Articles

Badai Pasti Berlalu

Perspektif Online
08 February 2010

 

Badai Pasti Berlalu 
Oleh Wimar Witoelar
Dalam suatu posting di perspektif.net, Didiet Budi Adiputro menulis bahwa Indonesia sedang bersiap untuk menghadapi momen penting satu bulan mendatang. Bukan momen Pansus, bukan atraksi kerbau di bunderan HI atau demonstrasi ala bonek yang akhir–akhir ini marak terjadi. Tapi sesuatu yang jauh lebih penting dan akan berdampak besar bagi Indonesia, yaitu rencana kunjungan Presiden Barack Obama ke Jakarta Maret mendatang.
Kunjungan ini bukan hanya berarti untuk memuaskan rasa emosional karena masa lalu Obama yang pernah dilewati di Jakarta, tapi juga menyangkut masa depan politik luar negeri Indonesia, dan hubungan  bilateral dengan Amerika Serikat yang masih dianggap sebagai negara paling berpengaruh di dunia. Dalam acara Selamat Malam Nusantara di TVRI yang dipandu oleh Ansy Lema, Wimar Witoelar bersama Ketua Jurusan Hubungan Internasional UI DR. Hariyadi Wirawan berbagi perspektif mengenai hal ini. Indonesia menjadi negara yang penting bagi Amerika, bukan karena memiliki latar belakang historis dengan Obama, tapi seperti yang dikatakan oleh jurubicara Gedung Putih Robert Gibbs, Indonesia menjadi penting karena kini merupakan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Dimana demokrasi menjadi suatu budaya baru yang berkembang di  dalam masyarakat  mayoritas muslim yang  juga menjunjung pluralisme dan inlusivitas. Ini sebuah prestasi tersendiri, karena baru kali ini kita bisa berdiri sama tegak dengan Amerika.
Dengan modal itu, kita bisa memainkan posisi kita agar bisa terus bergerak maju terutama dalam kerjasama ekonomi, investasi dan juga transfer teknologi  dari negara sebesar Amerika. Apalagi kita juga sedang menghadapi tantangan perdagangan bebas China – ASEAN, sehingga peningkatan mutu produk dan daya saing mutlak diperlukan. Namun menurut Wimar, kesempatan untuk melakukan partnership dan transfer teknologi  ini bisa terganggu jika  sebagian masyarakat yang tidak mengerti persoalan dan elit politik yang punya kepentingan jangka pendek terus merongrong orang–orang bersih di pemerintah. Sehingga demokrasi  disalah artikan dengan menyerang orang yang ingin menegakkan pemerintahan bersih, lewat demonstrasi liar. “Kita harap ketika Obama datang demo-demo asalan sudah berlalu, sebab semua itu mengurangi makna demokrasi’, tambah juru bicara Presiden Wahid ini.
Hal lain yang menjadi penting untuk dilakukan adalah bagaimana para pemegang resources  ekonomi dalam negeri  seperti perusahaan–perusahaan besar bisa menerapkan good coorporate governance dengan konsisten. Seperti  taat membayar pajak, transparan,  dan  menghindari praktek kejahatan ekonomi lainnya. Karena kondisi politik dan ekonomi dalam negeri akan berpengaruh pada citra dan perjuangan diplomasi Indonesia di luar negeri.
Jika kita terus berkutat pada politik jangka pendek seperti Pansus, isu pemakzulan, dll, maka sulit buat kita untuk bisa maju. Karena menurut Hariyadi banyak agenda yang bisa diperjuangkan dengan kedatangan Obama ke Jakarta, antara lain bagaimana membuat Indonesia lebih berperan dalam G20 seperti negara berkembang lainnya semisal China, Brazil dan  India. Lebih baik Pansus bekerja merumuskan agenda yang lebih bermutu daripada menyidang semua pejabat seperti layaknya persidangan hukum.
Pandangan penulis politik muda Budi Didiet Adiputro ini sangat penting untuk disimak secara penting, bukan sebagai suatyu serangan terhadap pihak yang menyerang Sri Mulyani - Boediono - SBY, tapi sebagai peringatan bahwa kalau kita tidak berhenti cekcok, dunia akan melewati kita sekali lagi sebagaimana dia melewati kita di zaman megalomania Sukarno dan totaliterisme Suharto. Memang Indonesia negara yang kuat, tapi secara potensial, bukan secara wujud nyata. Tidak mustahil Indonesia bisa menjadi negara kuat, walaupun kini dalam keadaan paling rendah sejak reformasi dimulai. China kini menjadi keajaiban ekonomi dunia, setelah melampaui masa dimana tidak terbayang ada kehidupan ekonomi dalam bentuk selain komune yang tidak efisien kecuali sebagai sarana pengekangan politik. Rusia menuju kebangkitan kembali setelah melampaui seramnya komunisme Uni Sovyet, dan sama seramnya premanisme setelah Rusia men jadi negara sendiri. Penderitaan Indonesia yang kronis sebetulnya tidak seberapa dibandingkan dengan kesengsaraan yang dahulu menimpa China dan Rusia dan negara-negara lebih kecil seperti Albania, Myanmar dan Korea Utara. Apalagi kemampuan recovery Indonesia sangat kuat, mengingat kita memiliki manajemen ekonomi yang dikagumi dunia. Kalau sepakbola memiliki Cesc Fabregas pembagi bola terbaik di dunia, Indonesia memiliki Sri Mulyani Indrawati menteri keuangan terbaik sedunia. Jangan sampai Fabregas kembali ke Barcelona dan jangan sampai SMI kembali ke Salemba atau Depok.
Kelihatannya kekuatiran berhasilnya Golkar memkasakan kehendaknya semakin tipis, Secara internal mereka hampir pecah, hanya tertahan oleh 'miracle glue' yaitu uang Trilyunan yang sanggup dikerahkan. Tapi sekuat apapun ambisi politik dan kekuatan uang, kenyataan ekonomi dan perlunya tim ekonomi kelas dunia yang sekarang lebih kuat untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Jika terlihat demo yang semakin rendah selera dan serangan Pansus yang semakin irrasional, itu tanda keputus asaan seperti tendangan yang ditembakkan sembarangan dalam lima menit extra time dari satu team yang ketinggalan angka. Lain masalahnya PDIP, Jika PDIP bersikap kritis terhadap pemerintah maka itu wajar karena mereka partai oposisi. Dan dengan cara ini mereka bisa menjadi oposisi permanen. Disini banyak orang baik dan konsisten, walaupun ada juga politisi muda oportunis yang bosan kalah dan menyeberang ke NasDem.  
Badai pasti berlalu. Sorry bung Eros, tidak minta izin dulu. Tapi tidak ada ungkapan yang lebih tepat :). Secara dingin dan analitis, wartawan senior Metta Dharmasaputra memberikan ikhtisar mengenai habisnya peran Pansus. Inti permasalahan adalah banyaknya bolong dalam kerja Pansus yang hampir berakhir. Belum secuil pun bukti penyelewengan dana penyelamatan Century diperoleh. Dengan ucapan terima kasih pada Pak Metta, kita kutip inti analisa tajam yang berdasarkan data dan fakta.
Persoalannya, hingga kini belum secuil pun data meyakinkan dikantongi tim Pansus untuk bisa membuktikan adanya patgulipat di balik keputusan penyelamatan dan aliran dana Century. Di tengah kebuntuan Pansus, sebagian publik kini justru balik mempertanyakan niat sesungguhnya Pansus mengusut kasus ini. Hasrat menggebu dari anggota Dewan yang meminta Boediono dan Sri Mulyani non-aktif, hingga munculnya wacana pemakzulan, mengundang kecurigaan: jangan-jangan semua memang ditujukan semata untuk mendongkel Sri Mulyani dan Boediono.
Kecurigaan publik akan adanya politisasi kasus Century kian besar, setelah belakangan bermunculan pula fakta-fakta yang menunjukkan bahwa suara para politisi Senayan ternyata tak konsisten. Kini mereka lantang mengkritik alasan pemerintah menyelamatkan Century yang dinilainya terlalu mengada-ada. Kekhawatiran pemerintah akan dampak sistemik di tengah krisis global jika Century roboh, dipandang sebagai ketakutan di siang bolong. Fakta penting lain yang tak mungkin dipungkiri, DPR telah menerima Laporan Keuangan Tahunan Lembaga Penjaminan Simpanan tahun buku 2008 pada 28 April 2009. Laporan diserahkan kepada Ketua DPR, Ketua Komisi Keuangan dan Presiden. Laporan itu pun telah diaudit BPK dan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian. Di dalamnya tercantum penjelasan soal penyelamatan Century. Juga disebutkan bahwa hingga akhir 2008, dana penyelamatan yang sudah dikucurkan LPS Rp 4,9 triliun. Dalam hasil auditnya, BPK bahkan memberikan catatan bahwa hingga proses audit pada Maret 2009, dana penyelamatan sudah mencapai Rp 6,1 triliun.
Jika begitu, yang menjadi pertanyaan, kenapa kemudian baru pada Agustus 2009 para anggota Dewan tiba-tiba seperti tersambar geledek mendengar kucuran dana ke Century mencapai lebih dari Rp 6 triliun? Kenapa pula mereka berbalik mempertanyakan alasan penyelamatan bank itu? 
“Anda sendiri bisa menginterpretasikan semua ini,” kata Sri Mulyani.

 

 

Oleh Wimar Witoelar

Dalam suatu posting di perspektif.net, Didiet Budi Adiputro menulis bahwa Indonesia sedang bersiap untuk menghadapi momen penting satu bulan mendatang. Bukan momen Pansus, bukan atraksi kerbau di bunderan HI atau demonstrasi ala bonek yang akhir–akhir ini marak terjadi. Tapi sesuatu yang jauh lebih penting dan akan berdampak besar bagi Indonesia, yaitu rencana kunjungan Presiden Barack Obama ke Jakarta Maret mendatang.

Kunjungan ini bukan hanya berarti untuk memuaskan rasa emosional karena masa lalu Obama yang pernah dilewati di Jakarta, tapi juga menyangkut masa depan politik luar negeri Indonesia, dan hubungan  bilateral dengan Amerika Serikat yang masih dianggap sebagai negara paling berpengaruh di dunia. Dalam acara Selamat Malam Nusantara di TVRI yang dipandu oleh Ansy Lema, Wimar Witoelar bersama Ketua Jurusan Hubungan Internasional UI DR. Hariyadi Wirawan berbagi perspektif mengenai hal ini. Indonesia menjadi negara yang penting bagi Amerika, bukan karena memiliki latar belakang historis dengan Obama, tapi seperti yang dikatakan oleh jurubicara Gedung Putih Robert Gibbs, Indonesia menjadi penting karena kini merupakan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Dimana demokrasi menjadi suatu budaya baru yang berkembang di  dalam masyarakat  mayoritas muslim yang  juga menjunjung pluralisme dan inlusivitas. Ini sebuah prestasi tersendiri, karena baru kali ini kita bisa berdiri sama tegak dengan Amerika.

Dengan modal itu, kita bisa memainkan posisi kita agar bisa terus bergerak maju terutama dalam kerjasama ekonomi, investasi dan juga transfer teknologi  dari negara sebesar Amerika. Apalagi kita juga sedang menghadapi tantangan perdagangan bebas China – ASEAN, sehingga peningkatan mutu produk dan daya saing mutlak diperlukan. Namun menurut Wimar, kesempatan untuk melakukan partnership dan transfer teknologi  ini bisa terganggu jika  sebagian masyarakat yang tidak mengerti persoalan dan elit politik yang punya kepentingan jangka pendek terus merongrong orang–orang bersih di pemerintah. Sehingga demokrasi  disalah artikan dengan menyerang orang yang ingin menegakkan pemerintahan bersih, lewat demonstrasi liar. “Kita harap ketika Obama datang demo-demo asalan sudah berlalu, sebab semua itu mengurangi makna demokrasi’, tambah juru bicara Presiden Wahid ini.

Hal lain yang menjadi penting untuk dilakukan adalah bagaimana para pemegang resources  ekonomi dalam negeri  seperti perusahaan–perusahaan besar bisa menerapkan good coorporate governance dengan konsisten. Seperti  taat membayar pajak, transparan,  dan  menghindari praktek kejahatan ekonomi lainnya. Karena kondisi politik dan ekonomi dalam negeri akan berpengaruh pada citra dan perjuangan diplomasi Indonesia di luar negeri.

Jika kita terus berkutat pada politik jangka pendek seperti Pansus, isu pemakzulan, dll, maka sulit buat kita untuk bisa maju. Karena menurut Hariyadi banyak agenda yang bisa diperjuangkan dengan kedatangan Obama ke Jakarta, antara lain bagaimana membuat Indonesia lebih berperan dalam G20 seperti negara berkembang lainnya semisal China, Brazil dan  India. Lebih baik Pansus bekerja merumuskan agenda yang lebih bermutu daripada menyidang semua pejabat seperti layaknya persidangan hukum.

Pandangan penulis politik muda Budi Didiet Adiputro ini sangat penting untuk disimak secara penting, bukan sebagai suatyu serangan terhadap pihak yang menyerang Sri Mulyani - Boediono - SBY, tapi sebagai peringatan bahwa kalau kita tidak berhenti cekcok, dunia akan melewati kita sekali lagi sebagaimana dia melewati kita di zaman megalomania Sukarno dan totaliterisme Suharto. Memang Indonesia negara yang kuat, tapi secara potensial, bukan secara wujud nyata. Tidak mustahil Indonesia bisa menjadi negara kuat, walaupun kini dalam keadaan paling rendah sejak reformasi dimulai. China kini menjadi keajaiban ekonomi dunia, setelah melampaui masa dimana tidak terbayang ada kehidupan ekonomi dalam bentuk selain komune yang tidak efisien kecuali sebagai sarana pengekangan politik. Rusia menuju kebangkitan kembali setelah melampaui seramnya komunisme Uni Sovyet, dan sama seramnya premanisme setelah Rusia men jadi negara sendiri. Penderitaan Indonesia yang kronis sebetulnya tidak seberapa dibandingkan dengan kesengsaraan yang dahulu menimpa China dan Rusia dan negara-negara lebih kecil seperti Albania, Myanmar dan Korea Utara. Apalagi kemampuan recovery Indonesia sangat kuat, mengingat kita memiliki manajemen ekonomi yang dikagumi dunia. Kalau sepakbola memiliki Cesc Fabregas pembagi bola terbaik di dunia, Indonesia memiliki Sri Mulyani Indrawati menteri keuangan terbaik sedunia. Jangan sampai Fabregas kembali ke Barcelona dan jangan sampai SMI kembali ke Salemba atau Depok.

Kelihatannya kekuatiran berhasilnya Golkar memkasakan kehendaknya semakin tipis, Secara internal mereka hampir pecah, hanya tertahan oleh 'miracle glue' yaitu uang Trilyunan yang sanggup dikerahkan. Tapi sekuat apapun ambisi politik dan kekuatan uang, kenyataan ekonomi dan perlunya tim ekonomi kelas dunia yang sekarang lebih kuat untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Jika terlihat demo yang semakin rendah selera dan serangan Pansus yang semakin irrasional, itu tanda keputus asaan seperti tendangan yang ditembakkan sembarangan dalam lima menit extra time dari satu team yang ketinggalan angka. Lain masalahnya PDIP, Jika PDIP bersikap kritis terhadap pemerintah maka itu wajar karena mereka partai oposisi. Dan dengan cara ini mereka bisa menjadi oposisi permanen. Disini banyak orang baik dan konsisten, walaupun ada juga politisi muda oportunis yang bosan kalah dan menyeberang ke NasDem.  

Badai pasti berlalu. Sorry bung Eros, tidak minta izin dulu. Tapi tidak ada ungkapan yang lebih tepat :). Secara dingin dan analitis, wartawan senior Metta Dharmasaputra memberikan ikhtisar mengenai habisnya peran Pansus. Inti permasalahan adalah banyaknya bolong dalam kerja Pansus yang hampir berakhir. Belum secuil pun bukti penyelewengan dana penyelamatan Century diperoleh. Dengan ucapan terima kasih pada Pak Metta, kita kutip inti analisa tajam yang berdasarkan data dan fakta.

Persoalannya, hingga kini belum secuil pun data meyakinkan dikantongi tim Pansus untuk bisa membuktikan adanya patgulipat di balik keputusan penyelamatan dan aliran dana Century. Di tengah kebuntuan Pansus, sebagian publik kini justru balik mempertanyakan niat sesungguhnya Pansus mengusut kasus ini. Hasrat menggebu dari anggota Dewan yang meminta Boediono dan Sri Mulyani non-aktif, hingga munculnya wacana pemakzulan, mengundang kecurigaan: jangan-jangan semua memang ditujukan semata untuk mendongkel Sri Mulyani dan Boediono.

Kecurigaan publik akan adanya politisasi kasus Century kian besar, setelah belakangan bermunculan pula fakta-fakta yang menunjukkan bahwa suara para politisi Senayan ternyata tak konsisten. Kini mereka lantang mengkritik alasan pemerintah menyelamatkan Century yang dinilainya terlalu mengada-ada. Kekhawatiran pemerintah akan dampak sistemik di tengah krisis global jika Century roboh, dipandang sebagai ketakutan di siang bolong. Fakta penting lain yang tak mungkin dipungkiri, DPR telah menerima Laporan Keuangan Tahunan Lembaga Penjaminan Simpanan tahun buku 2008 pada 28 April 2009. Laporan diserahkan kepada Ketua DPR, Ketua Komisi Keuangan dan Presiden. Laporan itu pun telah diaudit BPK dan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian. Di dalamnya tercantum penjelasan soal penyelamatan Century. Juga disebutkan bahwa hingga akhir 2008, dana penyelamatan yang sudah dikucurkan LPS Rp 4,9 triliun. Dalam hasil auditnya, BPK bahkan memberikan catatan bahwa hingga proses audit pada Maret 2009, dana penyelamatan sudah mencapai Rp 6,1 triliun.

Jika begitu, yang menjadi pertanyaan, kenapa kemudian baru pada Agustus 2009 para anggota Dewan tiba-tiba seperti tersambar geledek mendengar kucuran dana ke Century mencapai lebih dari Rp 6 triliun? Kenapa pula mereka berbalik mempertanyakan alasan penyelamatan bank itu? 

“Anda sendiri bisa menginterpretasikan semua ini,” kata Sri Mulyani.

 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/302951/34/

 

 

 

Print article only

21 Comments:

  1. From norik on 08 February 2010 08:57:28 WIB
    Indonesia dianggap cukup mewarnai Obama sebagai Presiden dalam kebijakan luar negerinya karena beliau mempunyai pengalaman sebagai student di sekolah Indonesia. Diharapkan Obama bisa menggandeng Indonesia untuk menjadi pemain penting dalam pergaulan internasional.

    Masalah jangka pendek seperti Pansus kan sudah akan diserahkan kepada KPK, sehingga diharapkan pula mereka akan fokus pada unsur Pidana bukannya politik lagi. Tapi jangan lupa bahwa KPK pun bisa saja salah dalam membuat keputusan karena ilmu hukum adalah ilmu sosial yang interpretasinya bisa berbeda2.
  2. From Arief on 08 February 2010 08:57:42 WIB
    "Badai Pasti Berlalu" sebab politisasi kasus Century hanyalah "Sebuah Ilusi" oleh segelintir oknum dengan "Sepotong Hati Tua" yang membusuk kronis.
    Data-data tidak akurat dipakai 'tuk memanipulasi opini masyarakat menuju "Fatamorgana" belaka.
    Rakyat tidak bodoh, tahu persis agen-agen kejahatan bersenjatakan "Sembilu Bermata Dua" melakukan politisasi pansus untuk kepentingan pribadi setelah "Dipalu Kecewa dan Putus Asa": cari selamat setelah melakukan serangkaian tindakan keji KKN.
    "Seribu Tahun Kumenanti" sosok-sosok penuh Integritas yang senantiasa dilindungi Sang Khalik, penerus Ibu Kartini dan Bung Hatta : Sungguh "Namamu Terukir di Hatiku".
    Wassalam.
    Ref: http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_T
  3. From fajar on 08 February 2010 11:21:42 WIB
    kalo misalnya tejadi lagi krisis global lanjutan seperti kemarin gimana ya?

    kemungkinannya sangat besar lho..

    ihsg siap2 rontok dan rupiah anjlok..
  4. From Martinus Nugroho on 08 February 2010 15:44:59 WIB
    Saya sih masih kuatir banyak orang "di luar sana" sudah nggak bisa lagi diajak mikir jernih, walaupun fakta-fakta miring seputar Pansus sudah makin banyak dibuka. Saya melihat peranan media luar biasa dahsyat dalam urusan penggiringan opini jahat ke alamat SMI selama ini.

    Saya tak begitu yakin, apakah citra busuk itu bisa secepat ini dibalikkan? Mudah-mudahan saya keliru.
  5. From uban nugroho on 08 February 2010 22:34:50 WIB
    Sepertinya ada yang salah tangkap ttg pendapatGus Dur. Terus terang saya 'agak curiga' ketika Alm. Gus Dur mempersilahkan Pansus Century jalan terus. Jangan-jangan Gus Dur pingin membuka hati rakyat Indonesia untuk melihat anggota DPR kalau lagi sidang itu kayak apa? Jalan yang dibuka Gus Dur bukan berarti membela Pansus tapi membela hak rakyat, hai rakyat itu lho wakilmu kalau lagi sidang seperti itu.
    Ketika permasalahan intinya, Century mau di Bailout atau ditutup ? Pilih mana dulu, yang fair ah. Baru ee ... kalau ditutup siapa yang curang ya. E.. kalau dibailout siapa yang nyurinya.
    Kalau pilihannya benar, ucapin terima kasih dulu dong. Baru kita bahas kembang-kembang permasalahannya. Aneh .. kalau kita bahas permasalahan koq pejabat pada menghindar dengan jawaban lupa, begitu bahayanya kalau pengambil kebijakan sering lupa. Tapi begitu dibahas keberhasilan, nih dadaku.
  6. From Andika on 09 February 2010 00:19:39 WIB
    SAYA BENAR-BENAR TAKUT KALAU SMI DAN BDN BENAR2 DITURUNKAN OLEH PARA POLITISI .......

    NEGARA INI BISA HANCUR
  7. From Ari on 09 February 2010 07:49:31 WIB
    saya hanya melihat kebusukan yang disembunyikan.
    Kalau untuk ngasi tau siapa yang ngelola duit 6,7 M.Gampang kok.semua bisa dilacak..

    Liatin aja siapa yang ngelola duit itu ke Rakyat semuanya .kemana aliran dananya..

    Terus, masalah Barack Obama. Tetap kita harus fokus pada hubungan bilateral yang menguntungkan tapi jangan merugikan. Dan tolong media jangan diperbesar2, kek orang kampung aja. Ada orang kota datang, terus diperbesar2 .."woi barack Obama datang",
  8. From Sunu Gunarto on 09 February 2010 09:40:22 WIB
    Inilah kekuatan media masa. Menggiring opini masyarakat ke opini yang dikehendaki pemilik media itu. Seolah negeri ini adanya hanya kekerasan melulu. Demo yang rusuh, eksekusi pengadilan yang rusuh, pilkada yang rusuh. Berita yang bagus porsinya sangat kecil. Atau berita yang bagus dianggap bukan berita (?). Tentu tujuannya untuk memberi citra bahwa pemerintahan saat gagal memakmurkan rakyat, gagal melindungi rakyat dari rasa aman dll. Kejernihan hati dalam menyimak berita media masa, perlu kita upayakan agar tidak tersesat.....

    (http://formulabisnis.com/?id=sunu_g)
  9. From PLeRZ on 09 February 2010 11:57:04 WIB
    Saya masih tetap berharap bahwa pansus terus bekerja agar mampu membuka aliran dana. Biar terang benderang. Bukan dengan tujuan menurunkan SMI, karena beliau orang bener yang dicekoki data yang salah. Sama seperti peran habibie yang dikritik SMI waktu reformasi. SMI ini orang yang jago menganalisa data, tetapi inputan datanya salah. Jadi hasil akhirnya salah. Teknik berhitungnya benar hanya nilai datanya yang salah. Kesalahan bukan pada yang menganalisa, tapi kita mau tau siapa yang memanipulasi data dengan tujuan apa ?. Cara yang paling gampang adalah dengan mencari siapa yang diuntungkan. Konsisten aja terus kalau perlu pakai kacamata kuda buat cari duit ini ngalirnya kemana.

    Saya kurang setuju kalau Laporan Keuangan Tahunan Lembaga Penjaminan Simpanan tahun buku 2008 pada 28 April 2009 dijadikan kata putus untuk menyatakan masalah selesai. Terlalu mengambang, gak jelas , gak to the point. Itu ibarat menyelesaikan proses hukum sebelum diadili. ( Tapi Kita tidak mengadili orang perorang tetapi mengadili SISTEM KEBIJAKAN PUBLIK. Untuk diambil hikmahnya. Supaya ada referensi untuk kasus serupa.) Lupakan menurunkan SMI kalau ternyata uangnya gak mengalir ke dia. Fokus aja sama aliran dana.

    Sampai saat ini hal hal yang masih belum terjawab oleh saya dari kerja PANSUS adalah :

    1. \"Alasan\" Dana BUMN di parkir di CENTURY sebelum ada kegiatan bail out century. Aliran Cash in dan Cash Out nya perlu di cek PPATK

    2. Setelah century dikucuri dana bail out uangnya kemana aja ?

    Ada modus seperti ini :

    BUMN --> Parkir dana di Century --> Uangnya dipecah pecah menjadi dibawah satu milyar, lantas masuk ke parpol. Ngak ke detect ama KPU karena sumbangan dibawah 1 milyar. Nah tuh uang BUMN ( atau uang Pengusaha swasta yang dibujuk untuk taruh di century ) abis dah.

    Lantas uang BUMN ini sejatinya kan harus tetap utuh, caranya di design tentang kejatuhan Century supaya di bail out. Uang bail out ini yang nantinya buat balikin dana dana parkiran yang sudah kepake tadi.

    Ketika masalah terbesar untuk menutupi hal diatas adalah SMI ( selain JK ) , maka SMI dimasuki data 632 M ( Pokoknya gimana caranya Bailout dulu deh ). Baru setelah SMI teken , lantas lah muncul data data bodong sampai 6.7 T.

    Terlalu dini bicara Turunkan SMI dan makzulkan si lebay. Tolong bantu saya juga cek dong, yang ribut soal turunkan SMI dan makzulkan si lebay itu mereka yang di PANSUS atau pembela SMI dan si lebay sih ?

    KPK kapan nech turun tangan ?, karena kalo PANSUS yang ngecek selalu diartikan Kepentingan Politik. Saatnya Opung Tumpak yang sama sama kita percayai turun.

  10. From NIzar G Bunyamin on 09 February 2010 13:46:04 WIB
    Damage has been done, kinerja demarketing dari politisi orang-orang yang dirugikan SMI, kelihatanya berhasil, 66.5% Responden LSI percaya kalau bail out bank century adalah kesalahan.

    http://www.lsi.or.id/riset/382/Evaluasi Kinerja 100 SBY-Boediono

    Inilah jeleknya kebiasaan orang-orang baik, dari tahun 1997 selalu mengabaikan usaha-usaha demarketing lawan.
  11. From benny m on 09 February 2010 13:57:51 WIB
    beginilah susahnya menjadi pejabat negara yg jujur...karena para tikus pastinya ga akan rela ladangnya di basmi...
  12. From Akbar Haryono on 09 February 2010 15:24:34 WIB
    Pertanyaannya adalah akankah kita melakukan kesalahan konstitusional kedua setelah gus dur(alm). Adalah suatu kebanggan luar biasa bagaimana smi dan boed(setahu saya) yang non partisan bisa berada ditempatnya sekarang. sehingga pansus ini hanyalah keirian belaka pada kekuasaan. Untuk masa sekarang ini sangat baik kiranya bila di DEP KEU BUKAN DARI ORANG POLITIK.
  13. From rully on 12 February 2010 07:47:33 WIB
    my thinking sih targetnya memang memenangkan oposisi untuk menggantikan no.1 dengan memperlemah orang terkuat mereka yang notabene bukan pengurus atau anggota partai politik, seperti kue yang seharusnya ada dilingkaran mereka kok diberikan ke pihak lain. dan jika benar terjadi reshuffle, saya kira bukan SM&B yang akan hilang dari kabinet ini, namun mereka yang menjadi oposisi dan oposisi kagetan juga akan terkena dampaknya seperti HR.
    politik memang selalu memberikan pelajaran setiap moment, dan seharusnya keberadaan mereka dipertegas kembali, lihatlah bunyi sumpah pengangkatan mereka, sebagai legislatif, eksekutif atau yudikatif?
    dan jika memang KPK akan memainkan bola yang dilemparkan oleh pansus, maka sebaiknya di operkan dulu ke BPK yang memberikan kriteria Laporan Keuangan Tahunan Lembaga Penjaminan Simpanan tahun buku 2008 pada 28 April 2009 adalah Wajar Tanpa Pengecualian. tidak wajar jika BPK mengajukan keberatan atas bail-out tersebut, sebenarnya pihak mana yang mesti diaudit kebenarannya? data mana yang harus diaudit seharusnya? dan siapakah yang pantas mengerjakan hal tersebut? negara telah memberikan kewajiban kepada para auditor ini, namun kalau hasilnya justru meresahkan, membingungkan masyarakat bahkan DPR terbawa... apakah hal ini masuk dalam kategori merugikan keuangan negara?
    menurut saya yang awam ini, Bank Indonesia sesuai UU Bank Indonesia yang telah di sahkan oleh DPR dan Presiden, memberikan indepedensi untuk melakukan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pemerintah dan pihak lainnya dan juga melakukan pengawasan bank sebelum dibentuk lembaga pengawas jasa keuangan yang selambat-lambatnya 31 desember 2010, maka jika memang ada permasalahan bank indonesia didalam melakukan tugasnya, maka selesaikanlah dengan jalur hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, karena hal tersebut membuktikan bahwa pembuatan UU dan dengan disahkan UU tersebut dapat berjalan dengan sesungguhnya sesuai dengan mereka yang men-sahkan.
    \"let we live in peace, eventhought we dunno each other\"
  14. From tugimin on 12 February 2010 10:58:54 WIB
    @ no 12:
    Definisi partisan kiranya perlu diperjelas.
    Yg dijelaskan oleh alm GUSDUR adalah bahwa keduanya aktivis IMF. Namun sejauh Beliau2 membangun negeri ini, kiranya ok2 saja.

    @ no 9 :
    anda benar, pabrik mie secanggih apapun, ga akan pernah bikin mie yg tip-top, kalo tepungnya berkutu....
    Kita semua ingin pejabat2 publik tsb tetap me-manage bidangnya. Tapi janganlah berharap untuk bertindak sak enak wudhel nya. Jadi memang rakyat perlu penjelasan, duitnya kemanaaaa....???

    Jg sampe kayak lawyer, maju tak gentar membela yg bayar...
  15. From agus on 14 February 2010 13:56:44 WIB
    jadi intinya gimna pak. diserahkan sja pada tuhan pak. namanya juga politik ;)
  16. From Andre on 15 February 2010 01:00:21 WIB
    terkadang saya sulit sekali menemukan secercah harapan terhadap para politisi secara umum, karena secara umum saya tidak bisa berharap banyak pada mereka.
    jika di fisika ada hukum tentang energi potensial, salah satunya Ep=m*g*h (massa * gravitasi * tinggi), apakah bangsa ini perlu jatuh dulu agar energi potensialnya bisa keluar dan menjadi energi kinetik?
    untung masih ada piringan film "life is beautiful" yang bisa saya tonton sepulang kerja, dan siapa tahu bulan depan rekan nonton saya bernama Obama.
  17. From Sakti on 15 February 2010 11:06:00 WIB
    Dari awal saya melihat gelagat pansus ini bukan untuk mengungkap kebenaran. Tetapi memaksakan, mencari-cari bukti, bagaimana caranya agar SMI dan Budiono itu salah. Karena menurut saya 2 orang ini adalah motor dan ujung tombak kekuatan ekonomi pemeritah sekarang dan menjadi target untuk menggoyang pemerintahan.

    Salam kenal om wimar.. btw, it's nice to read your tweets too.. :)
  18. From wimar on 15 February 2010 11:09:21 WIB
    halo @sakti, thanks. ajak tweeps itu kesini :)
  19. From kurniawan on 15 February 2010 12:33:24 WIB
    Om ww, salam kenal !
    agak berat saya mencerna kata2x om ww yang detail dalam membahas suatu masalah,
    yang mau saya komentari adalah
    1. kedatangan presiden obama tak lepas dari sekedar kunjungan luar negri biasa, saya sendiri merasa biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangannya, yang saya herankan masyarakat kita yang terlalu \\\"wah\\\" dalam mempersiapkan segala sesuatu buat presiden obama. kebanggan memang ada, tapi yang saya pertanyakan masih banyak masalah2x lain yang perlu dituntaskan selain menyambut kedatangan presiden obama.
    2. masalah pansus, saya dah merasa bosan melihat rapat2x yang diselenggarakan tim pansus, menurut saya sih jika masih ada kepentingan politik di dalamnya ibarat minyak dan air yang tak akan pernah menyatu menjadi satu. Terpecah menjadi 2 kubu dan sama2x ngotot, apa mereka tak malu di lihat ma jutaan warga yang hampir tiap hari di siarkan di tv? .
  20. From ottonas on 24 February 2010 09:54:49 WIB
    Hukuman politik dari rakyat:
    Berikut saya hanya ingin mengingatkan kepada parpol terutama yang di pansus beberpa hal yang mungkin mereka lupakan.
    Turunnya perolehan suara PAN setelah Rakyat mengetahui sepak terjang Amien Rais dalam menurunkan Gus Dur dan juga menggagalkan Megawati menjadi presiden, dan juga pada saat Amien rais mencalonkan diri jadi presiden pun suara yang diperoleh sangatlah buruk dan tidak sesuai Claimnya sebagai bapak Refromasi.Dan ini perkiraan saya untuk pemilu 2014. PDIP akan ditinggalkan pemilihnya,PKS juga akan ditinggalkan sebagian besar pemilihnya termasuk GOLKAR yang pasti akan terpuruk perolehan suaranya berapa besarpun Pak ICAL mengucurkan dana untuk mengangkat namanya. Hal ini terjadi karena sepak terjang anggota mereka di pansus yang masuk dalam TEAM 9 . Ini adalah pengamatan saya sebagai masyarakat biasa karena sebenarnya SILENT VOTERS sudah memiliki dan mennetukan pilihannya berdasarkan Personal Observation dan dari pengamatan saya RAKYAT (Mayoritas )paling tidak suka dengan politis yang tidak sopan dan selalu menjelekan orang lain dan hanya dirinyalah yang paling Benar sebagai data tambahan adlah Mengapa PDIP menang di pemilu 1999 sederhana karena rakyat membeli Mega yang terzalimi Orde Baru, Mengapa SBY menang dalam Pemilu satau alsannya nya adalah Karena SBY dizalimi oleh MEGA ( PDIP ) di kabinet, Mengapa JK tidak menang Pemilu 2009 karena rakyat melihat JK ( pengikut JK ) yang mengaku ngaku keberhasilan pemerintah karena Dia dan JK berani melawan pemimpinnya.
    Jadi saya berani bertaruh akan hal ini kalau saja Pak Wimar menyimpan tulisan ini sd 2014.
    Rakyat memilih dengan sangat sederhana, mereka menyenangi orang yang penuh sopan santun dan Berwibawa, Mereka akan meninggalkan orang orang yang suka berteriak teriak .
    Kecuali memang PDIP, PKS, GOLKAR hanya berharap suara dari LSM LSM yang merasa paling benar seperti sekarang yang suka berteriak dan berkata Kotor, memaki maki orang lain dengan gambar, foto dan penghinaan.

    Tunggu hukuman rakyat.....( Mayoritas )
  21. From john hutagalung on 23 March 2010 04:28:26 WIB
    \"Badai Pasti Berlalu\"..slogan yg terlalu indah menurut saya kalau saya perhatikan, karena yg terjadi dari jaman turunnya rezim sebelunya sampai saat ini adalah yg lebih baik adalah \"masuk mulut macan,kluar mulut harimau\". Mengapa demikian? karena percuma kita perdebatkan permasalahan yg ada bilama semua hanyalah cerita yg berakhir \"NOL\" seperti biasanya tanpa ada reaksi atupun perbuatan untuk negara yg kita cintai ini. Sementara politisi (maaf om wimar) berpantun panjang dan lebar tanpa ada bukti dan meninggalkan belang ataupun gading dari hasil perbuatan terbaik untuk bangsa ini.

    jujur terus terang sy pribadi sangat kecewa melihat perkembangan bangsa yg sy lihat dari mata saya sebagai rakyat bahwa bangsa ini adalah bangsa yg \"TERTATIH2 MENUNGGU AJAL\" walau sering politisi kita berkumur2 bahwa \"bangsa ini sebagai bangsa yg besar (besar bagi mereka yg buta melihat disekeliling mereka)\"

    jadi apalah arti pemikiran politisi yg anda bicarakan diatas dibandingkan nasib rakyat2 ini? lebih pentingkah?
    hanya 2 hal yg dapat merubah bangsa ini lebih baik om wimar,yaitu \"perbaiki roda hukum yg benar dan sebenar2nya agar prekonomian didalam negara ini pulih dan lebih baik lagi! dan bila itupun tidak dapat dijalankan..jadikanlah hutan kota menjadi pemakaman khusus yg dipintu depan makam tersebut tertulis :
    \"MAKAM KHUSUS BAGI KORUPTOR NEGARA INDONESIA\"

    terimakasih Om wimar dan maaf bila ada yg tersinggung.

    B\'Regard

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home