Articles

  • Keberanian pada yang mustahil dan cinta yang keras kepala pula yang membuat Rahman Tolleng tidak berhenti bergerak. Sistem politik Indonesia kini, kata dia adalah perkawinan antara demokrasi dengan oligarki, dan tugas dia sebagai seorang Sosialis adalah menghabisi oligarki. Atas alasan itulah ia ikut mendirikan partai Serikat Rakyat Independen SRI. Ia menyebut ini gerakan revolusi dari atas yang ditempuh dengan cara mencari calon presiden yang jujur, tegas, menentang oligarki dan bukan bagian dari para oligark. Figur itu ia lihat ada pada sosok Sri Mulyani yang dianggap bisa membersihkan oligarki.

    Read ›
  • Contoh yang paling nyata dan dapat diadopsi oleh Indonesia dalam sektor agrarian adalah Negara Taiwan. Negara ini berhasil didalam mengembangkan sektor pertanian. Taiwan memulai dengan terus memperhatikan kesejahteraan para petani sehingga petani harus diberdayakan demi membangun infrastruktur yang semakin baik. Bahkan Taiwan turut membantu perkembangan pertanian China.

    Read ›
  • Dalam liputan Padang Ekspres, Wimar menyatakan par­tai politik telah mela­ku­kan ke­jahatan publik dengan me­ngu­sung capres 4L (lo lagi lo lagi). Hak publik mendapatkan pe­­mimpin nasional dari tokoh-to­­koh bangsa di luar partai, di­tu­tup aksesnya oleh partai po­litik. Ini disampaikan dalam diskusi pu­blik ber­ta­juk Capres 2014: Upa­ya Pe­ning­katan Kualitas Pilihan Pe­milih.

    Read ›
  • Golkar akan redup. Tujuan Aburizal Bakrie itu ingin menjadi pemimpin nasional sebelum Pemilu 2014. Sebab 2014, dia belum pasti menang. Tapi kalau sekarang dia jadi Wapres karena kekuatan DPR, kalau ada impeachment kan DPR itu menentukan, Golkar masih menang. Nah, kalau sekarang dia menjadi Wapres, maka dia di 2014 itu posisinya menjadi incumbent Wapres

    Read ›
  • Pada 2004 tidak ada Prabowo, tapi hanya pada 2009 sewaktu Pilpres. Posisi di PDI Perjuangan pada waktu itu menjelang pencapresan, posisi saya sebenarnya lebih dekat kepada Taufik Kiemas, walaupun tidak terlalu dekat begitu. Tapi kemudian ada keputusan Partai. Di situ konsekuensi sebagai orang dalam organisasi, bahwa ketika organisasi sudah memutuskan, kita harus mengikuti. Saya tidak mau menjadi juru bicara, saya berkerja di dalam partai dan saya mengambil posisi yang memang tidak terlalu ingin untuk dilihat seperti muncul di televisi, posisi saya lebih administratif. Itu untuk yang 2009.

    Read ›
  • Pada tahun 2005 novelis Marga T. menerbitkan novel besar 'Sekuntum Nozomi." Manfaatnya besar bagi kesadaran bangsa, mengingatkan kebengisan pembunuhan dan perkosaan massal Mei 1998. Akan tetapi sekarang masyarakat makin lupa lagi pada Tragedi Mei 98, bahkan pelakunya merajalela mencari peran kepemimpinan. Jauh dari proses pengadilan yang harusnya menyelesaikan corengan hitam pada bangsa Indonesia. Kami sajikan Kata Pengantar dari buku itu dan teks bagian-bagian yang mencekam,

     

    Read ›
  • The Independent People’s Association Party (Partai SRI has noteworthy strengths as well as glaring weaknesses. The party’s strength is its ability to make credible claims about being able to govern with integrity and combat corruption. The party’s symbol is a traditional straw broom – evoking its intention to sweep away dirt – and it extols the example set by Indrawati as finance minister, who was the most accomplished clean governance reformer of the Yudhoyono era. The party delivers powerful messages regarding bureaucratic reform, campaign finance reform, and the emphasis of personal integrity in selecting party leaders and government officials. 

    Read ›
  • If Jakarta voters were to stop viewing politics as a spectator sport and work hard to become active participants, we would have already taken the first steps in moving away from oligarchy and putting power into the hands of the people. As always, the process is more important than the outcome.

    Read ›
  • Dalam setiap kesempatan selalu dikatakan bahwa Indonesia adalah negeri kaya akan sumber daya alam  terutama potensi minyak yang melimpah.  Padahal menurut data Data Potensi Energi Nasional 2010 (Sumber: ESDM  2011) menunjukkan bahwa cadangan terbukti minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel.  Bandingkan dengan Venezuela yang memiliki cadangan minyak 296,5 miliar barel.

    Read ›
  • Kalau ada orang yang layak disandangkan gelar "makin tua makin jadi", Wimar Witoelar jadi satu pilihan yang tepat. Seiring merambatnya usia, sosok ini malah kian bersinar dengan segala idealisme, ke-apa-adaannya, dan keinginannya untuk terus bisa berguna bagi siapapun.

    Read ›
  • Detiknews melakukan wawancara dengan Wimar tentang Sri Mulyani. Ini transkripnya. Antara lain:

    Bagaimana kans SMI dalam pencalonan presiden pada Pemilu 2014 nanti? 
     Saya hanya penyemangat atau sukarelawan saja. Ini seperti nonton sepakbola, kalau kita ramai-ramai nonton Arsenal, kita tidak tahu siapa yang akan menang, tapi kita dukung. Untuk mengetahui kans itu harus ada aksi positif. Biarlah orang-orang parpol yang menghitung-hitung. Kami menyemangati orang-orang yang tadinya tidak mau tahu politik. Mereka yang tidak mau ikut politik itu bukan pemilih pemula, melainkan orang-orang yang sebel sama politik. Sekarang banyak ikut ngomelin ke anggota DPR, pada saat pemilu nggak ikut milih. Jadinya saat ini di DPR  lebih banyak tak legitimate karena masyarakat tidak tahu. Nah, pada Pemilu  2014 kita ingin para pemilih menjadi cerdas. Memilih orang yang sesuai dengan keinginan sendiri. Orang kan gelisah dan sedih melihat keadaan sekarang itu.

    Read ›
  • Dede Kurniawan, seorang mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Paramadina banyak mengamati pola kegiatan politik. Sudah lama Wimar Witoelar menjadi obyek perhatian Dede yang sering berdialog melalui twitter dengan nama @dekurisme. Perspektif Baru menampilkan Wimar bukan sebagai pemandu tetapi menjadi narasumber. Format “reverse interview’ pernah digunakan beberapa kali pada saat PB merasakan manfaatnya untuk menambah pada dialog publik.

    Read ›
  • We are navigating between icebergs of religious violence captained by a leader whose forte is to remain outwardly calm while the ship of state runs headlong into crisis. In the big picture, this is what Indonesia is facing. We have been plagued by numerous issues since the beginning of time, now made visible by the climate of free media and free speech. The twin problems of corruption and violence still form the prevailing vicious circle, now as in the Soeharto era. But whereas the twin evils are eroding the nation, religious conflict could split it asunder.

    Read ›
  • Wimar menambahkan bahwa jatuhnya Presiden Wahid secara politis adalah pengalaman buruk bagi negara, tapi bukan tragedi. Karena legacy yang kuat ditinggalkan dalam penguatan demokrasi, pluralisme, demiliterisasi dan humanisme. Kalau SBY? "Jangan sampai jatuh." kata Wimar, "Gus Dur secara politis tenggelam di laut, tapi SBY kalau jatuh akan membawa negara tenggelam dalam lumpur"

    Read ›
  • Indonesia dan Amerika memiliki sebuah kesamaan yang dapat meghubungkan dua negara ini kedepan. Yaitu Indonesia dan Amerika sama –sama baru keluar dari terowongan panjang dan gelap yang menenggelamkan dua negara ini.  Namun keduanya kini bisa menatap masa depan yang lebih cerah karena harapan terhadap demokrasi  tetap terbuka lebar ketika kepemimpinan ada di tangan orang yang tidak ingin merusak.

    Read ›
  • Sebab media banyak dimiliki orang yang berkepentingan dengan politik dan dua televisi berita merupakan milik pihak yang tidak suka dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),maka tidak bisa diharapkan kebenaran akan keluar dari kedua televisi itu. ”Koran” besar juga entah mengapa mengambil sikap berseberangan dengan Presiden. Hal yang jarang terjadi sejak ”koran” itu menyerang Presiden Habibie dengan argumen yang lebih bisa dimengerti.

    Read ›
  • Wawancara MIMBAR POLITIK dengan Wimar Witoelar: kita harus lihat Golkar itu kumpulan bermacam-macam orang. Sekarang orang yang berkuasa di Golkar itu orangnya Aburizal Bakrie. Jadi yang dijaga itu sebetulnya bukan kepentingan Golkar, tetapi kepentingan Aburizal Bakrie. Orang Golkar sejati yang dari dulu di situ tidak punya sikap sekeras Golkar di pansus, misalnya. Sikap Golkar di pansus itu sikap Aburizal Bakrie.

    Read ›
  • PPI Den Haag bicara dengan Wimar Witoelar mengenai Indonesia masa depan pasca PEMILU 2009 dan tragedi bom kemarin. Bagaimana peran pemuda pemudi di LN menyikapi hal itu semua bisa kita bahas dalam bincang-bincang santai di  Haagse Hoogeschool.

    Read ›
  • I am glad someone of note said it, so I do not have to display loss of patience. Megawati is on the way to lose her second presidential election with a pout as her only reaction. Jusuf Kalla was magnanimous in defeat, kudos to your Sir, but apparently switches back and forth to a protesting stance in loyalty to his staff. What a circus. Wiranto might come out of this as the only statesmanlike candidate with General Prabowo following him. He has been uncharacteristically quiet, for which we salute him

    Read ›
  • Jakarta Bureau Chief Yusuke Takahashi intervewed Wimar Witoelar for the Japanese television network NHK. The following is a full transcript of the interview. Excerpt: 'If I had my way then I would like to have SBY devote himself to the future and assign the management of the country to the technocras.  He has a very good team of technocrats already. He has Mr. Boediono, he has Sri Mulyani, he has Dr. Chatib Basri. A large number of proven technocrats, very clean, very expert. Also in other areas.   SBY isn’t really a politician, he was a military man, but he could be a statesman. So I think his second term should be dedicated to the future. And that is mostly in re-establishing Indonesia’s presence in the world. I believe very strongly that international relations are very important to the nation’s future because it is a global world.'

    Read ›

« Home | ‹ Previous | Next ›