Maju Tak Gentar
AREA magazine
25 February 2009
apa yang tidak mematikan kita, akan membuat kita tambah kuat
Lagu perjuangan yang sudah menjadi istilah sehari-hari. Dalam politik, dalam nasehat hidup, bahkan tidak kurang disebut juga, dalam plesetan. Kata-kata klise sering menjadi klise karena memang benar, saking benarnya sampai menjadi bosan mendengarnya. Tapi yang perlu dipahami adalah bahwa ada dua bagian dalam ucapan itu, soal berani melawan rintangan, dan soal mempertahankan kebenaran.
Kebenaran bersifat relatif, apalagi kebenaran politik atau kebenaran cinta. Tapi keberanian itu soal obyektif. Siapapun boleh berlatih jadi orang berani dan tidak dikalahkan oleh soal kecil. Kata orang, ‘bad is never good until worse happens.’ Orang yang pegal-pegal mungkin lupa sakitnya kalau kena sakit gigi yang membutuhkan ‘root canal.’ Orang yang terganggu hujan akan lupa basah kuyupnya kalau kedatangan tsunami.
Menghadapi rintangan menjadi bahan perhatian orang sejak awal peradaban. Filsuf Yunani Sophocles mengatakan, kalau angin sepi dan layar tidak berkembang, pakailah dayung. Ucapan Sophocles itu salah satu contoh seruan untuk tidak tinggal diam melawan hal-hal yang menyulitkan. Anak-anak di Denmark diajarkan untuk tidak mengeluh kalau menghadapi problem. Kata pepatah disana: ‘Sadarlah bahwa biasanya yang membuat kesulitan itu kamu sendiri, bukan siapa-siapa.’
Jangan complain, kita bilang jaman sekarang. Lain lagi tahun enampuluhan yang membawa alam kesadaran yang melankolik. Waktu lagu terpenting The Beatles adalah ‘Let it Be’: ‘When I find myself in times of trouble, mother Mary comes to me, speaking words of wisdom, let it be.’
Hah? Let it be? Masa sih… padahal katanya kalau api adalah alat uji untuk emas, maka trouble adalah alat uji untuk seorang satria. Maju tak gentar! Orang yang tidak pernah menjumpai kesulitan belum teruji kekuatannya. Orang akan berhenti mengeluh kalau dia sudah merasakan keadaan yang benar-benar susah, dan akan berterima kasih kalau ada satu hari tanpa penderitaan.
Kadang kita merasa tidak sanggup menghadapi kesulitan hidup. Banyak orang ‘desperate’ dan mengambil jalan keluar ekstrim karena tidak lulus ujian saringan, ditinggalkan kekasih, kehabisan ilham. Orang pernah merasa takut, tapi tidak tahu juga apa yang ditakuti. Secara rasional kita tahu semua keadan buruk bisa diatasi, misalnya dengan membayangkan keadaan yang lebih buruk lagi. Orang yang ketakutan sering heran kok orang lain ada yang tidak takut apa-apa. Apakah mereka itu manusia super? Apa mereka Iron Man dengan hati terbuat dari besi? Anda sendiri merasa terbuat dari daging dan kulit dan mudah terluka.
Tradisi Eropa melahirkan perploncoan yang dibawa ke Indonesia dan dipraktekkan waktu orang transisi masuk perguruan tinggi. Ada namanya orientasi studi dan semacamnya. Maksudnya menciptakan simulasi kesulitan hidup agar memperkuat daya tahannya. Menjadi tempat praktek untuk pepatah bahwa apa yang tidak mematikan kita, akan membuat kita tambah kuat. Asal tidak mati, tantangan apapun akan membuat kita makin hebat. Sebagian menjalankan tradisi Eropa ini dengan baik, tapi ada juga penyimpangan.
Paling spektakuler adalah penyimpangan yang dilakukan oleh IPDN beberapa tahun yang lalu. Siswa baru diberi siksaan sampai ada yang meninggal. Orang IPDN lupa prinipnya, bahwa orientasi studi bertujuan meningkatkan daya tahan siswa, bukan daya siksa senior.
Cukup banyak siksaan hidup sehari-hari tanpa mengadakan perploncoan khusus. Tinggal kita mengambil sikap yang sesuai, waspada terhadap halangan, menerimanya sebagai cobaan, tapi jangan meninggalkan akal sehat. Tetap bersikap cerdas. Dan ganti kata-kata lagu “Maju Tak Gentar” menjadi “Maju Dengan Gentar Tapi Siap Menghadapi Rintangan”. Wah jadi susah menyanyikannya.




13 Comments: