Articles

Kematangan Demokrasi Kita Mengawal Pilpres Berpilihan Tajam

SINDO
28 June 2009

 

Kematangan Demokrasi Kita Mengawal Pilpres Berpilihan Tajam
Saturday, 27 June 2009
Saat penting dalam perjalanan Pilpres 2009 adalah ketika SBY dan JK berseloroh soal lagu Indomie,dilanjutkan apakah mereka makan gandum saja atau campur macam-macam?
Walaupun Mega hanya senyumsenyum saja,ketiganya menunjukkan semangat demokrasi yang sehat. Lain halnya kalau ketiga cawapres berada dalam situasi yang sama. Karena dua di antara tiga menyimpan beban pengalaman yang berat, sejarah yang seram. Lupakan sementara ancaman kembalinya kekerasan dan kesewenangan, pilpres akan berlangsung dan berkesudahan tenang, tidak seperti pemilu di Iran.
Juga bisa diharapkan demokrasi kita makin lama makin kuat, menghindari ambruk seperti di Thailand.Kemajuan ini tidak bisa dijadikan klaim salah satu tokoh, sebab ini adalah hasil kolektif seluruh masyarakat, termasuk yang ngomel-ngomel tentang demokrasi. Sebab,demokrasi memang memberikan ruang untuk mengeluh, hanya tidak boleh dikuasai orang yang memaksakan keinginan. 
Orang perlu membedakan antara memaksakan keinginan dengan menyatakan harapan. Kalau pendukung Barcelona menyatakan mereka akan mengalahkan telak Manchester United,itu tidak melanggar peraturan sepak bola. Baru kalau mereka menyuap wasit, harus diberlakukan sangsi pada yang merusak permainan indah ini. Begitu juga dalam demokrasi, proyeksi, prediksi, dan harapan terhadap hasil pemilihan itu sah, malah bagus supaya orang bersemangat memilih. 
Kampanye satu putaran pun dikecam sebagai pembodohan terhadap rakyat, tidak demokratis, bahkan disebut sebagai teror politik. Istilah yang sangat dramatis. Mungkin kata-kata ini kurang nyaman didengar oleh sementara orang, tapi dasarnya adalah kekhawatiran bahwa pihaknya tidak akan menang kalau satu putaran saja. Maunya dua putaran walaupun belum tentu bisa menang juga. Yang menjadi soal adalah bukan soal jumlah putaran,tapi soal siapa yang menang. Kerancuan semacam ini memang banyak terjadi dalam demokrasi muda. 
Untunglah walaupun demokrasi kita muda, demokrat kita tidak semuda itu.Banyak yang sudah demokrat sebelum 1998, banyak yang berpegang pada cita-cita demokrasi selama zaman Soeharto sekalipun, bahkan sejak zaman Soekarno. Orang-orang yang mengerti demokrasi ini tidak takut pada perdebatan dan pada persaingan. Bagi kaum demokrat, tidak jadi soal pihak lawan bicara apa, yang penting kita semua bisa memilih pada 8 Juli 2009. Salah betul kalau orang mengatakan kampanye satu putaran itu teror.
Orang yang mengatakan ini mungkin tidak tahu apa yang terjadi tahun 1999 di Timtim,tahun 1998 di Jakarta, dan tahun-tahun sebelumnya di berbagai pelosok Indonesia. Teror misalnya adalah penculikan mahasiswa yang sampai sekarang belum semua kembali dan mungkin tidak kembali.Teror adalah penahanan orang yang tidak setuju pemerintah.Tidak ada orang ditahan oleh pemerintah sekarang. Seorang Wapres bisa mengingkari pemerintahannya sendiri, tetapi dia tidak ditahan, malah dihormati sebagai capres. 
Orangorang yang diduga melakukan kekerasan dan penculikan dipersilakan berkampanye dan mengeluarkan uang dengan bebas untuk kampanye pemulihan nama baik. Masyarakat memberi ruang bagi mereka karena berharap mereka ditolak oleh suara rakyat dalam pemilu, kefrustrasian mereka tetap akan tersalurkan,dan ancaman kekerasan akan semakin berkurang. 
Mungkin ini adalah truth and reconciliation versi Indonesia. Forgive and forget yang sampai sekarang baru sampai tahap forgive, belum sampai forget. Putu Setia menulis dalam versi online koran Ibu Kota: ”Tentu saja tim sukses dua pasangan yang lain jadi berang. Padahal, jika menerapkan kampanye yang damai dan bersahabat, konsep satu putaran itu bisa digulirkan oleh semua pasangan dengan jargon masingmasing. 
Tim sukses Mega-Prabowo, misalnya, akan menyambut ide itu dengan jargon ”Oke,Satu Putaran, Pilih Mega-Prabowo”. Kemudian tim sukses JK-Wiranto juga setuju satu putaran dengan menawarkan jargon ”Pilih JK-Wiranto, Satu Putaran Lebih Cepat Lebih Baik”.” Gerakan satu putaran itu suatu kampanye yang kreatif.Bisa disambut oleh kampanye yang kreatif lainnya, bukan dengan istilah klasik pembodohan publik.Yang membodohi publik sebetulnya adalah orang yang menuduh suatu slogan kampanye sebagai teror. 
Psikologi teror masih melekat pada orang yang menjadi korban teror Orde Baru.Yang melakukan teror tentu menghindari istilah itu dan memancarkan cahaya kerakyatan atau lagu nyaman cinta Tanah Air. Namun yang korban teror masih trauma dan melihat hantu di siang hari. Tidak ada teror, tidak ada pembodohan publik kecuali oleh kontestan yang bodoh. Demokrasi kita sehat dan memberikan fokus pada makna pilihan dalam Pilpres 2009. 
Kalau pemilu legislatif ditandai oleh terlalu banyaknya pilihan dan kurangnya fokus,pilpres menawarkan pilihan yang jelas di antara tiga capres dan tiga cawapres. Coba simak debat capres dan cawapres. Makin lama makin baik. Namun yang terbaik adalah bahwa debat itu ada.Agak kagok menyatakannya dalam bahasa Indonesia. 
Dalam bahasa Inggris bisa lebih jelas diekspresikan: the great thing about the presidential debates is not the quality of the discussion, but the fact that they were held at all. Bayangkan kalau dulu Soeharto berdebat lawan Ali Sadikin,betapa menariknya. Atau Soeharto melawan HR Dharsono.Atau Soeharto melawan Abdurrahman Wahid pada 1993. Atau bahkan melawan Benny Moerdani atau Ali Moertopo.
Tidak ada debat presiden,tidak ada KPU yang sambil diomelin tetap menjaga aturan pemilu. Orang KPU lemah,capres lemah,tapi masyarakat kuat. Itu yang kita inginkan dalam demokrasi kita,sampai satu saat masyarakat kita bisa menampilkan tokoh yang kuat generasi politik Anies Baswedan,Bima Aria, Komarudin Hidayat, Aviliani, Hadar N Gumay. 
Sementara itu, kita nikmati Pilpres 2009 dengan pilihan yang sangat berbeda. A choice, not an echo. Mau kembali ke Orde Baru atau mau melanjutkan perjalanan ke arah demokrasi berkualitas, setelah kita mencapai demokrasi bebas?(*) 
Wimar Witoelar 

oleh Wimar Witoelar 

Saat penting dalam perjalanan Pilpres 2009 adalah ketika SBY dan JK berseloroh soal lagu Indomie,dilanjutkan apakah mereka makan gandum saja atau campur macam-macam?

Walaupun Mega hanya senyumsenyum saja,ketiganya menunjukkan semangat demokrasi yang sehat. Lain halnya kalau ketiga cawapres berada dalam situasi yang sama. Karena dua di antara tiga menyimpan beban pengalaman yang berat, sejarah yang seram. Lupakan sementara ancaman kembalinya kekerasan dan kesewenangan, pilpres akan berlangsung dan berkesudahan tenang, tidak seperti pemilu di Iran.

Juga bisa diharapkan demokrasi kita makin lama makin kuat, menghindari ambruk seperti di Thailand.Kemajuan ini tidak bisa dijadikan klaim salah satu tokoh, sebab ini adalah hasil kolektif seluruh masyarakat, termasuk yang ngomel-ngomel tentang demokrasi. Sebab,demokrasi memang memberikan ruang untuk mengeluh, hanya tidak boleh dikuasai orang yang memaksakan keinginan. 



Orang perlu membedakan antara memaksakan keinginan dengan menyatakan harapan. Kalau pendukung Barcelona menyatakan mereka akan mengalahkan telak Manchester United,itu tidak melanggar peraturan sepak bola. Baru kalau mereka menyuap wasit, harus diberlakukan sangsi pada yang merusak permainan indah ini. Begitu juga dalam demokrasi, proyeksi, prediksi, dan harapan terhadap hasil pemilihan itu sah, malah bagus supaya orang bersemangat memilih. 

Kampanye satu putaran pun dikecam sebagai pembodohan terhadap rakyat, tidak demokratis, bahkan disebut sebagai teror politik. Istilah yang sangat dramatis. Mungkin kata-kata ini kurang nyaman didengar oleh sementara orang, tapi dasarnya adalah kekhawatiran bahwa pihaknya tidak akan menang kalau satu putaran saja. Maunya dua putaran walaupun belum tentu bisa menang juga. Yang menjadi soal adalah bukan soal jumlah putaran,tapi soal siapa yang menang. Kerancuan semacam ini memang banyak terjadi dalam demokrasi muda. 

Untunglah walaupun demokrasi kita muda, demokrat kita tidak semuda itu. Banyak yang sudah demokrat sebelum 1998, banyak yang berpegang pada cita-cita demokrasi selama zaman Soeharto sekalipun, bahkan sejak zaman Soekarno. Orang-orang yang mengerti demokrasi ini tidak takut pada perdebatan dan pada persaingan. Bagi kaum demokrat, tidak jadi soal pihak lawan bicara apa, yang penting kita semua bisa memilih pada 8 Juli 2009. Salah betul kalau orang mengatakan kampanye satu putaran itu teror.

 


Orang yang mengatakan ini mungkin tidak tahu apa yang terjadi tahun 1999 di Timtim,tahun 1998 di Jakarta, dan tahun-tahun sebelumnya di berbagai pelosok Indonesia. Teror misalnya adalah penculikan mahasiswa yang sampai sekarang belum semua kembali dan mungkin tidak kembali.Teror adalah penahanan orang yang tidak setuju pemerintah.Tidak ada orang ditahan oleh pemerintah sekarang. Seorang Wapres bisa mengingkari pemerintahannya sendiri, tetapi dia tidak ditahan, malah dihormati sebagai capres. 

Orang-orang yang diduga melakukan kekerasan dan penculikan dipersilakan berkampanye dan mengeluarkan uang dengan bebas untuk kampanye pemulihan nama baik. Masyarakat memberi ruang bagi mereka karena berharap mereka ditolak oleh suara rakyat dalam pemilu. Frustrasi mereka tetap akan tersalurkan,dan ancaman kekerasan akan semakin berkurang. 

Mungkin ini adalah 'truth and reconciliation' versi Indonesia. 'Forgive and forget' yang sampai sekarang baru sampai tahap 'forgive', belum sampai 'forget'. Putu Setia menulis dalam versi online salah satu koran Ibu Kota: ”Tentu saja tim sukses dua pasangan yang lain jadi berang. Padahal, jika menerapkan kampanye yang damai dan bersahabat, konsep satu putaran itu bisa digulirkan oleh semua pasangan dengan jargon masing-masing. 

Tim sukses Mega-Prabowo, misalnya, akan menyambut ide itu dengan jargon ”Oke,Satu Putaran, Pilih Mega-Prabowo”. Kemudian tim sukses JK-Wiranto juga setuju satu putaran dengan menawarkan jargon ”Pilih JK-Wiranto, Satu Putaran Lebih Cepat Lebih Baik”.” Gerakan satu putaran itu suatu kampanye yang kreatif. Bisa disambut oleh kampanye yang kreatif lainnya, bukan dengan istilah klasik 'pembodohan publik'.Yang membodohi publik sebetulnya adalah orang yang menuduh suatu slogan kampanye sebagai teror. 

Psikologi teror masih melekat pada orang yang menjadi korban teror Orde Baru. Yang melakukan teror tentu menghindari istilah itu dan memancarkan cahaya kerakyatan atau lagu nyaman cinta Tanah Air. Namun yang korban teror masih trauma dan melihat hantu di siang hari. Tidak ada teror, tidak ada pembodohan publik kecuali oleh kontestan yang bodoh. Demokrasi kita sehat dan memberikan fokus pada makna pilihan dalam Pilpres 2009. 

Kalau pemilu legislatif ditandai oleh terlalu banyaknya pilihan dan kurangnya fokus, pilpres menawarkan pilihan yang jelas di antara tiga capres dan tiga cawapres. Coba simak debat capres dan cawapres. Makin lama makin baik. Namun yang terbaik adalah bahwa debat itu ada. Agak kagok menyatakannya dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris bisa lebih jelas diekspresikan: 'the great thing about the presidential debates is not the quality of the discussion, but the fact that they were held at all.' Bayangkan kalau dulu Soeharto berdebat lawan Ali Sadikin, betapa menariknya. Atau Soeharto melawan HR Dharsono. Atau Soeharto melawan Abdurrahman Wahid pada 1993. Atau bahkan melawan Benny Moerdani atau Ali Moertopo.

Tidak ada debat presiden,tidak ada KPU yang sambil diomelin tetap menjaga aturan pemilu. Orang KPU lemah, capres lemah,tapi masyarakat kuat. Itu yang kita inginkan dalam demokrasi kita, sampai satu saat masyarakat kita bisa menampilkan tokoh yang kuat generasi politik Anies Baswedan, Bima Aria, Komarudin Hidayat, Aviliani, Hadar N Gumay. 

Sementara itu, kita nikmati Pilpres 2009 dengan pilihan yang sangat berbeda. A choice, not an echo. Mau kembali ke Orde Baru atau mau melanjutkan perjalanan ke arah demokrasi berkualitas, setelah kita mencapai demokrasi bebas?



 

 

Print article only

16 Comments:

  1. From yusril on 28 June 2009 20:16:01 WIB
    sip bang,demokrasi tidak takut berpendapat dan berbeda...demokrasi seharusnya tidak takut kalah....semoga nanti yg kalah legowo dan mau mewujudkan janji2 kampanyenya walaupun gak jadi presiden dan wakil presiden....tapi sepertinya mustahil...lah jadi aja lupa,apa lagi gak jadi?....semoga saja..............
  2. From \\\'nBASIS on 28 June 2009 20:24:25 WIB
    Kampanye \"Pilpres Satu Putaran\" itu satu usaha yang baik-baik saja. Menjadi kurang baik jika motornya Denny JA yang dengan kampanye \"Pilpres Satu Putaran\" kurang lebih mencerminkan ketidakpercayaan terhadap hasil surveinya sendiri. Ha ha
  3. From Arthur on 28 June 2009 21:31:14 WIB
    Setuju sekali pak wimar,dari dulu saya sependapat dg perspektif anda,sejak muncul di sctv,kalau tdk salah,tiap sabtu jam 17.30,apalagi jaman tsb.,acara pak wimar memang beda dg yg lain. Tapi tentang \"forgive and forget\",nyatanya sebagian besar masyarakat sudah benar2 \"forget\" tuh?Bagaimana mega tidak membela anak buahnya yg mengorbankan nyawanya utk dia,pelanggaran HAM luar biasa berat oleh calon pemimpin negeri ini,tidak ada lagi yg ingat.Apaalagi kalau masuk di blog tetangga,serem,militant dan membabi buta,mereka membela pujaannya.
  4. From Al Mansur on 28 June 2009 22:52:14 WIB
    Kembali lagi sama spt argumen saya di notes pak wim sebelumnya di FB, konsep 1 putaran adalah konsep yg bagus krna negara dapat melakukan efisiensi terhadap pengeluaran yg sangat besar. Aturan pemilu udah sangat jelas, artinya konsep itu hanya terealisasi jika suara mencapai 50% 1, kalo tidak ya terpaksa 2 putaran. Jadi alangkah sangat berlebihan jika tim sukses capres lain seperti kebakaran jenggot dan bahkan sebagian menuding itu sbg pembodohan publik. Lha wong itu hanya sebuah konsep/ide yg belum tentu terealisasi.

    Masyarakat skg semakin pintar dan objektif, jdi tenang saja, mrk tidak akan semudah itu di bodohi. Harusnya para capres yg lain menanggapi konsep tsb scr lebih positif, spt ilustrasi dr Putu Setia diatas.

    Kalo confident dg diri sendiri, mengapa mesti takut dg konsep satu putaran? Jgn malah membuat black campaign hanya karna konsep tsb digulirkan!

    Regards,
  5. From Felix on 28 June 2009 23:54:18 WIB
    Inti nya... jangan memilih pasangan capres cawapres yg akan mebawa kita balik ke jaman Orba baik dari sisi kemungkinan terjadi nya pelanggaran HAM dan peng kerdilan demokrasi maupun dari sisi kembali terjadi nya KKN dan favoritisme terhadap kelompok usaha tertentu.
  6. From arie on 29 June 2009 00:56:31 WIB
    Kultur yang matang terefleksi dalam sistemnya, bukan milik orde baru atau milik orde masa datang tapi sekarang. sistem penyelenggaraan pemilu harus menjadi fokus tak kalah penting dibanding figur Capres, Kompetensi wasitlah yang sekarang dalam tanda tanya besar dan ini telah membuat pemain memilih bermain bodoh dan penonton memilih masa bodoh. Democracy should facilitate solution to our problems, just like choice of world soccer over world war. Mudah2an tidak berakhir tragis seperti di Iran, jadi pemerintah dan KPU yang bener dong kerjanya.
  7. From djaka on 29 June 2009 01:37:54 WIB
    Saya masih takut debat Om Wimar, banyak orang kita yg masih nganggap debat itu urusan menang-kalah. Kalau gak merasa menang, main fisik, spt yg terjadi awal thn lalu di Medan, sampai ada yg mati jantungan.

    Saya takut debat bukan krn ketiadaan demokrasi, tapi karena saya bukan orang yg mampu mendelivery pesan dengan baik.
  8. From Sunu Gunarto on 29 June 2009 08:41:21 WIB
    Wuih...... urusan iklan koq jadi pembodohan dan teror politik.....Itulah barangkali sudut pandang politikus. Coba kalau orang periklanan yang menanggapi.....mungkin akan beda hasilnya. Coba kita perhatikan iklan salah satu jamu anti masuk angin :\\\"Orang pintar minum jamu (...merk jamu...).Pesaing (kompetitor)nya menjawab dengan cerdas :\\\"Minum jamu koq harus pintar?\\\". He...he...he...
  9. From Odie on 29 June 2009 08:43:55 WIB
    Lihat tulisan-tulisan pak Wimar ttg pemilu presiden belakangan ini, kok tiba-tiba jadi lihat pak Wimar mirip seperi Michael Moore waktu jaman pilpres di Amerika kemaren itu ya hehe... Mana postur nya mirip juga :D
  10. From wimar on 29 June 2009 10:04:02 WIB
    Odie, I take that as a compliment walaupun tampang dia jelek amat :(
  11. From febs on 29 June 2009 20:28:42 WIB


    Indonesia yg berdemokrasi saat ini seperti pengatin baru, walau semuanya terbatas, yg penting cinta ini yg ku mau jadi bersabar ya sayang, bersabarlah wahai rakyat indonesia sebab ini yg demokrasi yg kita mau dan pilih.

    mungkin kalau demokrasi bisa bernyanyi dia akan bernyanyi....jangan berhenti mencintaiku....dst dst


    tks
  12. From febs on 29 June 2009 20:44:52 WIB
    ...tambahan


    tapi kalau para koruptor yg biasa dimanja dimasa orba tentu akan bilang:

    MANA TAHAAAANNNNNNNN!!!!!!!!!.................:))

    jadi anda termasuk yg mana?!
    tks
  13. From Budi M on 30 June 2009 13:49:57 WIB
    Sayang sekali ..., analisa yg spt ini kurang terangkat ke permukaan.




  14. From brendan on 30 June 2009 16:49:23 WIB
    pilih SATU dalam pilpres "satu" putaran
  15. From fadil on 30 June 2009 23:05:53 WIB
    The real truth and reconciliation gak akan bisa terjadi di Indonesia. Rakyat selaku korban dari kejahatan di masa lau dipaksa untuk memaafkan (forgive) demi alasan kemanusiaan. Rakyat juga dipaksa untuk melupakan (forget) demi kepentingan menatap masa depan (pelaku kejahatan). Sementara masalah di masa kini juga datang bertubi2 sampe sebagian besar rakyat juga terpaksa untuk melupakan masalah masa lalu. Sementara pemegang kekuasaan (baik di eksekutif, legsilatif dan yudhikatif) juga bekerjs sama untuk menutup2i keaalahan di masa lalu.
    Tapi tetep aja kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingin dengan masa Orde Baru yang otoriter dan kejam..
  16. From gigih p wicaksono on 05 July 2009 04:42:57 WIB
    klo saya sih lebih setuju satu putaran...lagian masyarakat kita sekarang juga sudah pinter2 kq...apalagi generasi mudanya(tapi ad jg sih,yg tidak tau sejarah kelam para pendamping capres2 tertentu).kenapa tingkat elektabilitas SBY tinggi?karena beliau cerdas,rapi dan sopan,setidaknya hal itu yg dilihat masyarakat di kampung saya.Anehnya,masyarakat dikampung saya memilih capres bukan karena visi dan misinya,tetapi karna suasana kampanyenya.Ketika jatah kampanye SBY di kota saya,para simpatisannya sangat sopan,berseragam(enak dipandang),dan yg terpenting motornya tidak membuat bising telinga,sehingga banyak warga kampung saya yg simpatik.Hal ini berbanding terbalik dgn simpatisan capres-cawapres tertentu,yg selalu membuat kisruh dan membuat masyarakat kehilangan simpatik-nya kepada capres-cawapres tersebut.Bahkan,para simpatisan-nya berkampanye dan menggeber-geberkan motornya(knalpotnya dilepas,jadi anda bisa bayangkan seberapa bisingnya suara tersebut dikampung yg kecil).Memang saya terdengar kasuistis,tapi setidaknya itulah yg terjadi di daerah saya,dimana masyarakat disini menentukan pilihannya dari tindak-tanduk simpatisannya.

« Home