Prasasti Jarum Mei: untuk Korban Tragedi Mei 98
Perspektif Online
15 May 2009
Oleh: Didiet Adiputro
“Yang kita inginkan sekarang adalah penegakan hukum yang jelas meskipun itu sangat susah dilakukan, karena para oknum yang terlibat ditengarai masih berkeliaran di tingkatan elit kekuasaan. Atau paling tidak Presiden sebagai kepala negara harus mengakui dan meminta maaf atas tragedi ini kepada masyarakat”. Jika anda masih ingat ini adalah harapan yang dilontarkan pejuang HAM Ester Indahyani Jusuf tepat satu tahun lalu dalam acara Perspektif Wimar ketika mengenang 10 tahun tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998. Sebuah harapan yang tulus dari seorang anak bangsa yang berharap keadilan bisa tegak di bumi Indonesia. Tapi harapan hanyalah harapan, bahkan setelah 11 tahun kita melewati dan mengenang tragedi ini tetap saja pengungkapan kasus ini masih terlihat seperti gambar buram.

refleksi komunitas Kampung Jati - 426 orang diobkar di satu gedung
Sebagai upaya mengenang korban tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998 warga Kampung Jati Cipinang Jakarta Timur dengan dibantu oleh beberapa pejuang kemanusiaan seperti Eka Budianta (Asoka Fellow), Kamala Chandrakirana (Komnas Perempuan) dan Ester Jusuf mersesmikan sebuah prasasti kenangan yang diberi nama Prasasti Jarum Mei.
Pasti anda akan bertanya kenapa prasasti itu bernama Jarum Mei dan berlokasi di Kampung Jati, sebuah perkampungan yang disebut oleh H. Usman sang ketua RWnya sebagai kampung KUMIS alias kumuh dan miskin. Hal ini tidak lain karena kampung ini adalah tempat asal mayoritas dari 426 korban tewas dalam peristiwa dibakarya Mall Yogya Klender sebelas tahun silam.Oleh karenaya kampung ini dinamakan Kampung Kenangan Mei 98.
Kampung ini juga terdapat satu –satunya komunitas korban yang masih eksis disaat yang lainnya redup. “Meskipun mereka secara pendidikan dan ekonomi masih lemah tapi mereka yang mau maju kedepan untuk memperjuangkan keadilan”, ungkap Ester.
Sementara pemakaian lambang jarum sebagai simbol pengenangan peristiwa ini dijelaskan oleh Eka Budianta sebagai sesuatu yang membuat sakit karena bisa melukai, tapi setelah itu bisa membuat kita bisa semakin sehat. “Ketika kita dilukai oleh jarum, pasti akan terasa sakit, tapi setelah dijahit atau disuntik dengan jarum maka kemudian kita bisa sehat dan akan semakin kuat, setelah itupun kita bisa lupa akan sakit yang pernah dirasakan”, ujar Eka beranalogi. Maka jarum diharapkan mampu menjahit luka hati para keluarga korban yang ditinggal.

Wimar Witoelar yang hadir di peresmian ini merasa kagum karena acara ini berawal dari sebuah ketulusan dan kekuatan hati orang biasa. “Saya bukan pejuang HAM tapi merasa harus ada disini karena saya orang biasa. Justru orang biasalah yang bisa menjadi kekuatan bangsa”, ujarnya.
Juga dalam sambutannya Ketua Komnas Perempuan Kamala Chandrakirana merasa peresmian prasasti ini adalah cara kita mengenang para korban dan bisa menjadi sarana pelecut semangat kita untuk terus berjuang demi mendapatkan pengakuan dari pemerintah dan masyarakat.
Perspektif lain justru datang dari Ketua RW setempat. Tanpa mengurangi penghormatan terhadap tragedi ini, beliau merasa dengan adanya tragedi ini perhatian berbagai kalangan bisa tertuju ke kampung ini. “Wimar Witoelar yang biasa hanya kita lihat di tv, sekarang bisa datang ke kampung ini”, ujar H. Usman sambil berharap tragedi ini bisa jadi pemicu agar penegakan hukum dan keadalian bisa terwujud di Indonesia..




17 Comments: