Articles

  • Political analyst and commentator, Wimar Witoelar, discusses the up coming Indonesian election which will replace President Susilo Bambang Yudhuyono and says it's going to be a choice between those who would like to go back to the Suharto days and those who want to get as far away from the Suharto era as possible.

    Read ›
  • The latest polls divide the vote roughly 42 percent for Jokowi and 34 percent for Prabowo. The margin could be made smaller or wider by the inclusion of voters who have not been categorized, as discussed previously. But the margin will respond to the candidates, not the coalitions.

    Read ›
  • TIPS 3 LANGKAH :

    1. Tentukan siapa yang anda inginkan menjadi Presiden: Prabowo, Aburisal Bakrie, Jokowi.

    2. Kalau misalnya senang Jokowi, pilih caleg yang ada di daftar PDIP. Coblos nama caleg itu, jangan coblos partai. 

    3. Tunggu hasil Pileg. Kalau PDIP menang, pilih Jokowi di Pilpres 9 Juli 2014.

    Read ›
  • ... the only party that shows a solid prospect is the PDIP. Not my  favorite party, but it seems to have a large following. Part of the reason may be that people are stimulated by the idea that the PADIP might nominate a certain Mr Jokowi for President, who is the only candidate sho could excite emotional support, thus making it possible to win without too much money.  The other candidates have a surplus of money, but Jokowi can win just by popularity.

    Read ›
  • The real and important battle in this 2014 election year is not between Indonesia’s big political parties or their presidential candidates fighting for power. Below the surface, a quiet war is being waged by Indonesia’s oligarchs trying to steal democracy from the people. 

    The good news is that the people, whether they are conscious or not about this ongoing war, are putting up a fight to defend their freedoms and rights that they may succeed in stopping the powerful and wealthy elite from usurping the national democratic project that began in 1999.

    Read ›
  • Dulu orang yang skeptis pada politik memilih Golput. Tapi sekarang banyak orang yang tidak mau menyerahkan negara kepada orang2 yang jelas tidak bisa dipercaya. Pimpinan civil society dan LSM punya banyak perhatian dan upaya pada issue2 strategis yang menentukan kehidupan masa depan. Menjulang diantaranya adalah urgensi menyelamatkan hutan, lahan gambut dan aset tanah milik masyarakat adat. Jika pilihan dalam Pemilu 2014 dapat dikaitkan dengan kepentingan strategis ini, maka kita bisa menyelamatkan aset alam Indonesia sekaligus menyelamatkan sistem politik kita.

    Read ›
  • Perjalanan Wimar ke Washington DC seperti pulang kampung setelah 11 tahun tidak pernah kembai. Tidak ada yang berubah di Washington selama 11 tahun ini, sedangkan di Indonesia banyak sekali yang telah berubah. Dihadapan diaspora Indonesia di Washington DC,  Wimar berbagi perspektif mengenai perkembangan Indonesia selama 10 tahun ini, bagaimana Indonesia menjalankan perjalanan demokrasi serta pandangan ke arah Pemilu 2014.

    Read ›
  • Banyak yang tidak mengetahui kelakuan calon Presiden 2014 pada tahun transisi 1997-1998, bagaimana ada tokoh yang melakukan penculikan dan kekerasan yang tidak selayaknya dilakukan pejabat Negara. Tokoh demikian belum mempertanggung jawabkan pelanggaran HAM di forum nasional ataupun internasional. Calon lain lagi melakukan korupsi dan manipulasi pada skala besar sehingga memelaratkan banyak orang dan Negara. Pelanggaran mereka dapat tersembunyi dari masyarakat karena mereka menguasai media nasional dengan uang hasil korupsi itu.

    Read ›
  • Pada saat dimana diperlukan  kebijaksanaan berwawasan jauh menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia, keputusan Presiden untuk mencalonkan Agus Martowardoyo menjadi Gubernur BI mungkin akan mengekspos indonesia pada resiko ekonomi dan menghambat reformasi Kementrian Keuangan.

    Read ›
  • Dokumenter penting karya Ucu Agustin membuat kita paham mengapa media televisi dikuasai oleh oligarki pengusaha berpolitik. Lama-lama kehilangan fungsi pencerahan , malah jadi alat propaganda politik. Dengan dua staion berita yang tidak memperhatikan edukasi publik, masyarakat kehilangan pegangan untuk berpikir jernih menanggapi perkembangan politik. Mengapa? Karena frekuensi dianggap milik pemodal, bukan milik publik yang harus dibebaskan dari kepemilikan mutlak

    Read ›
  • Golkar akan redup. Tujuan Aburizal Bakrie itu ingin menjadi pemimpin nasional sebelum Pemilu 2014. Sebab 2014, dia belum pasti menang. Tapi kalau sekarang dia jadi Wapres karena kekuatan DPR, kalau ada impeachment kan DPR itu menentukan, Golkar masih menang. Nah, kalau sekarang dia menjadi Wapres, maka dia di 2014 itu posisinya menjadi incumbent Wapres

    Read ›
  • Wawancara lengkap The Politic, disertai transkrip langsung bagian wawncara mengenai SRI dan SMI. The Politic membahas profil WW secara umum, mulai aspek pribadi sampai pekerjaan

    Read ›
  • Kemungkinan menangnya Sri Mulyani semakin besar  setelah melihat bahwa calon-calon saingannya tidak akan dapat menyainginya dlam persaingan personal satu lawan satu. Orang susah membayangkan bahwa Aburizal Bakrie dan Prabowo adalah orang Indonesia terbaik. Hanya Sri Mulyani yang memenuhi kriteria jujur, tegas, mampu. Ia menawarkan pemikiran yang rasional, konsep yang terbukti dan karakter  yang cemerlang.

     

    Read ›
  • Rakyat mesti hati-hati memilih partai politik, jangan memilih partai pengusung calon pemimpin yang track recordnyua buruk, seperti pengemplang pajak, pebisnis tidak beretika menggunakan media publik demi menuju kekuasaan, dan pelanggar HAM di masa lampau

    Read ›
  • Having three heroes does not necessarily mean having three presidential candidates. They have a long way to go. Dahlan Iskan and Jokowi need to have political support generated from their public base of admiration. Sri Mulyani needs to complete her World Bank service before announcing her candidacy. And the party that plans to nominate her, SRI, needs to overcome government legalistic obstacles to formalize their active network in 33 provinces, nearly 500 Kabupaten and thousands of Kecamatan. But the seeds of political insurgence have been planted. Three potential candidates have won the public imagination. And imagination is the most powerful political capital. Without imagination, politics is business as usual perpetuating the corrupt political-business oligarchy.

     

    Read ›
  • Partai SRI tidak diloloskan oleh Kementerian Hukum dan HAM dalam veriifikasi hukum. Padahal semua persyaratan administrasi telah dipenuhi. Tapi SRI memilih untuk tidak menggugat pemeirintah secara hukum. Pertama, ini adalah perjuangan politik dimana kita harus memggunakan kondisi apa adanya. Kedua, kami tidak ingin mempermalukan orang baik yang ada dalam pimpinan KemHukam. Mereka memilih keselamatan karir diatas integritas prinsip. Hal yang lazim dan harus diambil hikmahnya sebagai 'wake-up call'. Membangunkan kita dari euforia setelah mencapai sukses luarbiasa dalam mengumpulkan dukungan publik. Hanya dengan cara ini kita bisa menegakkan pemerintah yang ramah dan efektif,

    Read ›
  • Harapan kita akan  terpilihnya SMI ada pada sekitar 40 juta orang yang tidak memilih pada pemilu 2009 lalu. Golput ini akan punya pilihan baru jika SRI berhasil menjadi partai kontestan Pemilu. Tapi jangan sampai harapan yang muncul di depan mata ini dihabiskan oleh gairah tanpa pembangunan infrastruktur politik. Yang terpenting adalah komitmen orang biasa untuk ikut memilih pada Pemiu 2014, dan memilih berdasarkan hati nurani.  

     

    Read ›
  • Sosok mantan Menkeu Sri Mulyani masuk dalam sejumlah survei sebagai capres 2014. Sempat muncul wacana agar lebih moncer, Sri Mulyani disandingkan dengan Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical). Namun, gagasan ini ditolak mentah-mentah kubu Sri Mulyani. Bertarung lebih baik.

    Read ›
  • It is not crucially important to analyze the SBY Cabinetr Reshuffle. After all, it is his prerogative and the proof should be in the pudding. Better to follow the actions by the new team. But still, the media wants people to say something. So here are some of Wimar's comments on the matter

    Read ›
  • Psikologi fan sepakbola agak aneh. Mereka yang fanatik merasa memiliki klub dan pemainnya sekaligus. Kalau ada perubahan kepentingan antara klub dan pemain, fans semacam itu menjadi bingung. Kepentingan Fabregas adalah membuahkan prestasi maksimal pada usia yang berada dalam transisi dari pemain muda dan pemain berusia 24 tahun. Pada waktu bertemu Fabregas saya katakan singkat, banyak yang mencintai Arsenal dan banyak yang mengagumi Cesc Fabregas. Tapi keputusan pilihan Fabregas, seratus persen ada di tangannya, karena dia adalah pemain sepakbola profesional.

    Read ›

« Home | ‹ Previous | Next ›