Sekarang Golput, Nanti Memilih
Koran Sindo
30 December 2008
PRESIDEN KITA
Dalam demokrasi yang mewakili 240 juta manusia, wajar sekali bahwa banyak pendapat berbeda. Karena itu kalau jumlah partai melebihi empat puluh dan jumlah calon presiden bisa sampai duapuluh, itu bagus saja. Daripada pilihannya hanya satu – yaitu Suharto - selama lima kali Pemilu, atau tidak ada pilihan selama duapuluh satu tahun – yaitu Sukarno – lebih baik kita punya banyak pilihan.
Yang membuat banyak orang bingung, adalah bahwa dengan adanya banyak pilihan, tanggungjawab diletakkan pada pemilih. Kalau orang benci Sukarno atau tidak suka Suharto selama mereka memegang jabatan Presiden, orang bisa bebas ngomel, melawan atau tidak peduli. Dikasih kesempatan memilih, lepas saja, enakan Golput. Sangat bisa dibenarkan, Golput jaman dulu. Tapi dalam sejarah Indonesia, kita sekarang paling mendekati demokrasi beneran. Memilih bukan hanya tanggungjawab tapi hak dan kekuatan. Tidak percuma dipakai istilah "hak memilih", bukan "kewajiban memilih".
Bukan kewajiban memilih, jadi kalau tidak mau, silakan saja, tapi jangan ganggu suasana orang yang ingin menggunakan haknya. Itu namanya anti-sosial dan anti-demokrasi.
"Tapi, bang, abis calonnya gitu-gitu aja, itu-itu lagi, jadi gimana nggak males milih?"
Memang betul, saya juga sebal melihat daftar calon legislatif dan daftar calon Presiden. Tapi udah bagus ada yang mau tanggungjawab pasang badan untuk diomelin publik dan siapa tahu, membuat perubahan setelah 2009. Kalau soal penyalahgunaan kekuasaan itu soal tersendiri. Kan masyarakat berhak penuh, dan banyak menggunakan hak untuk menanggapi kekuasaan dan mengajukan kritik. Tidak lagi seperti dulu dimana orang harus takut menyebut nama. Sekarang sebut saja Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Sri Mulyani, Megawati, Sultan Yogya, Amien Rais, Wiranto, Prabowo, Hidayat Nurwahid, Yudi Chrisnandi, Rizal Ramli, orang berkelas dan orang abal-abal. Silakan diomelin, dikritik, di ekspose, diluapkan pengetahuan dan perasaan anda mengenai mereka, dan anda masih berada dalam batas hak dan tanggungjawab warganegara dengan memagang hukum sebagai perlindungan dan acuan anda. Tentunya kalau melawan hukum jangan minta dilindungi, terima konsekuensi. Konsekuensi yang diterima tokoh politik yang anda benci, jauh lebih berat, Bisa dipenjara, didenda, dan dihadapkan pada amarah masyarakat.
Kalau ada calon yang anda suka, berikan suara anda pada mereka. Kalau ada calon yang anda tidak suka, anda yakin orangnya tidak beres, berikan suara anda pada calon lain diluar mereka. Sederhana, karena and tidak akan menemukan calon yang anda betul-betul suka kecuali anda sendiri yang jadi calon, atau anda ikut mensukseskan pencalonan orang itu.
Sangat sederhana, hubungan hak dan tanggung jawab, suka dan tidak suka. Dengan sikap ini, kita bisa menghadapi kenyataan pahit. Sebab betul sekali, pola kampanye masih jadul, jauh kalah sama kampanye produk. Tidak heran kalau Golput naik atau pilih tanda gambar parpol. Kalau yang terakhir terjadi, parpol akan berkoar2 "Nah, loh! Gue lagi yang tentuin siapa di parlemen! " Padahal kita sudah senang juga mendengar putusan Mahkamah Konstitusional bahwa calon partai melihat suara terbanyak. Dagang sapi dengan partai akan berkurang. Pasti banyak argumen sebaliknya, mengatakan bahwa aturan MK ini tidak fair. Terutama tidak fair untuk orang ambisius yang sudah menyumbang milyardan rupiah kepada partai agar mendapat nomor kecil 1, 2, 3 dan seterusnya. Perhitungannya kalau partainya dapat suara, dia dapat kursi. Seperti bagi kerja, caleg menyumbangkan uang, partai memenangkan suara Pemilu.
Sekarang sudah tidak bisa begitu. Ada suatu joke yang menanyakan perbedaan antara profesi tertentu dengan partai tertentu. Dua-duanya disingkat menjadi tiga huruf. Ceritanya, profesi tiga huruf ini menyediakan kenikmatan dulu, baru bayar belakangan. Kalau partai tiga huruf ini sebaliknya. Bayar dulu, baru enak belakangan. Eeeh dengan aturan MK ini, yang udah bayar setor mahal ke partai, malah nantinya nggak dapat enaknya. Kursi idamannya dimenangkan oleh caleg yang mendapat suara terbanyak. Jadi partai bukan lagi seperti dealer tapi seperti supermarket, tiap merek bersaing terbuka di partai yang menawarkan mereka sebagai pilihan.
Coba diingat bahwa dengan aturan lama ataupun putusan MK yang baru, tetap pilihan ada di tangan pemilih. Bukan berarti bahwa dengan memilih, selesai persoalan. Dengan memilih, anda ikut menyisihkan calon yang paling payah. Selanjutnya seleksi pemimpin dikawal oleh mekanisme kontrol, diskusi media, unjuk rasa, gugatan hukum, protes yang semuanya merupakan bagian dari kegiatan berdemokrasi. Ini bisa diwakili oleh orang-orang rajin. Tapi memilih tidak bisa diwakili oelh siapa-siapa, tidak seperti dulu dimana pilihan politik diserahkan secara paksa kepada Golkar dengan mesin Suharto.
Ada seorang bernama Lupa Lagi, mengirim komentar ini di facebook:
"Bung wismar sebenarnya apasih tujuan dari sebuah pemerintahan dari suatu negara? saya pribadi adalah seorang gol put yang datang dri nurani. apakah ada yang dapatmerubah pendirian saya ini?"
Terima kasih, Sdr Lupa Lagi, pertanyaan ini mewakili banyak orang dan bagus untuk menutup tulisan ini, menekankan inti tulisan. Supaya tidak ada yang tanya: "What's the message?"
Oke, ini jawaban saya. Ingat bahwa pendapat selalu berupa milik pribadi. Lain orang, lain pendapat.
Satu, sebetulnya pertanyaan sudah bisa di-diskualifikasi karena salah nama. Bukan wismar atau wilmar, tapi w-i-m-a-r. Di facebook ada nama Wymmar – walaupun lebih bagus, tapi itu juga bukan nama saya.
Dua, tujuan sebuah pemerintahan dari suatu negara itu penting sekali diyakini dan tidak bisa diajarin orang. Kalau orang tidak tahu tujuan pemerintahan, berarti tidak ada gunanya dia pikirkan proses politik, apalagi demokrasi.
Ketiga, kalau anda "gol put yang datang dari nurani", pertahankan nurani anda, sambil cari pengetahuan tambahan.
Terakhir, "apakah ada yang dapatmerubah pendirian saya ini?" itu hanya anda yang tahu. Tidak ada yang boleh memaksakan. Logika terbalik, susah ditanggapi.
Jadi ingat sama komentar orang "ngapain ngomongin politik, ga pengaruh". Orang-orang ini justru ngomongin gosip selebriti, ngomongin trend handphone, ngomongin trend pakaian, dsb. Bagus aja sih, tapi justru ngomongin itu lebih ga pengaruh. jadi kalau maunya kita ngomongin yang pengaruh, mestinya justru hanya ngomongin politik aja.
Hasil pemilihan di Amerika Serikat ditentukan oleh golongan "undecided". Pada hari pemilihan, mereka memutuskan untuk memilih Barack Obama. Kita juga boleh "undecided" atau golput, bagus malah sambil mengamati calon-calon yang ditawarkan.
Mari kita golput sekarang. Pada hari pemilihan, kita pilih yang terbaik, atau yang kurang jelek. Sementara itu rajin2 baca berita, nonton televisi, browsing internet, termasuk www.perspektif.net.
Wimar Witoelar
Versi asli dari tulisan yang terbit di Koran Seputar Indonesia



53 Comments: