Articles

Pemilihan Caleg 2009 lebih penting dari Pemilihan Presiden

Koran Sindo
14 January 2009

PP09

PRESIDEN KITA

Oleh: Wimar Witoelar

Calon-calon untuk pemilihan presiden 2009 belum diketahui, walaupun secara kenyataan, baik dipandang secara politis maupun dalam persepsi umum, sekarang ada lima calon: Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Sukarnoputri, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Prabowo Subianto, Wiranto. Urutan dalam berbagai polling kira-kira sebagaimana dituliskan itu. Tidak diperlukan analisa ahli untuk memberikan prediksi bahwa SBY akan menang lagi. Dilihat dari kondisi hari ini 13 Januari 2009, tentunya. Mungkin lain lagi nanti tanggal 5 Juli 2009, dan mungkin beda lagi hasilnya.

DPR

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat 2009. Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% dari jumlah suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya 20% suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Apabila tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden terpilih, dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden. (wikipedia)

Sedangkan diluar lima calon yang disebut pada awal tulisan ini,  ada banyak nama yang sudah menyatakan diri calon Presiden, misalnya Abdurrahman Wahid,  Akbar Tandjung, Yusril Ihza Mahendra. Ada yang mungkin mencalonkan diri atau mau mencalonkan diri tapi belum punya partai, seperti Jusuf Kalla, Yuddy Chrisnandi dan Rizal Ramli. Ada yang sudah mengundurkan diri dengan alasan habis uang, seperti  Rizal Mallarangeng, Sutiyoso, Sutrisno Bachir. Ada lagi orang yang banyak diinginkan orang untuk jadi calon presiden, tapi dia sendirinya tidak menunjukkan minat, seperti Sri Mulyani dan Faisal Basri.

Lalu, apa maksudnya judul tulisan ini? Mengapa pemilihan calon legislatif di Pemilihan Umum 2009 lebih penting dari pemilihan Presiden?

Daftar pemilih di Ottawa, Kanada tersedia di pemilu.indonesia-ottawa.org, ada 589 orang. Apakah daftar pemilih di RT/RW anda diketahui secara terbuka? Calon legislatif bisa dilihat di jalan-jalan. Di kota-kota seperti Yogyakarta, jalan-jalan sudah semarak dengan poster, billboard dan baliho. Banyak yang mengeluh dengan banyaknya “banci tampil,” tapi pengeluh sendiri bisa mengeluh bahwa sosialisasi Pemilu kurang. Mungkin golongan pemilih kedua yang akan bersaing dengan Golput adalah Golluh atau Golongan Mengeluh. Golrap atau Golongan Berharap senang dengan promosi calon, jadi tahu apa pilihannya. Sama dengan orang membaca majalah gadget, jadi tahu apa saja yang dia bisa pilih. Hidup adalah pilihan, orang bilang. Tapi dalam demokrasi, banyak pendapat berbeda. Ada yang tidak senang memilih. Sudahlah, jangan jor-joran rebutan kursi, kerja saja membangun ekonomi. Mereka mungkin yang senang keadaan dengan Sukarno dan Suharto dimana Pemilu hanya pembuangan uang dan waktu, dan pemilihan caleg dilakukan oleh Presiden Suharto sendiri.

Untuk orang yang berpikiran positif, yaitu sebagian besar orang pembaca tulisan ini (kalau sebel sama Pemilu pasti sudah tidak mau baca lagi ulasan seperti ini), pemilihan caleg penuh dengan misteri. Siapa calonnya, bagaimana penghitungannya, kapan dilakukannya

Mulai dengan yang gampang dulu. Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2009 diselenggarakan secara serentak untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-2014. Pemilihan umum ini dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 9 April 2009 (sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 5 April, namun kemudian diundur). Itu menurut Wikipedia jadi keterangan mutakhir. Siapa calonnya? Kelihatannya tidak ketahuan, padahal banyak sumber asal mau cari di internet. Misalnya anda bisa tanggapi, apakah website yang satu ini fair dan lengkap atau tidak: www.calegindonesia.com

Pemilihan caleg 2009 pada saat ini lebih penting dari pemilihan presiden, sebab tanggalnya saja lebih dulu. Jadi sudah harus mulai mikir, mau milih siapa. Pemilihan caleg tanggal 9 April sedangkan pemilihan presiden tanggal 5 Juli. Lagipula, sebelum hasil pemilihan caleg diumumkan, kita tidak bisa memastikan siapa bakal calon presiden. Sebab jumlah suara setiap partai harus dihitung, dan dari partai yang terwakili dalam DPR, ditentukan partai mana yang berhak mengajukan calon presiden. Ada partai yang bisa sendirian mengajukan calon Presiden, ada yang harus membentuk koalisi. Sebab menurut ketentuan, ‘Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat 2009.’
Saat ini tidak begitu penting siapa yang calon presiden 2009, sebab masih harus ditentukan secara resmi setelah pemilihan caleg 9 April 2009. Lebih utama lagi adalah bahwa calon presiden akan hadir sendiri dalam kesadaran kita sebab semua pemberitaan akan terfokus pada mereka dalam media massa dan obrolan sehari-hari. Tapi calon legislatif masih gelap bagi sebagian besar diantara kita, jadi kita perlu mempelajari lebih teliti dari segala sumber, sebab ibarat ujian, kalau mulai mikir waktu menghadapi kertas pemilihan, bisa grogi sebab pasti formulir pemilihan akan terisi ratusan nama dan layout yang rumit. Lebih susah daripada menggunakan facebook pertama kali!

Seperti mengisi facebook, mengisi formulir Pemilu juga hanya bisa dipelajari dengan satu cara: Lihat-lihat, coba-coba. Mintalah contoh daftar pemilihan sedini mungkin dari KPU anda terdekat. Sekarang, catatan terakhir yang penting dari segi substansi, bukan prosedur. Dalam prediksi pragmatis, kemungkin terpilihnya SBY besar sekali. Bahkan saat ini susah dibayangkan, ada orang lain yang bisa lebih kuat dari dia, kecuali kalau dia membuat blunder, dan blunder itu sebetulnya akan datang dari pembantu dia atau cara dia menanggapi pembantunya. Dar tahun 2004 sampai sekarang, persoalan SBY bukan pada dirinya tapi dalam kelemahan bersikap tegar terhadap pembantunya, dan terhadap politik DPR. Jadi, karena pemilihan ulang SBY sudah hampir merupakan kenyataan, yang penting sekarang adalah mengusahakan tampilnya DPR yang lebih bermutu dan membatasi ketergantungan SBY pada perusak masyarakat.

 

Print article only

34 Comments:

  1. From anggana bunawan on 15 January 2009 10:27:11 WIB
    perjalanan demokrasi di 2009, salah satu faktor pentingnya (setuju banget sama ww) adalah bagaimana hasil pemilu legislatif.

    banyak calon baru, mekanisme (suara terbanyak) baru, cara memilih yang juga baru(men-centang). banyak hal yang baru dan segar di pemilu ini walau juga capres nya masih banyak yang muka lama, yang muka baru such rizal malarangeng sudah mundur teratur dengan alasan tersendiri.

    banyaknya calon, pembaharuan mekanisme memberikan harapan untuk menjaring wakil2 rakyat yang sungguh dipilih oleh konstituen, dan memiliki integritas walaupun itu caleg "nomor sepatu".

    dikaitan dengan pemilu AS belum lama ini, banyak caleg terinspirasi menggunakan media internet untuk kampanye, such blog, friendster, dan facebook.

    dengan begitu, semoga dan saya pun berharap, pemilu legislatif yang akan menghasilkan "insan-insan senayan" yang memiliki integritas dalam berdemokrasi, bersih, serta menjalankan fungsi legislasi yang baik, sehingga produk hasil lembaga ini tidak membuat kekacauan baru di negara ini.

    mari memilih yang terbaik.
  2. From bung tobing on 15 January 2009 23:30:21 WIB
    Setuju sekali dengan anda Pak Wimar. Semoga kandidat yang nantinya masuk ke Senayan benar-benar berkualitas dan memperjuangkan apa yang telah dijanjikannya bagi para pemilih dan bukannya menambah isi dompet mereka sendiri.

    Khusus untuk pemilihan legislatif ini, saya secara pribadi juga berharap terciptanya hasil yang memudahkan untuk dibentuknya koalisi pemerintahan yang lebih stabil, dimana parpol-parpol pembentuknya tidak saling menjegal satu sama lain, seperti yang terjadi saat ini. Hal itu jelas akan menggangu harmoni koalisi sekaligus menghambat pengambilan keputusan.
  3. From Panji on 16 January 2009 03:29:23 WIB
    Opini ekstrim...!!!
    1. Dari pengalaman berkali-kali Pemilu, rakyat Indonesia tidak mendapatkan apa-apa dari Pemilu itu. Hasil Pemilu selama ini : legislatif yang korup (sdh banyak anggota DPRD dan DPR RI yg disidangkan gara-gara korupsi); pemalas (jarang hadir di gedung DPRD/DPR, rata-rata hanya 50% kata
    etro TV); mau enaknya sendiri (membuat peraturan dan undang2 untuk kesenangan mereka dan partainya); dll...
    Jadi, untuk kepentingan siapa Pemilu Legislatif itu ?

    2. (Tanpa merujuk ke undang-undang), kenapa seorang presiden HARUS \'berasal\' dari partai besar, atau partai yang memperoleh banyak \'kursi\' di DPR ? (Sekali lagi: tanpa merujuk ke undang-undang...) apa logikanya seorang presiden HARUS didukung oleh \"suara mayoritas\" di DPR, padahal presiden dipilih oleh rakyat, bukan oleh DPR ? Kebijakan presiden yang seperti apa yang didukung oleh anggota DPR, kebijakan yang menguntungkan partainya, atau kebijakan untuk kebaikan rakyat? Mayoritas anggota DPR pasti Muslim. Jika Muslim-nya tidak hanya sekedar merk, maka dia mestilah berprinsip \"menerima kebenaran, walau pun datangnya dari anak kecil...!!!\".

    Kepada para calon pemilih awam (tidak pengurus partai) : jangan fanatik buta...merenunglah sebelum Anda menentukan pilihan...!!!
  4. From wimar on 16 January 2009 08:24:04 WIB
    Ya, justru itu yang kita tekankan berulang-ulang, Tidak bisa kita jadi penonton yang minta disuguhi hasil yang bagus. Tidak bisa mengharapkan munculnya caleg yang bagus kalau kita tidak ikut mendukung dan memilih yang kita inginkan.

    Tidak ada lagi pihak yang bisa disalahkan, karena semua mempunyai kesempatan yang sama.

    Kalau mau dipikir lebih canggih, memang kita harus hilangkan hambatan struktural yang menghambat demokrasi bersih, tapi jangan mengeluh sebelum mencoba mengerti dan ikut berusaha membentuk masyarakat demokratis
  5. From Mundhori on 16 January 2009 09:50:14 WIB
    Ada 2 hal yg perlu dicatat untuk Pemilu 2009.
    1. Problim pemilihan caleg 9 April 2009 adalah kurangnya sosialisasi cara pemilihan akan menimbulkan kesulitan pemilih nantinya. Sebab pemilihan calek pasca keputusan MK tentang pemilu menyebabkan alat pemilihannya jadi sulit, lebih banyak yg harus diperhatikan. Dalam kertas pemilihan ada nama dan tanda gambar partai, ada nomor urut partai, ada nama calec yang harus diberi tanda. Pemilih akan bingung apabila belum melihat atau belum dilatih. Menurut ketentuan pemilih dpt memberi tanda pada identitas partai (tanda gambar atau nomor urut), atau hanya pada nama calek, atau keduanya boleh. Hal itu kalau tidak disosialisasikan, mana pemilih tahu. Kalau bingung cara pemberi tanda, akan terjadi kesalahan yg menyebabkan tidak sah
    .
    2. Inti pentingnya pemilihan calek, karena nanti yg akan menentukan abang ijonya negara adalah lembaga legislatif itu. Padahal haluan negara yang perlu diadakan perubahan lewat perubahan undang undang sangat banyak (kalau DPR mau ??). Lembaga legislatiflah yg banyak berperan, disamping peran pemerintah. Dalam sisi ini kalau para pemilih tidak/belum memiliki kemampuan yg benar cara memilih akan terjadi kekonyolan. Kalau itu terjadi apalah arti pemilu bagi demokrasi kita. Catatan pekerjaan yg harus dilakukan melalui perubahan antara lain :
    a. Aspek politik melakukan harmonisasi kekuasaan mengatur negara bagi semua unsur negara demokrasi. Hilangkan dominasi parpul via fraksi di parlemen. Fokuskan kinerja untuk kepentingan rakyat.
    b. Aspek ekonomi mulai mempersiapkan perubahan dari perekonomian loberal menjadi pereonomian berbasis kerakyatan dg cara menitik beratkan pada kemandirian ekonomi.
    c. Aspek hokum menciptakan penegakan hokum yg adil, cepat,murah, dan sederhana.
    d. Melaukan evaluasi kontrak kerja dg pihak asing agar eksplorasi sda betul betul diperuntukan bagi kemakmuran bangsa.
    Itulah harapan baru yg digantungkan kepada para legislator baru hasil pemilui 2009 nanti..
  6. From tansil on 16 January 2009 14:33:18 WIB
    hmm mungkin saya sering termasuk golongan mengeluh, terutama tentang kurangnya sosialisasi pemilu legislatif :)
    tapi di luar sana, kenyataannya memang demikian
    mungkin saya masih bisa cari info, ada akses ke internet, tapi out there..? banyak orang yang tingkat pengetahuan ttg pemilu masih sangat rendah, dan mereka jg ngga punya akses selain ke baliho2 yang ada di jalan (which is not very helpful..)
    kl udah gt, gimana caranya membedakan good guys dan bad guys..?
  7. From yunie jusri djalaluddin on 17 January 2009 10:16:14 WIB
    u/ kedepan Indonesia harus lebih siap untuk menyaring calegnya, kalo bisa gaji DPR adalah gaji rata2 perkapita RI sehingga hanya org2 yg terpanggil jiwanya saja yg berani jadi caleg n berusaha menjadikan perkapita naik dan so pasti berpihak pada rakyat.

    U/ pemilu Pres kali ini SBY memang bakal menang telak apalagi bila lihat iklan partai demokrat... Harga BBM turun...makanya, sering2 pemilu, sering2 pemilu, sering pemilu:)
  8. From Panji on 18 January 2009 02:07:17 WIB
    Komentar kedua (terhadap tanggapan Bung WW)...
    1.Anda menganjurkan agar jangan hanya mengeluh, melainkan ikut menciptakan masyarakat yang demokratis dst...
    Dengan cara bagaimana rakyat awam menciptakan masyarakat demokratis, sementara selama beberapa kali pemilu, rakyat selalu ditipu dgn janji-janji kosong oleh segelintir manusia yang kita disebut "anggota dewan terhormat" ?
    Beberapa orang anak negeri yang peduli, sdh menegurnya dgn sindiran, dgn caci-maki, dgn memaparkan di forum terbuka (siaran tv) tentang kebobrokan anggota legislatif. Tapi SIAPA YANG PEDULI ???
    Apakah perlu SEMUA RAKYAT "menegur" para politikus busuk dengan cara ramai-ramai menjadi golput ???
    Atau, apakah perlu diadakan demo besar-besaran untuk menuntut agar parlemen dihapus saja karena tidak bermanfaat ???
    2.Untuk sementara, yang mesti bertindak konkrit adalah orang-orang yang punya akses seperti Anda... Orang-orang seperti Anda-lah yang seharusnya menyuarakan komentar-komentar tajam dari anggota masyarakat, terutama yang datang ke blog Anda ini...
  9. From Multibrand on 19 January 2009 13:25:26 WIB
    Salam kenal boss,
    Sebenarnya saya pernah dengar tentang blog Anda tapi baru sempat mampir, ternyata BAGUS SEKALI seperti dugaan saya.
    Wassalam,
    Harry Nizam
    multibrand.blogspot.com
  10. From dr. Genis Ginanjar Wahyu on 20 January 2009 07:31:33 WIB
    pemilihan presiden dan legislatif sama pentingnya bagi perubahan di Indonesia. Yang penting kita kritisi adalah ternyata peran lembaga-lembaga survei dan iklan parpol yang marak di pelbagai media belakangan ini, tidak perlu terlalu dijadikan pijakan dalam menetukan calon presiden mendatang.
    mengapa? karena Lembaga survei telah beralih-peran menjadi think-thank parpol yang bisa juga melayani pesanan.
    jangan pernah kita lupakan Pilkada Jakarta dan Jabar beberapa waktu lalu, tidak ada satu pun lembaga survei yang memprediksi dengan tepat jumlah raihan suara (jakarta) dan pemenang pilkada (Jakarta).

    kini adalah momen bagi masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya scara cerdas, tanpa perlu banyak dipengaruhi iklan yang menipu ataupun lembaga-lembaga survei yang mulai kehilangan kredibilitasnya.


    jadi, belum bisa dipastikan pemenang pilpres mendatang adalah SBY. kesimpulan abang terlalu menyederhanakan, meski saya tetap menghormatinya.


    salam perubahan untuk indonesia yang lebih adil dan sejahtera


    Genis Ginanjar Wahyu
    Dokter, Penulis Buku : Demam Berdarah a survival guide, Bentang Pustaka Mizan 2007, TBC pada Anak, Dian Rakyat 2008


    butuh informasi dan tren gaya hidup sehat?
    www.pestagagasan.blogspot.com

    salam perubahan,
  11. From R Muhammad Mihradi on 20 January 2009 12:51:17 WIB
    Entahlah: akhir-akhir ini ada gejala kemuakan saya pada pemilu. Pertama, kita berhenti kadang seperti dilampu merah yang ga pernah hijau. Kita asik otak-atik demokrasi prosedural sambil melupakan bahwa welfare state masih jauh mampir ke kita. Kedua, jangan-jangan bisnis di Indonesia hanya ngurusin calon legislatif, presiden dan pelbagai kepala daerah yang entah punya uang darimana, dengan santainya dibuang untuk cetak poster, spanduk, iklan tv sana-sini. Ketiga, saya rasa yang penting selain semua serba berbau pemilu yang mulai menyebalkan adalah membangun sistem yang mampu membuat publik mengkoreksi pemimpin setiap saat dan semua hasrat tentang dirinya tertampung. Keempat, saya khawatir, pa wimar terjebak dalam trendy soal demokrasi prosedural dan melupakan esensi demokrasi adalah instrumen koreksi untuk menghukum para politisi busuk, mengevaluasi kebijakan buruk masa lalu dan membuat program masa depan dibawa para calon pemimpin terasa sedap dan realistis serta mengawal agar program baik tetap terpelihara dan tereksekusi. Saya rasa kita harus balik ke trilogi dasar negara ini yakni negara bersupremasi hukum, bersupremasi demokrasi dan berkesejahteraan. Kalau salah satu pincang, niscaya kita hanya menggali makam yang indah untuk anak-cucu-menantu dan sohib-sohib kita. entahlah.
    Mihradi
    bukan siapa-siapa, peninggalan lamur masa lalu.
  12. From wak tul on 20 January 2009 13:51:15 WIB
    Jikalau saya boleh menanggapi Panji (nomor 8),

    Mestinya perlu ada UU baru kaleee yach ?
    Misalkan, sekian ratus ribu tanda tangan bisa digunakan untuk mengajukan petisi. Tapi permasalahannya, apa nanti tidak akan terjadi tirani mayoritas ????
  13. From Panji on 22 January 2009 15:29:51 WIB
    Utk Wak Tul.
    1.Dari dua komentar tsb, jelas yg saya maksud adlh rakyat HANYA JADI ALAT utk kesuksesan segelintir manusia yg disebut politikus...
    Hsl pemilu2 yll adlh parlemen yg bobrok; menurut Wak, apakah pemilu nanti akan mghslkan anggota parlemen yg bermanfaat utk kita.? Nah utk itu perlu suatu chanel bagi rakyat utk \"menegur bahkan menghukum\" politikus busuk yg \'terlanjur\' kita sokong menjadi anggota DPRD dan DPR... Hal itu sdh dijawab oleh R.M.Mihradi (11)... Apakah perlu uu baru utk itu, terserah. Tapi yg pasti uu dibuat utk kemaslahatan kita. Jika suatu uu tdk lagi bermanfaat utk semua org, utk apa uu itu dipertahankan.? (Salam kenal utk semuanya, dari Panji di Pekanbaru... Komentar2 tajam spt ini sy curahkan dlm blog sy: http://power-panji.blogspot.com dan http://crazyidea-panji.blogspot.com. Silahkan mampir.!).
  14. From abahgandrung on 23 January 2009 08:14:28 WIB
    abahgandrung.blogspot.com : lha wong para caleg itu menganggap jadi anggota dewan itu sebagai pekerjaan, bukan pengabdian, yang namanya kerja itu mencari "penghidupan" bukan "menghidupkan".

  15. From fadil on 24 January 2009 20:13:53 WIB
    Apa anda sudah MUAK dengan DPR, MA, pemerintah, pemilu dan hal2 laen yang berkaitan dengan politik? YA, saya juga sudah muak akal2an mereka, korupsinya, penipuan2, janji2 palsu, penyalahgunaan kekuasaan dll..
    Tapi seperti kata om Wimar, kita gak bisa cuma ngeluh dan marah2 aja. Kalo yang laen ada yang bilang kita harus menegur dan menghukum mereka. Menurut saya kita punya channel ato salurannya kok, ya PEMILU itu.
    Di PEMILU itu kira harus ikut aktif dengan milih orang yang bener2 bersih dan emang punya kapasitas untuk jadi wakil (ato pemimpin) kita. Khusus untuk memilih caleg (DPR, DPRD dan DPD), kita harus fokus sama daerah pemilihan (dapil) kita masing2, pelajari rekam jejak partai dan calegnya. Jangan sampe salah pilih ato mikirin caleg2 di dapil laen. Itu bukan tanggung jawab kita. Saya yakin dari 500an anggota DPR sekarang, sebagian besar emang orang2 yang brengsek dan demen korupsi. Tapi dengan fokus sama dapil kita masing2 saya yakin kita bisa milih orang yang bener dan yang terbaik (setidaknya yang terbaik di antara yang buruk2). Alhamdulillah di PEMILU 1999 dan 2004 kemaren saya udah milih anggota DPR yang (menurut saya) kinerjanya baik dan gak pernah terlibat kasus apa2. Di dapil saya, mereka berdua emang caleg nomor urut satu di partainya masing2. Jadi kalo di DPR masih banyak orang2 brengsek tadi, mereka emang bukan pilihan saya dan juga bukan dari dapil saya.
    Jadi,jangan cuma ngeluh aja, cari info sebanyak2nya dan tentukan pilihan anda.. Pilihan yang BENER tentunya..

    [FADIL}
  16. From jamin on 25 January 2009 00:29:57 WIB
    Parpol anda tidak berani berdialog? Cuma ber-orasi tereak2? Cuma senyum2, berpidato, bersalaman dengan pejabat daerah?

    Sudah bosan? Tidak tahu kemana harus pergi?
    Adakah parpol yang berani berdialog?
    Jawab: hampir tidak ada!!

    Bergabunglah dengan komunitas pencarian "Parpol yang berani berdialog terbuka". Mail me!
  17. From farah on 26 January 2009 17:15:36 WIB
    met sore om wilmar. aku masih kelas iv.sd ( 9 th ). jadi nggak ngerti politik. tapi mudah2an om wilmar bisa bantu tolongiin aaku. aku dapat tugas ipa dari sekolah buat mengamati gerhana matahari cincin sekarang. tapi cuaaca dari pagi gelap. jadi maksud aku om wilmar atau siapa ajah deh bisa tolongin farah ya. om wilmar pasti bisa kan. kata ayah and bunda, om wilmaar itu gudangnya ilmu pengetahuan, dan baik hati. tolongin ya om. makasih ya
  18. From wimar on 26 January 2009 18:39:13 WIB
    farah mau ditolong apa ya? tadi om wimar juga nggak kebagian lihat gerhana, mendung sih. hebat sekali masih kelas 4 bisa isi comment di sini
  19. From R Muhammad Mihradi on 27 January 2009 11:53:10 WIB
    Buat sobat semua. Saya muak dengan pemilu namun bukan berarti tidak ada arti pemilu. Sebab, sepakat, pemilu bisa digunakan untuk menghukum politisi busuk. Tapi, apa kita tidak berjalan mundur. selalu pemilu jadi andalan demokrasi. Bagaimana pelembagaan sistem demokrasi lain. misalnya, andai saja publik concern dan memaksa setiap pejabat untuk benar-benar umumkan harta bendanya yang misterius, maka ini akan berkontribusi besar bagi tersedianya SDM politi bersih. Tapi problemnya,tidak ada pejabat yang ikhlas umumkan itu. Kuncinya dipaksa melalui hukum dan jika tidak memenuhi, hukum mati saja sekalian dan KPK bisa jadi alat menggigit disini. Tapi, kalau kita sekali lagi hanya terus berkutat menyeriusi pemilu tanpa membuat jerat demokrasi yang lain, dipastikan kita bisa frustasi. Kalaupun memang ada politisi yang baik, itu pasti dengan susah payah karena sistem lain bobrok. Nah, berhentilah untuk terus menerus mengakali demokrasi pemilu yang dari 1999 sampai 2004 kemarin gagal mulu dengan sempurna memberantas segala penyakit publik dan coba kita renungkan mekanisme lain untuk menyempurnakan pemilu yang hanya jadi pintu gerbang calon koruptor bila tidak diikuti sistem demokrasi yang lain.
  20. From ANANG PRASONGKO on 29 January 2009 00:39:39 WIB
    YANG PENTING DAN DITUNGGU ADALAH ANGGOTA DEWAN YANG MAMPU MENGAKOMODASI KEPENTINGAN RAKYAT , JANGAN ADA PENGGUSURAN ANGGOTA DEWAN TIDAK BERSUARA, MENURUT PENGAMATAN SAYA SELAMA INI MEREKA HANYA MENGURUS KEPENTINGAN DIRI SENDIRI BAHKAN BEBERAPA DARI OKNUM MEREKA BERUSAHA SELALU MEMPERKAYA DIRI SENDIRI DENGAN CARA KORUPSI.
  21. From Indrawan Didik on 03 February 2009 16:20:08 WIB
    Saya lebih memilih Presiden SBY ketimbang Megati. SBY program-programnya jelas seperi Dana BOS, PNPM Mandiri, Penangkapan pejabat-pejabat yang korupsi, Dana Konpensasi kenaikan BBM, dll. Megawati tidak jelas, banyak menipu rakyat. waktu kampanye 2004 mengiming-imingi rakyat mega menang rakyat tenang sekolah gratis, kesehatan gratis, dll, tepai nyatanya bohoooonnngggggg beeesuaaaar bangat. malah sasema partainya berantem rebutan posisi, saya lihat di TV pada waktu itu sampai prihatin buanget deh. Dan Megawati tidak punya pendirin kemana-mana selalu membawa Bung Karno. Bosan hanya itu-itu saja, tidak punya kemampuan/brilian untuk negaraui ini. Ibu Mega yang terhormat coba anda mempunyai sesuatu yang hebat kayak SBY. Tidak bisa pidato didepan umum tanpa teks dan kata-kata yang hebat. Jamanya Ibu Megawati (PDIP) sekolah-sekolah mahl semua, berobat mahal tidak memperhatikan rakyat kecil, banyak yang putus sekolah karena tidak ada dana BOS seperti sekarang dan harga buku melambung tinggi. Hanya memikirkan partainya saja tetapi tidak memikirkan pendidikan untuk rakyat. Apakah ibu mega bisa memimpin negeri ini seperti SBY, yang meringkan biaya sekolah. Dan sekarang akan ada buku murah.
    Jamanya SBY jauh beda dengan jamannya Megawati.
  22. From bambang ps on 07 February 2009 19:49:35 WIB
    Sebagai awam saya bertanya, kok sekarang orang cuman berpikir menjagokan si A atau tidak mau si B atau mempasangkan si C dan D. Yang sekarang kita butuhkan adalah orang-orang terpanggil dan kumpul untuk bikin sebuah platform Republik Indonesia yang diinginkan oleh semua (tentunya yang sejahtera, aman, damai, bisa makan dsb). Platform itulah yang kalau sudah jadi ditawarkan kepada siapa saja (tua, muda, laki, wanita, dll) yang mau memakainya bila dia jadi presiden. Bila mau memakainya maka kita semua dukung ramai-ramai orang tersebut dan dia harus mau bersumpah untuk menjalankannya. Tentang wakil rakyat, buat mekanisme yang sama dengan ruang lingkup yang disesuaikan. Ini lagi ada tsunami finansial, jadi DPR dan Presiden sama-sama pentingnya. Hayo bung Wimar, mulai galang. (he...he.... paling enak ngomporin). Salam
  23. From yuni on 14 February 2009 11:59:08 WIB
    As. saya masih penasaran terhadap hasil survey pemilu 2009.
    yang saya tanyakan apakah PDIP yang menang dalam mengusung kadernya dalam pilkada di beberapa tempat, akan menempati rangking kedua di pemilu legislatif?
    kalau saya lihat Partai demokrat di pilkada jarang sekali memenangkannya apakah bisa di urutan pertama. apakah sama kecenderungan memilih partai dengan memilih presiden?
    yang kita nantikan siapa yang benar dalam prediksi survey!! terima kasih dan selamat bekerja.
  24. From HASAMATI GULO (HASGUL) on 16 February 2009 13:25:18 WIB
    Pemilihan presiden, caleg, dll. sama-sama penting bagi setiap negara untuk memilih pemimpinnya.Namun masyarakat banyak kecewa karena awalnya untuk kepentingan rakyat kita memilih caleg sebagai wakil rakyat dalam pemerintahan tapi akhirnya bukan untuk kepentingan rakyat malah untuk korupsi.

    Untuk itu pemilihan caleg, presiden dll. dirubah saja sistemnya jangan melalui Pemilu tapi, untuk pemilihan caleg dibuat SAJA SEPERTI UJIAN MASUK (TESTING) CPNS DENGAN SEBUTAN UJIAN CALON LEGISLATIF SIAPA YANG DINYATAKAN LULUS DNEGAN HASIL UJIAN CALON LEGISLATIF ITULAH YANG MENJADI LEGISLATIF NANTINYA. KLO RAKYAT SUDAH CAPEK UNTUK IKUT PEMILU DATANG KE TPS YANG AKIBATNYA RUGI WAKTU, TENAGA DLL. TOH JUGA BUKAN UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT NAMUN UNTUK KEPENTINGAN DIRINYA SENDIRI (SI CALEG) BAHKAN KORUPSI PULA MENYENGSARAKAN RAKYAT YANG MEMILIHNYA.

    THANKS, PAK WIMAR.


    DARI HASAMATI GULO
  25. From demoPhase on 24 February 2009 12:30:30 WIB
    Menurut saya singkat saja....
    "Selama orang - orang di DPR tersebut berfikir bahwa menjadi anggota dewan adalah 'pekerjaan', bukan suatu amanah dari rakyat, akan susah untuk menegakkan demokrasi di Indonesia ini."
    Karena kalo pikirannya cuma 'kerjaan', pasti mikir-nya cuma duit melulu... KKN dan memperkaya diri, padahal dari jaman orde lama - orde baru - reformasi, indonesia masih juga dikategorikan sebagai negara berkembang, kok ga maju-maju ya!!
    Apa karena orang - orang 'pinter'-nya pada gak mau terjun ke politik?!! Du No..
  26. From dimas on 05 March 2009 10:26:43 WIB
    saya penggemar baru anda, mohon dukungan karena saya sedang berkarya bersama teman-teman berkampanye anti golput untuk pemilu legislatif mendatang..
  27. From lareangon on 13 March 2009 16:33:28 WIB
    Lam kenal
    komentar komentar anda lha kok banyak mewakili saya je...

  28. From yuli on 15 March 2009 19:55:59 WIB
    istri teman saya menjadi caleg...sudah jual sepeda motornya...jual mobil bututnya..sekarang pake mobil mertuanya...uang hasil penjualan itu hanya cukup untuk pesan sticker 1000lbr ukuran kartupos...dan bikin banner ukuran 3x5m..tidak cukup terlihat...jika kita berkendara agak cepat...ketika saya tanya???untuk apa berkorban sampai segitunya???dia jawab..saya gambling..sapa tau jadi anggota dewan yth...lho???kalo g kepilih..gulung tikarlah beliau...itu sebagian dari mental caleg2 yang harus kita pilih dan kita hormati...
  29. From ridhoyp on 31 March 2009 19:56:05 WIB
    Salam.. Wah wah.. kira2 bakal kerja atau ongkah - ongkahan kaki yah? tar pada tidur2an lagi kagak jelas lagi.. liat aja, yang udah mereka lakukan, otomatis untuk balik modal.. setuju aja deh dengan HASAMATI GULO (HASGUL).. hehe.. like it, two thumbs :-bd..

    Thanks pak wimar ^ ^
  30. From bofan on 04 April 2009 07:54:20 WIB
    buat saran nih bagi para pihak yg berwenang (kali aja didenger). Bapak/ Ibu, dengan hormat dan segala kerendahan hati, saya mempertanyakan alasan mengapa daftar calon anggota legislatif yang banyak itu, plus lambang 44 partai tsb harus dicetak kesemuanya. Sebab jika demikian adanya, biaya pemilu ini pastilah akan menjadi sangat mahal, bukan? Apakah tidak lebih baik dipikirkan kembali? Kita ini bukanlah negara kaya. Uang segitu masih lumayan buat disumbangkan ke panti-panti asuhan, rumah jompo, dll. Sebagai usulan, kertas suara bisa digantikan dengan LJK, seperti yang digunakan pada SNMPTN. Atau, cara-cara lainnya yang saya yakin, jika kita mau, pasti bisa didapatkan solusi terbaik. Sekian dan terima kasih.
  31. From Firsie kalangi on 09 April 2009 08:40:02 WIB
    menurut saya pemilihan tahun ini tidak mencerminkan lagi sebagai orang yang takwa kepada Tuhan karena tujuannya hanya untuk kepentingan dan tenarnya seseorang. sehingga tidak lagi memperhatikan/memprjuangkan hak-hak orang kecil, orang miskin, orang lemah,sehingga bangsa kita masih memiliki masyarakat yang hidupnya dibawa garis kemiskinan dan tidak menikmati kesejatraan/keadilan.
    ingat!!! bencana/musibah alam itu adalah bagian dari murka Allah.
    gunakanlah hak pilih anda dengan sebaik mungkin karena itu akan menentukan masa depan bangsa kita kedepan!!!!
    GOD BLESS YOU ALL^o^
  32. From sumanto on 14 April 2009 19:14:10 WIB
    usul aja untuk yang akan datang (sekarang sudah terlambat) caleg harus melalui seleksi ketat,tiap parpol mengusulkan kepada... siapa ya.. pemerintah atau kpu atau badan apa lah...namanya,jadi kayak mau masuk akabri atau perguruan tinggi gitu lho...so tidak semua yg diajukan parpol dapat diterima jadi caleg..yang sudah lolos seleksi baru,kasih kerakyat pilih siapa...materi seleksi dinegri ini sudah banyak yag tahu...sedikit bisa mengurangi pilh kucing dalam karung...
  33. From agiez on 16 April 2009 19:43:58 WIB
    aduh ozannnnnnnnn...
    kumaha ieu teh ...parpol2 bermunculan..
    dgn misi,visi tdk j'las....!!!!!!
  34. From Lissa on 31 July 2011 15:39:57 WIB
    One or two to reembemr, that is.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home