Articles

  • Tahun ini saya tidak ikut merayakan 17 Agustus, Hari Kemerdekaan kita. 
    Bukan karena tidak mau, tapi kebetulan tanggal itu tidak muncul dalam 
    kehidupan saya. Kebetulan saya pulang dari Los Angeles, berangkat dengan GA 
    801 tanggal 16 Agustus malam, begitu naik terus tidur lama sekali. 
    Bangun-bangun mendarat di Denpasar sudah jam 08:00 pagi, ternyata sudah 
    tanggal 18 Agustus. Padahal katanya kami hanya melewati satu malam saja. 
    Jadi tanggal 17 Agustus 1997 hilang untuk selamanya bagi penumpang 
    penerbangan itu, ditelan "Garis Tanggal Internasional" yang agak 
    mengerikan.

    Read ›
  • Rano Karno, Wimar Witoelar, Paramitha Rusady, Desy Anwar, dan Sony Tulung terpilih menjadi primadona televisi. Read ›
  • KALAU mau mendengar guyonan politik terbaru, Wimar Witoelar gudangnya. ''Entah mengapa, orang senang sekali ngasih joke-joke politik sama saya,'' kata Wimar di Kafe Bellissimo, Apartemen Kusuma Chandra, Kamis (24/7) petang lalu. Read ›
  • Wimar Witoelar, a popular Jakarta talk-show host, described the Indonesian revolutionaries to me as those 20- and 30-year-olds, most of them educated and working in the private sector, "who want to get rich without having to be corrupt and who want to have democracy but donít want to go out in the streets and get killed for it". Read ›

« Home | ‹ Previous | Next ›