Articles

Harus Bisa!! Kabinet SBY-2 @ Wimar Live

Perspektif Online
13 October 2009

youtube 1: http://www.youtube.com/watch?v=kRGMfyHJPJE

youtube 2:: http://www.youtube.com/watch?v=s1ADlLi1_6k


Seorang penonton acara 'Wimar Live' memberikan komentar di facebook:  ‘SBY  jelas harusnya lebih leluasa memilih menteri yang profesional dan bersih. Pemilihan Wapres yang non-partisan terbukti hanya mengundang polemik sekilas. Indonesia’s  next destination, World Stage ...  Yes we can,  fellow Indonesians!' Nick Simz, begitu nama facebook rekan kita itu, menangkap esensi wawancara dengan Syamsudin Haris Selasa malam 13 Oktober 2998 di Metro TV pada acara 'Wimar Live'. Mengapa bisa timbul komentar demikian mewakili sekian banyak suara yang berharap prestasi nyata dari kabinet SBY-Boediono atau SBY-2?
Pada awal wawancara 'Wimar Live' ini dikemukakan bahwa sementara masyarakat menunggu dan berspekulasi mengenai kabinet SBY-Boediono dan sejauh mana akan diakomodasikan partai politik, kita mendengar berita  yang mengejutkan dari dunia luar.  Berita ini disampaikan Santoso dari Green Radio dalam suatu artikel di Tempo Interaktif. Kabarnya, sebuah riset dari lembaga survei Syvonate menyebutkan, 15 persen masyarakat Asia berharap kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menangani perubahan iklim di dunia. SBY menempati urutan kedua di antara pemimpin dunia. Ia hanya kalah pamor dibanding Barack Obama. Riset yang didukung organisasi lingkungan seperti WWF dan Greenpe ace itu menunjukkan besarnya harapan orang pada peran SBY--suatu hal yang tentunya menggembirakan. Ini adalah kesempatan emas untuk turut mempertahankan bumi, supaya tetap layak huni buat manusia. 
Agak janggal bahwa pada ambang kesempatan historis bagi Indonesia, parpol masih mempersoalkan jatah kursi tanpa membahas substansi permasalahan. Partai tertentu mengajukan 17 calon untuk kabinet yang berskala 34an menteri, jelas tanpa fokus pada isi pekerjaan, melainkan pada bagi kekuasaan saja.  Syamsuddin Haris mengemukakan  bahwa akomodasi politik tidak perlu terbatas pada pembagian kursi kabinet, tapi tetap saja politisi menganggap kursi menteri adalah imbalan untuk dukungan politik. Tidak ada yang mau jadi oposisi, dengan 92% kursi DPR berkeinginan jadi mitra SBY.
Inti  dari pandangan Syamsudin Haris adalah bahwa kabinet SBY-2 harus menjadi alat kerja Presiden, melaksanakan secara teknis mandat yang telah diberikan kepada SBY secara meyakinkan dalam Pemilu. Selanjutnya  Syamsudin Haris mengemukakan hal yang sangat penting, yaitu mengenai penguatan posisi Presiden dalam menjalankan pemerintahan secara efektif. 
Ia mengemukakan bahwa Presiden tidak perlu tergantung pada para Menteri saja untuk dukungan yang professional.  Dalam kata-kata Syamsuddin Haris sendiri, '  Penting sekali dibangun kantor kepresidenan dengan seorang kepala staf yang bertanggung jawab pada Presiden dan membawahi ahli-ahli.’
Syamsudin menjelaskan hubungan kantor kepresidenan dengan kabinet. Singkatnya, Kepala Staf Kantor Kepresidenan  mengkoordinasikan semua bahan yang dibutuhkan Presiden untuk mengambil keputusan. Kabinet atau Departemen mengimplementasikan secara teknis. Tapi dampak domestik dan global suatu keputusan, itu dibahas oleh kantor kepresidenan yang merupakan think tank. Satu hal lagi, kantor kepresidenan yang melapor langsung kepada Presiden tidak perlu terlibat dalam gangguan politik, dan orang-orangnya bisa direkrut dari para ahli yang setia pada Negara dan Presiden terpilih, tanpa loyalitas ganda.
Pandangan Syamsudin Haris bisa dipelajari lebih lanjut di http://syamsuddinharis.wordpress.com/

 

Seorang penonton acara 'Wimar Live' memberikan komentar di facebook:  ‘SBY  jelas harusnya lebih leluasa memilih menteri yang profesional dan bersih. Pemilihan Wapres yang non-partisan terbukti hanya mengundang polemik sekilas. Indonesia’s  next destination, World Stage ...  Yes we can,  fellow Indonesians!' Nick Simz, begitu nama facebook rekan kita itu, menangkap esensi wawancara dengan Syamsudin Haris Selasa malam 13 Oktober 2998 di Metro TV pada acara 'Wimar Live'. Mengapa bisa timbul komentar demikian mewakili sekian banyak suara yang berharap prestasi nyata dari kabinet SBY-Boediono atau SBY-2?


Pada awal wawancara 'Wimar Live' ini dikemukakan bahwa sementara masyarakat menunggu dan berspekulasi mengenai kabinet SBY-Boediono dan sejauh mana akan diakomodasikan partai politik, kita mendengar berita  yang mengejutkan dari dunia luar.  Berita ini disampaikan Santoso dari Green Radio dalam suatu artikel di Tempo Interaktif. Kabarnya, sebuah riset dari lembaga survei Syvonate menyebutkan, 15 persen masyarakat Asia berharap kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menangani perubahan iklim di dunia. SBY menempati urutan kedua di antara pemimpin dunia. Ia hanya kalah pamor dibanding Barack Obama. Riset yang didukung organisasi lingkungan seperti WWF dan Greenpeace itu menunjukkan besarnya harapan orang pada peran SBY--suatu hal yang tentunya menggembirakan. Ini adalah kesempatan emas untuk turut mempertahankan bumi, supaya tetap layak huni buat manusia. 

Agak janggal bahwa pada ambang kesempatan historis bagi Indonesia, parpol masih mempersoalkan jatah kursi tanpa membahas substansi permasalahan. Partai tertentu mengajukan 17 calon untuk kabinet yang berskala 34an menteri, jelas tanpa fokus pada isi pekerjaan, melainkan pada bagi kekuasaan saja.  Syamsuddin Haris mengemukakan  bahwa akomodasi politik tidak perlu terbatas pada pembagian kursi kabinet, tapi tetap saja politisi menganggap kursi menteri adalah imbalan untuk dukungan politik. Tidak ada yang mau jadi oposisi, dengan 92% kursi DPR berkeinginan jadi mitra SBY.

Inti  dari pandangan Syamsudin Haris adalah bahwa kabinet SBY-2 harus menjadi alat kerja Presiden, melaksanakan secara teknis mandat yang telah diberikan kepada SBY secara meyakinkan dalam Pemilu. Selanjutnya  Syamsudin Haris mengemukakan hal yang sangat penting, yaitu mengenai penguatan posisi Presiden dalam menjalankan pemerintahan secara efektif. 

Ia mengemukakan bahwa Presiden tidak perlu tergantung pada para Menteri saja untuk dukungan yang professional.  Dalam kata-kata Syamsuddin Haris sendiri, '  Penting sekali dibangun kantor kepresidenan dengan seorang kepala staf yang bertanggung jawab pada Presiden dan membawahi ahli-ahli.’

Syamsudin menjelaskan hubungan kantor kepresidenan dengan kabinet. Singkatnya, Kepala Staf Kantor Kepresidenan  mengkoordinasikan semua bahan yang dibutuhkan Presiden untuk mengambil keputusan. Kabinet atau Departemen mengimplementasikan secara teknis. Tapi dampak domestik dan global suatu keputusan, itu dibahas oleh kantor kepresidenan yang merupakan think tank. Satu hal lagi, kantor kepresidenan yang melapor langsung kepada Presiden tidak perlu terlibat dalam gangguan politik, dan orang-orangnya bisa direkrut dari para ahli yang setia pada Negara dan Presiden terpilih, tanpa loyalitas ganda.

Apakah bisa? Harus bisa!! 

Pandangan Syamsudin Haris bisa dipelajari lebih lanjut di blog Analisis Syamsuddin Haris  

Print article only

9 Comments:

  1. From fajar on 14 October 2009 11:01:11 WIB
    salam kenal..
    smoga jadi lebih baik
  2. From Hendro Susilo Irawan on 14 October 2009 13:02:56 WIB
    Salam..
    yang penting dalam kabinet adalah adalah... 1. Track Record Manusia yang akan menduduki jabatanya.. 2. Prestasi & hasil kerja positif yang sudah di hasilkan. 3. Kemampuan dan pengetahuan politik yang dalam. 4. seorang praktisi dan ahli dibidangnya. 5. Pengambil kebijakan yang berani.
    Kepentingan politik oleh partai tidak bisa dihindari.. yang jelas Loyalitas kepada Masyarakat, Bangsa & Negara harus menjadi yang Utama bukan sebagai alternatif atau pilihan.
    salam
  3. From Sunu Gunarto on 14 October 2009 18:41:49 WIB
    Kriteria apapun atau bagimanapun menteri yang akan dipilih pak SBY nanti yang penting hasil karyanya bisa memakmurkan rakyat dan syukur Presiden bisa berperan di percaturan politik dunia. Amin.

    (http://formulabisnis.com/?id=sunu_g)
  4. From febs on 15 October 2009 09:37:01 WIB
    ........Singkatnya, Kepala Staf Kantor Kepresidenan mengkoordinasikan semua bahan yang dibutuhkan Presiden untuk mengambil keputusan. Kabinet atau Departemen mengimplementasikan secara teknis........ itu dibahas oleh kantor kepresidenan yang merupakan think tank.................

    bagus jg tp sulit terwujud di masa SBY, krn setiap dept sdh ada think tank-nya yg disebut Staf Ahli, setiap Gubernur punya staf ahli, begitu juga dgn bupati (mungkin ini wajib jadi sasaran reformasi birokrasi!!), SBY mau ZakenKabinet yg Artinya kalo bisa semua menteri org yg Hebat & Jawara dibidangnya, jadi persepsi presiden masukan dr menteri sudah cukup.

    Dan yg terpenting & maha penting, permasalahan di Indonesia selalu Pada Implementasi Program, kalo dalam sepak bola disebut dgn kurangnya Jendral Lapangan, tapi juga masalah ini diselesaikan dgn menempatkan Jendral Tentara dlm setiap penyelesaian seperti jaman ORBA.

    Kesimpulan:
    Reformasi birokrasi, buat struktur dept. & lembaga pemerintahan Lebih Ramping, mungkin staf ahli yg "nganggur & potensial (merasa potensial)" bisa disatukan dlm satu lembaga apa saja namanya.

    Reformasi birokrasi, mulai dilakukan "Merger&Acquisition" pd kementerian yg ada, apa yg hrs dilebur, apa yg hrs dipertahankan, otomatis pemilihan karakter Menteri penting, Menteri yg dept.nya akan dilebur hrs mempunyai kemampuan men-drive dan menahan gejolak resistensi atas kebijakan ini.

    tapi ini semua sama spt pendapat dr syamsudin haris, hanya wacana saja, ra' dilakoni ra' popo ;))
    Tks
  5. From Mundhori on 15 October 2009 10:04:49 WIB
    Dinamika politik negeri ini mbingungi. Bentuk pemerintahan presidential. Tapi logika rekuritmen menteri semi parlementer. Pola pikir itu didasari atas kondisi perpolitikan yg culas. Partai politik masih belum ngeh sebenarnya apa sih demokrasi, yg hakekatnya focus pada kepentingan rakyat. Tapi di kita masih licik pikir utk kepentingan sendiri. Sehingga terciptalah pola perpolitikan tumpang tindih yg membingungkan sendiri. Kalau semua kemampuan, strategi dan gerak politik ditujukan kepada kepetingan bangsa (rakyat), perkembangan politik kita akan lebih maju dan moderat. Dan dampaknya rakyat akan punya kepercayaan pada parpol Yg akibatnya cita cita bangsa atas kesejahteraan umum cepat tercapai. Namun kita masih punya keyakinan, bahwa SBY akan mampu menyusun cabinet yang masih (walau belum full) komit pd kepentingan bangsa, demi cita cita bangsa Indonesia.
  6. From rangga aditya on 15 October 2009 12:55:30 WIB
    Yah semoga bukan karena untuk kepentingan beberapa partai koalisi semata yg dipilih jadi menteri. Saya kuatir sekali.... Apa lagi ada kabar yang santer beredar bahwa puan maharani akan jadi menteri! what?? Ayo SBY, ingat bahwa bapak dipilih jadi presiden oleh rakyat loh. Jadi ya kalau kinerjanya bener, orang-orangnya (bawahan) bener (tidak korupsi) niscaya tidak butuh tuh \"bagi-bagi kue\".
  7. From fadil on 16 October 2009 17:54:12 WIB
    Adanya institusi baru bernama Kantor Kepresidenan seperti di atas malah akan membuat efektivitas pemerintahan berkurang. Bagaimana jadinya kalau setiap permasalahan yang sudah dibahas atau diperdebatkan di rapat kabinet tapi tidak bisa segera diambil keputusan karena harus menunggu bahasan lembaga think tank seperti Kantor Kepresidenan itu?

    Poaisi Presiden dalam pemerintahan dan juga koordinasi antar departemen dan lembaga pemerintahan memang harus terus diperkuat. Ini bisa dicapai salah satunya dengan memperkuat lembaga Kementerian Sekretaris Negara (termasuk mengambil alih tugas Sekretaris Kabinet, alias cukup dijabat oleh 1 orang saja).
  8. From Mundhori on 17 October 2009 08:17:11 WIB
    Dinamika politik negeri ini mbingungi. Bentuk pemerintahan presidential. Tapi logika rekuritmen menteri semi parlementer. Pola pikir itu didasari atas kondisi perpolitikan yg culas. Partai politik masih belum ngeh sebenarnya apa sih demokrasi, yg hakekatnya focus pada kepentingan rakyat. Tapi di kita masih licik pikir utk kepentingan sendiri. Sehingga terciptalah pola perpolitikan tumpang tindih yg membingungkan sendiri. Kalau semua kemampuan, strategi dan gerak politik ditujukan kepada kepetingan bangsa (rakyat), perkembangan politik kita akan lebih maju dan moderat. Dan dampaknya rakyat akan punya kepercayaan pada parpol Yg akibatnya cita cita bangsa atas kesejahteraan umum cepat tercapai. Kabinet yang dibutuhkan adalah cabinet kompetensi dg platform dan program yg telah dideklarasikan dlm kampanye . Menteri menteri harus punya kompetensi dan komitmen tinggi terhadap masalah yang dihadapi. Krisis perekonomian harus segera diatasi yang antara lain mengurangi pengangguran, peningkatan pendapatan rakyat kecil, sehingga kemiskinan dapat dikurangi. Perbaikan hutan tropis yg dampaknya terjadinya berbagai bencana alam, pemberantasn korupsi utk menyelamatkan uang Negara. Penegakan hokum yg tegas sehingga masyarakat memperoleh keadilan. Namun kita masih punya keyakinan, bahwa SBY akan mampu menyusun cabinet yang masih (walau belum full) komit pd kepentingan bangsa, demi cita cita bangsa Indonesia
  9. From Sugiarno on 25 October 2009 23:16:35 WIB
    Hmm, masih mendekati sepakat...

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home