Articles

Sri Mulyani: Hutang Adalah Instrumen Untuk Mencapai Kesejahteraan

Wimar Live
05 June 2009

oleh Didiet Adiputro

Setiabicara mengenai hutang luar negeri sebagian besar masyarakat  kita pasti berpikir tentang lunturnya kemandirian bangsa, intervensi  asing, runtuhnya kedaulatan ekonomi nasional, menggadaikan harga diri bangsa, sampai isu –isu seperti Neoliberalisme, istilah yang tidak jelas pemakaiannya. Pikiran emosional yang cenderung kurang rasional ini jika terus didiamkan bisa menjadi ajang pembodohan buat masyarakat biasa yang kini bisa dengan sangat mudah mengakses informasi. Untuk itu hadir dalam edisi Wimar Live kali ini, Menko Perekonomian/ Menteri Keuangan Dr Sri Mulyani Indrawati, yang memberikan penjelasan secara tenang dan rasional tentang  hutang luar negeri, isu  IMF dan kemandirian ekonomi.
 
Persepsi negatif masyarakat kita terhadap hutang luar negeri tidak terlepas dari trauma masa lalu pada zaman Orde Naru, dimana kita  berhutang dalam jumlah yang sangat  besar tanpa ada transparansi dalam pemakaiannya. Belum lagi pendapat beberapa ekonom yang mejadi panutan seperti Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang mengatakan 30 persen dari APBN kita pasti bocor (dikorupsi). Hal tersebut ditengarai menjadi penyebab masyarakat kita hingga kini bersikap antipati terhadap hutang.
 
Padahal menurut Sri Mulyani, hutang hanyalah instrumen  penerimaan negara untuk mengatasi defisit. Karena kita tidak hanya bisa mengandalkan sektor penerimaan pajak disaat kondisi kesadaran pajak masyarakat kita masih rendah. Belum lagi kewajiban membayar beban hutang masa lalu (Orde Baru) yang membuat kebutuhan kita semakin besar.  
 
Dengan kondisi hutang luar negeri kita yang mencapai 1.640 Triliun, Sri Mulyani mengakui jumlah hutang kita memang bertambah, tapi itu tidak buruk. Jika dibandingkan dengan Jepang yang hutangnya mencapai 150 persen dari PDB, sementara kita 30 persen dari PDB. Indonesia masih masuk kategori aman dengan jumlah hutang tersebut. Disaat banyak negara-negara raksasa ekonomi seperti India yang mengalami defisit APBN sekitar 6 persen dan AS yang mencapai defisit 9 persen, justru Indonesia tahun 2008 hanya defisit sebesar 0,1 persen. Secara makro kondisi hutang kita sebenarnya masih dalam situasi yang belum membahayakan.
 
Namun Sri Mulyani menyayangkan sikap para politisi saat ini yang sering menggunakan kata hutang sebagai salah satu jargon politik untuk mendapatkan simpati masyarakat. "Kekhawatiran masyarakat akan hutang justru disebabkan karena ketidaktahuan itu sendiri", ujar mantan Kepala Bappenas ini.
 
Yang penting di era keterbukaan sekarang pengawasan penggunaan hutang dilakukan secara bersama dan berlapis. Jika dulu tidak pernah jelas jumlah dan penggunaannya untuk apa, saat ini anggaran yang ada diawasi oleh internal auditor seperti BPKP, ditambah kondisi DPR yang makin kritis dan BPK yang independen. Masyarakat, LSM. Pengamatpun bebas mengontrol dan mengetahui penggunaan hutang yang selalu diupdate dalam website. Sehingga hutang yang kita punya bisa digunakan untuk membangun berbagai hal yang mempunyai manfaat ekonomi yang lebih besar dari nilai hutang tadi.
 
Menjawab isu yang mengaitkan dirinya sebagai antek IMF yang punya stigma buruk di masyarakat. Mantan ketua LPEM UI ini mengatakan bahwa sebagian orang yang mencekoki masyarakat dengan konsep seperti itu sehingga menimbulkan ketakutan di masyarakat akan IMF. Mungkin ini dilakukan agar mereka terlihat seperti pahlawan dan berkepentingan untuk membuat masyarakat Indonesia tetap bodoh, agar dia bisa berkuasa. "Indonesia anggota IMF, makanya seluruh menteri keuangan yang menjadi anggota IMF otomatis menjadi  anggota board, ini sama seperti Presiden mengirim dubes saja", tuturnya.  Sri Mulyani sendiri  ditunjuk sebagai anggota Board Director di IMF oleh Presiden Megawati. “itu bukan keinginan saya sendiri tapi ditunjuk oleh Presiden Megawati untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia dan 11 negara lainnya”, ujarnya
 
 Setiap bicara mengenai hutang luar negeri sebagian besar masyarakat  kita pasti berpikir tentang lunturnya kemandirian bangsa, intervensi  asing, runtuhnya kedaulatan ekonomi nasional, menggadaikan harga diri bangsa, sampai isu –isu seperti Neoliberalisme, istilah yang tidak jelas pemakaiannya. Pikiran emosional yang cenderung kurang rasional ini jika terus didiamkan bisa menjadi ajang pembodohan buat masyarakat biasa yang kini bisa dengan sangat mudah mengakses informasi. Untuk itu hadir dalam edisi Wimar Live kali ini, Menko Perekonomian/ Menteri Keuangan Dr Sri Mulyani Indrawati, yang memberikan penjelasan secara tenang dan rasional tentang  hutang luar negeri, isu  IMF dan kemandirian ekonomi.

Persepsi negatif masyarakat kita terhadap hutang luar negeri tidak terlepas dari trauma masa lalu pada zaman Orde Naru, dimana kita  berhutang dalam jumlah yang sangat  besar tanpa ada transparansi dalam pemakaiannya. Belum lagi pendapat beberapa ekonom yang mejadi panutan seperti Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang mengatakan 30 persen dari APBN kita pasti bocor (dikorupsi). Hal tersebut ditengarai menjadi penyebab masyarakat kita hingga kini bersikap antipati terhadap hutang.

 

Wimar Witoelar & Sri Mulyani

Padahal menurut Sri Mulyani, hutang hanyalah instrumen  penerimaan negara untuk mengatasi defisit. Karena kita tidak hanya bisa mengandalkan sektor penerimaan pajak disaat kondisi kesadaran pajak masyarakat kita masih rendah. Belum lagi kewajiban membayar beban hutang masa lalu (Orde Baru) yang membuat kebutuhan kita semakin besar.  

Dengan kondisi hutang luar negeri kita yang mencapai 1.640 Triliun, Sri Mulyani mengakui jumlah hutang kita memang bertambah, tapi itu tidak buruk. Jika dibandingkan dengan Jepang yang hutangnya mencapai 150 persen dari PDB, sementara kita 30 persen dari PDB. Indonesia masih masuk kategori aman dengan jumlah hutang tersebut. Disaat banyak negara-negara raksasa ekonomi seperti India yang mengalami defisit APBN sekitar 6 persen dan AS yang mencapai defisit 9 persen, justru Indonesia tahun 2008 hanya defisit sebesar 0,1 persen. Secara makro kondisi hutang kita sebenarnya masih dalam situasi yang belum membahayakan.

Namun Sri Mulyani menyayangkan sikap para politisi saat ini yang sering menggunakan kata hutang sebagai salah satu jargon politik untuk mendapatkan simpati masyarakat. "Kekhawatiran masyarakat akan hutang justru disebabkan karena ketidaktahuan itu sendiri", ujar mantan Kepala Bappenas ini.

Yang penting di era keterbukaan sekarang pengawasan penggunaan hutang dilakukan secara bersama dan berlapis. Jika dulu tidak pernah jelas jumlah dan penggunaannya untuk apa, saat ini anggaran yang ada diawasi oleh internal auditor seperti BPKP, ditambah kondisi DPR yang makin kritis dan BPK yang independen. Masyarakat, LSM. Pengamatpun bebas mengontrol dan mengetahui penggunaan hutang yang selalu diupdate dalam website. Sehingga hutang yang kita punya bisa digunakan untuk membangun berbagai hal yang mempunyai manfaat ekonomi yang lebih besar dari nilai hutang tadi.

Menjawab isu yang mengaitkan dirinya sebagai antek IMF yang punya stigma buruk di masyarakat. Mantan ketua LPEM UI ini mengatakan bahwa sebagian orang yang mencekoki masyarakat dengan konsep seperti itu sehingga menimbulkan ketakutan di masyarakat akan IMF. Mungkin ini dilakukan agar mereka terlihat seperti pahlawan dan berkepentingan untuk membuat masyarakat Indonesia tetap bodoh, agar dia bisa berkuasa. "Indonesia anggota IMF, makanya seluruh menteri keuangan yang menjadi anggota IMF otomatis menjadi  anggota board, ini sama seperti Presiden mengirim dubes saja", tuturnya.  Sri Mulyani sendiri  ditunjuk sebagai anggota Board Director di IMF oleh Presiden Megawati. “itu bukan keinginan saya sendiri tapi ditunjuk oleh Presiden Megawati untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia dan 11 negara lainnya”, ujarnya

 

Saksikan video-nya:

Print article only

60 Comments:

  1. From pratono on 06 June 2009 16:16:33 WIB
    Penjelasan seperti ini yg perlu diberikan ke publik sehingga masyarakat tahu.Yang gencar di media kan hutang membebani kita dan anak cucu.Seyogyanya ada counter atas informasi keliru yg digunakan orang2 tertentu untuk mencapai tujuanya,sehingga masyarakat tahu.Trims
  2. From febs on 06 June 2009 16:57:14 WIB
    Bagus juga.... dan Sri Mulyani hrs lbh sering mengartikulasikan perspektifnya spt dlm wimar live terutama di musim pilpres ini. krn sy perhatikan SBY krg mampu meyakinkan (plg tdk buat saya dan) publik ttg kebijakan ekonomi makronya, dan terlihat membela sesuatu yg bukan buah pikirannya dan lebih terkesan membela mentri SM.

    jadi saat yg tepat bagi SM utk masuk partai demokrat (atau plg tdk partai pendukubg SBY) dan jadi jurkam SBY-Boediono ;)

    .......atau Pak Budiono mampu menjelaskan dgn gamblang?....tentu saja bisa tapi syaratnya penanyanya WW dlm wimar live ;)
    tks




  3. From Sunu Gunarto on 06 June 2009 21:03:09 WIB
    Saya terlambat mengikuti talkshow semalam. Sebagai orang awam dalam bidang ekonomi,saya merasa tercerahkan melihat obrolan santai bung Wimar dengan Ibu Menteri. Sekarang lagi marak isu hutang luar negri, neoliberalisme, IMF dan lain-lain yang diobral oleh para politisi. Hem..... bingung saya. Alhamdulillah, sekarang sudah tahu duduk persoalannya...... Terimakasih bung Wimar, terimakasih Ibu Sri Mulyani. Semoga bangsa ini tercerahkan dengan penjelasan macam begini. Amin.
  4. From Sunu Gunarto on 06 June 2009 21:17:39 WIB
    Saya terlambat mengikuti talkshow semalam. Sebagai orang awam dalam bidang ekonomi,saya merasa tercerahkan melihat obrolan santai bung Wimar dengan Ibu Menteri. Sekarang lagi marak isu hutang luar negri, neoliberalisme, IMF dan lain-lain yang diobral oleh para politisi. Hem..... bingung saya. Alhamdulillah, sekarang sudah tahu duduk persoalannya...... Terimakasih bung Wimar, terimakasih Ibu Sri Mulyani. Semoga bangsa ini tercerahkan dengan penjelasan macam begini. Amin.
  5. From Sunu Gunarto on 06 June 2009 21:20:17 WIB
    Saya terlambat mengikuti talkshow semalam. Sebagai orang awam dalam bidang ekonomi,saya merasa tercerahkan melihat obrolan santai bung Wimar dengan Ibu Menteri. Sekarang lagi marak isu hutang luar negri, neoliberalisme, IMF dan lain-lain yang diobral oleh para politisi. Hem..... bingung saya. Alhamdulillah, sekarang sudah tahu duduk persoalannya...... Terimakasih bung Wimar, terimakasih Ibu Sri Mulyani. Semoga bangsa ini tercerahkan dengan penjelasan macam begini. Amin.
  6. From nomercy on 06 June 2009 21:41:12 WIB
    1) jaman orde naru itu kapan ya om? :D ... *typo

    2) yang bener bu sri mulyani bilang begitu? pernah berpikir gak dia uang yg dipakai bayar utang itu darimana? ... gila! hutang kok dibanggain ... apalagi dia bilang masyarakat khawatir karena ketidaktahuan ... weks ... ini namanya pembodohan ... neo-liberalism neo-colonialism ...
    kenapa gak sekalian saja dia bilang: "sampai kiamat hutang kita gak bisa dilunasi karena modal buat bayar hutang ya hutang itu sendiri sedangkan modal sda kita kan sudah milik asing semua" ...
  7. From Arie on 06 June 2009 21:56:35 WIB
    Bu Sri, communication..communication..communication.

    lalu kenapa harus nunggu orang melakukan manuver politik untuk mendapatkan penjelaskan itu, seharusnya sudah disampaikan dari dulu2. kalau ga ditanya WW pasti ga ada yang tau persefektif pemerintah seperti itu.

    mungkin saya salah mengerti tapi -
    WHEN WE ARE IN SILENCE THAT DOES NOT MEAN THAT WE ARE NOT IN PAIN-
    mungkin ibu tahu statistik rata2 pendidikan orang Indonesia itu setara kelas 2 SD. Perlu komunikasi yang bisa dimengerti sampai pada level itu supaya bisa mentralisir provokasi.

    tapi tetep bagi saya secara personal instrumen untuk kesejahteraan adalah spiritualitas (sila 1 & 2)dan hukum yang aktif dan positif (sila 3 & 4), dan tentu kompetisi (sila 5). Hutang walaupun secara perhitungan ekonomi bisa dijadikan instrumen tapi ekses psikologisnya sangat beresiko menurunkan harga diri.

    Respek dunia eropa terhadap Italy contohnya begitu rendah hanya karena lifestyle yang sangat ekslusif tapi mereka penghutang terbesar ke3 didunia setelah negara miskin. Ayo yang suka highend life style udah dilunasin belum utang Credit Cardnya hehe.

    tapi selama bu Sri yakin national debt will not plung the country into crisis ga apa2, janganlah kita tetep ngutang tapi rakyat masih ngantri BLT.


    Terima kasih atas kerja keras Bu Sri.
  8. From feirouszia on 07 June 2009 01:11:43 WIB
    hutang... OMG, saya yang kelilit hutang aja puyeng pak.. gimana kalo negara yah...
  9. From feirouszia on 07 June 2009 01:12:35 WIB
    hutang... OMG, saya yang kelilit hutang aja puyeng pak.. gimana kalo negara yah...
  10. From eryadi on 07 June 2009 04:12:40 WIB
    memang sungguh dilematis, di satu sisi kita tak ingin bergantung pada IMF,World Bank, ADB, dll namun di satu lainnya mau tak mau kita harus mengakui bahwa kita memang membutuhkannya....
  11. From wimar on 07 June 2009 04:41:55 WIB
    @nomercy: asyik sekali komentar anda. lebih efektif kalau pakai nama yang benar.

    terima kasih menunjukkan typo :)
  12. From Arief on 07 June 2009 09:15:38 WIB
    Memang harus diakui, ditangan ibu Sri, Indonesia tidak terpuruk pada saat krisis. saya tidak sempat menonton hanya ingin berkomentar setelah membaca artikel ini.

    Jadi bingung pada saat hutang itu adalah hal yang baik, selama digunakan dengan tepat, dan menyalahkan masyarakat mengenai pandangan buruk tentang IMF.

    Sampai kapan hutang yang baik itu akan selesai atau akan bertambah terus ? sekarang memang ekonomi Indonesia mengalami kenaikkan, tetapi berapa hutang yang diperlukan ? apakah itu seimbang ?

    Mungkin ada harapan bahwa hutang ini tidak akan ditagih ya. kalo begitu kita berusaha berdoa saja, bukan berusaha membayar.


    salam



    informasidanopini.blogspot.com -> Tips BlackBerry dan Personality Development
  13. From hok on 07 June 2009 10:42:20 WIB
    Setiap negara di dunia harus berutang untuk menggerakkan perekonomian negara mereka.

    Kalau tidak , darimana dana untuk membangun infrastruktur darat ,laut, udara,alutista angkatan bersenjata,gaji pegawai negeri dan angkatan bersenjata/ polisi ,dsb? mau cetak uang terus sampai bangkrut seperti Zimbabwe?

    Negara yg bisa menarik pajak dari seluruh rakyat baik kaya atau miskin dengan adil ,disertai KEMAUAN serta KEMAMPUAN mengelola sendiri sumber2 daya alam dan manusia nya dengan JUJUR dan TANGGUNG JAWAB untuk kesejahteraan seluruh rakyat, pasti akan menjadi negara yg sungguh2 kuat bukan hanya sekadar retorika politik belaka ,sehingga mampu membayar utang2 dan mensejahterakan bangsa mereka.

    Hal2 tersebut sudah dilakukan lama sekali di negara2 yg sudah sangat maju,seperti Amerika Serikat dan eropa pada umumnya( rekan2 yg tinggal atau pernah tinggal di negara2 tersebut tentu sudah merasakannya ,bukan?).

    Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita MAU DAN MAMPU membayar dan mengelola pajak dan sumber2daya Indonesia tersebut dengan jujur dan bertanggung jawab? Hanya pemimpin dan Rakyat Indonesia sendiri yg bisa menjawabnya ,bukan?


  14. From jaka on 07 June 2009 11:35:59 WIB
    Urusan hutang mah sudah biasa,prens sadayana...Amerika yg negara segitu kuatnya aja, punya hutang paling gede sedunia ..jadi jangan susah jangan bimbang..yang penting bisa bayar, nggak ngemplang dan rakyat hidup makmur..cukup sandang ,pangan dan papan..lebih bagus lagi cukup tumpakan (transportasi pribadi, gitu maksud sahaya )..terus nagara aman tentrem loh jinawi dan dihormati orang sadunia karena bayar utang tepat waktu...ngga ngemplang seperti negara2 afrika nun jauh di sana...

    Nahh prens sadayana, yang penting sekarang mah kita kudu hati-hati dengan para tukang kampanye yg suka memojokkan lawan nya dengan persoalan utang lah,neolib lah ,ekonomi rakyat lah,antek2 imf lah ,...soalnya ,kalau nanti mereka berkuasa, paling2 bakalan hutang lagi yg lebih gede,terus uangnya dijadi\'in bancakan(dibagi-bagi)antara mereka sendiri ,seperti \"jaman edan ora keduman\" dulu itu...

    mereka mah senang kalau kita jadi orang2 bodo,ngga tau apa2..supaya mereka gampang menguasai tanah-tanah dan bangsanya sendiri untuk jadi sapi perahan mereka seperti \"jaman edan ora keduman\" itu...

    Pemerintahan sekarang mah jauh lebih mendingan dibanding dulu. Makanya banyak prens sahaya pada mau balik ke kampung halaman tercinta ,karena presidennya (bukan wapres nya)bisa dipercaya rakyat,kata mereka...

  15. From shinta on 07 June 2009 14:56:45 WIB
    Bu Mega sekarang sudah tahu orang2 yg dilingkungannya, dahulu waktu baru memimpin banyak orang yg datang kepadanya memohon untuk ditempatkan diposisi strategis...ternyata??

    Ibu Mega sudah mengerti, apalagi duet dengan Mas Prabowo,...saya pilih dia, salah gak ya?
  16. From pratono on 07 June 2009 15:48:58 WIB
    Urusan hutang memang menjadi kontroversi di msyrkt.Tanpa menyalahkan yg pro / kontra,pernyataan bu SM betul.Intinya sejauh hutang itu bisa dipertanggung jawabkan,transparan penggunaan maupun pengelolaanya,msyrkt bisa mengakses data yang selalu diupdate dan di audit oleh auditor independent,juga dimonitor oleh DPR,LSM bisa diterima.

    Kita akui sekarang penerimaan pajak maupun cukai lebih tinggi dari tahun2 sebelumnya karena ada kemauan politik dari penyelenggara negara untuk menerapkan sistem yang makin baik sehingga sulit untuk tst antara wajib pajak dan petugas.Kalau kita urusan dg kantor pajak sekarang juga lebih nyaman,jelas dan cepat.Kalau kita datang kekantor pajak menanyakan sesuatu ke petugas pajak juga dilayani dengan baik.Dulu gak terbayang akan bisa begini.

    Mari kita doakan penerimaan pajak maupun cukai dengan adanya perbaikkan sistem akan lebih optimal dan maksimal sehingga penerimaan negara untuk menggerakkan penerimaan dan kesejahteraan rakyat lebih cepat tercapai.Trims

  17. From ardians on 07 June 2009 20:27:13 WIB
    kata orang tua: "mencontohlah pada kebaikan, bukan memberikan contoh sebuah keburukan"

    1) buat bung @hok: apakah benar "<strong>setiap negara</strong> di dunia harus berutang untuk menggerakkan perekonomian negara mereka"? apakah ini berdasarkan fakta konsensus? apakah ada negara di dunia ini yang tidak memiliki hutang?
    2) tidak semua negara dikaruniai kekayaan sumber daya alam yang sama dan juga tidak semua negara memiliki sumber daya manusia dengan intelektualitas yang tinggi. selain itu berbeda lokasi berbeda pula budaya dan politiknya. keberagaman inilah yang mendorong setiap negara untuk saling berinteraksi dan berkolaborasi membentuk komunitas yang saling menguntungkan.
    3) membangkitkan rasa nasionalisme memang mudah tetapi membangkitkan budaya nasionalisme itu yang susah.
    4) seperti yang dibilang oleh saudara @Arie di atas bahwa statistik menunjukkan bahwa rata-rata pendidikan orang Indonesia ini setara kelas 2 SD, tetapi apakah pendidikan formal dapat dijadikan tolak ukur bahwa masyarakat Indonesia itu bodoh? saya rasa tidak. masyarakat kita 'mungkin' memang bodoh, tetapi mereka memiliki nurani dan keihklasan hati warisan bangsa. dibodohi/dibohongi mungkin biasa bagi mereka, namun itu bukan berarti yang 'pintar' tidak dapat membahagiakan mereka.
    5) negara kita ini sudah terlanjur dijual kepada asing. (bilang saja begitu, kenapa harus mengatakan tidak). langkah yang harus dijalankan selanjutnya adalah pertanyaan untuk diri kita sendiri: masih sanggupkah kita membelinya kembali? ini tanah air kita. tempat para pejuang ratusan tahun lamanya yang secara intens berjuang untuk bangsa dan negerinya. kenapa harus menjawab dengan kata-kata lemah dan melemahkan. kita semua ini turunan dari pejuang-pejuang itu. harus bangkit dalam nilai-nilai nasionalisme. rebut kembali bangsa dan tanah air kita dari penjajahan model baru ini.
  18. From Berto on 07 June 2009 20:57:31 WIB
    Negara berutang tidak masalah, selama utang itu dipakai negara untuk hal2 yang meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bukan berarti persentase utang negara harus dipertahankan oleh negara pada tingkat yang sama, kalau bisa persentasenya diturunkan, karena utang bukanlah berkah tapi beban yang harus dilunasi.

    Melihat pernyataan Ibu Sri Mulyani untuk menanggapi bahwa ia Pro-IMF, dimana sebenarnya ia ditunjuk oleh Ibu Megawati dan ada Kepresnya untuk mewakili Indonesia di dewan IMF. Merupakan hal yang bagus untuk dijelaskan, dimana sebagian masyarakat masih banyak yang menganggap Ibu Sri Mulyani melamar bekerja untuk IMF padahal ia ditunjuk Negara.

  19. From dhodo on 07 June 2009 23:30:24 WIB
    nice blog..godluck ya..
  20. From Siti Parliah on 08 June 2009 09:00:53 WIB
    Bung WW,
    Acaranya bagus. Memberi pencerahan kepada para pemirsa.
    Mudah-mudahan lebih banyak lagi acara yang seperti ini sehingga ada pendidikan bagi rakyat umum.
    Kalau dipikir-pikir media itu memegang peranan penting dalam penyebaran informasi, sayang sekali akhir-akhir ini di era glabalisasi ini segala informasi ditayangkan jadi rakyat yang pengetahuannya masih kurang jadi makin amblas, cuma dipicu dengan hal-hal yang emosional saja.
    Oh bangsa ku kapan mau jadi dewasa............
  21. From Irfan Sofani on 08 June 2009 11:17:08 WIB
    Ditunjuk oleh Ibu Megawati benarkah hasil keinginan Megawati sendiri? Seperti dulu Gus Dur menempatkan orang-orang yg tidak kapabel dalam kabinet, apakah benar itu keinginan Gus Dur sendiri? Justru saat Gus Dur ingin menempatkan orang2 yg diinginkannya karena memang kapabel (termasuk Pak Marsilam, Alm. Baharudin Lopa, serta Om WW sendiri ciee....)dia malah terjungkal (pls see No Regret by WW).

    Ini yg perlu dicross check ke Megawati. Sebagaimana ia dituduh menjual Tangguh, Papua, ataupun privatisasi BUMN, dengan santainya ngeles, itukan produk kebijakan masa lalu yg ga bisa dia batalkan begitu saja saat menjabat Presiden.

    Menurut hemat saya yg cukup fair sih undang kedua mazhab, jangan bicara sendiri2, tentunya dengan moderator yg kapabel juga, ya Om WW sendiri.....Pertemukanlah Sri Mulyani dg (boleh pilih salah satu) Rizal Ramli, Hendri Saparini atau Revrisond Baswir. Sepertinya mereka yg saya sebutkan dari mazhab yg berlainan ini cukup dingin kok dalam mengajukan argumen. Ga asal marah2.

    Sayang sekali Mas Anas Urbaningrum saat debat dengan Fadly Zon berkata rakyat kecil ga peduli dengan isu Neolib atau ekonomi kerakyatan, asalkan hasilnya ok bagi rakyat. Lho kok gitu? Mana misi mencerdaskan kehidupan bangsa? Keterbukaan informasi dan transparansi?

    Justru saat ini bangsa terperosok gara2 rakyat tidak pernah tau kearah mana negara ini mau dibawa. Justru atas dasar itu Iwan Fals dan penyair Rendra berkolaborasi dalam Kantata Takwa menciptakan lagu yg sangat indah sekali dan meremangkan bulu kuduk,\\\\\\\"Kesaksian\\\\\\\", agar rakyat tidak hanya dijadikan objek penderita saja.

    Saya kutip sedikit syairnya:
    Orang - orang harus dibangunkan
    Aku bernyanyi, menjadi saksi
    Kenyataan harus dikabarkan
    Aku bernyanyi, menjadi saksi
    Lagu ini jeritan jiwa
    Hidup bersama, harus dijaga
    Lagu ini harapan sukma
    Hidup yang layak, harus dibela....
  22. From Mundhori on 08 June 2009 14:20:24 WIB
    Kesan orang awam (rakyat) hutang itu kemiskinan, penderitaan dan akan mendatangkan kepedihan. Coba bayangkan Indonesia punya hutang mencapai 1.500 triyun. Waah betapa deritanya anak cucu kita untuk membayarnya. Kalau sebenarnya hutang tidak selalu mendatangkan penderitaan, bahkan akan mendatangkan kesejahteraan. Masalah itu yg harus dijelaskan kepada rakyat. Supaya tidak terjadi debat berkepanjangan, yg akhirnya hanya menghabiskan energi dan memakan ongkos social besar
  23. From semadi putra on 09 June 2009 09:32:54 WIB
    Menurut saya rakyat perlu diberikan informasi tentang hutang negara ini, agar nantinya rakyat tidak lagi memikirkan bahwa hutang itu sesuatu yang merugikan. Jadi selain sosialisasi di masyarakat, para anggota dewan juga jangan sampai kena kasus korupsi lagi, sebagai instansi paling sering diberitakan korupsi harus cepat berbenah diri,..

    http://semadiputra.wordpress.com
  24. From eriza lesmana on 09 June 2009 15:49:35 WIB
    Kerapkali beberapa pengamat atau praktisi ekonomi mengatakan bhw ration hutang kita dgn PDB msh di bawah 1.
    B'Sri mengatakan bhw sumber pendapatan pemerintah kl hanya mengandalkan pajak tdk cukup, krn msh blm taat pajak.
    Sebenarnya perbandingan komposisi pendapatan negara dari PAJAK dan HUTANG gmn ya? Memang ada yg namanya Manajemen Hutang, tp kl persentase Hutang lebih besar dari pajak, kemungkinan besar kebijakan pemerintah khususnya bidang eknomi menjadi TIDAK BERDAULAT. Kl (mungkin) bener begitu, yg katanya untuk instrumen kesejahteraan rakyat hanya sbg propanda saja. Maaf kl mungkin kata2x atau maksudnya kurang sopan.
  25. From wayan on 09 June 2009 16:43:38 WIB
    hutang itu memang bisa mensejahterahkan..tp harus melihat kondisi kita saat itu. jangan sampai karena hutang kita malah tidak dapat survive. menurut saya lebih baik kita ubah standart hidup kita tetapi nantinya akan bisa survive.
    :lol:

    http://www.wayan.web.id
  26. From fajar on 09 June 2009 18:01:41 WIB
    @nomercy : komentar anda sangat menarik, namun maaf jika saya merasa komentar anda sangat naif dan tidak realistis. kita perlu pahami bahwa negara berhutang karena memang budget untuk menutupi kebutuhan negara memang tidak mencukupi(defisit). Apa mungkin kita mengorbankan jalannya pembangunan fisik dan ekonomi hanya karena negara tidak punya cukup uang dan gengsi untuk berhutang. Menurut saya sangat wajar berhutang, selama hutang tersebut dapat dimanage dengan optimal untuk kepentingan bangsa dan memiliki planning pembayaran yang jelas dan masuk akal. Dan satu lagi hal penting dan perlu di bold dari ungkapan bu sri suryani yang saya rasa perlu menjadi perhatian kita semua dan para pemegang kebijakan keuangan baik sekarang maupun nanti yaitu \" Hutang itu adalah sebuah opsi\"..... terima kasih sebelumnya dan mohon maaf bila ada kata yang salah.... tetap kritis.....
  27. From arif Zainudin on 09 June 2009 20:19:44 WIB
    Kelihatan bedanya orang yang mengerti dengan yang tidak. Senang sekali sempet melihat tayangan tersebut di dua kali kesempatan, meskipun masing2 tidak utuh, tapi bisa melengkapi.

    Pendapatku cuma satu, siapa pun yang mau bicara tentang kondisi negeri ini, gunakanlah NURANI. Tanyakan pada diri sendiri apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini sebatas posisi yang kita miliki. Ini lebih baik dari pada sekedar menyalahkan orang lain, apalagi yang paling jahat, dengan menyalahkan orang lain mengambil keuntungan diri sendiri mencari popularitas.

    Jawaban2 SM cukup bisa menunjukkan kok siapa yang bicara setelah bekerja keras, dan siapa yang bicara keras baru kemudian bekerja. Dan Bu SM termasuk yang pertama. Kalau yang kedua? Anda semua bisa mengira-nbgira sendiri kan siapa orangnya?

    Jangan-jangan kita sendiri....
  28. From Nusantaraku on 10 June 2009 02:59:56 WIB
    Saya khusus akan menanggapi wawancara SM dan WW yang saya sempat tonton.
    1) Jepang memilik utang (debt), tapi ia menjadi salah satu negara pemberi utang terbesar (kreditor). China memiliki utang, Australia memiliki utang, tapi ia menjadi negara kreditor yang besar. Apakah Indonesia adalah negara kreditor?

    2) SM hanya mengatakan utang untuk digunakan untuk infrastrutkur, dan pembiayaan APBN bla...bla.. Tapi, ia tidak pernah mengakui bahwa sebagian besar utang digunakan untuk membayar utang najis (odious debt). Tidak kurang dari 75% utang hanya untuk menutup utang. Gali lubang tutup lubang. Dan Tidak kurang 30-50% utang tersebut digunakan untuk mensubsidi utang para obligor/bankir dari BLBI dan BPPN.

    3) Mengapa harus menambah utang yang besar? Padahal mark-up dan ketidakprofesional dalam anggaran APBN masih berdiri tegak di departemen-departemen pemerintah. Audit Departemen 2008 yang dipimpin SM saja mendapat disclaimer dari BPK.

    4) Apakah Indonesia tidak masuk dalam arus neoliberalisasi? Coba kita tanya : Negara mana saja yang jalan tol (free way,high way) yang berbayar? Mengapa BUMN-BUMN terus diagendakan untuk dijual sebelum mendapat kecaman? Mengapa kehadiran Menlu AS Condeela R, membuat Cepu yang awalnya akan diberikan kepada Pertamina tiba-tiba diberi kepada Exxon? Mengapa Obligasi Rekap diakui oleh negara? Inikah namanya pro-rakyat dan bukan neolib?

    Itu yang hilang dalam diskusi.
    http://nusantaranews.wordpress.com/2009/06/09/9-masalah-laporan-keuangan-pemerintah-sby-jk-2008-dan-anggaran-triliun-rp/
  29. From www.siherdi.com on 11 June 2009 13:50:11 WIB
    Bu Sri.. kalau negara bisa berkembang tanpa utang kenapa harus dengan utang. Saya yakin ASAL SEMUA POTENSI INDONESIA YANG ADA DI DARAT DAN DILAUT di optimalkan ; Indonesia bisa maju tanpa utang.

    Pakar keuangangan sepertinya hanya faham caran mengelola keuangan. Tpi dia belum tentu paham cara mengoptimalkan potensi2 yang ada di Indonesia.

    Itu bedanya pakar keuangan dan bisnisman
  30. From Wasik on 12 June 2009 17:07:21 WIB
    Om tolong kasih pencerahan tentang utang luar negeri dong.
    1.posisi hutang luar negeri indonesia? Berapa hutang swasta? Hutang pemerintah?
    Saya pernah mendengar pernyataan aa malarangeng tentang jumlah hutang LN 5 juta/kepala pada 2004 menjadi 7 juta/kepala pada 2009 tapi pendapatan perkepala meningkat dari 10 juta menjadi 21 juta pada 2009.
    Apakah data ini benar?
    Tlg tampilkan data yg benar dan utuh.
    Tlg juga undang hendri saparini tp sebelumnya tampilkan curiculum vitaenya secara lengkap,supaya pemirsa ngerti yg dia omongan dia bisa d percaya ato tidak.
    Sukses selalu buat om WW.
  31. From khairul on 12 June 2009 21:46:03 WIB
    bukan berutang menjadi masalah, tapi apakah utang itu digunakan untuk apa ? yang sering menjadi persoalan adalah kebocoran utang itu sendiri.

    Kalau utang itu digunakan seperti pengusaha mengelola keuangan untuk perkembangan usahanya, tdk menjadi soal.
  32. From erny on 14 June 2009 23:00:58 WIB
    Melihat dan mendengar saat talkshow Wimar live dengan Ibu Sri Mulyani....sungguh menyenangkan!
    Kata demi kata yang terucap telah mencerahkan pikiran saya tentang segala sesuatu yang membingungkan selama ini...tentang hutang, IMF dan image antek IMF yang melekat pada diri Ibu Sri Mulyani.
    Semoga \"Wimar Live\" bisa sering mendatangkan tokoh-tokoh sekelas Ibu Sri sehingga bisa mencerahkan seluruh rakyat Indonesia dan tentu saja gak gampang dibodoh-bodohi lagi.
  33. From Rudy Rachman on 15 June 2009 00:33:28 WIB
    Martin Luther King, Jr. kan ada bilang bahwa \"The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort, but where he stands at times of challenge and controversy.\" Ranah bu Srie kan ekonomi, dan santunnya beliau yah mengikuti gaya pak SBY, selalu etis dan berusaha objektif. Mereka tidak naif mengklaim berulang-ulang sebagai pencuci piring \"Hutang Turunan Moyang\", siapa bilang \"bahagia\" punya hutang, justru ditangan tim kreatif inilah \"hutang berbalik posisi kelak jadi piutang\". Yuk beri atmosfer, jangan maju dicegat, mundur ditubruk, maju trusss!
  34. From Ronald M on 15 June 2009 02:17:37 WIB
    Bung Wimar, setelah membaca komentar teman-teman disini yang sebagian besar menabukan utang saya jadi mengerti kenapa tingkat kewirausahaan (entrepreneur) masyarakat bangsa ini sangat rendah. Utang (untuk tujuan produktif contohnya bisnis) adalah daya ungkit yang sangat kuat yang dapat digunakan untuk (dalam perspektif pengusaha) mendirikan, mengembangkan dan menumbuhkan bisnis sehingga dapat menjadi kaya dengan lebih cepat, tentunya utang itu harus dimanage secara baik, rasio utang terhadap asset yang dimiliki harus terkontrol. Jika utang dianggap tabu dan berusaha untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk dijadikan modal, we will lost the momentum!!!
  35. From Ronald M on 15 June 2009 02:23:40 WIB
    Bagaimana caranya kita dapat memaksimalkan seluruh kekayaan dibumi ini dengan lebih cepat tanpa modal yang cukup? justru itulah makanya kita berutang. Businessman justru kalangan yang paling getol berutang lho, bahan utangnya seringkali di rolling trus, karena dengan itu bisnisnya dapat bertumbuh dengan lebih cepat dan tidak kehilangan momentum/opportunity, sebaliknya justru pakar keuangan jarang berutang karena mereka bukan praktisi dan mendapatkan salary yang tetap dan aman.
  36. From terapi anak on 15 June 2009 15:57:50 WIB
    Terlalu banyak hutang ya ... bikin runyam kesejahteraan, Mbak Sri itu gimana tho, saya jadi nggak dong deh ?
  37. From Yamin on 15 June 2009 23:41:25 WIB
    aneh sekali bu menteri, hutang dibangga-banggain. Masyaallah...
  38. From ricky on 16 June 2009 14:20:49 WIB
    utang itu adalah hal yg biasa. Sebagai contoh perusahaan skala besar maupun kecil selalu minta kredit/utang kpd bank ataupun keluarganya untuk modal usaha ataupun tuk ekspansi perusahaannya. Demikian jg pemerintah memerlukan modal untuk membangun negara ini. Jd konsep neoliberal ataupun kerakyatan bikin bingung aja.. Yg penting utang itu digunakan untuk membangun, bukan untuk konsumsi
  39. From Rein Mahatma on 16 June 2009 16:51:38 WIB
    menurut saya, tidak bisa dibandingkan Debt/Equity ratio kita dengan negara maju karena produktivitas negara maju jauh lebih tinggi dari negara kita.

    http://202.146.4.17/read/xml/2009/05/19/1157388/waduh.produktivitas.indonesia.nomor.3.dari.bawah

    jadi wajar saja kalau debitor (pengutang) berani memberi hutang ke negara maju walaupun DERnya jelek. produktivitas indonesia rendah sehingga efektivitas hutangnya pun secara kasar dianalogikan rendah.

    saya juga merasa pemerintah berhutang dengan asumsi yang terlalu optimis bahwa (misalnya) tahun 2030 akan lunas, padahal tahun 2014-2030 banyak unknown&uncontollable factor yang bisa mengubah skenario yang indah itu menjadi worst case scenario, pada kenyataannya sejak pertama kita merdeka sampai sekarang, hutang tidak pernah berkurang, artinya selalu terjadi worst case scenario! dan sekarang kita berada di zona yang belum pernah kita hadapi sebelumnya, yaitu rekor sigma/penambahan hutang terbesar sepanjang sejarah - dan seorang menko perekonomian tetap optimis berhutang dan yakin mempu melunasi ? saya kira tahun presiden 2014 nanti akan tercenung sambil mengatakan APBN periode pemerintahan terbebani cicilan hutang karena perbuatan rezim sebelumnya, DPR tahun 2014 juga akan cuci tangan dengan mengatakan bukan DPR periode mereka yang mengesahkan hutang2 ini
  40. From jaka on 17 June 2009 00:59:07 WIB















































    Pa Wimar ,hatur nuhun pisan untuk tayangan videonya dalam perspektif online ini..sangat berguna bagi kami2 yg tidak bisa nonton di Indonesia..

















  41. From keegan on 17 June 2009 06:26:36 WIB
    Kalo saya perhatikan....

    ada 2 pihak di sini..yang mendukung hutang dan yang menolak hutang.

    Setiap komentar yang mendukung hutang, mereka dapat memberikan penjelasan logis, dan rasional.

    tetapi yang menolak/tidak setuju dengan hutang, sebagian besar berkomentar dengan retorika dan lebih emosional (misal bangga? runyam dll). lihat saja. itu fakta lho.

    Yah..pendidikan menentukan pola pikir.
  42. From boy on 17 June 2009 08:22:01 WIB
    Dulu saya merasa berhutang itu tabu, namun seiring berjalannya bisnis kecil-kecilan yang dijalankan yang membutuhkan mobilisasi tinggi, saya mencoba ngutang motor alias kredit motor untuk usaha, soalnya pengen beli cash duitnya tidak ada. Alhamdulillah dengan disiplin dalam membayar dan dimenej dengan baik kredit motor saya tinggal 5 bulan lagi lunas dan usaha juga Alhamdulillah lancar.

  43. From Harari on 17 June 2009 12:40:47 WIB
    Saya rakyat biasa dan tidak mengerti tentang ekonomi, khususnya mengenai Ekonomi Neoliberalisme. Di pihak lain ada yang mengemukakan Ekonomi Kerakyatan. Setahu saya Ekonomi Kerakyatan adalah Ekonomi Komunis/Marxist, malahan sekarang saya dengar ada Ekonomi Neomarxist. Mohon kepada ahli ekomoni yang kompeten untuk mererangkan beda antara Ekonomi Kerakyatan (yang sekarang ramai-ramai diketengahkan) dengan Ekonomi Marxist dan Neomarxist. Terima kasih.
  44. From rein mahatma on 17 June 2009 13:15:37 WIB
    masalahnya itu rezim yg ada skr merasa bisa mengelola hutang TETAPI tidak bisa menjamin pelunasannya (sudah tentu tongkat estafet pengelolaan & pelunasan hutang yang rumit akan dilanjutkan ke rezim berikutnya yang pasti akan kesal karena tidak ada aturan cut off pelunasan hutang oleh inisiator hutang), kayaknya perlu ada aturan pelunasan hutang harusnya tanggung jawabnya tanggung renteng sampai kepada para inisiator hutang, supaya kalo pengelolaan hutang memburuk pada 2016 (mis rupiah mencari kesetimbangan baru di Rp.20 ribu per dollar sehingga hutang yang dulu Rp. 1 skr jadi Rp. 1,8) , Ibu Sri Mulyani (yang mungkin saat itu sudah pensiun) hanya akan manggut2 bilang "pengelolaan hutang negara skr jelek sekali, tidak seperti di jaman saya dulu ... jangan samakan cara kelola hutang di swasta dengan negara karena swasta itu ownernya (=inisiator hutang) cuma 1 orang pemilik, kalo negara?? ownernya ganti ganti tiap 5 tahun !! skill pengelolaan hutang juga beda! ngutang banyak ini strategi higk risk high return. Our Nation is at stake!
  45. From rein mahatma on 17 June 2009 13:20:53 WIB
    Morgan Stanley: BRIC should include Indonesia along with Brazil, Russia, India and China
    http://www.bloomberg.com/apps/news?pid=20601080&sid=a31Sp.fWxG1A

  46. From Harari on 17 June 2009 14:46:41 WIB
    Berhutang memang perlu, bila perusahaan kita ingin maju. Coba, pengusaha yang berhasil mana yang tidak pernah berhutang! Asal saja digunakan untuk mendapatkan hasil tambah. Jadi janganlah dihebohkan soal hutang negara, yang mengeritik tentang hutang tersebut rupanya tidak punya logika.
  47. From wimar on 17 June 2009 14:53:03 WIB
    Thanks, Rein Mahatma. This becomes the posting of today
  48. From HERU W on 18 June 2009 13:13:38 WIB
    Kata semua orang .. HUTANG itu menguntungkan hanya bila digunakan untuk kegiatan produktif. Kalau digunakan utk kebutuhan konsumtif, apalagi sekedar mengikuti gaya hidup (lifestyle=dorongan syahwat)maka KESENGSARAAN PERMANEN tinggal menunggu waktu.
    jawaban SM ketika menjawab pertanyaan WW, terkait dengan pemanfaat anggaran (yg sbgn didpt dr hutang LN) oleh Departemen-Departemen ... sangat tdk memuaskan. Tdk korup-pun (apa mungkin...?), efektivitas program-program pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, konon kayaknya masih jauh panggang dari api.
    jangan-jangan HUTANG LN kita hanya politic oriented saja untuk menciptakan musuh bersama.....
  49. From Saiful Huda on 18 June 2009 13:57:33 WIB
    Kalau kita kasih utang pemerintah lewat obligasi dengan bunga 9 %kena pajak 20 % berarti kita hanya dapat bunga 7,2 %. kalau kemudian inflasi 8% jadinya kita untung atau buntung ???
  50. From wimar on 18 June 2009 14:01:55 WIB
    buntung

    apalagi kalau tidak di deposito

    apalagi kalau tidak ada uang
  51. From www.siherdi.com on 18 June 2009 16:52:29 WIB
    @Ronald M :
    Saya se7 pendapat anda. Tpi ada banyak cara memajukan Indonesia tanpa harus berhutang, teori sederhana saya :

    1. Manfaatkan pendapatan negara dengan sebaik2nya; Jangan ada korupsi dsb

    2. Sistem bagi hasil yang adil u investor asing dan rakyat. Conto :
    di papua ada gunung emas yang di keruk oleh freeport. Tpi faktanya rakyat sekitar papua tetap saja terbelakang. Kalau saja ada sistem pembagian yang adil antara investor dan rakyat sekitar maka kita dapat memajukan bangsa sendiri tanpa perlu meminjam bukan? Hal tersebut berlaku untuk minyak dan kekayaan alam lainnya.

    3. Kesadaran Zakat yang di bagikan dengan merata. Kalau saja setiap orang yang punya penghasilan layak MAU mendermakan gajinya 2,5% saja untuk orang yang tidak mampu niscaya indonesia mampu bangkit.

    Asumsi 1 orang kasi 5000(zakat/perbulan) x 150.000.000 ( jumlah penduduk yang mampu zakat)
    = 750.000.000.000 tiap bulan
    Lumayan kan buat nambahin anggaran pendidikan ^_^


    4. Jangan merokok, banyak orang miskin yang sudah miskin tpi mampu mengeluarkan uangnya beli rokok puluhan ribu perhari untuk pengusaha rokok. Padahal disatu sisi anaknya blum sekolah.

    Intinya mulai dari diri sendiri. Utang adalah opsi terakhir dan penggunaanyapun harus di awasi ketat.

    Thanks
  52. From abdul khafid on 18 June 2009 19:58:11 WIB
    jelas bangt bahwa penjelasan bu sri mulyani mengenai hutang bkn suatu sitem eknomi liberal karena ternyata lbh banyak manfaatnya untk rakyat
  53. From andrisetiawan on 21 June 2009 22:43:24 WIB
    Saya pikir Ibu Sri berhasil menjelaskan kenapa kita perlu utang, dan bagaimana dana utangan itu bisa bermanfaat jika digunakan dengan 'benar',
    TAPI,
    Ibu Sri blum menjawab tentang efek samping dari utang tersebut.(atau karena Om Wimar ngga tanya ya? hehe).
    Efek samping yg saya maksud adalah seperti ini,
    misalnya si pemberi utang bilang "Hei Indonesia, saya mau ngasih kamu utang tapi blok cepu biar saya yg urus ya! Oiya, temen saya minat sama Telkomsel tuh, km jual aja ke dia ya! ".
    Gimana tuh kalau kayak gitu Om Wimar?

  54. From Herson on 26 June 2009 12:45:54 WIB
    Bu .... Utang kek jual juga ga apaapa negara ini dan perusahaannya ke Amerika.Tapi bu UMR negara ini harus ditetapkan dengan standar Internasional juga dong.....
    rakyat jang dikasih susahnya doang...... Maaf ya sebenarnya orang asing kasihan dengan rakyat Indonesia kare4na pemerintahnya ga becus mengurus negara dan BUMNnya makanya mereka mau beli dan mereka akan urus dengan lebih manusiawi
  55. From Rifan on 28 June 2009 15:25:06 WIB
    Urusan hutang seperti double edged sword.Hutang memang dibutuhkan ,but too much debt will kill you. Bukankah dahulu pemerintah menggalakkan koperasi spy petani tidak terjerat lingkaran setan hutang berbunga tinggi dari para ijon ?Dan sekarang Indonesia telah jatuh dalam debt trap sama spt petani tersangkut jeratan hutang para ijon , tunjukkan negara yang menerbitkan sovereign bond seperti Indonesia dgn rate > 10% dapat survive.
    Kenapa CDS (credit default swaps) sovereign bond Indo tertinggi di Asia Tenggara kalau hutangnya manageable.

    Tunjukkan juga kenapa inflasi negara spt Jepang/US dapat <5% , sedangkan inflasi Indo (yg katanya mempunyai hutang managable) selalu >10% selama Ibu Mulyani menjadi menkeu .
    Coba anda ingat2 5 tahun lalu ,berapa harga nasi goreng tektek di Jakarta?Bandingkan dengan harga nasgor tektek sekarang setelah pemerintahan SBY,maka anda akan sadar bawah inflasi riil Indo selalu lebih tinggi daripada data inflasi yg direlease pemerintah.Inflasi riil Indo mendekati 15% per tahun ,atau 100% dalam 5 tahun pemerintahan SBY/Mulyani.Jika kekayaan anda 5 tahun lalu 100 jt,dan saat ini misalkan naik hingga 190 juta,maka sebenarnya anda bertambah miskin bukan bertambah kaya.
    Jika anda cukup kritis mengamati inkonsistensi data yg direlease pemerintah dengan data di sekitar anda ,maka anda baru akan sadar bahwa Ibu Sri sebagai Menkeu hanya menjalankan fungsinya sebagai Lips Service pemerintah dengan menyembunyikan kenyataan bahwa pemerintah hanya bisa mencetak Rupiah secara masif untuk memanage hutang .
    Hutang Indo sudah seperti bisul yang semakin membesar ,tinggal tunggu waktu bisulnya pecah dan saat itu Indo akan menjadi negara gagal seperti Zimbabwe.
  56. From Ilhamkaes on 29 June 2009 18:56:38 WIB
    Kalo saya punya hutang, saya harus bayar sendiri. Kalo negara punya hutang, saya juga yang ikut bayar. Lewat Pajak. Ngomong2 soal pajak bu, saya ada cerita. Usaha saya belum bisa bikin SIUP karena nggak ada IMB dan tempat usaha. Artinya usaha saya belum dapat ijin dari pemerintah. Tapi waktu usaha saya menghasilkan, penghasilan saya udah langsung di potong buat pajak (PPH 3%)sebesar 4% bahkan karena saya belum punya pengesahan PKP.
  57. From Joe on 01 July 2009 12:25:44 WIB
    @ Keegan komentar #41

    Anda cari sendiri refrensi lain donk!
    Misal masalah besarnya commitmen fee yang harus kita bayar. Ini jelas perencanaan utang selama ini kagak benar.
    Kemudian coba dianalisis lagi besarnya penyerapan APBN yang rendah di semester I per tahunnya. Bagaimana perencanaan utang bisa berjalan baik, wong pelaksanaan APBN aja masih kurang bagus penyerapannya.

    Easterly bilang selama Good Government (GG) Rendah, Utang semakin menambah kemiskinan.
  58. From iwan on 05 July 2009 01:09:38 WIB
    satu PERTANYAAN SAJA :PAK WIMAR ANTEK SBY YAH?
  59. From wimar on 05 July 2009 05:05:56 WIB
    Sdr Iwan... Bukan, saya bukan antek siapa-siapa.
    Apakah Iwan tidak merasa rugi, membuang waktu internet untuk mencela saya? Ataukah kebencian anda pada SBY atau pada saya, begitu besarnya sehingga luapan emosi tidak tertahankan?
    Baguslah kalau menulis komentar ini berhasil melampiaskan emosi anda dan anda tidak menyalurkannya secara lebih destruktif.
    Saya akan bahas ini lebih panjang dalam tulisan khusus.
    Sementara ini, saya ucapkan terima kasih atas perhatian anda pada Perspektif Online.
    Semoga anda bisa menemukan ketenangan, karena kami tidak ada maksud merugikan anda. :)
  60. From Andi on 07 July 2009 22:41:22 WIB
    Mafia Berkeley berfungsi sebagai alat untuk memonitor kebijakan ekonomi Indonesia sejalan dan searah dengan kebijakan umum ekonomi yang digariskan oleh Washington. Garis kebijakan ini di kemudian hari dikenal dengan “Washington Konsensus... Read More”. Sekilas program Washington Konsensus tersebut sangat wajar dan netral, namun demikian dibalik program tersebut tersembunyi kepentingan negara-negara Adikuasa.
    Pertama, kebijakan anggaran ketat, selain untuk mengendalikan stabilitas makro dan menekan inflasi, sebetulnya juga dimaksudkan agar tersedia surplus anggaran untuk membayar utang.
    Kedua, liberalisasi keuangan untuk memperlancar transaksi global dan menjamin modal dan dividen setiap saat dapat keluar dari negara berkembang.
    Ketiga, liberalisasi industri dan perdagangan memudahkan negara-negara maju mengekspor barang dan jasa ke negara berkembang.
    Keempat, privatisasi atau penjualan aset-aset milik negara dimaksudkan agar peranan negara di dalam ekonomi berkurang sekecil mungkin.

    Ternyata bahwa kekuasaan dan peranan Mafia Berkeley nyaris 40 tahun tidak mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan mewariskan potensi sebagai salah satu negara gagal (failed state) di Asia.
    Justru negara-negara yang melakukan penyimpangan dari model Washington Konsensus seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, China, dll. ... Read Moreberhasil meningkatkan kesejahteran dan memperbesar kekuatan ekonominya.
    Ketergantungan terhadap utang juga memungkinkan kepentingan global ikut intervensi merumuskan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah seperti Undang-undang tentang privatisasi air, BUMN, migas dsb.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home