Articles

LUPA? Masalah HAM belum dibahas kampanye Pilpres


08 June 2009

 

HAM, wilayah sepi janji kampanye capres/cawapres
Kampanye Presiden 2009 sangat semarak dan vokal. Selain saling mengkomentari perilaku masing2, berbagai issue telah dikemukakan, dominan diantaranya adalah ekonomi neoliberal vs kerakyatan. Tapi justru masalah paling kunci dalam menjamin ketenteraman hidup warga belum muncul dalam pembahasan: kekerasan negara, yang secara formal disebut pelanggaran Hak Azasi Manusia. Didiet Adiputro menyampaikan uraian berikut:
Sejatinya salah satu tugas pokok negara selain memberikan kesejahteraan dibidang ekonomi juga memberikan perlindungan dan rasa aman bagi warganya dari ancaman kekerasan. Akan tetapi bangsa kita pernah mengalami suatu masa dimana negara yang harusnya melindungi warganya dari kekerasan justru melakukan kekerasan itu sendiri kepada warge negaranya. Mungkin kita pernah mengetahui terjadinya peristiwa Pembantaian PKI, Tragedi  Santa Cruz, Tanjung Priok, Lampung, Kedung Ombo, Marsinah, Penyerbuan Kantor PDI 27 Juli 96,  penculikan aktivis oleh Tim Mawar, sampai yang terbaru peristiwa Mei 98, Pelanggaran HAM Timtim dan tragedi Semanggi   yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa di kalangan sipil tak berdosa. 
Berbagai peristiwa memilukan tersebut ternyata masih menyisakan tanda tanya besar mengenai siapa pelaku utama (aktor intelektual) dibalik berbgai peristiwa pelanggaran HAM tersebut . Akan sangat mudah bagi kita untuk menunjuk Soeharto sebagai dalang utama berbagai peristiwa tersebut dan oleh karenanya dengan kekuatan masyarakat Soeharto dipaksa mundur dari jabatannya sebagai Presiden ketika itu .
Tapi kita juga jangan lupa bahwa masih ada pelaku-pelaku lain yang juga mempunyai peran besar dalam berbagai peristiwa berdarah tersebut. Namun ternyata mereka masih bisa dengan leluasa berkeliaran di lingkaran elit kekuasaan, bahkan sebagian juga ikut dalam bursa persaingan calon pemimpin nasional. 
Nampaknya saat ini kita meghadapi dua masalah utama. Yang pertama, publik cenderung mudah  melupakan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM masa lalu dan cenderung mengalami  “Tuna Sejarah” (masyarakat kita adalah masyarakat yang melodramatik sehingga cepat lupa dan cepat memaafkan). Lalu menganggap hal itu bukan masalah penting yang perlu dikaitkan dengan beberapa orang yang hingga kini masih eksis di perpolitikan nasional. 
Yang kedua, para aktor pelanggaran HAM tersebut dengan memanfaatkan sikap melodramatik sebagian besar masyarakat Indonesia berhasil membungkus dirinya dengan pencitraan yang baik sehingga terkesan mereka bersih dan  tidak punya beban kelam sejarah masa lalu yang mengakibatkan terbunuhnya puluhan hingga ratusan warga sipil tak berdosa. 
Menjelang pemilihan presiden 2009, tidak perlu lagi kita menuduh dan membantah siapa melakukan pelanggaran HAM. Cukup kita menyimak bahaya kekerasan negara. Kalau sampai kembali lagi, anda bisa menjadi korban berikutnya.
Jadi, gunakanlah hak pilih anda dengan cermat.
Sudahkah hilang dari ingatan warga?
1.Daftar orang hilang selama orde baru
Widji Thukul Penyair Rakyat Indonesia 
Andi Arief, Ketua SMID, hilang di Bandarlampung, terakhir diketahui berada di tahanan Markas Besar Kepolisian, Jakarta pada 17 April 1998: Sudah kembali/dilepaskan 
Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998 
Faisol Riza, hilang pada 12 Maret 1998: Sudah kembali/dilepaskan 
Rahardjo Waluyo Djati, hilang pada 12 Maret 1998: Sudah kembali/dilepaskan 
Nezar Patria, hilang pada 12 Maret 1998, terakhir berada di tahanan Polda Metro Jaya, Jakarta: Sudah kembali/dilepaskan 
Mugianto, hilang pada 12 Maret 1998: Sudah Kembali/dilepaskan 
Aan Rusdianto, hilang pada 4 Februari 1998: Sudah Kembali/dilepaskan 
Bimo Petrus, hilang pada minggu ketiga Maret 1998 
Suyat, hilang pada minggu pertama Maret 1998 
Yani Avri, hilang pada 26 April 1997, terakhir sudah dilepaskan dari tahanan Kodim Jakarta Utara 
Sonny, hilang pada 26 April 1997 
Deddy Omar Hamdun, suami Eva Arnaz 
Noval Alkatiri, hilang pada 29 Mei 1997 
M. Yusuf, hilang pada 7 Mei 1997 
Yadin Muhidin, hilang pada 14 Mei 1997 
Hendra Hambalie, hilang pada 14 Mei 1998 
Ucok Munandar Siahaan, hilang pada 4 Mei 1997 
Ismail, hilang pada 29 Mei 1997 
A. Nasir, hilang sejak 14 April 1998
 
 
2.Insiden Santa Cruz (juga dikenal sebagai Pembantaian Santa Cruz) adalah penembakan pemrotes Timor Timur di kuburan Santa Cruz di ibu kota Dili pada 12 November 1991.
 
3.Marsinah (10 April 1969?–Mei 1993) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.
 
4.Peristiwa 27 Juli 1996 adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jl Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI.
 
5.Peristiwa Gejayan dikenal juga dengan sebutan Tragedi Yogyakarta, adalah peristiwa bentrokan berdarah pada Jumat 8 Mei 1998 di daerah Gejayan, Yogyakarta, dalam demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Bentrokan ini berlangsung hingga malam hari. Kekerasan aparat menyebabkan ratusan korban luka, dan satu orang, Moses Gatutkaca, meninggal dunia
 
6.Tragedi Lampung 28 September 1999.Hari itu tanggal 28 September 1999 Muhammad Yusuf Rizal, mahasiswa jurusan FISIP Universitas Lampung angkatan 1997, meninggal dunia dengan luka tembak di dadanya tembus hingga ke belakang dan juga sebutir peluru menembus lehernya. Ia tertembak di depan markas Koramil Kedaton, Lampung. Puluhan mahasiswa lainnya terluka sehingga harus dirawat di rumah sakit. Beberapa hari kemudian Saidatul Fitriah, Mahasiswa Universitas Lampung yang juga menjadi korban kekerasan aparat, akhirnya meninggal dunia
 7.Tragedi Semanggi menunjuk kepada dua kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa yang mengakibatkan tewasnya warga sipil. Kejadian pertama dikenal dengan Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998, masa pemerintah transisi Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil. Kejadian kedua dikenal dengan Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999 yang menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh jakarta serta menyebabkan 217 korban luka - luka.
 8.Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya
 9. Peristiwa Kedung Ombo
10. Peristiwa Tanjung Priok
11. Tragedi Talang Sari

Topik neolib disebut pada tiap kesempatan, kekerasan negara dilupakan

 

Kampanye Presiden 2009 sangat semarak dan vokal. Selain saling mengkomentari perilaku masing2, berbagai issue telah dikemukakan, dominan diantaranya adalah ekonomi neoliberal vs kerakyatan. Tapi justru masalah paling kunci dalam menjamin ketenteraman hidup warga belum muncul dalam pembahasan: kekerasan negara, yang secara formal disebut pelanggaran Hak Azasi Manusia. Didiet Adiputro menyampaikan uraian berikut:

 

oleh Didiet Adiputro

Sejatinya salah satu tugas pokok negara selain memberikan kesejahteraan dibidang ekonomi juga memberikan perlindungan dan rasa aman bagi warganya dari ancaman kekerasan. Akan tetapi bangsa kita pernah mengalami suatu masa dimana negara yang harusnya melindungi warganya dari kekerasan justru melakukan kekerasan itu sendiri kepada warge negaranya. Mungkin kita pernah mengetahui terjadinya peristiwa Pembantaian PKI, Tragedi Santa Cruz, Tanjung Priok, Lampung, Kedung Ombo, Marsinah, Penyerbuan Kantor PDI 27 Juli 96, penculikan aktivis oleh Tim Mawar, sampai yang terbaru peristiwa Mei 98, Pelanggaran HAM Timtim dan tragedi Semanggi yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa di kalangan sipil tak berdosa.

Berbagai peristiwa memilukan tersebut ternyata masih menyisakan tanda tanya besar mengenai siapa pelaku utama (aktor intelektual) dibalik berbgai peristiwa pelanggaran HAM tersebut . Akan sangat mudah bagi kita untuk menunjuk Soeharto sebagai dalang utama berbagai peristiwa tersebut dan oleh karenanya dengan kekuatan masyarakat Soeharto dipaksa mundur dari jabatannya sebagai Presiden ketika itu .

Tapi kita juga jangan lupa bahwa masih ada pelaku-pelaku lain yang juga mempunyai peran besar dalam berbagai peristiwa berdarah tersebut. Namun ternyata mereka masih bisa dengan leluasa berkeliaran di lingkaran elit kekuasaan, bahkan sebagian juga ikut dalam bursa persaingan calon pemimpin nasional.

Nampaknya saat ini kita meghadapi dua masalah utama. Yang pertama, publik cenderung mudah melupakan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM masa lalu dan cenderung mengalami “Tuna Sejarah” (masyarakat kita adalah masyarakat yang melodramatik sehingga cepat lupa dan cepat memaafkan). Lalu menganggap hal itu bukan masalah penting yang perlu dikaitkan dengan beberapa orang yang hingga kini masih eksis di perpolitikan nasional.

Yang kedua, para aktor pelanggaran HAM tersebut dengan memanfaatkan sikap melodramatik sebagian besar masyarakat Indonesia berhasil membungkus dirinya dengan pencitraan yang baik sehingga terkesan mereka bersih dan tidak punya beban kelam sejarah masa lalu yang mengakibatkan terbunuhnya puluhan hingga ratusan warga sipil tak berdosa.

-----

Menjelang pemilihan presiden 2009, tidak perlu lagi kita menuduh dan membantah siapa melakukan pelanggaran HAM. Cukup kita menyimak bahaya kekerasan negara. Kalau sampai kembali lagi, anda bisa menjadi korban berikutnya.

Jadi, gunakanlah hak pilih anda dengan cermat.

 

 

 

Sudahkah hilang dari ingatan warga?

1.Daftar orang hilang selama orde baru

Widji Thukul Penyair Rakyat Indonesia

Andi Arief, Ketua SMID, hilang di Bandarlampung, terakhir diketahui berada di tahanan Markas Besar Kepolisian, Jakarta pada 17 April 1998: Sudah kembali/dilepaskan

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998

Faisol Riza, hilang pada 12 Maret 1998: Sudah kembali/dilepaskan

Rahardjo Waluyo Djati, hilang pada 12 Maret 1998: Sudah kembali/dilepaskan

Nezar Patria, hilang pada 12 Maret 1998, terakhir berada di tahanan Polda Metro Jaya, Jakarta: Sudah kembali/dilepaskan

Mugianto, hilang pada 12 Maret 1998: Sudah Kembali/dilepaskan

Aan Rusdianto, hilang pada 4 Februari 1998: Sudah Kembali/dilepaskan

Bimo Petrus, hilang pada minggu ketiga Maret 1998

Suyat, hilang pada minggu pertama Maret 1998

Yani Avri, hilang pada 26 April 1997, terakhir sudah dilepaskan dari tahanan Kodim Jakarta Utara

Sonny, hilang pada 26 April 1997

Deddy Omar Hamdun, suami Eva Arnaz

Noval Alkatiri, hilang pada 29 Mei 1997

M. Yusuf, hilang pada 7 Mei 1997

Yadin Muhidin, hilang pada 14 Mei 1997

Hendra Hambalie, hilang pada 14 Mei 1998

Ucok Munandar Siahaan, hilang pada 4 Mei 1997

Ismail, hilang pada 29 Mei 1997

A. Nasir, hilang sejak 14 April 1998

2.Insiden Santa Cruz (juga dikenal sebagai Pembantaian Santa Cruz) adalah penembakan pemrotes Timor Timur di kuburan Santa Cruz di ibu kota Dili pada 12 November 1991.

3.Marsinah (10 April 1969?–Mei 1993) adalah seorang aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yang diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di Dusun Jegong Kecamatan Wilangan Nganjuk, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

4.Peristiwa 27 Juli 1996 adalah peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jl Diponegoro 58 Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI.

5.Peristiwa Gejayan dikenal juga dengan sebutan Tragedi Yogyakarta, adalah peristiwa bentrokan berdarah pada Jumat 8 Mei 1998 di daerah Gejayan, Yogyakarta, dalam demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Bentrokan ini berlangsung hingga malam hari. Kekerasan aparat menyebabkan ratusan korban luka, dan satu orang, Moses Gatutkaca, meninggal dunia

6.Tragedi Lampung 28 September 1999.Hari itu tanggal 28 September 1999 Muhammad Yusuf Rizal, mahasiswa jurusan FISIP Universitas Lampung angkatan 1997, meninggal dunia dengan luka tembak di dadanya tembus hingga ke belakang dan juga sebutir peluru menembus lehernya. Ia tertembak di depan markas Koramil Kedaton, Lampung. Puluhan mahasiswa lainnya terluka sehingga harus dirawat di rumah sakit. Beberapa hari kemudian Saidatul Fitriah, Mahasiswa Universitas Lampung yang juga menjadi korban kekerasan aparat, akhirnya meninggal dunia

7.Tragedi Semanggi menunjuk kepada dua kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa yang mengakibatkan tewasnya warga sipil. Kejadian pertama dikenal dengan Tragedi Semanggi I terjadi pada 11-13 November 1998, masa pemerintah transisi Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil. Kejadian kedua dikenal dengan Tragedi Semanggi II terjadi pada 24 September 1999 yang menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh jakarta serta menyebabkan 217 korban luka - luka.

8.Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya

9. Peristiwa Kedung Ombo

10. Peristiwa Tanjung Priok

11. Tragedi Talang Sari


Print article only

18 Comments:

  1. From Notme on 09 June 2009 06:25:00 WIB

    Seharusnya mereka kebebasan dari tuntutan HAM itu jadi syarat untuk jadi Capres/Cawapres, yang -mustinya- ditentukan badan seperti KPU.

    Tapi apa boleh buat, karena mereka sudah jadi calon, kitalah -konstituen- yang berperan.

    Jadi: pilihlah mereka yang bebas dari tuntutan HAM.
  2. From Odie on 09 June 2009 08:31:45 WIB
    yah,, gimana mau dibahas.. lah orang pas ditanya beginian, jawabnya: tidak usah membahas yang sudah berlalu.. phueh..
  3. From bung tobing on 09 June 2009 11:19:10 WIB
    Para cawapres (you know who) yang terlibat dalam beberapa kejadian di atas pun seenak jidat cuci tangan dari dosa mereka dan bahkan berani maju sebagai wapres. Menggelikan. Pemimpin seperti apa yang, alih-alih melindungi rakyatnya, malah mengorganisir kekerasan terhadap warganya.
  4. From Arie on 09 June 2009 14:38:26 WIB
    Pernahkah terpikir bahwa mereka bisa menjadi korban fitnah (siapapun itu yang dimaksudkan), mengingat kapasitas mereka dan begitu banyak mungkin iri dan haus kekuasaan sehingga melakukannya secara laten. Bagaimana para jenderal AD yang dihabisi PKI dahulu karena fitnah, memobilisasi rakyat untuk diajak ikut menghabisi karena mereka dianggap antek kapitalis. I speak for my self for for the law, which I wish to be more active and positive. Selama hukum (dan harus diupayakan terus kasusnya diteruskan) belum mampu membuktikan sebagai rakyat jangan menjadi emosional dalam judgement kita. Cobalah berpikiri bila anda merasa ada pada sisi koin yang berlainan, anda pasti menginkan keadilan yang sama.

    Kekerasan negara itu karena para abdi negara yang terdoktrin untuk membela pemimpin mereka hingga titik penghabisan. Makanya peran wakil2 kita di DPR yang tahu aturan sangat sangat penting, Dulu wakil rakyat kita diatur sama pemerintah karena duit, Sekarang wakil rakyat bisa lebih kuat tapi tetap butuh duit. Jangan sampai kita rakyat biasa dengan abdi negara lain dihadapkan pada konflik kepentingan. Selesaikan dengan komunikasi arif di parlemen dan biarkan abdi hukum memonitor keduanya, pemerintah dan parlemen. MK & KPK harus oleh siapapun presidennya, Selama keadilan terakomodasi oleh hukum & institusi yang ada, tidak akan ada yang seenaknya.
  5. From Kholika on 09 June 2009 16:54:44 WIB
    Soal ham klo dibahas sama orang-orang yang udah berkuasa punya pengaruh trus udah lama juga permasalahannnya... pasti susah banget dan kecil banget kemungkinannya bakal selesai atau paling gak kecil banget kemungkinannya juga bakal ada jalan keluarnya...

    nenurut saya om wimar, semuanya sekarang tergantung dari masyarakat sendiri untuk melihat permasalahan ini sebagai alasan u/ memilih atau melihat persepsi ini sebagai alasan pendukung atau tidak sama sekali.

    so saya berharap semoga siapapun ca/wapres yg kepilih bisa merubah bangsa menjadi lebih baik, mandiri, menaikan martabat, dan tidak takut sm negara Tetangga ataupun asing


  6. From eriza lesmana on 09 June 2009 17:00:50 WIB
    Sependek yg saya tau, beberapa sebab dari ketidakpuasan rakyat yg wujudnya bisa berbagai bentuk adalah ketidakadilan dan “tersumbatnya “ komunikasi rakyat. Mungkin bisa diawali dari pembenahan pendidikan. Pendidikan yg baik Lambat laun akan membentuk budaya, budaya yg tinggi, salah satu unsurnya anti kekerasan.
  7. From Sunu Gunarto on 09 June 2009 21:30:06 WIB
    Wah lengkap banget data bung Didiet Adiputro ini. Atas kejadian itu siapa yang bertanggungjawab ya ? Siapapun Pres- Wapres kelak jangan sampai terulang lagi kekerasan oleh negara atau oleh siapapun. Mengerikan........
    (tengoklah sejarah bangsa kita yang berdarah-darah setiap pergantian kekuasaan).
  8. From Irfan Sofani on 09 June 2009 22:29:41 WIB
    Yah gimana??? Yg relative bersih malah PAMER keharmonisan keluarga. Saya sebagai orang biasa yg jauh dari sempurna malah jadi minder sendiri. Prabowo yg penjahat malah menampilkan sisi human dia yg perih. R.T. berantakan, hidup masa lalu menggelandang bersama Bpknya dari satu negara ke negara lain karena dicoret jd warga negara...

    Saya tidak akan pernah lupa akan perjuangan teman2 kami diangkatan '98 yg mengorbankan jiwa mereka. Sejarah itu akan kami (paling tidak saya sendiri) kenang dan tak kan pernah hilang. Namun memendam dendam kepada mereka malah seakan kehilangan momentumnya. Karena justru dengan para penjahat itu seakan saya mendapat persetujuan utk menghajar kemapanan saat ini yg tidak pada tempatnya.

    Yg jadi pertanyaan besar kenapa justru para penjahat itu yg sekarang mewakili saya? Perasaan orang biasa yg jauh dari sempurna.

    Mengherankan justru pendekar demokrasi sekelas Gus Dur dan Bondan Gunawan juga bersebrangan dengan SBY dan malah cenderung berpihak pada Prabowo/JK, sekalipun mereka tau, SBY pasti menang.

    Masalahnya bukan pada pendeknya ingatan sejarah rakyat, tapi siapa yg harus dibela, tidak utk masa lalu atau masa depan, melainkan sekarang.

    Keteledoran membangun image? Ya salah sendiri.


  9. From Yopie doank on 10 June 2009 05:12:36 WIB
    Kalau bicara soal HAM negara memang punya banyak hutang pada rakyat, tulisan bung didiet baru sebuah fakta, realita nya (yang luput dari sorotan media )lebih mengerikan lagi, dan itu terjadi dimana mana. setelah ,,refomasi\\\" cara2 mafia melanda per politi kan negeri ini (kasus AA ) apa yang harus dilakukan agar kita bisa mewaris kan negeri yang aman tentram,adil, makmur ,pada anak cucu kita ? kalau saat ini kita berjuang demi HAM semata mata untuk generasi mendatang
    jangan terlalu berharap HAM akan tegak dalam satu generasi
    berjuang lah dengan iklas seperti orang2 beriman pada generasi sebelum kita, Tuhan menyayangi orang yang iklas.
  10. From febs on 10 June 2009 12:46:46 WIB
    ............tambahan saja bentuk melodramatik biasanya mudah lupa, mudah kasihan, dan mudah bosan............dan spt kt oma irama senangnya dg lagu cengeng...;)
    tks
    rgds,
    fansberatlagucengeng
  11. From djaka on 10 June 2009 20:07:49 WIB
    Ngg ... Tragedi 1966-1967 mana Pak? Ada loh capres-capres yg mungkin terkait dg hal itu, atau paling tidak bagaimana mereka menyikapi lembar hitam itu ?
  12. From jaka on 11 June 2009 00:46:27 WIB
    Prens sadayana , \"Mudah melupakan\" buat rakyat mah berarti lupakan masa lalu , ngga usah diinget2 lagi!..alias orang2nya juga dianggap sudah \"tidak ada\" sekarang ini...

    Jadi , pilih saja orang yang \"sudah ada\"...Sanes kitu,prens ?
  13. From Mundhori on 11 June 2009 10:11:11 WIB
    HAM itu multi wajah. Warna kasatnya tergantung siapa yg memandang. HAM juga punya kepekaan sangat tinggi. Bisa menyentuh secara tragis, tersenyum, bahka awut awutan. Masalah HAM lupa dibicarakan dalam kampanye, karena sifat HAM yg multi wajah tadi. Dugaan dugaan keternodaan pada para calon amat dipertaruhkan. Makanya agar tidak menjadi boomerang dan ontran ontran , lebih baik dilupakan saja
  14. From shinta on 12 June 2009 00:05:09 WIB
    semua sepertinya pernah terlibat di orde baru,...
    mungkin jika Tuhan adil pasti SBY, WIRANTO dan PRABOWO akan terhukum oleh perbuatannya, tapi karena Tuhan maha pemurah dan kasih maka mereka bertiga diberikan kesempatan untuk bertobat dan menjalani hidup dengan baik.

    Ingat jika kita berbuat salah kepada orang lain jika hati nurani kita bersih pasti ada roh baik yg membisiki "ayo kamu salah, harus mo berubah ya?"...pasti kita akan berubah menjadi baik.

    Tapi kalo didalam hidup kita ada Roh Setan pasti selalu mem-vonis terus dan tidak membangun "ayo kamu salah, kamu pembunuh...ayo kamu tukang culik,..ayo kamu mati saja".

    hidup setiap manusia pasti ada suara pembisik yg baik dan jahat.

    Semoga suara baik telah datang kepada 3 orang itu, SBY, WIRANTO dan MAS PRABOWO.

    mari kita hilangkan bisikkan Setan alahi'laknat itu.

    salam oom yg cerdas,...
  15. From Mukhlis Munir on 14 June 2009 11:26:45 WIB
    Jangan pernah ada kata-kata mendukung terhadap mantan-mantan jendral yang tangan nya penuh dengan lumuran darah para aktivis yang sudah syuhada. pencalonan diri ke istana negara oleh mantan orang yang brakhlak bandit tersebut adalah langkh yng ahrus diantisipasi oleh segenab anak bangsa yang cinta akan demokrsi, cnta akan kedamaian dan hidup bebas bersuara lantang untuk perubahan akan negeri tercinta ini.

    Haram untuk aktivis dan mahasiswa mendukung capres yang telah merusak demokrasi dan mereka alergi kritikan.dan mereka siap akan memakai kekerasan untuk membasmi orang yang tidak sependapat dan sekata dengan dia...? waspadalah dn hati-hati memeilih presiden 2009, karena jika salah pilih anda akan kaku terbaring seperti mati.
  16. From teddy efendy on 22 June 2009 13:46:17 WIB
    namanya juga kampanye,. setiap topik yang diangkat sebisa mungkin hal yang tidak menunjukkan kelemahannya, tapi yang ditunjukkan adalah kekuatannya..hanya saja di akar rumput, etika jahiliyah terlalu kuat mendarah daging. "jika fakta itu berasal dari kelompok saya, itu pasti benar, jika dari kelompok lain, itu kebohongan"... mungkin kata pemilik bintang itu, "Saya pelanggar HAM? itukan tidak terbukti"..pendukungnya berkata amiieenn...
    Pa wimar kenapa ga nyalon?
  17. From arthur on 29 June 2009 20:50:54 WIB
    setuju sekali dg no.15,mukhlis munir,susahnya rakyat kita memang gampang lupa.Utk penulis(didiet adiputro),pantas anda hanya menulis angka korban \"puluhan hingga ratusan\",korban yg sangat besar jumlahnya,yaitu pembunuhan/pembakaran/perkosaan setelah peristiwa trisakti,tidak ada rinciannya.Tim penyelidik yg di ketuai oleh marzuki darusman memberi angka 2000an korban tewas.Satu lagi yg anda lupakan,kasus munir/pejuang HAM,tersangka otak pembunuhnya juga menjadi tim sukses dan pendukung salah satu kandidat.Utk bung wimar,kira2 apa ya alasan gus dur mendukung calon no.3,agak aneh krn pelanggar HAM kok di dukung??
  18. From reza safrianto on 30 June 2009 02:04:41 WIB
    ya saya sangat kecewa mengenai masalah HAM tidak dibahas pada debat capres, mudah2an di debat capres putaran berikutnya masalah HAM bisa dimasukkan, sehingga rakyat bisa melihat apa tanggung jawab dari para calon pemimpin bangsa kita terhadap isu HAM,,
    menurut saya ada 3 nama yg terlibat kasus HAM selama menjalankan karir nya..dan ada 1 yg secara tidak langusng melakukan pelanggaran HAM dengan dalih bencana alam..

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home