emosinya oleh Donald Trump yang berseru  “Let’s Make America Great Again”, mengembalikan versi mereka.

Ketidak puasan merajalela dengan hilangnya lapangan kerja di tambang batu bara, pabrik mobil, pabriik baja. West Virginia, Ohio, Michigan, Pennsylvania merasakan kesengsaraan, walaupun di sebagian AS maju dengan penguasaan teknologi tinggi dan globalisasi.

Sektor bisnis modern menjadi lahan subur bagi orang berpendidikan tinggi dan imigran dari Korea, Tiongkok, dan India. Teknologi informatika, energi baru, perdagangan internasional membuat orang kulit putih merasa tersisih. Jadi sifat Donald Trump yang menekan kaum minoritas, membuatnya simbol perlawanan terhadap elite yang meninggalkan mereka. Mereka merasa Amerika adalah milik mereka dan Donald Trump berpihak pada mereka. 

Tumbuhnya keresahan tidak terdeteksi alam pemantauan polling. Sepanjang masa kampanye, angka polling Hillary tidak pernah turun di bawah Donald Trump. Sedangkan keinginan untuk dibebaskan dari dominasi elit politik semakin kuat dibalik angka polling yang lemah. Waktu Pemilu, pendukung Trump muncul dan memilih dengan semangat. Kejutan muncul ketika Florida, North Carolina, Virgnia dimenangkan oleh Trump. Menyusul Pennsylvania, Ohio, Michigan, Wisconsin dimenangkan Trump, walaupun kalah dalam polling.

Hipotesa yang berkembang adalah bahwa Hillary sudah kalah sebelum kampanye karena ia tidak menghayati keresahan rakyat terhadap elite politik. Kalangan  yang tidak puas ini mau menerima Trump walaupun tidak konsisten, tidak benar, berperilaku buruk, menghina perempuan, merendahkan agama Islam dan keturunan lain. Clinton keliru dengan kampanye yang merendahkan Trump, karena Trump dijagokan sebagai pahlawan rakyat,

Sekarang Trump menyiapkan pemerintahannya. Satu demi satu dikumpuljkan orang pilihannya. Orang kuat Gedung Putih masa depan kelihatannya adalah Steve Bannon, pembela Ideologi Alt;Right. Orang yang pernah menyatakan niat merombak dasar politik Amerika Serikat.

Dari hari kehari kita menyaksikan penyusunan staf presiden, kabinet, dan kepala lembaga. Hasil akhirnya akan menentukan Amerika empat tahun selanjutnya, berdampak besar pada Indonesia. Dampaknya besar bagi seluruh dunia dengan penolakan bahaya perubahan iklim.

Namun ucapan Trump selama kampanye belum tentu terlaksana pada waktu memerintah. Trump terkenal inkonsisten dan tidak berpengalaman. Semua tergantung pada orang sekitarnya, yang akan menentukan karakter pemerintahan Trump.

Selauh ini pilihan Trump mengundang kontroversi. Steve Bannon yang disebut akan menjadi penasehat strategis utama adalah otak  golongan ekstrim kanan yang dikenal dengan Alternative Right, disingkat Alt-Right. Mereka membakar semangat nasionalisme kulit putih dengan kebencian terhadap etnis dan agama lain. Di tahap akhir kampanye, Steve Bannon diangkat menjadi CEO kampanye Trump dan mengatur ideologi kampanye dengan cermat.

Untuk jabatan Penasehat Keamanan, Trump memilih jendral (purn) Michael Flynn, militer sayap kanan yeng pernah diberhentikan Presiden Obama. Jaksa Agung  dipercayakan kepada Senator Jeff Sessions yang sangat keras melawan persamaan hak bagi orang kulit hitum selama puluhan tahun. Nama-nama ini memperkuat kekuatiran orang bahwa AS akan meninggalkan pluralisma dan kemanusiaan yang telah diperjuangkan bersama antara partai Republik dan partai Demokrat.

Tetapi ada titik terang dengan disebutnya Mitt Romney seabagai calon Menteri Luar Negeri. Romney, Calon Presiden Partai Republik tahun 2012 tidak akan gegabah mengubah pola aliansi dan perjanjian dagang yang kini mendukung kestabilan dunia. Romney diduga tidak akan meresahkan dunia dengan politik imigrasi yang keras,

AS mengharapkan kekuatan warga untuk mempertahankan keragaman dan kemanusiaan yang selama ini menjadi cirii Amerika yang dihormati dunia. Apakah rakyat bisa menyelamatkan Negara? Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa rakyat punya kekuatan mandiri untuk bangkit dari keterpurukan.

Print article only

0 Comments:

« Home